The Prince and I

The Prince and I
Garvita, Gabriel dan Lintah


__ADS_3

Indramayu Jawa Barat Indonesia 4 tahun lalu


Ayrton, Mariana dan Garvita bersama pengawalnya, Gabriel, tiba di rumah Zinnia yang langsung disambut Gasendra, Valentino dan Jasmine.


"Kemana Zee, Sendra?" tanya Ayrton yang tidak melihat putri sulungnya.


"Mbak Zee tidur ditemani Juliet. Tadi bilang agak pegal pinggangnya" jawab Gasendra.


"Paling Juliet juga ikut tidur sama Mbak Zee. Dia kan pelturan, nempel turu ( tidur ) kalau sudah cium bantal" timpal Valentino.


"Ya sudah jangan diganggu, tahu lah hamil itu memang gampang capek dan pegal" senyum Mariana.


"Yuk pa, ma. Aku antar ke kamar."


Valentino menatap Garvita yang cemberut. "Kamu kenapa Vit?"


"Tuh ada yang melarang aku ke sawah!" ucap gadis remaja berusia 14 tahun itu sambil mengedikkan dagunya ke arah pengawalnya.


"Memang kenapa Gab?" tanya Valentino ke pengawal pribadi adik sepupunya.


"Nanti kena lintah, tuan Reeves. Bukannya terakhir kesini kaki nona Garvita digigit lintah?" Gabriel memberikan alasannya.


"Kasih garam kan beres!" sahut Garvita judes.


"Astagaaa kalian itu macam Juliet sama Romeo saja, nggak pernah akur!" gerutu Valentino. "Gab, kalau si Vita pengen ke sawah, kasih lah! Biar dia kena lintah! Resikonya dia!"


Garvita menjulurkan lidahnya ke arah pengawalnya yang tampan itu.


"Ya sudah nona Garvita. Tapi ganti baju dulu, nanti gaun Burberry anda rusak." Gabriel menatap lembut ke nonanya.


***


Kamar Tidur Ayrton dan Mariana


"Sean ke Dubai lagi, Zo?" tanya Ayrton ketika sepupunya menelponnya.


"Iya, masih mencari Zee dan kamu. Aku bilang saja kalau kamu sedang keluar negeri. Benar kan?" jawab Enzo.


"Lalu?"


"Ya aku bilang kalaupun kita tahu Zee dimana, bukan hak kita kasih tahu ke Sean karena Zee berada dalam perlindungan kamu, ayahnya."


"Ay, apa kamu tidak terlalu keras sama Sean, son?" tanya Reyhan.

__ADS_1


"Maap Oom Reyhan tapi aku masih sakit hati melihat Sean tidak berbuat apa-apa saat Zee difitnah sedemikian rupa. Aku memang bukan ayah kandung Zee tapi aku yang melihat tumbuh kembangnya sejak usia lima tahun! Aku bertekad tidak akan menolerir siapapun menyakiti Zee meskipun itu suaminya sendiri. Prinsip itu pun berlaku juga pada Garvita."


"Oom tahu tapi apa kamu tidak memikirkan Zee pasti rindu pada suaminya. Ingat, wanita hamil itu lebih sensitif, Ay."


"Aku ingin tahu apakah Sean sudah memetik pelajaran dari kejadian lalu."


"Ayrton, Sean sudah banyak berubah. Raja Andrew juga. Dia mengasingkan Michelle ke sebuah kastil di Argentina dan meminta pemerintah sana untuk tidak mengijinkan Michelle keluar dari negara itu seumur hidupnya.


Bahkan Andrew sudah menceraikan Michelle. Stefanus masih di rumah sakit untuk depresinya jadi otomatis semua tugas, Sean yang menghandle. Jiwa leadership nya juga bagus dan aku rasa dia bakal menjadi raja yang baik dibandingkan Andrew" papar Enzo.


"Bagiku belum cukup Zo. Sean masih harus membuktikan bahwa dia tidak mudah percaya dengan apapun kecuali istrinya. Dia tidak percaya Zee, itu yang membuat aku masih jengkel jika mengingat nya sampai putriku harus membela dirinya sendiri!" geram Ayrton jika mengingat akan hal itu sampai keenam keponakannya harus turun ke Belgia dan mengacak-acak negara itu.


"Ay, Oom harap kamu segera melunak. Karena bagaimanapun, Zee dan Sean itu adalah korban" ucap Reyhan.


***


Brussels Belgia


Raja Andrew membaca laporan dari para pengawalnya bahwa putri Natalia tidak ditemukan dimana pun sedangkan Sean pergi ke Dubai untuk mencari istrinya.


Pria yang wajahnya menjadi lebih tua setelah mendapatkan tekanan dari rakyatnya dan para petinggi kerajaan, akhirnya membuat keputusan agar tahtanya selamat dan rakyat tidak menggulingkan dirinya meskipun kemungkinan itu kecil.


Raja Andrew memilih mengasingkan Michelle hingga ke Argentina di sebuah kota kecil dimana terdapat kastil milik keluarganya. Michelle dijaga ketat 24 jam tidak hanya melalui CCTV tapi juga pengawal yang siap disana. Keluar dari kastil berarti mati.


Stefanus sendiri semakin parah kecanduan dan depresinya akhirnya dikirim Raja Andrew ke sebuah klinik kejiwaan swasta di Swiss dimana dia mendapatkan terapi, detox dan pengawasan ketat untuk depresinya.


Putranya Sean sekarang menjadi pribadi yang dingin dan jauh lebih sukar dijangkau. Putranya bersama dengan putri Felicia, memang sejak kecil sudah di lindungi oleh ibunya, Elisabeth, karena dia tidak mau Michelle mengasuh cucu kesayangannya.


Sean baru kembali ke Brussels setelah Elisabeth meninggal pada saat pria itu berusia 17 tahun. Karakter Sean dan Stefanus memang berbeda jauh hingga Raja Andrew merasa putra keduanya itu tidak layak menggantikan dirinya. Tapi siapa sangka putra sulung kebanggaannya malah memiliki pola pikir diluar nalar manusia normal.


Apakah karena mental Stefanus yang tidak sekuat yang dibayangkan? Terlalu dalam tekanan kerajaan?


Raja Andrew melihat keluar ruang kerjanya. Di sisa kekuasaanku, aku harus bisa meluruskan semua kesalahanku. Stefanus dan Sean keduanya adalah putraku. Dan aku ingin mereka saling akur. Semoga pengobatan Stefanus di Swiss berhasil.


Untuk pertama kalinya sejak ibunya meninggal, Raja Andrew menitikkan air mata. Air mata penyesalan yang selalu datang terlambat.


***


Indramayu Jawa Barat Indonesia


Zinnia terbangun setelah dirinya mendengar ribut-ribut, begitu juga dengan Juliet yang ikut tertidur bersamanya.


"Mbak... Ribut apaan tuh?" gumam Juliet dengan nada serak. "Apa sudah pada datang?"

__ADS_1


"Dari suaranya mirip Garvita" sahut Zinnia yang bangun dari tempat tidur dan diikuti oleh Juliet sambil mengucek matanya.


Zinnia membuka pintu kamarnya dan melihat adik perempuannya menangis di pelukan Valentino. Gasendra tampak mengomelinya habis-habisan sedangkan Gabriel sibuk dengan kaki Garvita.


"Ada apa ini?" tanya Zinnia dan Juliet berdiri di belakangnya.


"Ini lho mbak! Dik Garvita sudah dibilangin sama bang V dan Gabriel jangan main di sawah, ngeyel! Kena lintah banyak kan!" sungut Gasendra kesal.


"Sakit Gabriel!" rengek Garvita saat pengawalnya mengambil lintah - lintah itu.


"Kan saya sudah bilang nona. Nggak percaya sih!" gerutu pengawal tampan itu.


"Udah ambil saja!" Isak Garvita membuat semua orang disana hanya melengos karena tahu si manja Dubai itu memang keras kepala.


"Apaan ini?" Ayrton dan Mariana yang baru keluar kamar melihat keributan di ruang tengah.


"Kamu main sawah lagi?" kekeh Mariana yang tampak tidak kasihan pada putrinya karena sudah hapal kebiasaannya setiap ke Indramayu. Biarpun dibilang setiap saat, tetap saja kejadian ini selalu berulang.


"Ngeyelan dia Tante" kekeh Valentino.


"Dapat berapa kali ini lintahnya Gab?" tanya Ayrton sambil tertawa.


"Lumayan banyak Sir" balas Gabriel tenang.


"Mama, Papa, jam berapa sampai? Maaf Zee ketiduran sama Juliet tadi gara-gara ngegosip." Zinnia menghampiri kedua orangtuanya.


"Sekitar sejam lalu tapi kami juga malah ketiduran gara-gara jetlag" jawab Ayrton sambil memeluk putri sulungnya.


"Sudah semua nona Garvita. Lihat hasil karya lintahnya" goda Gabriel yang menunjukkan bekas merah di kaki putih Garvita yang mulus.


"Shut up Gabriel!" umpat Garvita.


"Garvita! Sopan sama Gabriel!" tegur Ayrton.


Gabriel mengacuhkan ucapan judes Garvita tapi dia telaten mengompres dengan kompres dingin di bekas-bekas luka gigitan lintah.


"Yang mulia Emir, makan siang sudah siap." Jasmine mengumumkan ke semua orang karena memang masuk jam makan siang.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa gaeesss


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote gift and comment


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2