
Istana Brussels Belgia
Arsyanendra tampak heboh melihat istana Brussels yang besar bahkan lebih luas dari istana Al Jordan. Zinnia tampak surprised melihat kamar milik Arsyanendra sudah dibuat khusus sesuai selera putranya. Tidak terlalu mewah dan banyak didominasi warna biru.
"Sarah? Aku kira kamarnya Arsya akan seperti kamar-kamar royal lainnya" ucap Zinnia ke asistennya.
"Nggak yang mulia. Tuanku pangeran Sean dan yang mulia raja tidak mau pangeran Arsya merasa terintimidasi. Kamar di rumah pangeran Sean juga sama seperti ini."
"Kapan kalian mulai membuat ini?" tanya Zinnia sambil mengawasi Arsya yang heboh melihat planet-planet yang ditempel di dinding.
"Dua hari setelah yang mulia pangeran Sean menikah dengan anda yang mulia putri Zinnia."
Zinnia menatap Sarah yang hampir empat tahun tidak dilihatnya lalu memeluk wanita itu. "Terima kasih Sarah. Tanpa bantuanmu aku tidak bisa keluar dari Brussels."
Sarah menangis dalam pelukan putri kesayangannya. "Saya senang anda kembali, yang mulia. Kami semua merindukan anda dan mungkin nanti perhatian kami terbagi dengan pangeran Arsya yang menggemaskan."
Zinnia tertawa mendengar ucapan asistennya.
***
Kamar Tidur Raja Andrew
"Bagaimana perasaan mu Sean?" tanya Andrew yang langsung istirahat setelah makan siang bersama putra, menantu dan cucunya.
"Alhamdulillah senang, bahagia Zee mau kembali, bersyukur papa Ayrton dan keluarga besar Zee memberikan kesempatan untukku yang tidak akan aku sia-siakan." Sean menatap wajah ayahnya yang tampak lebih tua. Leukemia mulai menggerogoti fisiknya yang semakin menurun.
"Sean, father mau mengajukan agar kamu segera menggantikan Father. Tampaknya father sudah tidak kuat lagi untuk memerintah, ingin beristirahat."
"Tapi, apa semua anggota keluarga sudah setuju? Bagaimana dengan para sepupu Sean?"
"Mereka sudah memilih secara bulat pada saat kamu di Jakarta untuk nikah ulang dengan Zinnia."
Sean mengusap wajahnya kasar. "Kapan rencana acara coronation nya?"
"Dua Minggu lagi. Dan father sudah mengirimkan undangan ke para negara sahabat serta ke besan. Mereka sudah menjawab surat undangan itu dan bersedia datang, termasuk Raja James III beserta putranya Henry dan istrinya Medeline."
Sean hanya mengangguk. "Baik father, aku akan bicara dengan Zee."
Tadi saat makan siang, mereka tidak membahas tentang rencana pemajuan acara naik tahtanya Sean menggantikan Andrew karena sang raja lebih fokus melihat kehebohan cucunya dengan sang mommy bertanya berbagai macam makanan yang disediakan.
"Arsya itu pintar lho Sean, lucu dan menggemaskan. Father suka melihatnya dan bersyukur masih diberikan kesempatan melihat cucu father."
"Hasil didikan Zee dan Gasendra, Father." Dan trio kampret yang membuat putraku jago drama.
"Maafkan father Sean, yang membuat kamu harus berpisah dengan Zinnia. Semua itu kesalahan Father yang tidak bisa tegas..."
__ADS_1
"Sudahlah Father, semua sudah lewat karena yang aku pikirkan sekarang adalah masa kini dan masa depan aku bersama Zee, Arsya dan calon adiknya nanti." Sean memegang tangan Andrew. "Maafkan Sean juga yang sudah mendiamkan Father."
"No, Sean. Kamu berhak melakukan itu karena kamu adalah korban keegoisan dan ketamakan banyak orang di sekitar kamu."
"Ada yang ingin Father tanyakan?"
"Dimana Natalia?" Andrew jujur penasaran apalagi dia mendengar mantan menantunya itu dibawa pergi oleh Luke Bianchi.
"Di perut piranha."
Raja Andrew melongo.
***
Zinnia sedang membacakan buku cerita dengan bahasa Jerman sederhana sekalian mengajari putranya memahami bahasa ayahnya, ketika Jasmine masuk ke dalam kamar Arsyanendra.
"Maaf nona Zinnia, saya mengganggu."
"Ada apa Jaz?" tanya Zinnia.
"Tante Jaz, kenapa?" Arsya concern dengan pengawal mommynya yang sudah dikenalnya dari lahir.
"Ada kabar dari Dubai. Katanya Emir Schumacher akan datang saat upacara coronation yang mulia."
"Oh, kalau itu aku sudah tahu Jaz. Jadi bukan berita yang mengejutkan" senyum Zinnia.
"Masalahnya, acara coronation akan dilakukan dua Minggu lagi."
"Raja Andrew minta dimajukan setelah tahu anda melakukan pernikahan kembali."
Zinnia menatap pengawalnya bingung.
"Mommy, mommy kenapa? Apa itu colonation?" tanya Arsyanendra.
"Coronation itu adalah upacara pemberian mahkota buat Daddy untuk menjadi raja." Zinnia menggigit bibir bawahnya. Kenapa tadi father tidak bilang saat di meja makan ya?
"Daddy mau jadi laja?" Arsya menatap ibunya dan Jasmine bergantian. Dirinya memang sudah diberi pengertian oleh Zinnia dan Sean tentang siapa dirinya tapi tetap saja Arsya menganggap raja itu seperti opanya.
"Zee! Kamu dimana?"
Sean pun masuk ke dalam kamar putranya dan tersenyum.
"Saya keluar dulu yang mulia. Nona Zinnia, pangeran Arsya, permisi." Jasmine pun mengundurkan diri. Baik Sean maupun Zinnia tidak berkeinginan mengganti panggilan Jasmine ke Zinnia karena wanita itu sudah mengenal putri Ayrton sejak lama.
"Daddy? Apa benal kata Tante Jaz, Daddy mau jadi laja?" tanya Arsya dengan wajah menggemaskan.
Sean pun duduk di pinggir tempat tidur sambil menatap dua orang yang dicintainya. "Iya, sayang."
__ADS_1
"Dua Minggu lagi Sean?" tanya Zinnia.
"Iya, sebab kesehatan father tidak memungkinkan untuk terus bertahta dan aku sudah dipilih secara bulat sebagai pengganti father."
Zinnia bergeser posisinya dan Sean pun meletakkan tubuhnya di sebelah istrinya. "Kamu sudah siap?"
"Insyaallah Zee. Siap tidak siap, pasti aku akan mengemban amanah ini. Apakah kamu sudah siap?" Sean memeluk Zinnia dari belakang.
"Insyaallah. Kalau kita hadapi bersama, jalannya jauh lebih mudah."
"Daddy culaaanggg!" teriak Arsyanendra. "Main peluk-peluk!"
"Hah?" Sean mendelik mendengar protes putranya.
"Mulai deh!" Zinnia pun akhirnya menjadi burger diantara dua pria yang tidak mau mengalah.
***
Acara makan malam bersama dengan raja Andrew membuat Zinnia tidak tahan untuk tidak bertanya.
"Benar Zinnia. Aku sudah memutuskan untuk mengadakan acara coronation dua Minggu lagi dan papamu sudah aku undang juga. Begitu pula dengan keluarga kerajaan Inggris.
"Bagaimana kondisi Father? Apakah mother tahu?" tanya Zinnia yang membuat Sean dan Raja Andrew terkejut. Bagaimana bisa kamu masih bertanya soal wanita jahat itu?
"Aku bertanya meskipun Father dan mother sudah bercerai tapi mereka kan pernah bersama, Sean."
Raja Andrew hanya menunduk. "Sudah lama aku tidak mendengar kabar Michelle, Zinnia. Aku memutuskan semua komunikasi ke dia, hanya laporan pengawal dan penjaga saja."
Zinnia menatap ayah mertuanya. "Maaf father, bukan bermaksud..."
"Tidak apa-apa Zinnia. Aku tahu maksud kamu baik. It's okay. So, Arsya, suka sama kamarnya nggak?" Andrew bertanya pada cucunya.
"Suka Opa. Thank you. Asya jadi bisa menghapal planet-planet. Kata Oom Shin, nanti Asya bisa diajak ke planet Namec buat cali dlagon ball." Arsya menatap polos ke Raja Andrew.
"Planet Namec?" Raja Andrew menatap Sean dan Zinnia bingung.
"Dari cerita anime, Father. Arsya kebanyakan nonton anime sama Oomnya, Shinichi jadi kedoktrin aneh-aneh" ucap Sean sambil melirik ke arah putranya.
"Oh? Dari cerita anime rupanya" kekeh Raja Andrew. "Apa Arsya tahu itu cuma khayalan."
"Arsya terlalu merasuk kalau ajaran dari Oomnya" sungut Sean sebal.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️