
Geneva Switzerland 6 tahun lalu...
Pagi ini Sean mendatangi Klinik St Anna di kota Lucrene Swiss untuk memeriksakan kesehatannya. Ucapan Zinnia semalam membuat egonya kena karena benar dirinya suka berhubungan dengan banyak wanita. Usai Greg menjemputnya, Sean tampak lebih banyak diam karena ucapan gadis itu memang benar adanya.
Dan kini Greg harus meminta seorang dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis kulit dan ke*lamin datang dari liburannya di tanggal 28 Desember ini. Sean memakai kekuatan keluarga nya hingga kedua dokter itu tidak bisa menolak. Bahkan Sean meminta laboratorium harus bekerja dalam waktu 48 jam maksimal untuk mendapatkan hasil secepatnya.
"Tuanku, kenapa anda baru sekarang memeriksakan kondisi anda?" tanya Greg yang meskipun tahu tuannya selalu berhati-hati dalam melakukan hubungan dengan wanita yang disukainya tapi untuk memeriksakan kesehatannya, dia paling malas.
"Zee membuat ku berpikir" sahut Sean dengan wajah mengeras.
"Nona Zinnia? Apa yang anda lakukan hingga anda mau memeriksakan diri?"
"Supaya aku pantas mendapatkan gadis seperti Zee, Greg. Aku merasa diriku kotor sekarang sedangkan Zee... Dia masih pure, Greg dan aku tidak mau kehilangan Zee."
Greg menatap tidak percaya ke pangerannya sebab Sean adalah orang yang mudah bosan. Kekasihnya saja bisa bertahan sebulan sudah bagus.
"Sir, anda harus tahu siapa keluarga di belakang nona Zinnia dan jika anda menyukainya, sebaiknya anda berpikir serius karena nona Zinnia bukan tipe perempuan gampangan dan saya lihat dia memiliki prinsip serta kekerasan hati."
You're right Greg. Dia sangat keras.
***
Apartment Zinnia, Geneva.
Zinnia sedang menikmati acara panggilan video bersama dengan para sepupunya yang sebaya. Tampak Luke, Leia, Nadira dan Blaze disana. Mereka memang lebih tua dari Zinnia tapi kelakuan terkadang seperti anak remaja seenaknya sendiri.
"Lu beneran nggak pulang?" tanya Blaze ke Zinnia.
"Nggak, aku ujian besok jadi aku tidak pulang. Nanti kecapekan" jawab Zinnia.
"Apa gara-gara ada pangeran Belgia?" tanya Luke dengan nada menggoda tapi tajam.
"Hei, Luke kan kamu tahu sendiri aku paling tidak bisa sistem SKS ( sistem kebut semalam ) kalau belajar. Apalagi ini ujian lisan yang mana aku sering belepotan kalau jawab. Makanya aku tidak mau pulang supaya siap bukan karena pangeran brengsek itu!"
"Dengar Zee, kalau si Léopold itu buat ulah sama kamu, bikin kamu sakit hati, siap-siap saja dia akan dilemparkan ke Empang piranha!" sahut Leia dengan wajah datar.
"Astaghfirullah! Kalian berdua itu!" gelak Zinnia. "Memang sudah berapa banyak yang dilemparkan kesana?"
"Kata Paman Shiki... Countless!" kekeh Luke.
"Ih kalian enak masih di Tokyo dan Jenewa, aku tidak bisa kemana-mana tanpa si bebek yang mengikuti aku!" cebik Blaze kesal.
__ADS_1
"Bebek itu namanya Samuel Prasetyo, Beee" gerutu Luke kesal dengan sepupu bar-barnya.
"Kayaknya si Samuel bucin sama elu B" goda Zinnia.
"Memang! Tapi dia bukan tipe aku!" sungut Blaze manyun.
"Eh, jangan gitu. Kata mama, Ojo geting mengko mandi" ucap Zinnia.
"Kayak elu ya Zee" gelak Luke. "Hati-hati elu jatuh cinta sama Léopold!"
"Haaaiissshhh! Jangan lah Luke, aku tidak bisa bebas nanti. Aku tidak mau jadi anggota keluarga kerajaan Belgia. Jadi Putri Al Jordan saja sudah bikin aku sebal dikejar paparazi kemanapun!" gerutu Zinnia.
"Eh, B kenapa nggak kamu terima saja si Samuel? Kayaknya Oom Joey setuja tuh!" sahut Luke.
"Ogah! Cowok kaku, gak bisa diajak kongkalikong itu bukan tipe aku!"
"Kongkalikong apaan B?" tanya Zinnia.
"Aku tuh pengen nongkrong, ke club, have fun tapi si Samuel kaku itu jangan bilang ke Daddy. Dan kalian tahu apa jawabannya? 'Jangan nona Blaze, nanti kalau ada apa-apa pada anda, saya bisa dikirim ke Empang piranha. Saya masih belum jadi dokter bedah, nona. Kasihanilah saya'. Nyebelin nggak sih?"
Keempat sepupu Blaze tertawa terbahak-bahak.
"Rasanya pengen aku lempar sendiri ke Empang tuh orang!" geram Blaze.
"Heeeeiii Dira, memangnya kamu nggak? Oom Jendra itu keturunan McCloud, Tante Runa keturunan Turki" potong Luke.
"Tapi Opa Aksara bukan keturunan mafia, Luke sayang" kekeh Nadira. "Hanya jiwa bar-bar yang nurun."
"Iyalah! Opa Junjun, Oma Sekar dan Tante Runa kan bar-bar tuh!" celetuk Leia.
"Malam tahun baru kalian kemana?" tanya Zinnia.
"Trio kampret pada minggat kemari... Brengsek!" umpat Luke kesal. "Besok pada datang ke Tokyo. Alamat aku harus siap-siap pedang Kendo deh!"
"Serius?" Zinnia terbahak. Trio kampret yang dimaksud Luke adalah Arkananta putra Bima, Valentino putra Hoshi dan Shinichi putra Hideo.
"Lho Shin bukannya di Jeju?" tanya Blaze.
"Iya, tadinya. Tapi dengar partner in crime nya pada ke Tokyo, terbang dia kemari. Hiiihhhh macam-macam tuh bertiga, sumpah gue lempar ke kolam!" sungut Luke.
"Juliet ikut nggak?" tanya Zinnia.
"Juliet ikut kayaknya. Dia juga lagi manyun karena dikejar-kejar sahabatnya V, si Romeo" jawab Nadira.
__ADS_1
"Blaze, tampaknya ada yang senasib sama kamu" kekeh Zinnia.
"Ya ampun Zee, Juliet baru SMA kelas 1 sedangkan Romeo kelas 3 sama dengan V! Beda lah! Aku sudah dewasa, sudah kepala dua sedangkan J... masih ABG! Poor her!" Blaze memeluk dadanya dramatis.
Zinnia hanya tersenyum mendengar ocehan para sepupunya yang meskipun berbeda jam karena mereka berada di empat negara berbeda ( Blaze di New York USA, Nadira di London Inggris, Zinnia di Geneva Switzerland dan duo L di Tokyo Jepang ) tapi semuanya selalu menyempatkan untuk saling berhubungan satu sama lain. Tak heran jika Zinnia sangat dekat dengan keluarga papanya.
"Kalau kalian mendengar berita trio kampret menghilang, berarti kalian tahu kenapa" ucap Luke dengan wajah malas.
"Astaghfirullah Luke! Itu adik-adik kamu!" gelak Blaze.
"Adik minus akhlak semua! Heran! Nurun siapa sih?" sungut Luke kesal yang membuat para saudara perempuannya terbahak karena tahu bagaimana kelakuan para ayah trio kampret itu.
***
Geneva Switzerland tanggal 31 Desember
Zinnia sedang menikmati acara masaknya ketika suara bel apartemennya berbunyi. Setelah mematikan kompor, Zinnia bergegas menuju pintu apartemen dan hatinya melengos melihat siapa yang datang.
Gadis itu pun membuka pintu dan tampak Sean berdiri sambil tersenyum lebar.
"Aku tahu kamu pasti sendirian malam tahun baru dan aku akan menemanimu, Zee. Boleh aku masuk?"
Zinnia hanya meminggirkan tubuhnya untuk memberikan jalan pada Sean masuk ke dalam apartemennya. Toh diusir pun Sean tetap keras kepala.
"Hhhmmm harumnya apartemen kamu. Masak apa Zee?" Hidung mancung Sean mengendus-endus bau masakan Zinnia.
"Masak apa yang bisa aku masak. Kamu pasti tidak doyan" ucap Zinnia sambil menutup pintu apartemen.
"Try me Zee" senyum Sean.
Yakin mau makan masakan Zee?
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1