
Brussels Belgia
Berita kehamilan kedua Ratu Zinnia yang diperkirakan kembar, resmi diumumkan oleh pihak pers kerajaan. Andrew yang datang menjenguk keesokan harinya, tampak bahagia mendengar akan mendapatkan cucu lagi setelah Stefanus mengabarkan bahwa Hilda akan melahirkan minggu-minggu ini.
"Father mau ke Upper Hut atau ke Argentina?" tanya Sean yang tahu kakaknya akan memiliki anak pertamanya dengan Hilda. Meskipun Sean memutuskan komunikasi dengan Stefanus, tapi Andrew selalu bercerita tentang putra sulungnya itu.
"Sepertinya ke Upper Hut ya mengingat Hilda mau lahiran. Baru setelahnya ke Argentina. Zinnia, sekali lagi selamat ya atas kehamilannya."
"Terimakasih Father" jawab Zinnia sambil memeluk Arsya yang tidak mau pulang rumah karena mau menunggu sang Mommy sampai sehat.
"Sehat-sehat ya Zinnia." Andrew mengusap kepala menantunya dengan lembut.
"Aamiin Father."
Setelahnya Sean dan Andrew keluar kamar rawat inap Zinnia untuk membicarakan banyak hal sebelum keberangkatan mantan raja itu.
"Sya, nggak mau pulang dulu?" tanya Zinnia lembut.
"Nggak mau. Nunggu mommy sehat dulu. Kata pak Dokter, mommy harus istirahat lama."
Zinnia tersenyum mendengar ucapan putranya. Suara ponselnya yang berdering membuat bumil cantik itu mengambilnya dari samping nakas.
"Assalamualaikum mama" sapa Zinnia.
"Wa'alaikum salam sayang. Bagaimana dengan kandungan kamu sekarang?" tanya Mariana.
"Sudah baikan mama, sudah tidak kencang seperti kemarin."
Mariana mengganti panggilannya menjadi panggilan video dan melihat Arsya memeluk Zinnia disana.
"Sya, salam ke Oma dulu."
"Assalamualaikum Oma" sapa calon kakak itu.
"Wa'alaikum salam. Lho Arsya nggak pulang? Nanti yang kasih makan Pochi, mochi, salt dan pepper siapa?"
"Tante Jasmine."
"Lho kok jadi tugasnya Tante Jasmine?" goda Mariana.
"Asya jagain mommy dulu Oma. Kata Daddy, Asya harus jadi kakak yang baik."
Mariana tampak terharu mendengarnya. "Arsya memang anak pintar."
__ADS_1
"Kata Oom Alka, kalau Asya nggak pintal, bukan keponakan Oom Alka" ucap Asya sambil manyun.
"Oh ya Allah! Mama harus bilang sama mas Bima! Makin ngaco ajaran anaknya!" gelak Mariana gemas dengan keponakannya yang imut tapi menyebalkan.
Zinnia tertawa mendengar argumen Arsya. "Sya, kamu itu mau bagaimana pun tetap keponakannya Oom Arka bukan soal pintar atau nggak. Dan mommy tahu kalau Arsya anak pintar buktinya sudah mulai bisa bahasa Jerman dan celadnya mulai banyak berkurang."
"Yaaaayyy! Asya pintar!" seru Arsyanendra heboh membuat Oma dan Mommynya tersenyum ke arah balita tampan itu.
"Zee, insyaallah besok kami ke Brussels. Oh, ada surprise besok ya" senyum Mariana.
"Apa itu mom? Jangan bilang Gabriel melamar Garvita."
"Bukan! Ah, anak dua itu sama saja dengan Juliet dan Romeo. Biarkan saja lah nanti pasti menemukan jalannya sendiri. Sampai bertemu besok ya sayang. Assalamualaikum."
"Hati-hati Mama. Wa'alaikum salam."
"Oma mau datang besok, mommy?" tanya Arsya setelah Zinnia meletakkan ponselnya.
"Iya sayang. Besok kamu bisa pamer opa dan Oma dong empat teman berbulu kamu." Zinnia mencium kepala Arsya yang terletak diatas dadanya.
Zinnia mengusap - usap punggung Arsyanendra yang tampaknya sudah mulai mengantuk. Tadi Sarah yang membantu Arsya mandi dan sarapan bersama dengan Zinnia karena Sean harus kembali ke rumah pagi-pagi untuk mengambil beberapa pakaian mereka bersama dengan Jasmine.
"Ada apa sayang?" tanya Sean melihat wajah bahagia istrinya. Pria tampan itu duduk di kursi sebelah tempat tidur Zinnia.
Yang masih harus bedrest total
"Papa dan mama besok mau datang kemari. Bagaimana Father? Apakah mau ke Upper Hut?"
"Tadi sih bilangnya begitu tapi aku pesan kalau mau ke Argentina, dilihat fisiknya dulu juga karena kan jauh-jauh semua itu perjalanannya. Aku tidak mau Father semakin drop karena kelelahan."
"Iya sih, tapi mau gimana Sean. Kita tidak bisa menyalahkan perasaan Father juga. Satu sisi, itu anak sulungnya yang dari wanita pertama yang dicintainya dan kebetulan sedang dalam kondisi sakit parah."
"Kamu benar, sayang." Sean mengintip putranya yang ternyata sudah terlelap. "Aku pindahkan Arsya ke tempat tidur sana ya. Kasihan kamu merasa sesak" bisik Sean sambil perlahan menggendong putranya untuk dipindahkan ke tempat tidur yang disediakan di ruang VVIP.
Setelah dirasa Arsya tidak terganggu tidurnya, Sean kembali duduk di kursi sebelah Zinnia.
"Terima kasih sayang. Mau kembali padaku, memiliki anak lagi bersamaku meskipun made in Brussels lagi..."
Zinnia cekikikan. "Kamu maunya Made in Dubai?"
__ADS_1
"Hu um tapi saat tiga Minggu kita kembali dari Dubai, kamu bilang dapat periodenya, aku sedikit kecewa. Yah, belum jadi deh Made in Dubai nya." Sean memajukan bibirnya mirip seperti Arsya kalau sedang merajuk.
"Ya ampun suamiku" kekeh Zinnia.
"Zee, untuk kali ini, aku akan terus mendampingi kamu dan si kembar. Aku sudah kehilangan momentum saat Arsya, dan aku tidak mau kehilangan momen si kembar."
"Aku tidak akan kemana-mana Sean. Sejujurnya, aku juga ingin selalu didampingi olehmu. Berat Sean saat aku hamil Arsya, tanpa kamu disisiku dan dengan semua peristiwa yang terjadi. Aku harus berusaha tegar dan ya, dik Sendra benar. Tri semester awal aku selalu cengeng setiap malam padahal kamu tahu sendiri aku bukan wanita cengeng kan?"
Sean memegang tangan istrinya yang tidak kena jarum infus dan menciumi nya penuh perasaan. "Kita tidak akan pernah berpisah kecuali oleh maut tapi tidak oleh manusia di dunia ini karena aku tidak akan membiarkannya. Cukup sudah aku mendapatkan pelajaran menyakitkan kemarin dan aku bertekad akan mempertahankan kamu dan anak-anak dengan cara apapun, Zee."
"Terimakasih Sean. Aku senang kamu sudah banyak berubah, tidak ada pangeran manja lagi..."
"Siapa bilang... Aku bukan..." Sean tiba-tiba menutup mulutnya dan bergegas ke kamar mandi. Terdengar suara pria itu memuntahkan isi perutnya.
Zinnia melongo. Yang muntah-muntah Sean lagi? "Ya ampun anak-anak, kenapa kalian julid sama Daddy sih?" kekeh Zinnia sambil mengelus perutnya.
***
Zinnia hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat dua pria kesayangannya tampak tidak mau jauh-jauh darinya. Apalagi Sean tampak parah couvade syndrome atau kehamilan simpatik.
Sean tampak lemas diatas tempat tidurnya yang dipindahkan untuk jejer dengan tempat tidur Zinnia karena dengan memegang tangan istrinya, mualnya berkurang.
"Ya ampun Zee... Dua kali kamu hamil, dua kali aku yang merasakan. Aku dulu tidak tahu kalau yang aku alami adalah couvade syndrome karena aku mengira aku kelelahan dan terkena jet lag guna mencari dirimu kemana-mana. Rupanya saat itu kamu sedang hamil Arsya" kekeh Sean. "Apa kamu tidak merasa pusing, mual atau apapun lah tanda-tanda hamil lainnya?"
"Sementara ini belum Sean. Buktinya aku baik-baik saja sekarang" senyum Zinnia.
"Ya Tuhan, perutku rasanya tidak karuan Zee dan ini lebih parah dari jamannya Arsya." Sean memiringkan tubuhnya dan menatap wajah istrinya.
"Terimakasih Daddy sudah mengambil alih fase mual mommy" goda Zinnia.
"Habis ini sudah ya Zee. Cukup tiga anak. Aku tidak mau seperti ini lagi!" keluh Sean lemas.
Kali ini Zinnia terbahak.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1