The Prince and I

The Prince and I
Yaa Qalbii


__ADS_3

Geneva Switzerland 5 tahun lalu


Zinnia tetap melanjutkan aktivitas nya seperti biasa, kuliah dan melakukan konseling di rumah sakit bersama dengan Greta. Setelah Sean kembali ke Belgia untuk melanjutkan kegiatannya sebagai seorang pangeran disana.


Tidak ada Sean yang selalu mengganggu nya, membuat Zinnia semakin fokus di studinya agar cepat wisuda dan segera bekerja full time di rumah sakit.


Meskipun Sean tidak ada di Geneva tapi pria itu selalu menelponnya tiap pagi sebelum Zinnia bekerja atau malam sebelum Zinnia tidur.


Meskipun awalnya mengganggu Zinnia tapi lama-lama dirinya terbiasa dengan sikap Sean. Tak terasa sudah tiga bulan Zinnia tidak bertemu dengan pria itu meskipun dia sering mendengar berita tentang Sean yang melakukan kegiatan sosial kerajaan Belgia.


Pagi ini Zinnia sudah tiba di ruangannya untuk mempersiapkan pertemuan dengan kliennya jam sembilan pagi. Dan nanti jam 11 dia ada kuliah. Seperti biasa dia dan Greta sarapan di taman belakang rumah sakit. Zinnia sengaja membuat kimbab yang banyak supaya nanti kuliah masih ada camilan.



"Banyak nya kamu buat Zee" celetuk Greta sambil memakan sepotong kimbab.


"Buat nanti habis kuliah sebelum rebutan tempat makan di kantin, bisa makan ini dulu lah" senyum Zinnia.


"Ah, kamu benar. Tahu sendiri kan kantin jam makan siang begitu Rusuhnya."


"Kita makan dulu saja sekarang apalagi aku dan kamu ada klien kan jam 9?" Zinnia pun memakan kimbabnya.


***


Klien yang ditangani Zinnia ternyata memiliki sindrom anak angkat yang sama dengan dirinya dan keduanya pun langsung klop. Zinnia yang sudah bertemu dengan kedua orangtuanya, bersyukur bahwa nasib kliennya sama dengan dirinya yang disayang tanpa tapi.


"Aku juga diadopsi dulu. Kedua orang tuaku meninggal karena sakit dan kecelakaan. Akhirnya tanteku mengangkatku sebagai anak dan aku sekarang memiliki papa, mama dan dua adik yang sangat sayang padaku dan aku juga sayang pada mereka." Zinnia menatap kliennya sambil tersenyum.


"Apakah mereka sangat baik?" tanya kliennya yang baru berusia enam tahun.


"Ohya." Zinnia memperlihatkan foto-foto keluarganya di iPad nya dan tampak mereka sangat bahagia. "Kedua orangtuamu juga sangat baik dan sayang padamu. Pesan aku, jangan membuat mereka kecewa."


"Fräulein Zee, apakah aku boleh ngobrol lagi kalau aku tidak nyaman?"


"Of course. Kita janjian seperti biasa dan semoga jadwalnya pas ya." Zinnia mengusap kepala gadis cilik itu yang sama usianya saat dirinya diangkat anak oleh keluarga Al Jordan Schumacher.


Usai menyelesaikan konselingnya, Zinnia menemui kedua orangtuanya yang melihat dari sisi kaca sebelah. Mereka berterimakasih karena Zinnia sabar dan memiliki persamaan nasib dengan putri mereka.


"Kami mengadopsi Yoanna karena saya tidak bisa memiliki anak" ucap ibu dari gadis cilik bernama Yoana itu.


"Kami melihat dia paling pendiam di panti asuhan dan kami merasa anak ini membutuhkan kasih sayang kami" sambung ayah Yoana.


"Saya sangat bersyukur Yoana mendapatkan kalian yang benar-benar menyayanginya." Zinnia memberikan senyum tulus.

__ADS_1


"Fräulein Hadiyanto, jika kami ingin berkonsultasi atau konseling dengan anda, jangan bosan ya?" kekeh ibu Yoana.


"No problem, ruangan saya selalu terbuka untuk anda."


Yoana lalu memeluk Zinnia sebelum pulang bersama kedua orangtuanya. Gadis itu lalu melirik jam Rolex nya dan terkesiap sudah pukul setengah sebelas.


"Zee! Ayo kuliah!" ajak Greta yang juga baru selesai konseling kliennya.


"Iya. Bisa terlambat kita!" Zinnia langsung mengambil tas ranselnya dan tas bekal makannya lalu mengunci ruangannya.


Greta pun sudah siap. "Helm mu sayang. Kau lupa?"


Zinnia menepuk jidatnya. "Aku lupa kita bakalan naik scooter." Zinnia lalu membuka pintu ruangannya dan mengambil helm yang tergantung lalu menguncinya kembali.


Kedua gadis yang bersahabat itu pun menuju scooter pink milik Greta dan berangkat ke kampus mereka.


***


Apartment Zinnia


Sean tiba di depan pintu apartemen Zinnia dan langsung memencet nomor pintunya. Setelahnya pria itu pun masuk dan harum khas gadis itu masih tertinggal.


Pria itu sengaja tidak memberitahukan Zinnia kalau datang ke Geneva dan sengaja dia datang sendirian tanpa Greg. Sean ingin berduaan dengan gadisnya itu dan ingin memberikan kejutan. Kejutan yang dia janjikan ke Ayrton, Gasendra dan Karl Schumacher.


Keluarganya sendiri hanya mengacuhkan keputusannya mengikuti aturan keluarga Zinnia karena bagi mereka, harusnya Zinnia yang ikut aturan mereka. Tapi bagi Sean setelah dia mengikuti aturan keluarga Zinnia, dia merasa lebih damai bahkan dia tidak berpikir untuk bermain-main seperti dulu.


Tampaknya daya tarik Zinnia terlalu kuat membuat Sean bersedia melakukan apa yang diminta keluarga Zinnia.


Sean lalu masuk ke dalam kamar Zinnia dan tersenyum melihat banyak jurnal diatas kasur. Kamu selalu belajar, sayang. Sean melihat jurnal milik Zinnia yang berupa agenda dengan tulisan warna warni.



"Kamu benar-benar girly" kekeh Sean yang melihat jadwal Zinnia hari ini ada kuliah dari jam sebelas hingga setengah satu. Setelahnya kembali ke rumah sakit untuk konseling jam dua siang.


"Apa aku susul ke rumah sakit saja nanti?" monolog Sean. Pria itu lalu ke meja makan dan melihat piring yang ditutupi dengan tudung saji. Sean membuka dan terdapat beberapa potong kimbab disana.



"Kebetulan aku lapar. Sorry Zee, aku makan ya!" cengir Sean sambil memasukkan potongan kimbab itu.


***


Hôpitaux Universitaires de Genève ( HUG )

__ADS_1


Zinnia tiba di rumah sakit lagi usai menyelesaikan kuliahnya bersama dengan Greta namun dia mendapatkan informasi dari kliennya batal datang siang ini.


"Memang kenapa batal datang?" tanya Zinnia ke suster yang berjaga.


"Katanya masih ada pertemuan orang tua di sekolah nya jadi minta dipindahkan besok paginya dan saya lihat fräulein Hadiyanto kosong besok pagi jadwalnya. Kebetulan kan besok Sabtu, fräulein Hadiyanto hanya ada jadwal jam sebelas jadi yang jam sembilan kosong. It's okay kan?"


"It's okay. Kalau begini aku kan bisa pulang cepat" cengir Zinnia.


"Tentu saja. Oh tadi ada pria menelpon kemari dan katanya hendak menjemput anda begitu tahu anda tidak ada jadwal lagi."


Tubuh Zinnia membeku. "Seorang pria?"


"Iya namanya adalah..."


"Sean" ucap Zinnia dingin.


"You're right, baby." Zinnia menoleh ke belakang dan tampak Sean datang hanya dengan kaos oblong putih, celana jeans dan sepatu Saint Laurent.


Zinnia hanya melengos melihat pria itu dengan pedenya datang ke rumah sakit.


"Your highness" sapa suster itu dengan hormat.


"Halo. Terimakasih sudah memberitahukan jadwal Zinnia" senyum Sean ke suster itu. "Ayo baby, kita pulang." Sean lalu memeluk pinggang Zinnia.


Zinnia hanya menatap tajam ke arah Sean sedangkan pria itu hanya tersenyum lalu berbisik di telinga gadis itu.


"Assalamualaikum, Yaa Qalbii."


Mata hitam Zinnia melebar mendengar ucapan Sean.



Udah berani ya bang...


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2