
Geneva Switzerland 5 tahun lalu ...
Sean menatap Zinnia yang sedang membersihkan peralatan bekas sarapan mereka tadi. Andaikan kakinya sehat, maulah dia membantu gadis itu hanya saja semalam karena posisi tidurnya tidak enak, membuat kakinya yang cidera membengkak lagi.
"Zee ..." Wajah Sean menyerngit menahan sakit. Gadis itu menatap pria itu dan langsung tahu bahwa pangeran pemaksa itu sedang tidak baik-baik saja.
"Kenapa Sean? Kakimu sakit?" tanya Zinnia sambil mencuci tangan dan mengeringkannya. Buru-buru gadis itu melihat gips di kaki kiri Sean dan jari kakinya agak sedikit membengkak.
"Kita ke rumah sakit!" putus Zinnia.
"Zee, rumah sakit pasti masih libur. Sudah nggak usah, aku duduk selonjoran saja." Sean mengambil kruknya dan berusaha bangun. Zinnia pun membantunya membuat Sean lagi-lagi mencium harum shampoo dan parfum lembut gadis itu.
Sean pun duduk di sofa Zinnia namun gadis itu memilih masuk ke dalam kamarnya.
"Kamu ngapain Zee?" tanya Sean sambil melihat gadis itu berjalan meninggalkan dirinya.
Tak lama Zinnia datang membawakan minyak esensial dan duduk di sebelah Sean. Kaki kiri pria itu diletakkan diatas pahanya lalu Zinnia meneteskan minyak harum lavender itu di kedua tangannya dan menggosokkan pelan di jemari kaki Sean.
Pria itu hanya bisa menatap tidak percaya, gadis judes yang membuatnya jungkir balik itu mau melakukan pijat agar kakinya tidak bengkak. Harum lavender mengurai di apartemen kecil Zinnia.
"Zee... Sudah tidak apa-apa. Besok kan rumah sakit buka, aku periksa kesana" ucap Sean tidak enak melihat gadis itu memijat kakinya.
"Biar aliran darahmu mengalir lancar Sean. Ini minyaknya bagus kok" ucap Zinnia mengacuhkan perkataan Sean.
"Zee..."
"Yak sudah.. Lumayan tidak sebengkak tadi" senyum Zinnia ke Sean yang membuat pria itu salah tingkah.
"Terimakasih" ucap Sean tulus dan memang kakinya terasa lumayan.
"Dan sekarang, kamu telpon Greg. Aku minta kamu pulang, soalnya aku mau tidur lagi."
Sean melongo.
***
Sean menatap judes ke Greg yang hanya memberikan senyum manis ke tuannya.
"Selamat tahun baru, tuanku" sapa Greg sambil membungkuk hormat. "Selamat tahun baru nona Zinnia."
"Selamat tahun baru Greg. Dan sekarang tolong bawa anak nakal ini pulang ke habitatnya" ucap Zinnia cuek.
"A...apa?" pendelik Sean. "Anak nakal? Habitat?"
"Just bring him out of here. Please Greg? I need to sleep" pinta Zinnia.
"Of course nona Zinnia. Mari tuanku." Greg membantu Sean berdiri sedangkan pria itu menatap tajam ke arah Zinnia yang hanya memasang wajah datar.
"Kamu ujian kapan?" tanya Sean. "Tanggal lima kan? Nanti aku temani."
__ADS_1
"Tidak usah repot-repot daripada nanti terjadi gegeran di kampus" jawab Zinnia.
Sean hanya tersenyum smirk lalu dengan cepat pria itu mencium kening Zinnia.
"Love you, Zee." Setelahnya pria itu keluar dari apartemen Zinnia bersama dengan Greg, asistennya.
***
Zinnia mulai membuka-buka jurnal psikologi dan bahan-bahan materi untuk ujiannya besok. Sebenarnya Zinnia sudah menguasai semuanya namun karena dirinya lebih paham via bahasa Inggris, dia harus menerjemahkan ke bahasa Jerman. Ini yang membuat nya harus menghapalkan kosakata nya yang cukup sulit.
Suara panggilan video membuatnya menoleh ke ipadnya dan tersenyum melihat siapa yang telpon.
"Assalamualaikum..."
"Happy New Year mbak Zeee" teriak semua orang disana.
Zinnia tersenyum. Trio kampret, Gasendra dan Luke serta Leia disana.
"Itu muka kenapa pada kusut trio kampret?" goda Zinnia.
"Mbak Zee, pijetin. Capek ini! Masa kita-kita disuruh cuci mobil Opa Marco dan Opa Mario. Eh belum selesai, Opa Shiki main kirim dua mobil Opa Takeshi. Ya Tuhanku, mentang - mentang tahun baru tempat cuci mobil tutup yaaa" keluh Shinichi dramatis.
"Sukur!" ledek Gasendra.
"Idiiihhh bantuin kagak, nyukurin iya! Durjana lu G!" cebik Valentino.
"Salah siapa cari perkara tahun baru?" ucap Luke dingin.
"Lha bang Lukie, bagus kan tahun baru diisi dengan olahraga biar badan sehat?" cengir Arka.
"Bang, namaku Arkananta bukan Bambang. Nanti papi mewek lho, nama bagus-bagus pakai bubur merah putih, didoain, nyari pakai bakar obat nyamuk buat wangsit, eh diganti sama bang Lukie seenaknya" balas Arka cuek.
"Haaadddeeehhh! Eh trio kampret ! Kapan kalian pulang?" Luke menatap tajam ketiga orang itu yang wajahnya tampak jahil.
"Kapan-kapan, kita berjumpa lagi" dendang mereka bertiga sambil tertawa terbahak-bahak.
"Astaghfirullah! Gue lempar ke Empang lu semua!" bentak Luke kesal.
"Si Sean udah pulang Zee?" tanya Leia mengacuhkan keempat orang itu.
"Sean semalam bersama kamu mbak?" tanya Gasendra.
"Iya, tapi tidur di sofa kok. Kamarku aku kunci." Zinnia tahu kalau adiknya satu itu sangat protek dengan dirinya.
"Beneran deh ya pangeran satu itu ! Apa dia jatuh cinta sama kamu mbak?" tanya Gasendra.
"Kayanya sih begitu" jawab Zinnia apa adanya.
"Mbak, kalau memang dia serius sama elu, tunggu saja sampai berani nembung ke Oom Ayrton, Opa Karl dan Gasendra. Bisa lolos dari tiga generasi itu, baru percaya" sahut Valentino.
"Nah bener tuh!" timpal Shinichi.
__ADS_1
"Tapi ingat ucapanku, Zee. Kalau sampai tuh pangeran brengsek bikin elu nangis, habis !" ucap Luke dingin.
"Dih bang Lukie, jangan judes - judes dong!" rengek Shinichi. "Aku kan jadi nggak takut!"
Luke menoleh kearah Shinichi yang kasih senyum manis. "Sini kamu! Abang hajar sekalian!"
"Mooommmyyyy!" teriak Shinichi sambil kabur. Luke pun mengejar adiknya itu.
Zinnia hanya tertawa melihat kekacauan di Tokyo.
"Zee, kata si Darth Vader jilid dua bener kok" sahut Leia. Suara Shinichi teriak heboh ditambah omelan Luke terdengar di layar ipadnya.
"Itu si Shinchan kenapa lagi?" tanya Gasendra.
"Biarin saja. Luke lagi kasih ilmu Jedi ke Shinchan" sahut Leia cuek.
"Aku bingung, Oom Hideo tuh cool, Tante Fayza nggak serame Tante Freya. Tapi kok anaknya nongol modelan Shinchan gitu ya?" gumam Gasendra.
"Salah gaul kayaknya" kekeh Zinnia sambil melirik ke arah Valentino dan Arka yang hanya memutar matanya malas.
"Bener nih Zee, kalau si pangeran itu macam-macam, hajar saja" ucap Leia.
"Iya iya. Terima kasih semuanya. Ngomong-ngomong, mana Juliet?"
"Berantem sama Romeo" jawab Valentino. "Lagian dua-duanya sama-sama judes sih!"
"Romeo terlalu obsesi sama Jules, V. Jadinya begitu" timpal Gasendra.
"Sama kan sama yang lagi ngejar mbak Zee" celetuk Arka.
Zinnia hanya menghela nafas panjang.
***
Usai acara panggilan video bersama dengan keluarganya, Zinnia memutuskan untuk memejamkan matanya sejenak.
Rasanya dirinya ngantuk akibat semalam tidur bukan di jam tidurnya. Zinnia termasuk yang teratur untuk jam tidur jadi jika berubah jamnya, membuatnya harus adaptasi.
Baru saja dirinya meletakkan kepalanya di atas bantal, ponselnya berbunyi. Wajah Zinnia menjadi kesal ketika tahu siapa yang menelpon.
Benar - benar deh pangeran menyebalkan!
***
Gasendra Al Jordan Schumacher
Yuhuuuu Up Sore Yaaaa gaeesss
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️