The Prince and I

The Prince and I
Pelan - pelan


__ADS_3

Indramayu Jawa Barat Indonesia Present Day


Zinnia merasa kesal luar biasa ke Sean karena malah berpikir untuk memberikan Arsya adik yang berarti kan mereka berdua tidak akan berpisah padahal Zinnia tidak mau kembali ke Belgia.


Meskipun Arsya adalah putra mahkota, tapi dia tetap Arsyanendra putraku dan aku tidak mau Arsya harus berada di istana yang bisa membuat masa kecilnya sudah dipenuhi aturan protokoler istana.


Zinnia memegang pelipisnya dan kepalanya terasa sakit. Jujur tubuhnya mengkhianati otaknya, bagaimana tadi dirinya bisa terhanyut dengan sikap mesra Sean.


Kamu macam cewek murahan saja Zee!


Zinnia memilih masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidak perduli ini masih jam sembilan malam tapi dirinya memilih untuk tidur daripada memikirkan Sean.


***


Sean masih berada di ruang tengah dan harus menetralisir tubuhnya yang meronta ingin bersama dengan Zinnia. Hidup selibat sejak ditinggal pergi istrinya, membuat dirinya seperti musafir yang rindu dengan Zinnia, kekasih halalnya.


Hampir satu jam Sean berada di ruang tengah sambil menikmati kopi yang mulai dingin dan singkong tanpa ada teman disana karena dirinya lebih banyak berpikir dengan ucapan Zinnia yang bilang akan ada surat cerai besok.


Sean! Sean! Sudah tahu istrimu masih level waspada, malah kamunya tidak sabaran!


"Yang mulia?" suara Jasmine membuyarkan lamunan Sean.


"Ya Jasmine?"


"Maaf saya kira tidak ada orang jadi saya mau mematikan lampu ruang tengah" ucap Jasmine.


"Biar saya yang urus nanti Jasmine. Kamu beristirahat saja."


"Baik yang mulia." Jasmine pun berbalik untuk kembali ke kamarnya.


"Oh Jasmine..." panggil Sean.


Jasmine menghentikan langkahnya lalu berbalik. "Ya yang mulia..."


"Terima kasih sudah menemani dan menjaga Zee selama ini..."


Jasmine tersenyum. "Sudah menjadi tugas saya yang mulia meskipun pada prakteknya kami seperti kakak adik. Saya sudah berjanji pada Emir Schumacher untuk selalu berada di sisi Nona Zinnia."


"I really appreciate that" ucap Sean tulus.


"You're very welcome, your Highness." Jasmine pun berbalik dan berjalan menuju kamarnya.


Sean berjalan menuju ke sebuah lemari yang terdapat beberapa album foto klasik. Meskipun semua serba digitalisasi, tapi Zinnia memakai album foto cetak untuk disimpan.


Sean mengambil album-album itu apalagi ada tulisannya 'Arsya Birth' disana. Sean membawa album itu ke sofa dan mulai membukanya. Wajah pria bermata biru itu mengembun melihat foto-foto saat Arsya baru saja lahir dalam pelukan Zinnia dan dia melihat informasi di bawah foto itu bertuliskan


📸 taken by Oom Pandega Yustiono


Rupanya Oom Ega yang menjadi dokter anak Arsya.


Selain itu ada foto-foto bersama dengan Ayrton, Anandhita, Arum Giandra, Ega dan seorang wanita yang dia tidak kenal tapi diyakini sebagai dokter obgyn Zinnia.

__ADS_1


Setelah itu foto-foto semua keluarga besar Zinnia, para opa dan Oma, Oom dan Tantenya, juga para sepupu rusuhnya. Sean menduga mereka pasti di rumah sakit milik PRC Group.


Cukup lama Sean menenggelamkan diri melihat foto - foto perkembangan Arsyanendra. Dan Sean bersyukur istrinya adalah seorang ibu yang baik. Tiba-tiba mata Sean mendelik melihat sebuah foto saat Zinnia bersama Arsya di apartemen lama istrinya di Geneva.


Jadi kamu sempat ke Geneva. Sean melihat Zinnia dan Arsya bersama dengan Gasendra dan Garvita foto bersama. Sean tahu istrinya bukan tipe social media junkie tapi Sean tahu Zinnia memblokir akun instagramnya hingga tidak tahu postingannya apalagi akunnya pun di private.


Tega kamu Zee. Ke Swiss tanpa aku tahu.


Sean pun mengembalikan album foto itu ke tempatnya dan berjalan menuju kamar Arsyanendra setelah mematikan lampu di ruang tengah. Rumah Zinnia yang dekat dengan persawahan tampak sunyi dan tenang. Tak heran jika Ayrton melakukan penjagaan ketat.


Mumpung Arsya bersama Shinichi, aku bisa pakai kamarnya. Sean membersihkan dirinya di kamar mandi putranya dan seperti biasa dirinya hanya tidur dengan celana pendek. Dilihatnya jam dinding kamar Arsya yang menunjukkan pukul sebelas malam.


Perlahan Sean mencoba membuka pintu penghubung kamar Arsyanendra dan Zinnia. Dirinya bersyukur Zinnia lupa menguncinya dan perlahan berjalan menuju tempat tidur istrinya.


Sean duduk di pinggir tempat tidur sembari memandangi wajah Zinnia yang sudah terlelap dan gurat sedih tampak jelas di wajahnya.


Maafkan aku Zee. Aku terlalu terburu-buru padahal kita baru sedikit berbaikan.


Sean pun berdiri dan berjalan menuju kamar Arsyanendra.


"Sean...?" suara Zinnia membuat tubuh Sean membeku.


"Ya, Zee. Maaf... jika membuatmu terbangun.." ucap Sean lembut setelah membalikkan tubuhnya.


"Kamu... mau tidur di kamar Arsya?" mata hitam Zinnia menatap Sean bingung.


"Iya. Kenapa Zee?" Please kamu ijinkan kita tidur bersama. Please.


"Tidak apa-apa. Selamat malam." Zinnia menarik selimutnya lagi dan memunggungi Sean membuat pria itu gemas dengan sikap istrinya.


Sean pun membuka pintu penghubung dan masuk ke dalam kamar Arsyanendra.


***


Pagi harinya Shinichi dan Arsyanendra sudah siap menuju sawah bahkan dengan pakaian kebesaran mereka.


Mereka semua sudah sarapan dan hendak menuju sawah di belakang rumah Zinnia. Kantor perusahaan produsen beras miliknya berada tak jauh dari rumahnya sekarang.


"Kamu yakin pakai baju putih begitu?" tanya Zinnia ke Shinichi.



Gayamu Shinchan


"Lho biarpun dihukum Appa, gaya itu penting mbak!" cengir Shinichi pede.


"Nanti kalau bajumu kotor kena tanah, kamu harus cuci sendiri!"


"Lho mbak, kan ada bik Minah. Apa kabar?" Shinichi tampak cemberut mendengar perintah kakaknya.


"Dengar, Shinichi, baju kamu itu kena lempung ya harus kamu cuci sendiri. Bukan apa-apa, itu termasuk tanggung jawab kamu. Kan cuma cuci satu stel doang, bukan pekerjaan yang berat." Zinnia menatap tajam ke adiknya.

__ADS_1


"Mbak kayak mommy. Apa semua cewek kalau udah punya anak jadi galaknya minta ampun ya? Mommy juga sama kayak mbak Zee. Aku dan Sakura sering diomeli..." keluh Shinichi.


"Soalnya kamu nakal sih Shin" gelak Zinnia. "Nanti kalau kamu sudah menikah dan punya anak, akan tahu kenapa mommy dan mbak Zee seperti ini. Para emak itu tidak akan marah kalau tidak ada pasal, Shinchan..." Zinnia memeluk adiknya yang imut itu.


"Iya deh!" senyum Shinichi.


"Mommy, Asya sudah leady" celetuk Arsyanendra yang keluar bersama Sean yang memilih memakai kaos oblong hitam.



Imutnya nih bocah


"Wah, Arsya mau ke sawah atau berburu lintah?" goda Shinichi.


"Nggak, Asya mau cali cacing" cengir bocah berambut blonde itu.


"Nona Zinnia" suara Jasmine membuat keempatnya menoleh.


"Yes Jaz?" jawab Zinnia.


"Ini saya buatkan bekal buat prince Arsya." Jasmine menyerahkan keranjang piknik seperti biasanya kalau Zinnia memeriksa sawah-sawah miliknya.


"Terima kasih Jaz." Zinnia membawa keranjang piknik itu tapi diambil alih oleh Sean.


"Biar aku yang bawa Zee."


Zinnia pun menyerahkan keranjang itu ke suaminya.


"Yuk berangkat!" Shinichi menggandeng Arsyanendra sedangkan Zinnia dan Sean berjalan di belakangnya.


Tangan Sean langsung menggandeng tangan Zinnia yang berusaha melepaskan tapi genggaman Sean lebih kuat.


"Oh please Zee, jangan macam anak kecil" bisik Sean sambil tertawa membuat Zinnia sebal.



Modusmu bang



Mommynya Arsya



Tempat Arsya cari cacing


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2