The Prince and I

The Prince and I
Freud dan Jung


__ADS_3

Zinnia menatap Sean dengan tatapan tidak percaya.


"Astaghfirullah! Apa kamu bilang Sean?" bisiknya ketika mereka sampai di parkiran tempat Sean memarkirkan mobil sewaannya.


"Assalamualaikum Yaa Qalbii. Masa kamu tidak tahu Zee?" senyum Sean.


"Wa'alaikum salam. Aku tahu artinya Sean tapi apa maksudmu seperti itu?" Zinnia masih menatap wajah Sean dengan tatapan menyelidik.


"Aku sudah melakukan syarat dari ayahmu bahkan aku sudah bertemu dengan Opamu dan adikmu sebelum aku kemari."


Zinnia memegang pelipisnya.


"Zee, masuk dulu, kita bicarakan di apartemen kamu." Sean membukakan mobil Mercedes nya dan menghela gadis itu masuk ke dalam.


Di dalam mobil, Zinnia masih tidak habis pikir bagaimana seorang pangeran Belgia yang bisa dibilang masih berada di bawah gereja Roman Catholic, bersedia menjadi mualaf meskipun Belgia banyak penduduknya muslim sekarang. ( https://mediapakuan.pikiran-rakyat.com/beja-ti-batur/pr-633569151/wow-tidak-disangka-diam-diam-ternyata-belgia-menjadi-negara-muslim-di-eropa )


Sean melirik ke arah Zinnia yang masih memegang pelipisnya dengan wajah bingung namun pria itu memilih menjalankan mobilnya menuju apartemen gadis itu.


***


Apartment Zinnia


Zinnia masuk ke dalam apartemen dengan perasaan jengkel. Gadis itu merasa Sean terlalu gegabah memutuskan untuk mengikuti syarat dari papanya.


Sean hanya menutup pintu apartemen dan melihat gadis itu mondar mandir tampak bingung.


"Apa yang kamu pikirkan Sean? Apa kamu juga sudah khitan?" tanya Zinnia. "Apa karena papaku yang minta? Atau karena Opa? Atau mama? Atau Gasendra? Garvita? Atau aku?"


Sean hanya tersenyum sambil mendekati Zinnia. "Aku sudah khitan, Zee. Awalnya karena kamu Zee, papamu sudah memberikan ultimatum, dan aku tahu tujuannya agar aku mundur tapi..." Sean memeluk Zinnia. "Aku mendapatkan hidayah kalau boleh aku bilang begitu."


"Hidayah?" beo Zinnia. "Hidayah apa?"


"Aku seperti diarahkan masuk mesjid. Kamu tahu kan negaraku adalah negara dengan pertumbuhan umat Islam terbesar di Eropa. Selama ini aku tidak memperdulikan soal agama karena aku bukan orang yang religius. Tapi aku berdoa, pertama kalinya aku berdoa sungguh - sungguh, jika aku memang dijodohkan denganmu, semoga dipermudah dalam memenuhi syarat yang diberikan Mr Schumacher." Mata biru Sean menatap lembut ke Zinnia.


"Lalu?"


"Saat aku ada acara amal, entah kenapa kakiku ingin masuk mesjid dan disana aku merasa damai. Bahkan imam disana bingung kenapa aku terdiam di dalam mesjid cukup lama."


Zinnia mengerjapkan matanya dan bibirnya Kelu tidak bisa berkata apa-apa.


"Sejak saat itu, diam-diam aku belajar di mesjid dan dua bulan lalu aku resmi mualaf dan sudah berkhitan. Jadi Zee..."


Zinnia menatap Sean sendu. "Tapi kamu mualaf karena aku, bukan karena..."


"Kamu salah Zee. Aku benar-benar mendapatkan hidayah itu, Zee. Doaku didengar Allah, Zee. Belum pernah aku merasa sereligius seperti ini."


Zinnia melepaskan pelukan Sean. "Aku mau tiduran, kepalaku pusing." Gadis itu masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya.


Sean hanya menatap pintu yang tertutup itu. Aku benar-benar mengejutkan kamu ya Zee?


***

__ADS_1


Di dalam kamar, Zinnia hanya bisa termenung mendapatkan kejutan dari Sean yang tidak disangkanya benar - benar memilih aturan keluarganya.


Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?


Zinnia masuk ke dalam kamar mandi lalu membersihkan diri dan mengambil air wudhu.


***


Sean menunggu gadis itu keluar dari kamarnya sambil memesan makanan untuk makan malam. Hingga delivery order datang, Zinnia pun masih berada di dalam kamarnya.


Pria itu pun mengetuk pintunya untuk mengajak makan malam bersama.


"Zee? Ayo makan malam" panggil Sean. "Zee?"


Pintu kamar pun terbuka dan tampak Zinnia dengan wajah kusut keluar.


"Aku belum masak..." gumam Zinnia.


"Sudah aku pesankan" ucap Sean.


Zinnia melihat meja makannya penuh membuat dirinya menoleh ke arah Sean.



"Nggak kurang banyak ini?" tanya Zinnia yang melihat menu Chinese food disana.


"Kita bisa makan besok untuk sarapan" ucap Sean cuek. "Ayo makan. Tenang aku cari yang halal kok."


***


Zinnia memasukkan sisa makanan ke dalam kotak-kotak untuk dimasukkan ke kulkas. Dirinya sudah terbayang bisa dimasak apa besok pagi untuk sarapan.


Sean sendiri memilih membantu dengan mencuci piring melihat gadisnya sibuk memilah makanan sisa yang dimasukkan ke kulkas.



Zinnia pun membersihkan meja makan, meja dapur dan dirinya baru menyadari kalau kimbab di meja makannya menghilang.


"Sean..."


"Ya?" Sean sedang berjalan menuju sofa sambil membawa sebotol coke.


"Apa kamu tadi masuk ke dalam apartemen aku?" Mata hitam Zinnia menatap tajam ke arah pria itu.


"Iya. Apa kamu tidak melihat koper dan duffle bag aku disana?" kekeh Sean sambil menunjukan koper dan tas nya.


"Bagaimana kamu tahu nomor password aku?"


Sean hanya menatap geli ke gadisnya yang tampak kesal. "Look sayang, aku kan sering menginap disini dan aku mulai hapal password mu. Sigmund Freud huh?"


"Apa?"

__ADS_1


"561856. Ulang tahun Sigmund Freud kan?"


Wajah Zinnia mengeras. "Bagaimana kamu tahu?"


"Kamu anak psikologi dan pasti tidak akan jauh-jauh dari tokoh psikologi. Dan idolamu adalah Sigmund Freud selain Carl Jung."


Zinnia hanya diam saja. Tampaknya aku harus mengganti nomor password pintu aku deh!


"Zee, kemari... " Sean menepuk sebelah sofa yang kosong.


Zinnia pun menurut karena wajah Sean tampak serius.


"Ada apa Sean?"


"Aku ingin besok Juni, kamu ikut dengan ku ke Brussels."


"Ngapain Sean? Memangnya ada apa?" tanya Zinnia bingung.


"Kak Stefan akan menikah dan aku ingin kamu menjadi pendampingku."


Zinnia melotot. "Yang benar saja Sean! Itu sudah sangat-sangat pribadi! Apa kata orang tua kamu?"


"Aku tidak perduli apa pikiran kedua orang tua aku. Yang jelas, aku ingin kamu ikut denganku ke Brussels dan menjadi pendampingku. Lagipula Opa dan papamu sudah mengijinkan kok" senyum Sean.


Zinnia melongo.


"Mau ya Zee? Harus mau!"


Zinnia menggelengkan kepalanya. "Meskipun aku menolak, kamu tuh pasti memaksa kan?"


"Tuh tahu! Ngomong-ngomong, aku nanti malam tidur dimana ya?" Sean celingukan mencari tempat enak untuk tidur.


"Oh Astagaaa!"


***


Sigmund Freud (6 Mei 1856 – 23 September 1939) adalah seorang Austria keturunan Yahudi dan pendiri aliran psikoanalisis dalam bidang ilmu psikologi.[1] Menurut Freud, kehidupan jiwa memiliki tiga tingkatan kesadaran, yakni sadar (conscious), prasadar (preconscious), dan tak-sadar (unconscious). Konsep dari teori Freud yang paling terkenal adalah tentang adanya alam bawah sadar yang mengendalikan sebagian besar perilaku.


( Sumber Wikipedia )


Carl Gustav Jung (Swiss: karl gʊstaf jʊŋ, Carl Gustav Jung 26 Juli 1875 – 6 Juni 1961) adalah seorang psikolog yang berasal dari Swiss dan seseorang yang merintis dan mengembangkan konsep psikologi analitik atau psikoanalisis.


( Sumber Wikipedia )


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2