
Geneva Lima Tahun Lalu...
Sean dan Greg memeriksa semua resort-resort miliknya yang berlokasi di Swiss sedangkan Zinnia menyelesaikan semua tugas dan ujiannya dengan ditemani Jasmine. Pernikahan Zinnia dan Sean membuat dirinya memilih mengundurkan diri dari rumah sakit tempat selama ini Zinnia bekerja.
Greta dan doktor Emma merasa kehilangan psikolog yang selalu ramah dan care kepada semua klien - kliennya. Begitu juga dengan para kliennya yang datang ke rumah sakit saat mendengar akan ada acara perpisahan konselor kesayangan mereka.
Zinnia tampak terharu melihat para anak-anak itu datang membawakan banyak boneka dan bunga untuknya. Satu persatu para kliennya mendapatkan pelukan hangat dari Zinnia.
"Apakah Miss Zinnia akan menjadi princess?" tanya salah seorang kliennya.
"Sepertinya begitu" senyum Zinnia.
"Jangan lupakan kami ya" ucap klien lainnya.
"Tentu saja tidak" ucap Zinnia.
Setelah acara makan siang yang hangat dan ramai, Zinnia dan Jasmine pun kembali ke apartemen wanita itu. Jasmine dan Greg menyewa apartemen di gedung berbeda tapi masih di lokasi yang sama.
Memasuki musim gugur ini, hawa dingin mulai terasa di Swiss hingga Zinnia harus memakai mantel.
"Nona Zinnia" panggil Jasmine yang menyetir mobil milik Zinnia yang jarang dipakai.
"Ya Jaz?"
"Apakah nona bahagia bersama dengan tuan Sean?"
Zinnia tersenyum. "I'm so happy Jaz. Dan semoga kami seperti ini terus, seperti papa dan mama."
Jasmine tersenyum lalu mengelus bahu nonanya. "Anda tahu nona, saya akan melindungi nona sekuat tenaga saya."
Zinnia menatap pengawalnya sejak SMA, wanita yang sekarang berusia 35 tahun. "Thanks Jaz."
"Sama-sama nona."
***
Apartemen Zinnia.
Mengingat Sean dan Greg masih memeriksa kesiapan resort-resort miliknya untuk menghadapi liburan musim dingin esok, Zinnia dan Jasmine pun memilih tinggal di apartemen milik putri Ayrton itu.
"Tampaknya Sean baru pulang besok Jaz. Jadi kita berdua disini saja dulu" ucap Zinnia yang memeriksa ponselnya.
"Kita masak apa nona?" tanya Jasmine sambil membuka kulkas Zinnia.
"Ada bahan untuk Mac and cheese?"
Jasmine memeriksa kulkas itu. "Ada nona."
"Kita buat itu saja."
***
Sean pulang subuh dan langsung masuk ke dalam apartemen Zinnia. Jasmine yang tidur di sofa langsung terbangun mendengar suara pintu dibuka dan hanya mengangguk hormat kepada Sean.
"Zee masih tidur Jasmine?" bisik Sean.
"Masih tuanku."
"Terimakasih sudah menemani Zee" ucap Sean.
__ADS_1
"Sudah menjadi tugas saya, tuanku."
Sean mengangguk lalu masuk ke dalam kamar Zinnia. Tampak istrinya masih terlelap dengan selimut hingga ke lehernya.
Pria itu mencium kening Zinnia sekilas lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelahnya seperti biasa Sean hanya menyisakan boxer di tubuhnya dan naik ke tempat tidur langsung memeluk Zinnia.
"Eh...?" gumam Zinnia merasakan sebuah tangan memeluk dirinya erat. "Se...an?"
"Yes baby." Sean mencium pipi Zinnia lalu turun ke bahu dan punggung mulus Zinnia yang terbuka karena memakai lingerie dengan model begitu.
"Kapan...datang?" gumam Zinnia dengan mata masih terpejam.
"Barusan sayang..." tangan Sean merayap menuju bawah ke inti Zinnia yang membuat wanita itu terkesiap.
"Sean?" Wajah cantik Zinnia menoleh. "Really?"
"Kenapa? Serangan fajar, Zee" cengir Sean.
"Astagaaa..." bisik Zinnia dengan nafas mulai memburu.
"Enak kan?" bisik Sean sen*sual.
"Oh God, Sean..."
"Yes Zee?"
"I want you..."
"I thought you never ask tapi jangan berisik ya..."
"Kenapa?" Zinnia menatap Sean bingung.
Zinnia cekikikan. "Aku lupa kalau masih ada Jasmine di depan."
Sean mulai menindih tubuh Zinnia. "Mana kamarmu tidak kedap suara kan?"
Pagi itu Sean dan Zinnia melakukan olahraga fajar dengan suara tertahan karena mereka tidak mau membuat Jasmine bertraveling pikirannya.
***
Brussels Belgia Lima Tahun Lalu...
Sebulan setelah menyelesaikan semua urusannya di Geneva, akhirnya Sean dan Zinnia kembali ke Brussels Belgia. Keduanya memilih untuk tidak tinggal di istana utama atau Royal Palace of Brussels melainkan tinggal di apartemen milik Sean yang terdapat di pusat kota.
Sean tidak ingin Zinnia tinggal di istana sementara waktu sambil penyesuaian semua pekerjaan protokoler kerajaan.
"Mulai besok akan ada sekretaris kerajaan yang akan memberikan kamu pekerjaan apa saja yang harus dilakukan oleh seorang putri kerajaan Belgia. Dan aku tahu kamu bisa melakukannya Zee." Sean menatap wajah istrinya yang sedang makan siang di sebuah restauran kelas atas.
Zinnia yang siang itu mengenakan Coat kotak-kotak dan topi baret pelukis mengangguk. "Kurang lebih hampir sama dengan tugasku selama di Dubai sepertinya ya Sean."
"Short of. Damn kamu cantik sekali Zee" ucap Sean.
"Baru sadar pak? Selama ini kemana saja?" kekeh Zinnia.
__ADS_1
"Pingsan!" jawab Sean asal membuat Zinnia cekikikan.
"Seriously Sean, aku takut membuatmu malu karena aku masih ..."
"Sssttt. Ada aku Zee. Don't worry." Sean mencium bibirnya lembut. Zinnia pun membalas dengan memegang wajah suaminya.
***
Sekertaris kerajaan datang ke apartemen pasangan pangeran dan putri itu dengan membawa agenda jadwal kunjungan Sean dan Zinnia besok ke rumah sakit untuk anak-anak yang menderita sakit cukup parah seperti cancer ataupun tumor.
Zinnia langsung antusias jika berhubungan dengan anak-anak.
"Apakah harus membawa boneka atau makanan atau bunga?" tanya Zinnia.
"Tidak perlu yang mulia. Cukup anda datang saja sudah membuat anak-anak senang. Mereka sudah antusias mendengar anda akan datang."
"Selanjutnya apalagi acaranya?" tanya Sean.
"Yang mulia putri, apakah anda bersedia menghadiri acara memasak untuk amal yang akan dibagikan kepada panti asuhan dan panti jompo?" tanya Sekretaris itu takut-takut karena Zinnia menolak tugas itu.
"Tentu saja aku mau! Masak apa?"
"Membuat roti dan beef stew..."
"Tidak masalah. Aku mau! Dimana lokasinya dan jam berapa?" ucap Zinnia semangat.
"Di dapur umum kastil Van Deersel jam dua siang."
Zinnia menatap Sean dengan wajah berbinar. "Mau kan kita masak disana?"
"Tapi yang mulia, jam tujuh malam ada acara menonton Opera di gedung Opera."
"Memasaknya kan paling sampai jam empat sore, cukuplah waktunya untuk datang ke Opera" sahut Sean. "Masukkan jadwal kami berdua untuk acara memasak amal. Dan tidak perlu pengawalan terlalu ketat karena kami tidak ingin masyarakat merasa terintimidasi dan tidak nyaman dengan kehadiran banyak orang."
"Baik yang mulia pangeran."
"Oh operanya menceritakan soal apa?" tanya Zinnia yang sangat menyukai pertunjukan seperti itu.
"Phantom of the Opera."
Wajah Zinnia tampak berbinar. "Aku suka cerita itu."
Sekertaris kerajaan menatap wanita cantik di hadapan mereka dengan perasaan terkejut. Tidak ada kepura-puraan di diri istri pangeran Sean Léopold tentang apapun bahkan Zinnia dengan senang hati menerima tugas yang sebenarnya adalah tugas Natalia sebagai calon ratu masa depan tapi istri Stefanus itu lebih memilih acara sosialita dengan anggota kerajaan yang lain.
Istri pangeran Sean memang berbeda.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Maaf telat Zee nya.
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1
Introducing adik Zee, Garvita dan Gabriel