
Indramayu Jawa Barat
Ayrton dan Zinnia pergi ke pabrik milik Zinnia yang dibawah nama AJ Corp untuk membicarakan kepada para manajer bahwa nantinya Zaidan yang akan ditunjuk sebagai asisten direktur karena Zinnia akan kembali ke Brussels Belgia. Tentu saja dibawah pengawasan Ayrton sebagai Executive Chairman AJ Corp.
Sean yang di rumah bersama dengan Shinichi dan Mariana lebih banyak mengobrol tentang kondisi Andrew sekarang.
"Papamu kondisinya gimana Sean?" tanya Mariana. Arsyanendra sedang berjalan-jalan ke sawah bersama Garvita, Gabriel dan Jasmine.
"Saya tidak tahu, ma. Karena Father selalu menyembunyikan rasa sakitnya" jawab Sean.
"Memangnya terakhir Tante Mariana ke Brussels, paman Andrew gimana?" tanya Shinichi.
"Menurut dokter yang mengawasi, memang sudah masuk stadium tiga" ucap Mariana.
"Udah parah tuh bang" celetuk Shinichi. "Apalagi setahu aku, leukemia termasuk kanker yang susah sembuh meskipun kemungkinan itu ada."
"Papamu rajin kemoterapi kan Sean?"
"Karena selalu diawasi oleh tim dokter kerajaan, Ma."
"Baguslah Sean, sebab memang harus rajin seperti itu" senyum Mariana.
"Jadi lusa kita kembali ke Jakarta, Tante?" tanya Shinichi.
"Iya jadi. Memangnya kenapa, Shin?" Mariana menatap keponakan imutnya.
"Shin nggak papa sih kembali ke Jakarta tapi habis itu kan harus kembali ke Tokyo. Shin serem lihat muka dingin mommy..." Shinichi menunduk.
"Bukannya biasanya appa mu yang mukanya seperti freezer?" goda Mariana.
"Sejak Shin merusak lift kampus, mommy yang jadi freezer lebih parah dari Appa..." Shinichi terisak drama. "Shin takut dikutuk jadi kungkang!"
Mariana dan Sean melongo.
"Tunggu Shinichi, kenapa tiba-tiba kamu jadi seperti ini?" tanya Sean.
Shinichi memperlihatkan notifikasi kartu kredit nya. "Semua diblokir mommy kecuali yang silver. Shin semalam sudah protes sama mommy tapi kata mommy biar Shin kapok nakal. Shin kan nggak nakal tho Tante? Shin ga bakalan jadi kungkang kan?"
Imut jadi kungkang?
Mariana tertawa terbahak-bahak melihat wajah keponakannya yang hobinya mendrama. "Pantas Arsya jago drama, wong Oomnya saja begini!"
Shinichi hanya memajukan bibirnya.
***
Ayrton dan Zinnia sudah kembali dari pabrik setelah melaksanakan rapat dengan para manajer, menemukan Garvita menangis dan tampak Gabriel dengan telaten mengurut kakinya.
"Papa tuh heran, kamu itu kok hobi bikin Gabriel repot sih! Sekarang apa lagi ulah kamu, Gar? Gabriel itu pengawal kamu, bukan tukang pijat kamu!" omel Ayrton kesal melihat ulah putri bungsunya yang manja.
"Tadi Tante Galvita kepleset Opa" adu Arsyanendra yang sedang digendong Sean.
"Kok bisa?" tanya Zinnia.
"Tante Galvita nolongin Asya yang hampil jatuh..." Arsya menunduk merasa bersalah membuat Tantenya menangis.
Zinnia yang melihat putranya sudah ada tanda - tanda mau menangis langsung menghampiri. "Arsya, sudah gak papa. Tante Garvita kan sudah jadi superhero."
"Asya sedih mommy, Tante Galvita sakit..." Tiba-tiba Arsyanendra menangis kencang membuat Sean terkejut dan Zinnia langsung mengajak Arsya ke dalam pelukannya.
"Astagaaa!" Shinichi pun pusing mendengar kehebohan di rumah kakaknya.
__ADS_1
***
Setelah drama antara Arsyanendra dan Garvita, akhirnya semuanya duduk di meja makan untuk makan malam.
"Lusa kita semua kembali ke Jakarta untuk acara ijab qobul ulang Sean dan Zee. Kamu sudah mengabari papamu, Sean?" Ayrton menatap menantunya.
"Sudah pa. Father menyerahkan semuanya kepada papa karena Father kan tidak terlalu paham."
"Oke. Shinichi, habis acara kakakmu, kamu pulang ke Tokyo. Mommymu sudah suruh kamu pulang karena hukuman kamu hampir habis."
Shinichi pun manyun kebayang wajah mommynya yang super judes sekarang. Kalau Appa kan memang wajahnya dingin gitu tapi kalau mommy, kok lebih menyeramkan dari Appa.
"Pabrik beras milik Zee dan Arsya tetap dihandle oleh Zaidan di bawah pengawasan semua petinggi AJ Corp karena nantinya Zee harus mendampingi Sean di Brussels jika Sean jadi naik tahta menggantikan Andrew. Gasendra kan masih di Bandung untuk menyelesaikan kuliahnya yang tinggal sedikit lagi." Ayrton menatap ke semua anggota keluarganya.
"Bik Minah tetap disini kan Ton?" tanya Mariana.
"Bik Minah kan memang orang sini, May, nanti tetap kita gaji untuk membersihkan rumah ini karena ini rumah Zee."
"Anggap saja ini rumah berlibur kami, Pa kalau liburan" ucap Sean.
"Iya pa. Lagian kalau Keluarga Jakarta mau liburan kemari juga bisa pakai rumah ini" sambung Zinnia.
"Zee, kamu sudah yakin rujuk sama Sean?" tanya Ayrton serius.
"Insyaallah yakin Pa."
"Sean? Papa harap kejadian lalu menjadi pelajaran buat kamu ya" ucap Ayrton ke menantunya.
"Iya pa. Aku tidak mau kehilangan Zee dan Arsyanendra."
***
Garvita harus dipapah oleh Shinichi saat ingin duduk ke sofa tengah. Pria imut itu melihat bengkak di kaki adiknya sudah mulai mengempis.
"Nggak mas. Makasih sudah bantu aku duduk di sofa."
"Gabriel sedang makan malam jadi jangan kamu ganggu. Kasihan dia, tampak panik lihat kamu seperti itu. Kamu sama Juliet sama saja, hobinya membuat pria yang sayang sama kalian sport jantung!" omel Shinichi.
"Udah deh mas Shin..." sungut Garvita sebal.
"Nggak Vita, kamu harus mas kasih tahu! Jangan sampai kamu menyesal suatu saat nanti! Paham!" Shinichi pun berdiri menuju dapur.
"Mas Shin mau kemana?"
"Bikin indomie! Mau?"
"Mau. Yang kuah ya." Garvita menatap kakaknya dengan memelas.
"Iya. Tunggu ya."
Garvita duduk manis di ruang tengah sendirian karena Ayrton dan Mariana sudah masuk ke ruang kerja untuk menghubungi Hoshi dan Bima serta Travis tentang rencana ijab Sean dan Zinnia, sedangkan pasangan Léopold itu sudah masuk ke kamar Arsyanendra untuk packing barang-barang putranya.
Garvita sedang asyik berchatting ria dengan para sepupunya yang di Jakarta ketika Gabriel datang membawakan nampan berisikan mie rebus sesuai permintaan nonanya.
"Mie nya nona Garvita" ucap Gabriel yang membuat Garvita mendongakkan wajahnya.
"Lho kok jadi kamu yang bawa?"
"Tadi tuan Park hendak membawanya tapi saat tahu buat nona, saya bawakan saja." Gabriel meletakkan nampan itu di meja depan Garvita lalu mengambil sebuah meja lipat milik Arsya dan memasang nya di atas paha Garvita. Setelah stabil, pria itu mengambil nampannya dan meletakkan di hadapan gadis cantik itu.
"Te... terima kasih Gabriel" ucap Garvita pelan dengan wajah memerah merasa tersentuh dengan perlakuan pengawalnya.
"Selamat menikmati nona..." Gabriel pun hendak pergi namun tangan Garvita memegang tangannya.
__ADS_1
"Temani aku makan, aku tidak suka makan sendirian..."
"Tapi nona..."
"Temani Gabriel!" Mata hijau Garvita menatap tajam pengawalnya yang membuat Gabriel hanya tersenyum.
"Aku temani nona" ucap Gabriel lembut.
"Duduk situ!" perintah Garvita sambil menujuk sofa yang berada di seberangnya.
"Baik nona..." Gabriel pun duduk di sofa yang ditunjuk Garvita.
Nona Garvita... judes, manja, cengeng tapi entah sejak kapan aku sudah jatuh cinta dengan putri Emir ini. Apa aku pantas jika memintamu dari ayahmu?
Gabriel hanya menatap lembut ke gadis cantik yang sedang menikmati mie rebusnya.
There's a lot of things I understand
And there's a lot of things that
I don't want to know
But you're the only face I recognize
It's so damn sweet of you
To look me in the eyes
It's alright, I'm O.K.
I think God can explain
I believe I'm the same
I get carried away
It's alright, I'm O.K.
I think God can explain
I'm relieved I'm relaxed
I'll get over it yet
Gabriel jadi teringat lirik lagu lama milik Splender. I think God can explain why I'm so in love with you.
Garvita Al Jordan Schumacher
Gabriel Luna
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1