The Prince and I

The Prince and I
Sean di Kamar Arsyanendra


__ADS_3

Indramayu Present Day


Sean menyusul Zinnia dan Arsyanendra ke kamar bocah itu. Di dalam kamar, Sean melihat bagaimana banyaknya pernak pernik Toy Story disana.



"Whoah! Toy Story?" tanya Sean melihat kaakr bernuansa biru putih itu. "Arsya suka Toy Story?" Sean menatap wajah putranya yang masih memeluk leher Zinnia.


Arsya menganggukan kepalanya.


"Arsya, kalau ditanya, jawab dong. Jangan cuma angguk. Bilang 'yes daddy'. Arsya kan pintar" ucap Zinnia lembut.


"Yes... Daddy" bisik Arsyanendra dengan takut-takut.


"Arsya suka siapa? Woody atau Buzz?" tanya Sean yang berusaha breaking the ice dengan putranya.


"Rex..." balas Arsyanendra.


"Rex? Yang mana itu Zee?" tanya Sean. Arsya menunjukkan boneka tyrannosaurus hijau yang ada di pojok. "Oh, itu yang namanya Rex ya Sya?"


Arsyanendra mengangguk tapi ingat pesan mommynya. "Yes daddy."


"Arsya, di tempat tidur sama Daddy dulu ya. Mommy mau buatkan susu dulu." Zinnia meletakkan putra tampannya diatas tempat tidur. "Arsya berani kan?"


"Belani mommy" jawab Arsyanendra sambil mengangguk.


"Good boy!" Zinnia mencium pipi gembul putranya. "Aku titip Arsya dulu ya Sean. Ini jamnya minum susu."


Sean meraih tangan Zinnia. "Terimakasih" ucapnya serak sambil menatap wajah istrinya.


Zinnia memberikan senyum manis. "You're so welcome."


Sean dan Arsyanendra kini berada di tempat tidur bocah itu. Dan Sean merasa sangat gugup berhadapan dengan putranya sendiri, putra yang tidak diketahuinya hampir tiga tahun ini!


"Arsya kalau malam tidur sendiri?" tanya Sean mencari topik pembicaraan.


"Yes Daddy. Asya sudah becal. Kata Tante Galvita kalau sudah besal, harus bobok sendili. Tapi Asya kadang pindah ke Kamal mommy." Arsya memainkan Boneka burung hantunya. "Mommy kasihan bobok sendili."


"Memangnya kamar mommy dimana?"


Arsyanendra menunjukkan pintu penghubung kamarnya dan kamar Zinnia.


"Arsya, senang tidak ketemu Daddy?" tanya Sean lembut.


"Nggak!"


Sean melongo. "Kenapa?"


"Daddy is mean ( jahat ). Mommy dan Asya ditinggal lama!" ucap bocah itu judes. Sean terpaku melihat bagaimana miripnya Arsya dengan Zinnia kalau memasang wajah judes.


"Maafkan Daddy, Sya. Daddy memang jahat dan Daddy menyesal pergi lama." Sean menahan dirinya untuk tidak memeluk putranya agar tidak terkejut.


"Daddy soly?"

__ADS_1


"Yes, boy. Daddy sangat menyesal pergi lama."


Mata biru Arsyanendra menatap pria yang bermata biru sama dengan dirinya. "Walna mata Daddy sama dengan Asya" celetuk Arsyanendra.


Sean mengambil ponselnya. "Gimana kalau Arsya foto sama Daddy buat melihat mata siapa yang paling biru?"


Arsya beringsut mendekati Sean dan pria itu mengambil foto mereka berdua.


"Lihat Daddy!" pinta Arsyanendra. "Mata asya lebih bilu Dali daddy."


"Arsya kamu disitu, Daddy foto."



Arsyanendra pose bareng Buzz Light-year


"Masyaallah gantengnya anak Daddy" senyum Sean.


"Kalian ngapain?" tanya Zinnia sambil membawakan tempat minum berisikan susu coklat untuk Arsyanendra.


"Lihat mata siapa yang paling bilu, mommy" lapor Arsyanendra.


"Terus siapa yang paling biru?"


"Asya!" gelak putranya yang membuat Zinnia tersenyum tapi tidak Sean yang baru sekarang mendengar suara tawa putranya.


Tanpa disadari, air matanya menetes.


"Aku senang mendengar suara tawa Arsya, Zee. Ya ampun..." Sean mengusap air matanya dengan tangannya. Zinnia lalu mengambilkan tissue yang ada di atas lemari.


"Kamu lebih cengeng dari Arsya" kekeh Zinnia yang membuat Arsya cekikikan.


Sean hanya tersenyum sambil mengusap air matanya dengan tissure.


***


"Bagaimana Sean, Sendra?" tanya Ayrton di seberang.


"Di kamar Arsya" jawab Gasendra di ruang tengah memerima telpon dari papanya.


"Apakah dia tampak menyesal, Ndra?"


"Ohya, bahkan tadi merengek ke mbak Zee untuk tidak berpisah dengannya." Gasendra tertegun mendengar suara tawa Arsya yang khas anak kecil seperti lonceng.


"Arsya tertawa Pa" lapor Gasendra.


"Bagaimana pun, Sean adalah ayahnya Ndra dan darah itu lebih kental daripada air."


Gasendra terdiam. "Tampaknya Sean akan menginap disini Pa. Hujan tidak berhenti-henti dari tadi dan aku tidak mau menjadi tertuduh jika ada apa-apa pada Sean yang aku paksa balik ke Jakarta."


"Ya sudah hati-hati. Papa rasa sudah cukup kita memisahkan ayah dan anak. Bagaimana pun Arsya membutuhkan Daddy nya."


"Papa mau menerima Sean kembali? Seriously?"" nada suara Gasendra agak naik satu oktaf.

__ADS_1


"Kalau mbak mu menerima Sean, papa mau bilang apa? Mereka kan memang tidak ada kata talak meskipun nanti pun harus menikah ulang karena Sean dan Zee sudah berpisah tiga tahun. Apapun keputusan mbakyu mu, kamu harus kamu terima karena sudah ada Arsyanendra diantara mereka. Ingat Ndra, Arsyanendra adalah pewaris sah tahta kerajaan Belgia. Dan papa yakin, Sean akan sekuat tenaga membawa Zee dan Arsya kembali ke Belgia karena sekarang tinggal Sean yang menjadi calon raja."


"Hasil kerja aku, bang Luke, mbak Leia, mbak Blaze dan trio kampret bagus kan Pa?" gelak Gasendra.


"Papa tidak menyangka darah Mafia Opa Senna dan Opa buyut Akira kental sekali di kamu, Ndra."


"Pa, mereka yang mulai dan mereka berurusan dengan keluarga yang salah!"


"Papa tahu Ndra. Dan papa salut cara kerja kalian yang rapih. Tapi sudah ya? Jangan kamu tiru gaya Oma Kaia, Opa Aidan dan Opa Arjuna."


Gasendra menghembuskan nafas panjang. "Kalau tidak ingat mbak Zee begitu mencintai Sean, sudah habis dia!"


"Jangan Ndra. Mbakmu akan membenci kamu seumur hidup. Hanya papa yang berhak menghajar Sean karena dia sudah membuat putri papa terluka dan sakit hati. Semoga kejadian kemarin menjadi pelajaran bagi Sean agar selalu mempercayai pasangannya yang sah" ucap Ayrton.


***


Sean melihat bagaimana Zinnia membacakan buku cerita saat Arsyanendra meminum susunya dengan training cup.



Kali ini Zinnia menceritakan soal keong emas dan mata biru Arsyanendra tidak lepas-lepas dari buku bewarna itu. Sesekali batita itu menanyakan sesuatu yang dijawab Zinnia dengan sabar.


Sean menikmati interaksi di hadapannya dan dia tidak heran karena sebelum mereka menikah, Zinnia adalah psikolog anak yang menjadi konselor buat anak-anak.


Pria itu dengan sedikit lancang menyentuh kaki Zinnia yang berselonjor ke arahnya dan dengan lembut Sean memijat kaki mulus itu.


"Minyak esensial kamu dimana Zee?" tanya Sean.


"Di laci paling atas sebelah kiri sendiri. Memang kenapa Sean?" Zinnia menatap bingung ke arah suaminya begitu juga Arsyanendra.


"Aku hendak memijat kakimu. Pasti capek menggendong Arsya yang semakin berat" jawab Sean sambil membuka laci milik Arsyanendra dan tampak semua perlengkapan dan peralatan bayi disana.


Sean menemukan minyak itu dan langsung mengoleskan ke kedua kaki Zinnia. Dengan lembut, Sean memijat kaki putih bersih itu. Zinnia yang melihat perlakuan intim suaminya, merasa tersentuh dan jantungnya berdegup kencang.


"Mommy .. Ayo dilanjut celitanya" rengek Arsyanendra.


Zinnia tergagap dan melanjutkan dongengnya dengan jantung berdebar-debar.


Damn it kamu Sean!


Sean hanya tersenyum lembut. It's been a long time Zee, aku tidak memijat kakimu.


***


Yuhuuuu Up Sore Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


Maaf kalau hari ini cuma mampu satu chapter per novel on going karena aku tepar setepar teparnya.

__ADS_1


__ADS_2