
Mansion Giandra Jakarta Indonesia
Arum dan Bara menyambut kedua cucu mereka dengan senang hati. Kedua opa Oma yang sudah berusia 70an itu tampak bersyukur Zinnia dan Gasendra tiba di Jakarta dengan selamat.
Tak lama Arimbi, Rina dan Juliet pun datang ke mansion minus Bima dan Hoshi yang sedang di London serta Arka dan Valentino di Brussels.
"Mbak Zee ... " peluk Juliet erat ke kakak perempuannya.
"Jangan kencang-kencang Jules, nanti keponakan kamu kegencet!" hardik Gasendra judes.
"Haaaaahhh? Ada keponakan aku disini? Hello Boy, nama aunty Juliet. Kamu bisa manggil aunty J nanti" ucap Juliet di perut Zinnia yang mulai tampak menonjol dikit.
"Aunty? Bulek ajah lah!" balas Gasendra yang langsung ditatap judes oleh Juliet. Kedua sepupu sebaya itu saling menatap sebal.
"Bule begini dipanggil bulek? Aunty dong!" protes Juliet yang memang ikut gen sang mommy yang berdarah Arab. Beda dengan Valentino kakaknya yang lebih kuat gen Hoshi.
"Pas kan bule dipanggil bulek!"
"Iiiihhh Gas-gas njelehiii!" teriak Juliet kesal.
"Gue telpon Romeo lho!" Gasendra mengambil ponselnya hendak menelpon pria yang mengejar - ngejar sepupunya.
"Awas kamu telpon Romeo!" ancam Juliet.
"Ini berdua! Nggak ada duo kampret, eh muncul duo kampret lainnya!" bentak Rina kesal.
Arimbi dan Zinnia hanya cekikikan melihat keributan dua sepupu itu.
"Kamu masih nolak Romeo?" goda Arum. "Oma kenal lho sama Oma Nieva Cruz, omanya Romeo."
"Iiiihhh Omaaaa. Romeo itu pria paling menyebalkan di muka bumi, malah mungkin seantero Bima sakti, planet Namec, Benua red Line..."
"Benua Red Line? Elu kira One Piece?" ledek Gasendra.
"Biarin! Wek!" balas Juliet.
"Astagaaa, kalian itu!" Suara Levi Reeves membuat kedua remaja itu terdiam.
"Opa Levi, Oma Yanti" sambut Zinnia sambil mencium punggung tangan kedua Opa dan Omanya.
"Masuk mas Levi. Biasa Gasendra kalau ketemu Juliet nggak pernah akur. Sebaya sih" kekeh Arum.
"Masuk Vi" ajak Bara. "Kita makan malam dulu."
"Kamu sehat Zee?" tanya Yanti sambil mengelus perut cucunya.
"Alhamdulillah Oma. Hasil pemeriksaan tadi sama Oma Gendhis dan Oma Rani, anakku sehat" senyum Zinnia sambil memeluk Oma cantiknya.
"Si boy sehat Oma. Don't worry" celetuk Juliet.
"Kok bisa kamu bilang boy, Jules?" tanya Levi.
"Feeling aunty..."
"Bulek" potong Gasendra sambil ngakak.
"Gas-gas!" pekik Juliet kesal.
"Ya Allah, akur cuma semenit?" bentak Rina lagi.
__ADS_1
***
Kini di meja makan sudah berkumpul para opa Oma, Tante dan sepupu Zinnia disana. Semua asyik membuat taruhan jenis kelamin anak Zinnia.
"Jangan dibuat taruhan sekarang mas Bara, mending nanti kalau sudah mau lima bulan. Kan baru ketahuan" ucap Arum.
"Gitu ya Dis?" Bara menatap istrinya.
"Iyalah papi" senyum Arimbi.
"Rasanya ada yang kurang ya gadha generasi Toyib disini" gumam Levi.
"Astaghfirullah! Mas Levi! Papa Eiji nggak ada kok malah kamu gantinya ber-Toyib-toyib ria?" omel Yanti.
Levi hanya nyengir.
"Jadi rencana kamu apa Zee? Sendra?" tanya Arimbi.
"Besok kita ke Indramayu Tante. Papa sudah menyiapkan rumah disana tapi memang masih yang sederhana. Ada tanah yang hendak dibangun rumah sesuai dengan seleranya mbak Zee nanti" jawab Gasendra.
"Kalau kamu butuh arsitek, banyak kan disini. Apa kamu sudah ada bayangan Zee?" tanya Bara.
"Sampun Opa. Nanti biar aku rundingan sama Tante Arimbi dan tim PRC group Opa" senyum Zee.
"Besok biar Tante dan Juliet antar" tawar Rina. "Biarpun ada Jasmine, tapi kan lebih enak kalau ada yang menemani."
"Sepertinya Dhita dan David juga mau ikut mengantarkan tapi Remy sekolah tetap." Arimbi membaca pesan di ponselnya.
"Maaf, yang di Belgia tidak ada yang tahu aku hamil kan Tante?" Zinnia menatap Arimbi.
"Trio kampret maksudmu? Nggak, Tante sengaja tidak beritahu karena mereka bisa menghajar habis-habisan" cengir Arimbi. "Tante nggak mau jadi skandal internasional kesekian kalinya."
"Salah dimana gen kita ya Vi?" keluh Bara yang mendapatkan pelototan dari istri masing-masing.
***
Tokyo Jepang
Markas Yakuza Takara Somewhere di Tokyo
Shiki hanya menatap dingin ke sosok wanita di hadapannya. Baginya siapa yang mengganggu keluarga Takara, berarti mengantarkan nyawa ke empang.
"Bangunkan dia!" perintah Shiki ke anak buahnya.
Sebuah ember berisikan air dengan es batu diguyurkan ke Natalia yang masih pingsan. Tiba-tiba wanita itu berteriak kaget dengan dinginnya air guyuran itu.
"Dingin brengsek!" makinya namun suaranya menghilang saat melihat seorang pria paruh baya dengan wajah tanpa ekspresi.
"Selamat datang di Tokyo" ucap Shiki dingin. "Semoga anda betah disini." Wajah dingin Shiki semakin menyeramkan ketika pria itu menarik bibirnya keatas.
***
Upper Hut New Zealand
Hilda sedang menyelesaikan makan malamnya dengan ditemani dua orang perawat yang dikirimkan oleh Leia Bianchi. Dua perawat perempuan itu bukan sembarang perawat melainkan pengawal yang memiliki kemampuan bela diri yang mumpuni.
Leia merasa bahwa nyawa Hilda pun dalam bahaya meskipun kemungkinan itu kecil tapi bisa saja ada pengkhianat di dalam proses pengembalian wajah Hilda.
Karena itulah dia mengirimkan dua pengawal kepercayaannya, Rui dan Rie. Rumah yang diberikan Leia memiliki alat keamanan canggih tingkat tinggi hingga sensor gerak sekecil apapun pasti tertangkap di monitor yang berada di ruang tengah.
__ADS_1
Suara sensor berbunyi membuat dua pengawal / perawat itu menoleh dan tampak seseorang disana mengendap-endap.
"Miss Hilda, anda bersembunyi di tempat yang sudah kita bicarakan." Rui menatap tajam ke Hilda.
Wanita itu mengangguk dan segera masuk ke sebuah ruangan rahasia. Di dalam sana, Hilda mendengar suara keributan dan tak lama suara letusan tembakan terdengar membuat Hilda terlonjak.
"Miss Hilda, anda bisa keluar." Terdengar suara Rie.
Perlahan Hilda membuka pintu dan tampak seorang pria terkapar di ruang tengah dengan luka tembak di pelipisnya.
Suara sirine polisi pun terdengar membuat komunitas tempat Hilda tinggal langsung ramai.
***
Brussels Belgia
Leia yang mendapatkan kabar dari dua pengawalnya hanya tersenyum smirk.
"Bukti-buktinya sudah kamu dapatkan Rie?" tanya Leia.
"Sudah nona. Sudah saya kirimkan lewat email ke nona."
"Good job Rie. Besok pagi-pagi aku akan menghadap ke Raja Andrew dan Sean. Kebetulan iparku sudah pulang." Leia tersenyum smirk.
"Hati-hati nona."
"Terima kasih Rie. Besok aku akan datang bersama dengan saudara - saudaraku."
Leia meminum capuccino nya.
Hancur kalian semua!
***
Uccle Belgia
Shinichi, Valentino dan Arkananta membaca pesan dari Leia untuk segera memrangkum semua bukti-bukti kejahatan Ratu Michelle, Stefanus dan Natalia hanya tersenyum smirk.
"Akhirnya kita bisa mengguncang Belgia" kekeh Shinichi yang baru saja mengirimkan tugas sekolahnya melalui online. Dirinya tidak mau fasilitas diambil semua oleh Appanya.
"Kita disini sudah berapa bulan?" tanya Arkananta.
"Hampir dua bulan" jawab Shinichi.
"Gimana kita bulatkan menjadi tiga bulan? Biar tambah gila tuh ratu Michelle dan Stefanus?" seringai Valentino.
Dua sepupunya menatap Valentino dengan tatapan horor.
"Benar-benar anaknya pak Hoshi! Psycho!" umpat Arkananta.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote gift and comment
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1