The Prince and I

The Prince and I
Tugas Kerajaan


__ADS_3

Brussels Belgia


Pagi ini Sean dan Zinnia tiba di Queen Fabiola Children's University Hospital untuk mengunjungi para anak-anak yang sakit disana. Para dokter dan staff rumah sakit tampak antusias menanti pasangan pengantin baru itu.


Ketika mereka datang, para staff tidak henti-hentinya memuji kecantikan Zinnia yang meskipun berdarah Asia, wajah eksotis nya membuat banyak orang terkesima.


Zinnia pagi itu mengenakan dress panjang bewarna hijau dengan polkadot putih lengan panjang dan rambut hitam tebalnya dibiarkan tergerai sedangkan Sean tampil dengan kemeja hitam, jas biru garis-garis dan celana pantalon hitam.



Tugas kerajaan ya Zee



Santainya pangeran satu ini


Zinnia langsung membaur dengan para dokter dan perawat menanyakan penyakit apa saja yang mereka rawat disini. Wanita itu tampak bahagia ketika melihat para pasien anak-anak menyambutnya dengan antusias.


"Aku bisa bicara bahasa Jerman dan Perancis dalam satu kalimat ini" kekeh Zinnia yang membuat orang-orang disana tertawa karena mereka mengajak bicara Zinnia campur aduk antara Jerman dan Perancis.


Sean hanya memperhatikan bagaimana istrinya mendatangi satu persatu pasien dan orang tuanya tanpa canggung. Mereka pun banyak yang curhat dan tidak sedikit menangis di pelukan Zinnia karena merasa sedih melihat anaknya sakit.


Kepala rumah sakit menghampiri Sean yang sedang berbicara dengan sekretarisnya.


"Yang Mulia, saya sangat berterima kasih anda datang kemari. Rupanya tuan putri Zinnia tidak canggung dengan anak-anak."


Sean tersenyum. "Zinnia dulu bekerja di rumah sakit, Hans. Jadi baginya ini seperti mengingat saat-saat dia disana."


"Oh pantas yang mulia putri tidak canggung." Hans membandingkan dengan Natalia yang sempat melakukan kunjungan sebelum resmi menikah dengan Stefanus sebagai masa perkenalan. Mana mau putri Natalia membaur dekat dengan para orang tua pasien! Hanya melihat basa basi sebentar, sudah pulang.


Hampir dua jam dihabiskan Zinnia di rumah sakit dan wanita cantik itu sampai kebingungan mendapatkan banyak boneka dan bunga.


"Terimakasih banyak. Seharusnya aku yang memberikan banyak hadiah tapi kenapa malah kalian yang memberikan hadiah begini banyak" ucap Zinnia terharu.

__ADS_1


"Untuk hadiah pernikahan" seru anak-anak di ruang inap. Zinnia tertawa.


"Kalau begitu, putri Zinnia hanya minta kepada kalian. Semangat dalam pengobatannya, semangat sembuh dan jangan menyerah." Zinnia tersenyum kepada para pasien cilik disana. "Janji?"


"Janji!" Satu persatu pasien cilik itu melakukan janji kelingking dengan Zinnia membuat para dokter dan perawat tersenyum haru. Sean pun menatap bangga ke istrinya dan bersyukur dirinya tidak salah memilih Zinnia menjadi pasangannya.


Usai berpamitan, Zinnia dan Sean berjanji akan datang lagi jika jadwalnya memungkinkan. Beberapa wartawan yang meliput pun menyukai cara Zinnia melakukan tugas kerajaannya.


"Habis ini kita kemana?" tanya Zinnia setelah masuk ke dalam mobil kerajaan bersama Sean.


"Ke kastil Van Deersel, yang mulia" jawab sekretaris Sean dan Zinnia.


"Bisakah kita ganti baju? Aku ingin acara memasak nanti, memakai baju yang nyaman." Zinnia memang membawa duffle bag Louis Vuitton miliknya yang menyimpan berbagai macam baju disana. Belajar dari pengalaman bersama Mariana yang mendampingi Ayrton saat tugas kerja Emir, Zinnia pun meniru hal yang sama.


"Kamu ganti baju? Kenapa dengan gaun ini? Bagus kok." Sean tahu gaun hijau itu adalah koleksi Zinnia dari sang mama.


"Sayang gaunnya. Bisa aku pakai buat acara lain. Lagipula, aku lebih nyaman mix and match baju yang aku punya biar kelihatan baru padahal tidak" kekeh Zinnia. "Mama yang mengajari aku. Mungkin kita mampu membeli banyak gaun branded tapi buat apa kalau hanya dipakai sekali lalu menumpuk di lemari. Makanya aku lebih suka punya gaun tidak harus mahal tapi tampak sophisticated dengan cara mix and match."


Sekretaris kerajaan melongo mendengar analogi Zinnia sedangkan Jasmine tersenyum simpul. Jasmine tahu jika nonanya bukan tipe boros barang branded. Biasanya Zinnia beli memang dipakai untuk jangka panjang tapi karena dia pintar memadu padankan, orang tidak mengira gaun itu sudah lama.


"Malah mungkin aku tidak akan memakai anggaran untukku, Sean. Bajuku banyak banget!" gelak Zinnia. "Mama pasti mengirim dua baju baru dari butiknya setiap bulan."


Sekretaris kerajaan tersenyum karena tahu siapa Mariana Schumacher yang merupakan desainer rumah butik Carolina Herrera yang juga brand favorit Ratu Michelle.


Tak lama rombongan tiba di kastil Van Deersel dan tampak para wanita dan pria yang hendak memasak amal baru bersiap-siap. Mereka tampak terkejut melihat rombongan kerajaan sudah tiba.


"Oh santai saja, kami saja yang terlalu awal sampai" ucap Sean yang sudah melepaskan jasnya menyisakan kemeja hitam dan celana hitam, membuat semua orang tenang.


"Aku ganti baju dimana?" tanya Zinnia ke salah seorang asistennya.


"Mari yang mulia" asisten itu mengajak ke sebuah kamar. Zinnia mengikuti dengan dikawal Jasmine setelah berpamitan dengan Sean.


***

__ADS_1


"Bagaimana penampilan aku, Jaz?" tanya Zinnia yang sedang membuka gaunnya dengan dibantu Jasmine.


"Stunning, nona. Anda kan biasa di rumah sakit bertemu dengan anak-anak jadi luwes saja kan?" senyum Jasmine.


Zinnia mengambil blus lengan pendek bewarna pink dan celana jeans yang tampak santai dan nyaman. "Aku rindu bekerja di rumah sakit Jaz tapi sekarang tidak bisa seenaknya ya."


Jasmine melipat gaun rancangan Mariana Schumacher dengan brand Carolina Herrera itu secara rapi. "Ingat nona, anda sudah bukan Zinnia Al Jordan Schumacher putri Emir Al Jordan tapi sudah menjadi Zinnia princess of Belgium."


"Iya ya Jaz." Zinnia tersenyum lalu mengikat rambut hitam tebalnya dengan santai. "Yuk keluar."


***


Sean dan Zinnia tidak canggung ikut mempersiapkan semuanya dan tepat jam dua acara memasak pun dimulai.


Zinnia dan para kaum wanita tampak asyik mengobrol dengan bahasa campur aduk Jerman, Perancis dan Belanda. Bahkan mereka membantu membenarkan kata dan tenses Zinnia karena tahu putri cantik ini bukanlah orang Eropa.


Zinnia tertawa jika salah ucap bumbu yang berbeda lafal dari bahasa Inggris.


"Yang mulia, jika takut salah, bisa bertanya pakai bahasa Inggris" ucap seorang ibu gemuk yang ternyata adalah seorang guru sekolah dasar yang memilih ikut acara amal ini.


"Kalau aku memakai bahasa Inggris, nanti aku tidak belajar dong" jawab Zinnia santai. "Justru dengan begini aku kan sekalian belajar bahasa Belanda." Zinnia memang menguasai bahasa Jerman dan Perancis tapi tidak Belanda.


Para wanita itu tampak senang dengan sikap Zinnia yang humble meskipun tahu dia berasal dari mana. Zinnia pun tampak nyaman bersama dengan rakyat yang akan dipimpin oleh Stefanus nanti. Sean dan Zinnia sudah berbicara panjang lebar tentang kekuasaan dan wanita itu bersyukur Sean tidak ambisi menjadi raja. Keduanya lebih menyukai kehidupan yang santai dan tidak terlalu protokoler.



***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2