The Prince and I

The Prince and I
Rencana Para Opa


__ADS_3

Indramayu Jawa Barat Indonesia


Zinnia terbangun dengan pemandangan leher dan dada maskulin yang dipenuhi bulu-bulu halus serta aroma yang sangat dihapalnya. Aroma Sean. Wanita itu merasakan bahwa tubuhnya dipeluk erat oleh pria yang sudah menikahi nya empat tahun ini... dikurangi tiga tahunan lah karena dia meninggalkan suaminya.


Tanpa sadar, Zinnia merapatkan tubuhnya ke tubuh suaminya, menyesap aroma parfum dan sabun yang masih tertinggal di ceruk leher Sean. Parfum yang masih sama dipakainya.


"Jangan begitu Zee... Aku tidak bisa menjamin kita tidak membuat adik untuk Arsya kalau kamu seperti itu..." ucap Sean dengan suara parau sambil memejamkan mata dan mengeratkan pelukannya.


"Eh?" Zinnia mendongakkan wajahnya dan tampak Sean mulai membuka mata birunya.


"Selamat pagi istriku yang cantik. Kamu tahu, berapa lama aku menantikan saat-saat seperti ini Zee..." Sean mencium kening Zinnia.


"Bangun Sean..." Zinnia berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya.


"Arsya belum bangun juga..."


"Bukan masalah itu... Ibadah subuh dulu Sean. Lagipula aku harus ke dapur menyiapkan sarapan buat Arsya..." Zinnia menatap Sean dengan wajah serius.


"Zee, Arsya ada Jasmine, ada bik Minah. Tapi aku butuh kamu." Sean menatap sendu ke Zinnia. "Please, sekali - kali kita nggak ikut aturan gitu."


"Iya tapi kita ibadah dulu Sean. Itu suara adzan sudah berbunyi."


"Bolehkah aku menjadi imam mu?" Sean menatap serius.


"Kamu kan memang sudah menjadi imanku Sean..." senyum Zinnia.


***


Sean menarik istrinya untuk tiduran kembali setelah melakukan ibadah subuh. Dirinya masih belum puas untuk berduaan dengan istrinya, mumpung Arsya masih tidur!


Sean banyak bercerita selama ditinggal Zinnia, dia lebih memilih melakukan kegiatan amal kerajaan dan hanya berbasa basi di publik bahwa dirinya dan ayahnya baik-baik saja.


"Jadi kalian berdua seperti perang dingin gitu?"


"Yup. Aku masih jengkel dengan sikap father yang kesannya membiarkan perilaku mother, kalau masih pantas dibilang mother."


Zinnia menatap Sean sambil memegang wajah suaminya. "Tapi sekarang kondisi father sakit, apa kamu masih membenci Father?"


"Sejujurnya aku kasihan. Sejak dua tahun lalu, Stefanus memilih pergi dari Belgia dan menyusul Hilda ke New Zealand. Otomatis aku yang terbebani semua tugas kerajaan apalagi semua orang tahu bahwa aku adalah putra mahkota yang sah, bukan Stefanus."


"Tapi kamu tidak mau menjadi raja?"


"Aku ingin bersamamu dan Arsya. Masalahnya Zee, semua keluarga kerajaan meminta aku yang menggantikan Father, begitu juga dengan rakyatku."


Zinnia membalikkan tubuhnya dan berada diatas dada Sean. "Sejak aku bersedia menikah denganmu, aku sudah tahu resikonya Sean. Ada kemungkinan kamu bisa jadi raja atau tidak. Dan sejujurnya, aku tidak terlalu tertarik menjadi ratu Belgia."


"Lalu? Kita harus bagaimana?" tanya Sean.


"Semua tergantung pada Arsya. Jika Arsya nyaman di Belgia, aku mendukungmu menjadi raja, Sean. Tapi jika Arsya tidak nyaman, kamu juga harus bisa memikirkan langkah lainnya."

__ADS_1


"Zee, apakah kita harus tergantung dengan Arsya?"


"Sean, Arsya mau tidak mau nantinya akan menjadi pengganti mu jika kamu menjadi Raja. Lalu bagaimana dia bisa menjadi pengganti mu kalau dia sendiri tidak nyaman di kerajaannya sendiri seperti halnya dirimu?"


Sean melongo.


"Aku tahu kamu tidak nyaman, aku juga tidak nyaman, Arsya pun merasakannya. Anak kecil itu jauh lebih peka jadi aku sudah berbicara panjang lebar dengan Arsya semalam, bagaimana kalau kita liburan ke Belgia. Arsya mau. Dari situlah kita membuat Arsya nyaman. Jika Arsya betah dan nyaman, insyaallah semuanya bisa berjalan lancar tapi dengan syarat aku dan kamu harus nyaman dulu. Suasana enak di rumah kamu di Brussels akan membuat Arsya ikut merasakan."


Sean membalik tubuh Zinnia dan menciuminya bertubi tubi. "Terima kasih sayang... Kamu membuat aku jadi lega!"


"Aku mau ikut kamu ke Belgia asalkan kita sudah dalam posisi nyaman Sean..." ucap Zinnia dengan wajah memerah.


"Aku akan bicarakan dengan papa. Kapan sebaiknya kita melakukan ijab qobul lagi."


Zinnia tersenyum yang membuat Sean gemas melihat wajah cantik istrinya. Pria itu lalu mencium mesra bibir Zinnia penuh perasaan...


"DADDYYY!"


Keduanya pun menoleh ke arah batita yang memasang wajah judes sedang berdiri di pintu penghubung.


***


Shinichi dan Ayrton tertawa terbahak-bahak melihat bagaimana Arsyanendra marah dengan Sean.


"Daddy nakal!"


"Lho kok Daddy nakal?" tanya Sean geli melihat putranya cemburu melihat nya berduaan dengan mommynya.


"Arsya, kan wajar mommy dan Daddy bobok berdua. Kan mereka sudah menikah." Mariana berusaha memberikan pengertian kepada cucunya yang sedang ngambek.


"Halusnya ijin Asya!"


"Kan Arsya sudah bobok semalam. Daddy mau minta ijin gimana?" senyum Sean.


"Ya Asya dibangunin!" eyel batita imut itu.


"Arsya, kalau Arsya baru bobok terus dibangunin, nanti Arsya Rewel." Zinnia memangku putranya sambil memeluknya. "Arsya ingat nggak waktu sakit flu, nggak bisa bobok, terus Arsya marah-marah? Nangis sampai mommy ikutan nangis karena bingung lihat Arsya. Ingat? Terus Oom Sendra harus bermain game Mario Kart?"


"Ingat mommy..." bisik Arsya sambil memeluk Zinnia.


"Arsya nggak mau kan nanti nggak bisa bobok, marah-marah bikin bingung semua orang kan?" Zinnia mencium kening putranya.


Arsya mengangguk.


"Jadi nanti malam kalau Daddy mau bobok di kamar mommy, biar ijin sama Arsya sebelum Arsya tidur. Ya Daddy?" Zinnia menatap Sean tajam.


"Iya Sya, nanti malam Daddy ngobrol dulu sama Arsya sebelum tidur dan minta ijin Arsya ya?" Sean ikut membujuk putranya.


"Bang, kalau lihat begini, apa yakin lu mau nambah anak lagi?" ejek Shinichi sambil nyengir.

__ADS_1


"Kenapa memang?" tanya Sean.


"Mbak Zee nggak bisa elu kompeni!" gelak Shinichi durjana.


Sean hanya menatap judes ke adik iparnya.


***


Setelah berusaha membuat mood batita bermata biru itu membaik dengan mengajak bermain game bersama dengan Shinichi dan Garvita, Ayrton mengajak Zinnia dan Sean masuk ke dalam ruang kerja bersama Mariana.


"Oom Shin..."


"Ya Sya?"


"Itu mommy dan Daddy ngapain masuk Kamal kelja sama Opa?"


Shinichi berpandangan dengan Garvita.


"Mommy kan harus laporan ke Opa. Bukannya kemarin Mommy ke pabrik sama Daddy?" Shinichi menatap keponakannya.


"Oh iya."


***


Ruang Kerja Zinnia


Ayrton dan Mariana menatap ke kedua orang di hadapannya.


"Sean, kamu tidak macam-macam kan?" selidik Ayrton.


"No Pa. Kami hanya tidur, harafiah karena Zee juga menolaknya..." jawab Sean yang membuat Zinnia mendelik.


Jujur amat!


"Minggu depan Shinichi akan kembali ke Tokyo melalui Jakarta, Garvita bisa kemari karena bertepatan dengan libur nasional di Inggris. Dan kemarin Opa Bara sudah meminta, jika kalian rujuk dan hendak kembali ke Belgia, kalian ijab saja di Jakarta. Mansion Giandra terbuka untuk pelaksanaan ijab qobul kalian berdua" ucap Ayrton.


"Hah? Serius Pa?" tanya Zinnia.


"Opa Bara, Opa Iwan dan Opa Levi yang memintanya Zee. Dan menurut papa, itu ide yang bagus, di depan keluarga Jakarta karena selama ini kamu kan selalu bersama mereka."


Sean menoleh ke Zinnia. "Aku lebih suka jika bersama keluarga saja sih Zee, jauh lebih nyaman."


"Aku setuju Pa, Ma. Lebih nyaman bersama keluarga." Zinnia tersenyum ke arah kedua orangtuanya.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa gaeesss


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2