
Kamar Arsyanendra
"Bajunya mau dibawa semua Sya?" tanya Zinnia sambil memasukkan ke dalam kotak plastik. Tadi dirinya, Sean dan Jasmine berbelanja kotak kontainer plastik banyak untuk membawa semua barang-barang Arsya.
"Dibawa separo saja, Zee. Disana bisa beli" sahut Sean sambil membungkus mainan Arsya dengan bubble rap.
"Nggak semua mommy. Nanti Asya gadha baju kalau pulang" jawab bocah imut itu sambil membawa semua buku-buku ceritanya.
"Kalau gitu yang sering Arsya pakai saja ya?" tanya Zinnia lagi.
"Iya mommy." Arsya menoleh ke arah ayahnya yang dengan telaten membungkus mainannya. "Daddy..."
"Yes, boy?" Sean menatap putranya.
"Asya benelan boleh punya anjing dan kucing?" tanya batita bermata biru itu.
"Boleh lah! Kuda juga boleh!" senyum Sean.
"Memangnya Arsya pengen punya anjing dan kucing apa?" tanya Zinnia gemas dengan putranya.
"Pengen punya sepelti anjingnya Tante Leia dan kucingnya Oma Malissa."
"Memangnya anjingnya Leia apa?" tanya Sean.
"Pomeranian, kalau kucingnya Munchkin."
"Oh kecil ya, bukan golden retriever atau Labrador. Boleh lah!" Sean tersenyum ke arah Zinnia.
"Besok kalau sampai lumah Daddy, Cali anjing dan kucing nya ya Dad?" Mata biru Arsyanendra mengerjap-ngerjap sok imut.
"Iyaaa, besok cari sama mommy dan Daddy kalau sudah sampai Brussels. Okay?" Sean mengacak-acak rambut pirang Arsya yang warnanya sama dengannya.
"Sya, tadi kenapa Tante Garvita sampai jatuh?" tanya Zinnia. Tadi dirinya mendapatkan info dari Jasmine kalau Arsya berjalan dengan Garvita dan terpeleset lalu didekap Garvita sampai jatuh ke sawah.
"Asya kepeleset mommy. Padahal Tante Galvita udah bilang hati-hati..." Arsya tampak mendung lagi mengingat Tantenya sampai menangis menahan sakit kakinya.
"Terus?" Sean melirik ke arah istrinya yang penasaran dengan hubungan adiknya dan bodyguardnya.
"Sama Oom Gab, Tante Galvita digendong. Asya digendong Tante Jaz tapi Tante nangis telus mommy. Katanya kakinya sakit banget."
"Arsya nggak ada yang luka dan sakit kan?" tanya Zinnia lembut.
Arsya menggelengkan kepalanya. "Tapi Asya bikin Tante Galvita nangis..."
Zinnia memeluk Arsyanendra. "Soalnya kan kakinya sakit. Mommy juga bisa nangis kalau jatuh seperti Tante Garvita. Sudah nggak papa. Kakinya Tante Garvita sudah diobati sama Oom Gabriel."
"Iya mommy."
Sean mengusap kepala Arsya sayang. Benar-benar perpaduan aku dan Zee. Arsya sangat sensitif dan baik hati sesuai dengan didikan Zee.
***
Menjelang tengah malam, Arsyanendra sudah terlelap di pangkuan Zinnia sedangkan Sean masih membereskan kotak-kotak yang sudah berisikan barang - barang Arsya.
__ADS_1
"Kamu keberatan kan memangku Arsya?" ucap Sean lembut.
"Sedikit..." Zinnia tersenyum kepada suaminya.
"Sini aku pindah kan Arsya ke tempat tidur." Sean langsung membopong putranya ke atas tempat tidurnya lalu mencium kening bocah laki-laki tampan itu.
Zinni menatap lembut ke arah dua pria yang dicintainya. Sean menoleh dan kemudian pria itu menggendong Zinnia macam koala. Entah siapa yang mulai, keduanya saling berciuman dan Sean membawa ke pintu penghubung kamar Zinnia.
Sean merebahkan tubuh Zinnia dan keduanya saling berpa*gutan. Tangan Sean yang nakal sudah membuka baju Zinnia hanya menyisakan pakaian dalam. Sean sendiri sudah melepaskan kaosnya.
"Sean..."
"Shut up Zee..." umpat Sean dada Zinnia.
"Sabar dulu..." ucap Zinnia terengah. "Pintunya Arsya... Masih terbuka."
Sean membeku. "Aaarrghhh! Damn it!" Pria itu pun turun dari tempat tidur dan menutup pelan pintu penghubung kamar istrinya dan putranya.
"Maaf Sean, kamu harus menahan dulu sampai empat hari mendatang ya" ujar Zinnia sambil memakai kembali pakaiannya.
"Jahat kamu Zee! Ini gimana?" Sean menunjukkan sesuatu yang sudah siap siaga.
Zinnia melongo. "Eeerr... Solo karier?"
Sean tersenyum licik. "Nyicil nya dulu asal nggak bikin adik buat Arsya kan?"
Entah kenapa tubuh Zinnia merasa merinding. Tunggu! Pakai tangan atau mulut ini?
***
Keesokan paginya wajah Sean tampak sumringah apalagi semalam dirinya akhirnya bisa merasakan istrinya lagi meskipun belum totalitas tapi setidaknya dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan.
Wajah Zinnia hanya cemberut melihat wajah puas Sean. Beneran deh pria itu!
"Habis ijab, kebut buat adik Arsya ya Zee? Aku ingin punya anak perempuan."
Zinnia mendelik. "Kamu kan lebih mementingkan prosesnya!"
"Tapi kan kamu juga menyukainya Zee?" senyum Sean sambil memeluk istrinya.
"Beneran deh kamu tuh!" sungut Zinnia kesal.
***
Garvita mengerenyitkan dahinya saat kaki kanannya masih sakit untuk dipakai menapak. Semalam dengan telaten Gabriel menggendong Garvita ke dalam kamarnya bahkan menungguinya gosok gigi dan membersihkan dirinya.
Pengawalnya sejak usia 15 tahun hingga sekarang dirinya usia 19 mau 20 tahun, masih saja telaten mengawal nya. Tanpa komplain meskipun dia judes minta ampun.
Kalau kamu ditinggal, baru merasa kehilangan. Kenapa sih kalian para cewek sok gengsi?
Ucapan Shinichi semalam membuat Garvita tertegun. Masa sih Gabriel bakalan pergi?! Kan sudah perpanjangan kontrak. Garvita menggelengkan kepalanya. Kayaknya dia gak bakalan pergi. Kan sudah diplot sama Oom Enzo kawal aku!
Garvita menatap ponselnya yang terdapat gambar gelas juice alpukat yang dibuatkan Gabriel saat terakhir kemari.
__ADS_1
Juliet dan Romeo sama saja. Hubungan mereka macam rollercoaster, tidak jelas. Garvita tahu kalau Juliet sebenarnya sudah suka dengan sahabat Valentino itu tapi masih sok gengsi.
Apa aku sama saja dengan Juliet?
Suara ketukan di pintu kamarnya membuyarkan lamunannya.
"Masuk!" Garvita melirik ke baju tidurnya. Untung pakai kaos dan celana batik panjang.
Wajah tampan Gabriel terlihat dari balik pintu. "Selamat pagi nona Garvita."
"Pagi Gab. Ada apa?" Garvita menarik selimut sedikit untuk menutup tubuhnya.
"Nona mau ke kamar mandi? Apa saya ambilkan kursi roda?"
"Pa.. panggil Jasmine saja..." pinta Garvita gugup.
"Sama Jasmine saja?" Gabriel memastikan lagi.
"I.. iya." Garvita menunduk.
"Baiklah." Gabriel menutup pintu kamarnya pelan.
Garvita menatap sendu ke pintu yang tertutup itu. Apakah benar kamu mencintaiku, Gab?
***
Usai sarapan, Shinichi, Sean dan Gabriel bersama beberapa penjaga memasukkan barang - barang ke dalam mobil-mobil mereka. Menurut rencana besok Sean akan menyetir Range Rover milik Zinnia bersama istri dan anaknya.
Shinichi menyetir Mercedes milik keluarga Baskara bersama Jasmine, sedangkan Ayrton dan Mariana akan naik Alphard milik Zinnia bersama dengan pengawal. Gabriel dan Garvita akan di Range Rover satu lagi milik Hoshi yang dipinjam Ayrton. Dua mobil lain berisikan para penjaga rumah yang ditarik untuk kembali ke Jakarta. Para penjaga keamanan dari Ramadhan Securitas akan menunggu tugas mereka selanjutnya.
"Gimana rasanya bang, mau ijab terus kembali ke Brussels?" tanya Shinichi.
"Lebih semangat, Shin. Apalagi Zee dan Arsya mau ikut. Bagi Abang itu mood booster sekali."
"Alhamdulillah. Jangan sampai ada kejadian aneh-aneh ya bang. Meskipun Stefanus sudah di New Zealand dan Natalia sudah tidak bakalan mengganggu, tapi ibu tirimu masih mampu melakukan sesuatu" ucap Shinichi serius.
"Insyaallah nggak Shin. Abang akan melindungi Zee dan Arsya sekuat tenaga Abang, jika memang nyawa taruhannya, Abang rela Shin."
Gabriel dan Shinichi menatap calon raja Belgia itu dengan tatapan horor.
Jangan bikin jantungan dong bang
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1