The Prince and I

The Prince and I
Sean dan Zinnia di Apartemen... Lagi


__ADS_3

Apartemen Zinnia


Zinnia menatap judes ke arah Sean yang celingukan mencari tempat tidur. Feeling-nya sudah tidak enak saja melihat wajah jahil Sean.



"No Sean! Kamu tidak boleh tidur di kamarku! Kamu ke hotel sana!"


"Oh come on Zee. Kita cuma tidur dan aku janji tidak ngapa-ngapain!"


"Sana kalau kamu mau tidur di kamarku, aku tidur di sofa!" ucap Zinnia final.


"Masa aku tega membiarkan kamu tidur di sofa Zee?" Sean mulai mendekati Zinnia.


"Ya sudah, kamu tidur sini, aku tidur sana!" Zinnia bergegas berlari menuju kamarnya dan segera mengunci pintunya.


Sean melongo melihat cepatnya Zinnia berlari lalu setelahnya tertawa terbahak-bahak. "Zee! Aku nggak bakalan apa-apain kamu!"


Tidak ada sahutan dari balik kamar membuat Sean menggelengkan kepalanya. Kamu benar-benar menggemaskan.


***


Jam dua pagi seperti biasa Zinnia terbangun untuk tahajud tapi sekarang ditambah dengan istikharah karena dengan Sean mengajaknya ke Belgia berarti secara tidak langsung memperkenalkan ke publik siapa dirinya.


Zinnia termasuk alergi dengan paparazi apalagi setelah mendampingi Ayrton papanya ke acara resmi membuat banyak orang berusaha mendekati dirinya. Keputusannya kuliah di Swiss sendiri karena negara ini termasuk aman dan tidak banyak paparazi.


Setelah selesai menjalankan ibadahnya, Zinnia perlahan membuka pintu kamarnya lalu perlahan melihat Sean. Pria itu tampak tertidur nyenyak dengan berselimutkan quilt yang memang tersedia disana.


Perlahan Zinnia pun berbalik kembali ke kamarnya, setidaknya Sean sudah memakai selimut namun tanpa diduga pria itu bergegas memeluk Zinnia dari belakang membuat gadis itu reflek meninju perut pangeran Belgia itu.


"Uhuk... Ya ampun Zee!" Sean memegang perutnya yang lumayan sakit kena sikut.


"Makanya jangan aneh-aneh!" Zinnia pun berjalan masuk kamarnya.


"Zee... Tega kamu ih" rengek Sean membuat Zinnia memutar matanya malas lalu berbalik menuju Sean yang sedikit terjongkok sambil memegangi perutnya.


"Sini aku obati" Zinnia membantu Sean ke sofa.


"Kok ke sofa? Kamarmu lah Zee..." cengir Sean.


Zinnia melepaskan pegangannya di tangan Sean.


"Gak usah modus deh!" cebik Zinnia.


Sean tersenyum. "Zee, kita mau menikah jadi modus sama calon istri sendiri gpp kan?"


Zinnia memicingkan matanya judes. "Siapa yang mau menikah denganmu?"


"Kamu lah Zee!"


"Haaaaahhh?" Zinnia menghentakan kakinya lalu berjalan menuju kamarnya. Sean langsung menarik tangan Zinnia dan membopongnya macam karung beras.


"Seaaaannnnn!!!" teriak Zinnia.


"Apa Zee? Ayo tidur dulu ini masih jam tiga pagi" sahut Sean kalem.


Sean lalu meletakkan tubuh sintal itu diatas tempat tidur dan menempatkan tubuhnya di sebelahnya.

__ADS_1


"Ayo tidur" ajak Sean sambil memeluk tubuh Zinnia dari belakang.


"Kamu menyebalkan!" cebik Zinnia.


Sean mencium kening Zinnia. "Sleep tight baby."


"Iiissshhh!"


"Kamu besok ada klien kan jam 9?" Sean mengingatkan Zinnia. "Harus fit karena kamu harus mikir." Pria itu mengetatkan pelukannya.


Entah karena nyaman atau memang dirinya masih mengantuk, Zinnia pun langsung terlelap sedangkan Sean masih terjaga sambil memandangi gadis pujaannya.


Sabar ya Zee. Kamu harus bersabar padaku.


***


Zinnia terbangun ketika mendengar suara weker tepat jam lima pagi seperti biasanya namun kali ini dia merasakan sebuah tangan kekar memeluk perutnya dengan posesif. Bahkan dia bisa merasakan nafas Sean di tengkuknya membuat dirinya sedikit merinding.


"Morning honey" bisik Sean yang terbangun mendengar suara alarm.


"Morning tapi tolong tangan mu menyingkir dulu." Zinnia menoleh ke arah Sean.


"Kamu mau kemana? Ini posisi lagi enak Zee" kekeh Sean.


"Pipis!" Zinnia menyingkirkan tangan Sean lalu bangun menuju kamar mandi.


***


Zinnia keluar kamar dan melihat Sean masih terlelap di atas tempat tidurnya dan gadis itu lalu mengambil rukuh dan sajadah untuk melaksanakan kewajibannya setiap Subuh.


Sean sendiri tidak benar-benar terlelap dan melihat pemandangan di hadapannya. Sabar sayang, setelah kak Stefan, aku akan menjadi imam mu.


"Bangun. Subuh dulu Sean" bisiknya.


"Oke sayang" balas Sean yang bangun dan terduduk.


"Aku buatkan sarapan dulu." Zinnia pun berbalik hendak meninggalkan Sean namun pria itu menariknya membuat gadis itu terjatuh diatas tubuhnya yang polos.


"Apaan sih Sean!" hardik Zinnia kesal karena pria satu ini penuh dengan modus.


Sean hanya tersenyum lalu Melu*Nat bibir Zinnia. "Mood booster in the morning" cengirnya setelah melepaskan bibirnya..


Zinnia memukul dada Sean kesal. "Menyebalkan!"


"Tapi enak kan Zee?"


Zinnia mendengus kesal lalu keluar kamar meninggalkan Sean yang tertawa geli.


***


Pagi ini Zinnia menyiapkan sarapan nasi goreng mentega dengan mengolah sisa makanan semalam hingga menjadi hidangan baru. Zinnia bersyukur dulu saat kedua omanya masih ada, selalu mengajarkan memasak jadi saat dirinya tinggal sendirian di Swiss tidak masalah untuk mengolah bahan makanan.


Sean sendiri sudah mandi dan tampak rapih meskipun hanya mengenakan kaos abu-abu dan celana jeans.


"Tampaknya enak Zee" ucap Sean saat melihat meja makan sudah tersedia makanan untuk sarapan.


"Makanlah dulu, aku mau mandi" ucap Zinnia.

__ADS_1


"Memangnya tadi kamu tidak sekalian mandi?" tanya Sean.


"Aku mau berkutat di dapur jadinya aku memilih masak dulu. Sekarang bau masakan makanya mau mandi" jawab Zinnia.


Sean mengendus-endus tubuh Zinnia membuat gadis itu bingung. "Kamu ngapain?"


"Masih wangi Jo Malone kok Zee" cengir Sean.


"Iiissshhh modus banget sih!" cebik Zinnia kesal. "Sudah, aku mau mandi dulu!"


"Aku temani?" goda Sean yang hanya dijawab Zinnia dengan mengacungkan jari tengah ke pria itu. Sean terbahak melihat ulah gadis itu.


***


Sean dan Zinnia menikmati sarapan bersama setelah gadis itu selesai mandi. Pagi ini Zinnia memakai gaun warna biru dengan motif bunga-bunga. Tampak begitu cerah sesuai dengan musim semi di bulan April.



Sean sendiri tidak lepas-lepas melihat wajah cantik di hadapannya.


"Kamu cantik banget" puji Sean.


"Wanita dimana-mana pasti cantik, mana ada wanita tampan?" sahut Zinnia cuek.


Sean tersenyum. "Zee... "


"Hhhmmm?"


"Apa kamu tidak tertarik padaku sedikit pun?"


Zinnia menatap Sean. "Tertarik apa? Fisik atau sifat?"


"Fisik dulu deh."


"Fisik... B saja karena aku dari kecil sudah biasa melihat Oom - oom aku yang good looking dan body bagus jadi sudah biasa."


Sean melongo tapi mengingat bagaimana good lookingnya Benji dan tampannya Ayrton, Gasendra serta Karl yang meskipun sudah berumur masih terlihat gagah, ya tidak heran kalau Zinnia biasa saja.


"Kalau sifat?"


Zinnia melanjutkan makannya. "Not my type. Aku suka pria yang lembut bukan memaksakan kehendak macam kamu."


Sean terbahak. "Zee, kalau aku lembut, kamu pun juga nggak bakalan mau sama aku karena kamu sudah antipati sejak kita masih kecil. Makanya aku lebih memilih jalan nekad. Soalnya kalau tidak begitu, aku tidak bisa mendekatimu."


Zinnia hanya menatap Sean manyun.



...Bocah nekad...


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2