The Prince and I

The Prince and I
My Simple Request


__ADS_3

Apartemen Zinnia


"Zee, dengarkan aku dulu."


"No, Sean. Dengarkan aku. Kalau memang kamu ingin aku menjadi pendampingmu, restu orang tua itu penting. Okelah orangtuaku oke dan memberikan restu pada kita, tapi orang tuamu berbeda. Kamu berbeda. Kamu calon raja garis kedua setelah kakakmu. Dan jika kamu meminta aku melakukan hal yang sama ke kedua orang tuamu, akan aku lakukan. Aku akan mendekati mereka berdua beserta kakak dan calon istrinya."


Mata biru Sean membulat sempurna. "Are you sure baby?"


"Aku tidak bisa bilang tidak kepadamu kan? Apalagi kamu sampai memilih ikut aku dan keluargaku? Bagi aku, itu perbuatan yang sangat-sangat membuat aku..."


Sean segera mematikan rokoknya di asbak dan memeluk Zinnia. "Aku ikut kamu itu benar-benar tulus Zee. Aku diberikan jalan agar bisa bersamamu. Karena aku tidak mau kehilangan dirimu Zee. Aku tidak sanggup melihat kamu bersama pria lain kecuali saudara - saudaramu."


Zinnia membalas pelukan Sean yang terasa nyaman, hidungnya mulai familiar dengan harum parfum maskulin dan nikotin.


"Do you really love me, Sean?"


"So much!" jawab Sean tegas.


"Kalau begitu, mari kita berjuang bersama menghadapi kedua orangtuamu" Zinnia mendongakkan kepalanya ke wajah tampan Sean.


Pria itu tersenyum bahagia karena akhirnya Zinnia pun luluh juga hatinya. Mendapatkan dirimu itu memang harus jungkir balik jatuh bangun karena kamu bukan tipe perempuan yang silau oleh fisik dan harta.


"Ich liebe Dich Schatz" bisik Sean lembut dan pria itu menunduk mencium bibir Zinnia. Gadis itu harus berjinjit untuk membalas ciuman Sean. Tanpa ragu pria itu langsung membopong Zinnia dan membawanya ke sofa lalu menciumi gadis itu disana.


Suara ponsel membuat keduanya menghentikan acara cum*buannya dengan nafas sedikit terengah.


"Ponselku atau ponselmu?" tanya Zinnia dengan nada gemetar.


"Sepertinya ponselku, Zee." Sean bangkit dari tubuh Zinnia dan mencari ponselnya yang jatuh. Tampak 'Mommy' di layar ponsel pria itu.


"Halo mom?" sapa Sean.


" ... "


"No mom! Aku sudah membawa Zee nanti. Jadi jangan repot-repot mencarikan pendamping untukku!"


" ... "


"Aku sudah cocok dengan Zee dan aku minta mom dan dad jangan ikut campur! Lagipula, Opa dan Oma sangat menyukai Zee tapi kenapa kalian yang belum bertemu langsung malah main judge sendiri! Sudah! Kalau memang begitu, aku tidak akan datang ke pernikahan kak Stefan!"


" ... "


"Dia wanita yang aku cintai, Mom! Aku tidak mau gadis manapun! Aku hanya mau Zinnia Hadiyanto Al Jordan Schumacher! Ingat mom, Zee itu anaknya Emir Dubai, sama ningratnya! Dan harus mom ingat, mom sendiri juga tidak pure ningrat! Mom masih ada darah Amerikanya bukan pure darah biru Spanyol dan Swedia."


" ... "

__ADS_1


"Aku tetap akan datang dengan Zee dan aku akan menikahinya setelah kak Stefan menikah dengan putri Skandinavia itu!"


Sean mematikan ponselnya dan melihat wajah Zinnia yang sendu.


"Zee ... " Sean berlutut di depan Zinnia yang duduk di sofa.


"Apakah mereka tahu aku anak angkat?" tanya Zinnia ke dalam mata biru Sean.


"Tahu."


"Apakah mereka tahu aku anaknya siapa?"


Sean menggeleng. "Mereka tidak tahu, tapi aku tahu."


Mata hitam Zinnia membola. "Kamu tahu?"


"Aku tahu tentangmu Zee meskipun Oom Benji mu berusaha menutup semua akses. Tapi video saat Mr Senna Al Jordan, papamu dan Mr Reyhan Al Jordan melakukan jumpa pers masih ada. Dan aku bisa meraba bahwa kamu lahir dengan situasi tidak tepat. Tapi kamu beruntung mamamu, Mariana mengangkatmu menjadi anaknya." Sean memeluk pinggang Zinnia dengan posisi berlutut. "Aku bersyukur bisa bertemu dengan mu Zee. Jangan pernah berpikir bahwa kamu adalah suatu kesalahan. No! Yang salah adalah kedua orang tuamu, bukan kamu ! Kamu tidak salah, Zee. Kamu itu adalah berkah Allah yang diperuntukkan untukku jadi besok kita akan hadapi bersama. Oke? Jangan takut, ada aku disampingmu."


Zinnia menatap Sean dengan tersenyum tipis. "Terimakasih."


"Kamu adalah milikku dan aku adalah milikmu Zee. Jangan kamu lupakan itu" ucap Sean serius.


***



Zinnia sudah pernah ke restauran itu bersama dengan keluarganya saat mereka mengunjunginya di Geneva.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Sean.


"Grilled fish. Karena itu salah satu makanan favorit aku."


"Kamu pernah kemari?" tanya Sean.


"Pernah, pas papa dan mama nengok aku bareng Gasendra dan Garvita."


"Habis itu kemari lagi nggak?"


Zinnia menggelengkan kepalanya. "Aku sibuk sekolah dan lebih suka memasak di rumah. Paling kalau mau nongkrong cuma di café Thomas. Meskipun aku punya uang Sean, bukan berarti aku bisa seenaknya."


Seorang pelayan datang dan keduanya pun menyebutkan makanan yang mereka pinta. Setelah pelayan itu pergi, Sean menatap Zinnia lembut.


"Padahal kalau mau, kamu bisa seenaknya belanja Zee" kekeh Sean.


"Aku bukan tipe wanita yang royal membuang-buang uang untuk barang tidak berguna di kemudian hari."

__ADS_1


Sean tersenyum. "Kamu tahu Zee, ini yang membuat aku semakin sayang padamu. Hingga detik ini, kamu tidak pernah minta barang apapun kepadaku."


"Apakah para wanita-wanita kamu sebelumnya minta barang branded padamu?"


"Ohya. Kita buka-bukaan saja Zee karena aku tidak mau ke depannya malah membuat kamu marah. Para wanita yang dulu bersamaku mau karena aku adalah seorang pangeran. Bagi mereka, aku kaya karena memang kerajaan kami adalah kerajaan kecil yang kaya. Tapi tidak seperti itu. Aku sendiri memiliki usaha penyewaan pesawat pribadi di New York dan Madrid yang merupakan warisan dari kakekku dari pihak ibuku. Entah kenapa usaha itu diberikan padaku bukan kepada kak Stefan atau sepupu lainnya. Disamping itu, aku juga memiliki usaha resort ski di Swiss sini dan di St Anton Austria. Dan aku tahu kamu kaya tapi gaya hidupmu sederhana meskipun aku tahu baju-baju mu, aksesoris, makeup, parfum, sepatu mu semua branded yang sudah lama kamu pakai. Bahkan tas Prada mu yang sering kamu pakai itu kan koleksi tiga tahun lalu. Aku tahu karena aku pernah membelikan untuk cewekku dulu."


Zinnia hanya terdiam mendengarkan cerita Sean.


"Apa kamu tidak meminta sesuatu Zee? Aku ingin kamu morotin aku. Jangan bilang kamu minta tidur di hotel!"


Zinnia tersenyum. "Permintaan ku sederhana Sean."


"Apa itu?" Obrolan mereka terhenti ketika makanan mereka datang.



Grilled Fish with spinach and lemon sauce



Cheese Fondue with bread



Lamb t bone steak


"Apa permintaanmu Zee?" tanya Sean penasaran.


"Jika kamu memang menjadi suamiku nanti, aku mohon kamu percaya hanya padaku. Sebab jika kamu tidak percaya padaku, aku lebih baik pergi karena dalam kehidupan berumahtangga, kepercayaan dan kejujuran itu adalah mutlak. Kamu sudah tahu siapa aku dan aku berterima kasih kamu bisa menerima kenyataan itu. Tapi aku adalah aku, sebuah subyek dan aku tidak sama dengan kedua orang tua kandungku karena aku adalah putri papa Ayrton dan mama Mariana yang selama ini mendidik aku."


"Permintaan mu hanya itu?"


"Permintaan aku hanya itu. Sederhana tapi akan sulit untuk dilakukan apalagi dengan status yang kamu sandang. Orang biasa saja sulit apalagi kamu yang bukan orang biasa. Aku hanya meminta itu, Sean. Always trust me, love me and believe me sebab Sean, tidak ada seorang istri yang ingin menjerumuskan suaminya. Dosa besar jika itu dilakukan."


Sean menatap wajah Zinnia yang tampak serius. That's why I love you so much, Zee.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2