The Prince and I

The Prince and I
Ketika Pangeran dan Putri Cilik Berkumpul


__ADS_3

Istana Brussels Belgia


Sean dan Zinnia mengikuti acara gladi bersih dengan serius dan setelahnya makan siang bersama dengan raja Andrew. Tidak ada pembicaraan tentang rencana terbang ke Argentina sebulan setelah acara coronation karena Sean tampak tidak ingin membahasnya.


Sekertaris kerajaan melaporkan bahwa banyak pemimpin kerajaan di Eropa sudah datang dan malam ini akan diadakan acara dinner bersama dengan para tamu undangan.


Sean dan Zinnia memutuskan untuk tidak membawa Arsyanendra karena tahu batita imut itu pasti bakalan rewel.


"Nanti malam kalian hadir kan?" tanya Raja Andrew.


"Tentu saja Father. Yang benar saja kami tidak hadir" senyum Sean.


"Bagus."


***


Malam harinya diadakan acara gala dinner menyambut para tamu undangan termasuk Raja James III bersama dengan pangeran Henry dan putri Medeline. Pertemuan Zinnia dan Medeline tampak mengharukan karena ibu Arsyanendra lebih sering berhubungan melalui video call.


"Zee! Astagaaa! Akhirnya bisa bertemu lagi ya!" ucap Medeline sambil memeluk Zinnia yang malam ini mengenakan gaun bewarna mix merah dan peach.




Sean sendiri memilih memakai suit dengan warna abu-abu yang langsung berbaur dengan banyak koleganya yang juga merupakan para pangeran dari berbagai kerajaan di dunia. Belgia bukan kerajaan besar seperti Inggris atau Spanyol tapi akibat skandal beberapa tahun lalu tentang fitnah ke Zinnia, membuat kerajaan itu menjadi terkenal.


Dan kini berita rujuknya Calon Raja dan istrinya yang akan menjadi calon ratu diharapkan dapat menghapus berita jelek yang sempat terkenal.


"Mana Arsya? Pasti di rumah ya?" tanya Putri Medeline.


"Iya di rumah, bersama teman berbulunya" senyum Zinnia.


"Ah akhirnya bisa pelihara anjing dan kucing" kekeh Medeline yang tahu Zinnia dan Arsya tidak bisa memelihara hewan berbulu karena bik Minah menderita alergi bulu.


"Bagaimana Richard?"


"Duh tambah nakal. Apa kamu tahu, kemarin mahkota milik Henry dijatuhkan oleh Richard hingga bengkok? Ampun deh!" gerutu putri Medeline.


"Tapi anak-anak kan memang begitu" kekeh putri Khadijah dari Brunei Darussalam.


"Iya, lima tahun pertama itu golden age" sahut putri Estefany dari kerajaan Spanyol.


Para ratu dan putri kerajaan itu tampak asyik membicarakan putra dan putri masing-masing, suasana yang membuat Zinnia nyaman.


Kedatangan Ayrton dan Mariana Schumacher membuat Zinnia sumringah melihat kedua orangtuanya datang. Ayrton yang memiliki banyak koneksi dengan banyak keluarga kerajaan di dunia pun menyapa semua kolega dan sahabatnya termasuk raja James III dan raja Aliansyah dari Brunei Darussalam.


Raja Andrew menyapa besannya didampingi oleh Sean dan Zinnia, tampak senang karena hubungan mereka pun semakin membaik meskipun Ayrton dan Mariana sebelumnya juga suka membesuknya saat masuk rumah sakit.


Acara gala dinner malam ini semua tamu undangan menikmatinya sembari mengucapakan selamat atas rujuknya pasangan calon raja dan ratu Belgia itu.

__ADS_1


***


Pagi harinya di istana Brussels, acara coronation pangeran Sean menjadi King Sean of Léopold berlangsung dengan lancar dan meriah. Ucapan selamat dari para tamu undangan membuat Sean dan Zinnia bahagia karena dikelilingi oleh para sahabat dan keluarga kerajaan lainnya.


Zinnia terkejut ketika melihat keluarga Bianchi pun datang ke acara itu mengingat bagaimana endingnya Natalia di tangan sepupunya Luke Bianchi. Joey dan Georgina serta Luca dan Emi tampak santai menemui beberapa kenalan mereka.


"Aku tidak menyangka Oom dan Tante pada datang" senyum Zinnia sambil memeluk keluarga Bianchi usai acara coronation yang dilanjutkan acara ramah tamah dengan tema garden party.


"Kami sudah datang bersama papamu tapi kami memilih jalan-jalan kota Brussels" senyum Emi. "Oh kamu jangan seperti ini Zee, kan sekarang kamu ratu Belgia jadi kami harus memanggil mu Your Highness?"


"Tante ih... Aku tetap Zee keponakan Tante lah!" sungut Zinnia yang sebenarnya tidak nyaman dengan gelar barunya tapi mau gimana lagi.


"Itu Arsya sama siapa saja Zee?" tanya Georgina melihat cucunya heboh dengan tiga bocah seumurannya.


"Yang rambut hitam itu pangeran Richard dari Inggris, lalu bocah perempuan berambut pirang itu putri Adonia dari Spanyol yang hanya berbeda dua bulan dari Arsya lalu putri Violeta dari Belanda yang berambut coklat" papar Zinnia.


"Ya ampun mereka menggemaskan!" Emi menatap gemas cucunya tampak sok cool saat berinteraksi dengan teman sebayanya.


"Aku saja gemas!" kekeh Zinnia.


***


"Arsya tidak bisa bahasa Jerman?" tanya Richard ke bocah yang setahun dibawahnya.


"Asya hanya bisa bahasa Ingglis, Indonesia dan Jawa" jawab Arsyanendra sambil menatap Richard.


"Arsya, udah gedhe kok masih celad" ledek Adonia dengan wajah meremehkan.


"Violeta, mata kamu ungu ya?" Arsya tampak kagum dengan warna mata putri dari Belanda itu.


"Iya, makanya aku dikasih nama Violeta sama Daddy dan mommy. Kapan kamu main ke Belanda?" Violeta seumuran dengan Richard.


"Asya tanya mommy dan Daddy dulu."


"Untung aku ada temannya, kalau nggak pasti boring!" sungut Richard sambil manyun.


"Susah ya jadi pangelan dan putli, capek!" keluh Arsyanendra.


"Banyak aturan lagi!" timpal Adonia.


"Eh, tapi ada enaknya lho" tukas Violeta.


"Apaan Vio?" Richard menatap bocah bermata ungu itu.


"Kita bisa kemana-mana sama naik kuda dengan bebas" gelak Violeta.


Richard hanya melengos sedangkan Arsya dan Adonia mengacuhkan putri Belanda itu.


***

__ADS_1


Malam harinya Arsya minta tidur bersama dengan kedua orangtuanya dan Zinnia tahu kalau putranya kelelahan pasti rewel dan maunya tidur bersamanya.


"Ngalah ya Sean. Arsya rewel soalnya" senyum Zinnia ke suaminya yang manyun.


"Iya deh. Lagian aku juga lelah sekali. Untung besok Minggu jadi bisa istirahat sehari sebelum tugasku menumpuk" ucap Sean sambil meletakkan tubuhnya diatas tempat tidur.


"Senang bertemu dengan teman-teman?" tanya Zinnia yang tahu Sean selalu berhubungan baik dengan keluarga kerajaan lainnya meskipun sempat merenggang saat kasus empat tahun lalu.


"Senang, Zee. Mereka bersyukur kita rujuk kembali dan mendoakan agar kita selalu bersama."


"Aamiin" ucap Zinnia penuh perasaan.


"Mommy..."


"Yes Arsya?" jawab Zinnia sambil memeluk putranya dan menepuk pelan pan*tatnya.


"Asya diledek Lichad tidak bisa bahasa jelman dan Adonia bilang masih celad. Kan Asya kesal" adu Arsya yang membuat Zinnia tertawa kecil.


"Mulai besok, kita harus belajar bilang Rrrr ya?"


Arsya mengangguk. "Mommy..."


"Yes?"


"Kapan kita ke Belanda?"


"Kenapa?"


"Vio mau pamer kudanya."


Zinnia dan Sean saling berpandangan lalu sama-sama tersenyum.


"Kalau Daddy ada kerjaan ke Belanda, Daddy kasih tahu Arsya ya?"


"Memang Vio punya berapa kuda, Sya? Kan Arsya juga punya di rumah Opa Ayrton. Disini juga ada." Zinnia menatap putranya yang setengah terpejam.


"Katanya banyak tapi Asya menang dali Vio. Asya punya dua anjing dan kucing, Vio hanya punya satu."


Sean tidak tahan untuk tidak tertawa. "Astagaaa! Jiwa kompetisi nya sudah terbentuk dari batita!"


Arsyanendra mengacuhkan omongan Sean dengan semakin mendusel ke Zinnia dan tak lama mata biru bocah imut itu terpejam.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2