The Prince and I

The Prince and I
Masih Di Apartemen


__ADS_3

Geneva Switzerland... 6 tahun lalu


Sean menatap wajah Zinnia yang hanya membalas dengan datar tanpa ekspresi. Gadis cilik yang dulu dianggap centil, manja ternyata sudah berubah menjadi wanita dewasa, yang punya sikap dan semakin judes.


"Kenapa kamu tidak mau pakai pengawal?" tanya Sean.


"Pengawal bikin ribet. Aku tidak bisa bebas kuliah, bekerja dan bersosialisasi karena sedikit - sedikit laporan ke papa" ucapnya kesal.


"Tapi papamu tetap mengirimkan pengawal kan?"


"Kalau pun papa mengirimkan pengawal, dia hanya mengawasi dari jauh." Zinnia menatap Sean dingin. "Tidak seperti kamu."


Sean terbahak.


"Kamu belum menjawab pertanyaan aku, Sean. Kemana sikap aroganmu dan menyebalkan waktu kecil?"


Sean menyesap hot Choco buatan Zinnia. "Hilang seiring waktu."


"Oohhh. Baguslah biarpun kamu yang sekarang lebih menyebalkan."


Sean tersenyum smirk. "Berapa lama kita tidak bertemu ya Zee? Oh, kamu tidurnya enak sekali di ruang VIP bandara Changi."


Zinnia menatap Sean dengan bingung. "Changi?"


"Apa kamu lupa, pada saat kamu mengantarkan Opa dan Omamu, kamu malah tertidur di kursi?"


Zinnia mencoba mengingat ingat. "Oh yang Opaku satu ruangan dengan Grandadmu? Iya aku ketiduran. Memangnya kamu ada?" Saat dia bangun sudah berada dalam mobil Uber bersama sang mama dan dirinya sempat menangis karena tidak melihat pesawat Opa dan Omanya tinggal landas.


"Aku memperhatikan kamu tidur. Ternyata kamu imut kalau tidur tapi kalau bangun menyebalkan!"


"Terimakasih atas pujiannya." Zinnia mengangguk sambil menyesap hot Choconya. "Kamu tidak pulang? Tidak kembali ke rumah sakit?"


"Aku yang minta keluar dari rumah sakit, aku tidak pernah nyaman disana."


"Tidak kembali ke Belgia? Natalan disana?"


Sean menggelengkan kepalanya. "Aku lebih suka disini."


Zinnia tidak bertanya lebih lanjut karena semalam dia mengobrol dengan kedua orangtuanya dan menceritakan pertemuannya dengan Sean. Ayrton memberitahukan bahwa kondisi kerajaan Belgia sedang tidak baik-baik saja karena terjadi perpecahan dua kubu siapa yang hendak naik tahta, Stefanus atau Sean.


"Kamu acara natal kemana? Oh aku lupa, kamu tidak merayakan natal."


"Aku akan kumpul dengan teman-teman yang tidak pulang ke negaranya masing-masing." Zinnia melirik ke layar ponselnya dan mengerenyitkan teks 911 di layarnya dan tak lama ponselnya berbunyi. "Maaf aku harus terima ini dulu. Halo? Assalamualaikum."


"Zeeeee!" teriak seseorang di seberang sana.


"Astaghfirullah! Salam dulu Blaze" protes Zinnia sambil berjalan menuju sofa tengah meninggalkan Sean di kursi makan.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam. Zeeee! Bisa nggak kasih tahu ke Daddy kalau aku tidak butuh pengawal!" teriak Blaze Bianchi, putri Joey Bianchi dan Georgina O'Grady.


"Kenapa memang?" tanya Zinnia sambil tersenyum. Sepupu cantiknya itu memang bar-bar melebihi dirinya dan Zinnia tidak heran karena Blaze keturunan dua klan mafia Italia dan Irlandia jadi jiwanya sangat Rebel ( pemberontak ) ditambah namanya 'Blaze' yang berarti api.


"Asisten Daddy tuh! Menyebalkan! Hanya gara-gara aku kepergok ke club sama teman-teman kuliah, sekarang aku diikuti cowok menyebalkan!" adu Blaze.


"Kan salah kamu juga ke club. Sudah tahu disana isinya tidak baik, malah kesana" kekeh Zinnia.


"Iiissshhh paling tidak kan aku tahu lah! Tolong Zee, bantu bilang ke Daddy" rengek Blaze.


"Memang siapa pengawal kamu?"


"Samuel Prasetyo."


Zinnia melongo dan mencoba mengingat pria Indonesia yang menjadi asisten Joey di stesi bedah. Samuel adalah dokter muda yang sedang mengambil spesialis bedah di Harvard Medical School tempat Joey sekarang bekerja.


"Samuel yang kaku itu? Yang serba lurus?" tanya Zee. "Ganteng tapi cupu itu?"


Sean langsung menaikkan sebelah alisnya. Ganteng? Siapa itu Samuel?


"Dia nggak ganteng Zeeeee! Dia menyebalkan!" jerit Blaze dramatis.


"Kok bisa dia jadi pengawal kamu?" tanya Zinnia bingung.


"Makanya aku ingin pindah kuliah, ke MIT saja ya biar aku tidak punya anak bebek kemanapun!" Blaze sama dengan kedua orang tuanya memilih kuliah di kedokteran Harvard.


"Kamu tidak asyik diajak diskusi!" sungut Blaze kesal. Selain Leia, Blaze juga dekat dengan Nadira putri Rajendra McCloud tapi hanya dengan Zinnia, Blaze bisa curhat apa saja.


"Sudah, dinikmati saja. Toh Samuel baik kok anaknya."


"Daddy ist scheiße ( Daddy menyebalkan )!" umpat Blaze kesal. Zinnia semakin tertawa kencang.


***


"Siapa Zee?" tanya Sean setelah Zinnia selesai bertelepon.


"Sepupuku Blaze Bianchi."


"Ada apa?"


"Tidak ada apa-apa. Kenapa sih kamu ingin tahu?"


"Aku hanya ingin tahu semua tentang kamu, Zee. Boleh kah aku tahu ada apa dengan sepupumu?"


Zinnia menggelengkan kepalanya. "Girls talk."


Sean hanya terdiam dan tampaknya gadis di hadapannya bukan tipe tukang cerita keluarga nya pada orang asing. Tapi aku kan bukan orang asing baginya.

__ADS_1


"So, kembali ke acara Natal. Memang kamu akan kumpul-kumpul dimana?" tanya Sean.


"Di cafe Thomas. Di gedung sebelah."


"Apakah nama pemiliknya Thomas juga?"


"Memang."


"Kenapa tidak kreatif sih kasih nama cafe?" ledek Sean.


"Satu biar mudah diingat, kedua suka - suka pemiliknya dan kamu tidak ada hak protes" sahut Zinnia cuek.


"Kamu kenal pemiliknya?" tanya Sean yang merasa tidak rela gadis di hadapannya dekat dengan seorang pria.


"Tentu saja kenal. Aku sudah tinggal disini sejak usia 16 tahun dan Thomas adalah orang pertama yang menjadi temanku di luar teman-teman kampus."


"Apakah dia tampan?" tanya Sean.


"Oh? Jiwa narsisme mu terusik?" sindir Zinnia. "Tampan atau tidak seseorang itu relatif tapi yang paling membuat orang biasa - biasa saja bisa menjadi luar biasa adalah otak dan inner beauty nya. Thomas, secara fisik sama seperti pria bule pada umumnya dan sangat Swiss mukanya khas Bavaria tapi dia baik dan aku nyaman ngobrol dengannya apalagi pengetahuannya luas. Bahkan dia yang membantu koreksi bahasa Perancis aku yang masih berantakan saat datang kemari. Aku kemari hanya berbekal bahasa Inggris, Jerman serta sedikit Perancis dan Italia. Thomas lah yang membantu pronouncing aku."


"Apakah kamu mencintai Thomas?" tanya Sean.


Zinnia menggelengkan kepalanya. "Aku masih belum memikirkan soal percintaan karena aku masih fokus kuliah."


"Sepertinya Thomas suka padamu."


"Apa itu masalah?"


Ya itu masalah Zee. Karena aku sepertinya mulai suka padamu.


"Tidak..." jawab Sean.


Zinnia hanya terdiam tapi dia tahu bahwa Sean berbohong. Pekerjaan nya sebagai konsultan dan profiler klien, membuat Zinnia tahu orang itu berbohong atau tidak.


Oom Benji nya malah menawari dirinya untuk masuk FBI dan masuk BAU karena kemampuan profiling nya namun Zinnia menolak. Gadis itu lebih memilih menjadi konselor anak-anak yang membutuhkan bantuannya.


"Apakah aku boleh ikut ke pesta itu?"


Zinnia menatap Sean tidak percaya. "Seriously? Apa kamu lupa kamu siapa, Sean?"


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2