The Prince and I

The Prince and I
Sean Membujuk Arsyanendra


__ADS_3

Indramayu Jawa Barat Present Day


Sean menikmati acara jalan menuju sawah milik istrinya yang terhampar luas. Entah berapa ratus ribu hektar disana yang menjadi salah satu lumbung produsen beras untuk dalam negeri.


"Sawahmu luasnya berapa Zee?" tanya Sean.


"Kalau yang disini sekitar 300ribu hektar sedangkan yang di sisi barat ada hampir 400ribu hektar" jawab Zinnia santai. "Pelan-pelan aku beli lahannya untuk perluasan produksi kami."


"Apakah selalu panen raya?" tanya Sean lagi sambil menggandeng tangan Zinnia.


"Alhamdulillah beberapa tahun ini kami selalu surplus dan aku bisa memberikan bonus kepada buruh jadi kehidupan mereka pun membaik. Sebenarnya aku hanya melanjutkan karena selama ini dikelola oleh Oom Benji dengan pengawasan Oom Hoshi dan Oom Travis."


"Papa apa juga mengawasi?"


"Ohya, papa mendapatkan laporan dari Oom Hoshi dan Oom Travis karena mereka yang berada di Jakarta" jawab Zinnia sambil mengawasi Shinichi yang menggandeng Arsyanendra.


"Jadi ini semua milikmu?"


"Milik Arsya sekarang karena aku sudah memberikan untuk Arsya. Bagaimana pun juga ini warisan dari keluarga almarhum ayah kandungku jadi harus aku jaga."


Sean menoleh ke arah Zinnia yang tetap memandang lurus. "Karena itu kamu tidak terlalu memusingkan harta sebab kamu sudah punya ini?"


"Aku malah tidak tahu, Sean karena papa sebenarnya hendak memberikan pada saat aku berusia 25 tahun tapi kejadian lalu membuat papa berubah pikiran. Bagaimana pun ini memang hak aku dan Arsya jadi papa ingin aku bisa mengelola warisan ku. Alhamdulillah aku bisa menjalankan dengan dibantu Oom Hoshi dan Oom Travis."


Sean hanya terdiam. Dirinya sangat tahu Zinnia bukan tipe wanita yang sok sosialita, apalagi selama di Belgia, dia memilih tugas yang lebih banyak sosial dan amal.


"Misal kita bercerai, kamu..."


"Aku tidak akan meminta harta gono-gini Sean. Kehidupan aku dan Arsya sudah sangat berlebihan dari hasil beras kami. Aku juga tidak akan meminta gelar apapun untuk Arsya meskipun dia adalah anakmu karena aku lebih suka Arsya tumbuh kembang dengan normal, bukan di lingkungan kerajaan" potong Zinnia tegas.


"Kalau aku tidak mau berpisah denganmu..."


"Maka aku yang akan menggugat cerai." Keduanya berhenti dan Zinnia menatap tajam ke Sean.


"Aku bisa saja membawa Arsya ke Belgia apalagi dia adalah anakku, putra mahkota. Dan hukum di negara ku, aku berhak membawanya, Zee! Apalagi dia lahir disaat kita masih menikah secara resmi!"


Bibir seksih Zinnia menganga. "Over my dead body, Sean! Berani kamu membawa Arsya, akan aku lawan kamu!"


"Pilih mana? Kamu ikut aku ke Belgia bersama Arsyanendra atau kita bercerai tapi Arsya aku bawa ke Brussels? Aku berhak akan hal itu Zee!"


Wajah Zinnia tampak terluka mendengar ucapan Sean yang masuk akal. Dan memang mereka belum bercerai saat Arsya lahir, secara de facto Arsya adalah pangeran Belgia, calon putra mahkota nanti untuk menggantikan Sean jika naik tahta.


Sebenarnya Sean tidak tega melihat wajah sedih istrinya tapi dia tetap bertekad untuk membawa Zinnia pulang ke Belgia.


"Kita tidak akan tinggal di istana dan tidak akan tinggal di apartemen yang lama. Aku sudah memerintahkan Greg untuk menyiapkan sebuah istana kecil dekat istana utama. Kita akan tinggal disana Zee. Ada istal juga untuk kedua kudamu, Baby dan Angel." Sean berusaha membujuk Zinnia.

__ADS_1


"Aku tidak akan memberikan keputusan sekarang... Dan aku akan mencari tahu hukum Belgia seperti apa! Jangan mentang-mentang kamu seorang pangeran Belgia bisa seenaknya sendiri membuat aturan!" bentak Zinnia lalu wanita itu pun berjalan menyusul Shinichi dan Arsyanendra.


Sial! Aku lupa kalau Zinnia bukan tipe yang bisa dimanipulasi! Tentu saja dia akan mencari tahu segalanya! Sean menghela nafas panjang lalu menyusul istri, anaknya dan iparnya.


***


"Aku harus divideo ini?" tanya Shinichi sambil manyun dan memegang bibit padi ketika mereka tiba di salah satu sawah yang masih kosong. Beberapa buruh tani yang sudah mengenali Shinichi hanya tertawa melihat pria imut itu ikut tanam padi.


"Iyalah, sebagai bukti kamu menanam padi, Shinchan" kekeh Zinnia sambil melakukan rekaman video dari ponselnya.


"Oh Appa dan Mommy, lihatlah anakmu ini yang menjadi pak tani dadakan. Demi apa coba? Demi Konten pemirsah!" cengir Shinichi yang membuat Zinnia tertawa.


Sean dan Arsyanendra memilih mencari cacing lalu memasukkan ke dalam tanah.


"Sya, kok kamu suka nangkap cacing sih?" tanya Sean ke putranya.


"Buat tanaman mawal mommy. Kata mommy, cacing bikin tanah subul" jawab Arsya cuek.


"Sya, Arsya milih mana, tinggal di rumah mommy atau rumah Daddy?"


Arsyanendra menatap wajah Sean. "Asya tidak tahu lumah Daddy" jawabnya polos.


Sean mengambil ponselnya dan memperlihatkan sebuah bangunan dua lantai dengan gaya neoclassical disana.



"Kenapa?"


"Nanti mommy bingung Cali Asya kalau hilang."


Sean nyaris tertawa mendengar argumen Arsyanendra yang memang tampak cerdas di usianya.


"Arsya nggak ingin lihat rumah Daddy?" bujuk Sean.


"Lumah Daddy kan jauh. Asya nggak suka pelgi jauh-jauh."


"Kalau misalnya sama mommy perginya, gimana?"


Arsyanendra menoleh ke arah Zinnia yang sedang membuka alas untuk piknik.


"Asya tanya mommy dulu, Daddy. Kata Tante Galvita, halus nulut sama mommy."


Sean hanya bisa menatap putranya lembut. Bagaimana pun Arsyanendra tidak bisa berpisah dengan Zinnia sebagai ibunya.


"Kalau mommy mau ke rumah Daddy, Arsya ikut kan?"

__ADS_1


Arsyanendra memandangi wajah Sean. "Kalau mommy mau ke lumah Daddy, asya ikut. Soalnya Asya yang lindungi mommy. Kata Oom Sendla gitu."


Oh astagaaa. Didikan keluarga Zinnia benar-benar...


"Arsya... Ayo cuci tangan dulu. Makan lemper dulu" panggil Zinnia.


"Yes mommy!" jawab Arsya.


"Arsya, mau bantuin Daddy?" Sean mengajak Arsya ke sebuah pancuran untuk cuci tangan.


"Apa Daddy?"


"Mommy diajak dong ke rumah Daddy. Kan Arsya sama mommy belum lihat rumah baru Daddy..."


Mata biru Arsyanendra menatap bingung ke arah ayahnya. "Kalau mommy tidak mau?"


"Yaaa kita coba cara lain" senyum Sean. "Arsya mau Daddy sama mommy rumahnya berbeda?"


"Asya..."


"Sudah cuci tangan nya?" tanya Zinnia lembut.


"Sudah mommy!" teriak Asya riang.


"Shinichi, ayo cuci tangan. Makan dulu..." panggil Zinnia yang melihat adik sepupunya sudah belepotan tanah.


"Oke mbak." Shinichi berpamitan ke para buruh tani lalu berjalan menuju pematang sawah ke arah tempat Zinnia menggelar acara pikniknya.


"Alamat cuci baju deh!" keluh Shinichi usai mencuci tangannya.


"Nanti tunggu sampai kering dulu itu tanah yang menempel Shin, lalu kamu coba ambil tanahnya sebisa kamu. Terus kalau sudah kasih detergen cair ke kain yang kena tanah itu, diamkan beberapa menit baru dikucek, cuci seperti biasanya. Kalau susah, sikat pakai sikat baju." Zinnia mengajari Shinichi karena tahu adiknya paling payah soal pekerjaan rumah tangga.


"Lho nggak langsung direndam mbak?"


"Nanti bekas lumpurnya makin beleber, Shin."


Sean memperhatikan bagaimana istrinya dengan sabar dan santai mengajari adiknya. Kamu dari dulu selalu begitu, care dengan siapapun.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote comment and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2