The Prince and I

The Prince and I
Mommy Sakit, Arsya Nangis


__ADS_3

Cliniques universitaires Saint-Luc (UCLouvain), Rumah Sakit Saint-Luc Brussels


Sean berlari di lobby rumah sakit tanpa mengindahkan semua orang disana yang bingung dan terkejut raja mereka tampak panik. Greg dan para pengawal di belakangnya tampak mengikuti pria tampan itu.


"Wo ist meine Frau? Sag mir! ( Dimana istriku! Jawab! )" teriak Sean panik menatap sekelilingnya.


"Yang Mulia..." seorang dokter senior dengan wajah teduh menghampiri Sean. "Perkenalkan saya dokter Graham Hutchings. Saya dokter Obgyn yang mulia Ratu. Mari ikut saya"


Sean pun mengikuti dokter itu yang didampingi oleh dua perawat. Mereka naik lift dan menuju lantai khusus pasien VIP.


"Yang Mulia, sebelum anda masuk bertemu yang mulia ratu, saya hendak berbicara pribadi dengan anda tentang kondisi ratu Zinnia." Dokter itu menatap serius ke Sean.


"Baik."


Suara lift berbunyi menandakan mereka sampai di lantai ruang rawat Zinnia.


"Greg, kamu cari Arsya. Bilang aku sedang bersama dokter dan sebentar lagi kesana" perintah Sean begitu mereka keluar dari lift.


"Baik yang mulia." Greg dan semua orang meninggalkan Sean berdua dengan dokter Graham.


"Apa yang ingin anda bicarakan, dokter?" tanya Sean tidak sabar. Dirinya ingin segera berada di sisi Zinnia dan Arsya.


"Yang mulia, pertama selamat Ratu Zinnia sedang mengandung delapan Minggu..."


Wajah Sean tampak sumringah. "Alhamdulillah."


"Tapi, Ratu harus bedrest total sampai kandungannya berusia empat bulan..."


"Bedrest... Sebenarnya apa yang terjadi?" Sean kembali panik.


"Ratu Zinnia terpeleset karena lantai licin..."


"Tapi Zee tadi tidak pakai sepatu hak tinggi. Dia memakai sepatu boot dengan hak tiga Senti... Apakah anak kami baik-baik saja?" Wajah Sean tampak memucat.


"Puji Tuhan kandungan Ratu Zinnia kuat dan janinnya juga selamat. Dan, saya melihat ada dua titik disana..."


Sean melongo. "Dua...titik? Kembar maksudnya?"


Dokter Graham tersenyum. "Anda benar yang mulia. Maka dari itu, saya meminta agar Ratu Zinnia nanti setelah perawatan disini, harus bedrest total di tempat tidur, karena ada dua nyawa disana. Dan melihat dari kondisi kandungan yang kuat, saya rasa memasuki tri semester kedua sudah bisa beraktivitas tapi yang ringan-ringan dan jangan terlalu capek."


"Tapi saya rasa kami tidak ada keturunan kembar ..." gumam Sean antara senang dan tidak percaya diberikan anugerah yang indah ini. "Tapi entah kalau dari buyut kami."


"Berikan semangat pada Ratu, Yang Mulia. Tadi saat saya periksa, beliau tidak tahu kalau sedang hamil." Dokter Graham menatap calon ayah tampan itu. "Saya periksa dulu yang mulia ratu, nanti yang mulia bisa melihatnya."


***


Sean mendatangi ruang rawat istrinya dan Arsya yang berada di luar langsung menghambur ke daddynya sambil menangis. Hot Daddy itu langsung menggendong putranya.

__ADS_1


"Daddy... tadi mommy jatuh... terus berdarah... dan mommy kesakitan... Huwaaa" lapor Arsya sambil menangis kencang. Sean bisa melihat putranya dari tadi menangis terus.


"Yang mulia." Jasmine menghampiri Sean.


"Bagaimana keadaan Zee, Jaz? Tadi bagaimana ceritanya?" tanya Sean sambil menepuk punggung putranya yang memeluk lehernya sambil sesenggukan. Sean tidak perduli jas mahalnya terkena air mata Arsya.


"Kami baru saja selesai melihat sekolah kedua dan saat kami hendak menuju mobil, nona Zinnia terpeleset dan dari belakang keluar darah. Kami langsung membawanya kemari karena yang paling dekat."


"Mommy nangis Daddy..." adu Arsya. "Arsya ikut nangis."


Sean menatap putranya antara gemas dan sedih lalu menowel hidung Arsya. "Sudah, jangan nangis ya. Mommy sudah ketemu sama pak dokter jadi pasti sembuhnya."


Arsya mengangguk.


"Dimana Sarah?" tanya Sean ke Jasmine.


"Sedang mengurus administrasi, yang mulia. Menurut rencana, nona Zinnia akan dipindahkan ke ruang VVIP. Maafkan kami tadi langsung bergerak cepat, yang mulia."


"Tidak apa-apa Jaz."


Suara pintu dibuka dan keluar dua orang perawat senior membungkuk hormat disusul dengan dokter Graham.


"Anda boleh masuk yang mulia. Ratu Zinnia sudah lebih baik" senyum Dokter Graham.


"Terimakasih dokter" ucap Sean.


"Your mommy is gonna be okay, my young prince." Dokter Graham mengelus bahu Arsya lembut.


"Danke" bisik Arsya.


"Keine Ursache ( Sama-sama )."


Sean dan Arsya bergegas masuk ke dalam ruang rawat Zinnia. Tampak wanita cantik itu masih pucat tapi matanya tampak berbinar bahagia.


"Sean... Arsya..." ucapnya pelan.


"Halo sayang." Sean mendudukkan Arsya di kursi yang tersedia di sebelah tempat tidur istrinya. "Bagaimana? Masih keram? Masih sakit pan*tatmu?" Pria itu mengelus rambut tebal Zinnia sambil mencium keningnya.


"Sudah nggak. Alhamdulillah. Arsya kenapa? Kok hidung nya kayak tomat?" goda Zinnia.


"Mommmyyy, Arsya takut! Lihat mommy beldalah!" Dan batita itu pun menangis lagi. Sean dan Zinnia tahu, putra mereka trauma melihat kejadian tadi.


"Sya..." Sean meletakkan putranya di sebelah istrinya. Bersyukur tempat tidur Zinnia termasuk besar jadi Arsya tidak membuat sumpek Zunnia. "Arsya takut ya?"


Arsya mengangguk. Sean pun duduk di sebelah tempat tidur Zinnia.


"Arsya kaget ya?"

__ADS_1


Arsya mengangguk lagi. "Mommy beldalah, mommy nangis, mommy sakit, Asya jadi takut." Balita itu pun memeluk Zinnia pelan.


"Kok kamu jadi celad lagi sih Sya?" kekeh Zinnia. "Maaf ya membuat Arsya dan Daddy takut."


"Kamu nggak tahu kalau kamu hamil, Zee?" tanya Sean.


"Nggak tahu Sean. Soalnya bulan kemarin aku sempat dapat tapi hanya dua hari padahal kan biasanya aku jadwalnya seminggu. Aku pikir karena padatnya acara kita, jadi terganggu. Aku tidak berpikir kalau aku hamil, karena aku tidak mual, tidak pusing ... "


"Mommy, schwanger ( hamil ) itu apa?" tanya Arsya yang baru mendengar kata itu.


"Artinya mommy sedang bawa adik di dalam perut." Zinnia tersenyum ke arah Arsyanendra yang menatap dirinya.


"Adik? Disini?" Arsya menunjuk perut Zinnia yang tertutup selimut.


"Iya Sya, Arsya mau jadi mas Arsya atau...mau dipanggil bang Arsya?"


"Mas aja! Seperti Tante Garvita kalau manggil Oom Sendra. Adiknya kapan keluar?"


"Masih lama, tujuh bulan lagi." Tadi Zinnia menatap dokter Graham tidak percaya kalau dirinya sedang hamil delapan Minggu dan...kembar!


"Arsya nanti punya dua adik" sambung Sean.


"Dua? Cowok kan?" Arsya menatap kedua orang tuanya bergantian.


"Belum tahu cowok semua atau cewek semua" jawab Sean jujur.


"Duh!" Arsya tampak manyun.


"Kenapa Sya?" tanya Sean yang gemas dengan gaya putranya.


"Nanti Arsya dikeroyok!"


Sean dan Zinnia melongo. "Kamu dapat dari mana kata 'dikeroyok'?" tanya Zinnia.


"Dari Oom Shin waktu main game. 'Duh Sya, Oom Shin Dikeroyok!' Gitu mom. Kata Oom Shin kalau satu orang ditubruk orang banyak, namanya dikeroyok. Kalau Asya besok ditubruk dua adik Asya, berarti dikeroyok kan mommy?"


Sean hanya melengos sebal sedangkan Zinnia cekikikan. "Astagaaa! Aku nggak kebayang besok kayak apa ributnya rumah kita, Sean."


"Trio Kampret jangan sering-sering ke Brussels! Lihat apa yang terjadi pada Arsya!" gerutu Sean kesal.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2