The Prince and I

The Prince and I
Rencana Masuk Kleuteronderwijs


__ADS_3

Brussel Belgia


Tanpa terasa Zinnia dan Sean menjalankan tugas mereka sebagai raja dan raty Belgia sudah hampir tiga bulan ini. Suami istri yang selalu kompak dalam semuanya itu, menjadi idola tersendiri bagi rakyat Belgia. Apalagi jika Zinnia membawa Arsyanendra dalam berbagai acara amal yang berhubungan dengan anak - anak seperti saat ini mereka menemui sebuah sekolah taman kanak-kanak di Brussels yang mengadakan acara Bazaar.


Arsya tampak antusias melihat banyaknya makanan dan mainan disana dan batita itu sangat menyukai pretzels. Kehadiran pangeran cilik yang tampan itu membuat para guru pun gemas ditambah cara bicara Arsya yang masih campur aduk Inggris Jerman.


Pelan-pelan Zinnia mengajarkan dan mengenalkan Arsya posisinya sebagai calon putra mahkota. Zinnia tetap mendidik Arsya untuk tetap humble kepada siapa saja karena dia tidak mau putranya menjadi seenaknya sendiri mengingat tidak ada yang mau melawannya karena statusnya.


"Mommy, Es gibt so viele Brezeln ( ada banyak pretzel )!" seru Arsya heboh. Semenjak kena ledek Richard dan Adonia, Arsya bertekad mau belajar bahasa Jerman, tidak mau celad dan sekarang sudah mulai bisa mengucapkan lafal 'R'.


"Wenn Sie es wollen, fragen Sie sie höflich ( kalau mau, minta yang sopan ya )" ucap Zinnia.


"Yes, mommy." Zinnia menggandeng tangan Arsyanendra yang sudah semangat ke counter pretzels.


"Willkommen, Hoheit, junger Prinz. Welche Brezeln willst du ( Selamat datang yang mulia, pangeran cilik. Mau pretzel yang mana )?" sapa guru yang berjaga disana.


"Mommy, Arsya nggak mudeng" bisik batita itu dengan bahasa Indonesia.


"Arsya mau yang rasa apa?" senyum Zinnia.


"Cheese, please" pinta Arsya sopan yang membuat guru itu tampak gemas dengan pangeran nya.


"Here you go, my young prince."


"Danke" ucap Arsya sambil tersenyum manis menerima pretzel itu.


"Meine Königin, Prinz Arsya, ist sehr liebenswert ( Ratu, pangeran Arsya sangat menggemaskan )!"


"Danke. Wir gehen zuerst herum ( kami keliling dulu ya )" senyum Zinnia.


"Bitte ( Silahkan )."


Arsya memakan pretzelnya sambil berjalan di sisi Zinnia, sedangkan Jasmine dan Sarah di belakang keduanya.


Zinnia banyak menyapa semua orang disana, begitu juga Arsya yang sudah banyak diajarkan sang mommy.


Kehadiran Ratu dan pangeran cilik yang ikut acara Bazaar itu pun menjadi trending topik, tidak hanya di Belgia tapi kawasan Eropa.


***


Kediaman Sean dan Zinnia


"Bagaimana acara Bazaarnya?" tanya Sean saat malam hari hendak istirahat. Arsya sendiri sudah tidur di kamarnya ditemani para teman berbulunya.


"Alhamdulillah sukses dan Arsya mau berinteraksi dengan teman-teman sebayanya."


"Arsya sudah mau empat tahun ya Zee." Sean memperhatikan istrinya masih melakukan ritual bersih - bersih dan mengoleskan lotion ke tubuhnya seperti jaman awal menikah.


"Kenapa? Mau kita masukkan sekolah?" Zinnia menatap suaminya.

__ADS_1


"Kalau kamu tidak keberatan."


Zinnia menghampiri suaminya. "Boleh lah. Apalagi di kleuteronderwijs ( Taman kanak-kanak ) disini tidak wajib tapi aku ingin Arsya berinteraksi dengan teman sebayanya. Disini kan kebanyakan orang dewasa."


Sean bergeser ketika Zinnia naik ke tempat tidur dan langsung memeluk istrinya. "Kenapa kamu belum hamil ya? Apakah aku kurang bekerja keras?"


Zinnia mendelik. "Modus! Jadi kesimpulannya? Arsya mulai kapan kita masukkan ke kleuteronderwijs ( taman kanak-kanak )?"


"Besok kamu ada jadwal padat tidak?" Sean mulai menciumi ceruk leher istrinya dan menarik tali lingerie nya.


"Nggak sih. Besok aku hanya... Sean!" Zinnia mendelik ketika bibir suaminya menyesap salah satu gundukannya.


"Besok apa sayang..." senyum Sean yang gemas melihat wajah judes istrinya.


"Aku bekerja di istana bersama Sarah."


"Ya sudah, coba besok sama Sarah cari sekolah untuk Arsya..." Sean meloloskan lingerie Zinnia. "Sekarang misi yang lain lagi."


Zinnia hanya pasrah ketika suaminya kembali kemeshumannya.


***


Istana Brussels Belgia, tiga bulan pernikahan Sean dan Zinnia


Sean dan Greg bersama dengan para petinggi kerajaan sedang berada di ruang kerjanya untuk membicarakan acara Halloween di istana. Meskipun Sean tidak terlalu suka acara seperti itu, tapi mengadakan pesta kostum tampaknya menarik juga.


"Tidak ada acara horor atau apapun karena kita konsepnya adalah acara keluarga dan saya ingin semua have fun bukan have scared."


"Baik yang mulia."


"Kita makan siang dulu gentlemen." Sean menyudahi pertemuannya.


"Baik yang mulia." Para petinggi kerajaan itu pun keluar dari ruang kerja Sean.


Raja tampan itu pun keluar bersama Greg untuk makan siang bersama dengan Andrew yang semakin hari semakin tampak sehat dan segar.


"Ayo Sean, kita makan dulu. Zinnia kemana? Kata Stu, istrimu tidak datang ke istana." Andrew menatap putranya yang duduk di sebelahnya.


"Zee sedang mencari sekolah buat Arsya. Kami rasa sudah waktunya Arsya berinteraksi dengan teman-teman sebayanya dan bisa belajar bahasa Jerman dengan lebih cepat."


"Maksudmu Arsya hendak masuk kleuteronderwijs?"


"Iya Father."


"Bagus. Arsya anaknya cerdas dan bisa dengan mudah beradaptasi."


"Iya Father."


"Sean... "

__ADS_1


"Father mau ke Argentina?" Sean menatap Andrew.


"Iya Sean. Kalau bisa bersamamu..."


Sean menghembuskan nafasnya. Sejujurnya dirinya sudah tidak mau melihat Michelle lagi setelah apa yang wanita itu lakukan.


"Aku tidak bisa, Father. Jadwal aku padat. Jika father mau berangkat, silahkan saja" ucap Sean dingin.


"Son..."


"Aku tahu Father tapi aku tidak bisa melupakan bagaimana wajah mantanmu itu dengan seenaknya saling bertukar pasangan. Itu tidak bisa dimaafkan, Father! Maaf, tapi aku tidak akan pernah mau melihat wanita itu!"


Andrew tampak kecewa tapi dia tahu bagaimana terlukanya Sean meskipun sudah empat tahun berlalu.


"Father paham Sean..."


"Don't push me Father. Jangan paksa aku untuk terbang ke Argentina hanya untuk menemui mantanmu itu. Enough, Father. Aku sekarang sudah bahagia bisa bersama lagi dengan Zee dan Arsya. Jangan ganggu dan berikan energi negatif ke hubungan kami, Father. Aku sudah berpisah lama dengan istri dan anakku yang tidak aku dampingi dari dalam perut Zee bahkan sampai dia lahir pun aku tidak tahu! Please?"


Andrew hanya bisa mengangguk pelan. Dia tahu Michelle sudah parah kondisinya dan ingin meminta maaf langsung kepada Sean tapi dia juga tidak bisa menyalahkan putranya yang menjadi korban disini.


"Kapan Father berangkat?" tanya Sean.


"Sekitar Minggu depan. Kamu tidak usah khawatir, Father membawa dokter dan pengawal banyak."


Sean mengangguk. Tiba-tiba Greg datang ke ruang makan itu dengan wajah panik.


"Yang Mulia..."


"Ada apa Greg?" tanya Sean yang bingung melihat asistennya tampak pucat.


"Yang mulia Ratu..."


"Ada apa dengan Zee? Greg!" hardik Sean panik.


"Yang Mulia Ratu harus dibawa ke rumah sakit!"


"Ada apa Greg?" tanya Andrew ikut panik.


"Yang Mulia Ratu pendarahan..."


Sean langsung lemas.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2