The Prince and I

The Prince and I
Dokter Psycho


__ADS_3

Uccle Belgia


Arka dan Valentino sudah sampai di villa yang disewa Sarah sedangkan Blaze belum pulang karena jam kerjanya masih sore meskipun Zinnia tidak ada.


"Mbak Leia, gimana? Sudah masuk gambarnya?" tanya Arka ke kakak sepupunya.


"Sudah. Itu lagi dipantau sama Darth Vader dan Shinchan."


"Kita mandi dulu ya mbak. Menghilangkan kenajisan yang haqiqi" pamit Valentino.


"Mbak Zee kemana?" tanya Arka.


"Ngobrol sama Gasendra. Kayaknya buat rencana besok."


"Mbak Zee jadi kabur besok sama Sendra dan Jasmine?" tanya Valentino.


"Jadi. Kalian lamaan disini nggak papa kan?" Leia menatap kedua adiknya.


"Wong kita belum gegeran kok mau pulang. Rugi bandar mba" gelak Arka.


***


"Hamil?" desis Gasendra yang terkejut mendengar ucapan kakaknya.


Zinnia mengangguk.


"Sudah berapa Minggu mbak?"


"Mbak nggak tahu dik."


Gasendra mengusap wajahnya kasar. "Sean mau mbak kasih tahu?"


Zinnia menggelengkan kepalanya. "Bahaya dik kalau mbak kasih tahu. Bisa-bisa nyawa anak mbak dalam bahaya."


"Good. Dan aku harap, biar dia yang morning sick!"


"Oh, yang tahu hanya kamu saja, lainnya jangan dikasih tahu dulu."


"Kenapa mbak?"


"Takutnya nanti konsentrasi mereka akan terpecah."


***


Apartemen Sean dan Zinnia


"Huweeekkk!" Sean mengeluarkan semua isi perutnya. Alkohol sialan! Pria tampan itu teduduk lemas dekat wastafel dan melihat shampo milik Zinnia masih ada di lemari.


Buru-buru pria itu mengambil shampoo istrinya dan mencium aromanya. Perut Sean yang semula berontak menjadi tenang setelah harum yang dirindukannya tercium.


"Kamu kemana Zee?" ucap Sean berulang. "Pasti kamu masih di Brussels. Besok aku akan cari kamu Zee."


***


Villa Zinnia Uccle Belgia


Blaze datang dengan diantar oleh keponakan Sarah karena mereka tidak berharap mata-mata Stefanus, Natalia maupun ratu Michelle mengikuti Sarah.


"Terima kasih Gertrude sudah mengantarkan aku" ucap Blaze.


"Sama-sama Blaze. Besok pagi-pagi aku akan kemari sebelum berangkat kuliah" ucap Gertrude yang sebaya dengan Blaze sedang kuliah di Ku Leuven University.

__ADS_1


"Oke. Hati-hati!"


Gertrude pun melajukan mobil Fiat pandanya keluar dari gerbang otomatis itu.


Blaze pun masuk ke dalam villa dan tampak semua anggota keluarganya sudah duduk manis di meja makan.


"Aku mandi dulu ya. Baru kita makan bareng" ucap Blaze sambil masuk ke kamar tidur yang ditempati olehnya dan Leia.


"Kalian tadi gimana?" tanya Gasendra ke Valentino dan Arka.


"Tanpa diduga kita malah bisa masuk ke dalam apartemen si Hilda. Mbak Zee, sumpah tadi aku sama V kaget lihat dia. Mirip sekali sama kamu! Tapi kelakuan, beeeuuu bumi dan neraka!" jawab Arka.


"Bumi dan langit, Ka" kekeh Zinnia.


"Neraka ah mbak. Kelakuannya patut jadi penghuni neraka kok" balas Valentino.


Blaze pun sudah selesai mandi dan semua cicit klan Pratomo itu pun menikmati makan malam nya.


***


Apartemen Sean dan Zinnia di Brussels


Pagi-pagi Sean sudah berlari menuju kamar mandi dan muntah - muntah. Entah kenapa perutnya terasa mual luar biasa dan yang bisa mengurangi mualnya adalah harum shampoo Zinnia.


Ya ampun aku kenapa sih? Sean mengelap dahinya yang basah dengan keringat. Apa gara-gara semalam aku minum alkohol lagi? Pria itu bersandar di pinggir bathub.


Suara ketukan di pintu membuat Sean berdiri dan berjalan gontai untuk membuka pintu kamarnya. Tampak Greg sudah berdiri disana.


"Sebentar Greg, aku mandi dulu."


"Anda hari ini ada jadwal ke Uccle, ada peresmian pembukaan Royal Observatory of Belgium setelah mengalami renovasi."


"Oke. Aku mandi dulu."


***


Blaze sudah tiba di istana Brussels untuk melanjutkan pekerjaannya sebagai asisten Sarah. Gadis itu tampak berkonsentrasi memeriksa blue print istana untuk mencari kamar Stefanus, Natalia dan kedua orang tua Sean.


Putri Joey Bianchi itu sudah mengetahui kamar Sean lama kosong setelah pria itu memilih keliling Eropa mengurus bisnis villanya di Swiss, Austria dan Perancis.


Ketika sedang memeriksa istana untuk meletakkan penyadap di kamar Stefanus dan Natalia, Blaze melihat kakak Sean itu keluar dari kamarnya.


Stefanus melihat Blaze yang sedang membawa iPad dan agenda, tampak terkejut melihat seorang gadis cantik yang belum pernah dilihatnya.


Blaze bersikap sopan dan membungkuk hormat ke Stefanus meskipun dalam hati ingin mencincang pria itu.


"Kamu siapa? Pegawai baru? Divisi apa?" tanya Stefanus ke Blaze.


"Iya yang mulia. Saya asisten Nona Sarah" jawab Blaze dengan aksen Inggrisnya. Beruntung Blaze banyak belajar dari Tante Aruna dan sang mommy soal aksen British.


"Kamu cantik" bisik Stefanus di sisi telinga Blaze.


Kamu ingin aku kebiri!


"Kamu sedang apa disini?" tanya Stefanus berusaha formal.


"Saya diminta Sarah untuk ke ruang kerja pangeran Sean tapi sepertinya saya salah arah." Wajah Blaze tampak kebingungan.


"Ruang kerja adikku itu di sayap kanan, kamu ini di sayap kiri."


"Oh maafkan saya." Blaze membungkuk hormat. "Permisi yang mulia." Gadis itu pun berbalik untuk meninggalkan Stefanus yang sudah didampingi pengawal.

__ADS_1


"Tunggu!"


Blaze berhenti dan Stefanus menghampirinya. "Aku tunggu di taman istana sayap kiri jam tujuh malam. Kamu sudah selesai kerja kan pada jam segitu?"


"Ada apa yang mulia?" tanya Blaze polos.


"Nanti kamu akan tahu." Stefanus pun pergi meninggalkan Blaze yang masih memasang wajah sok bingung. Setelah mereka pergi, seringai licik muncul di wajah Blaze.


Untung aku selalu persiapan.


***


Uccle Belgia


Shinichi dan Luke berjalan-jalan berkeliling kota Uccle menggunakan sepeda untuk membuat parameter nanti malam membawa Zinnia dan Gasendra pergi menggunakan kereta api.


Saat keduanya sedang bersepeda, polisi Uccle meminta para pejalan kaki dan pengguna sepeda untuk berhenti karena anggota keluarga kerajaan akan lewat.


Di pinggir jalan kedua sepupu itu melihat Sean berada dalam mobil bersama Greg asistennya. Tak lama ponsel Luke berbunyi dan terdapat notifikasi bahwa Sean dan dirinya akan berada di Uccle seharian.


"Brengseeekkk! Sean disini seharian!" umpat Luke dengan bahasa Jepang.


"Bang Lukie, bang Sean disini. Gimana dong?" bisik Shinichi.


"Jam berapa keretanya Gasendra?" tanya Luke.


"Jam tujuh malam."


"Cukup lah! Perjalanan 20 menit dan kita jam setengah enam sudah berangkat!" Luke mendapatkan kabar dari Blaze kalau rencana gila akan dijalankan. "Elu itu dokter apa Hanibal Lecter sih Bee?" kekehnya.


"Kenapa bang?" tanya Shinichi.


"Si Bee memang psycho! Heran kok Samuel mau ya sama cewek psycho itu!"


"Bang, apa Abang lupa. Abang juga sering jadi psycho" cengir Shinichi.


Luke menatap judes. "Nggak usah diperjelas!"


***


"Sean di Uccle?" Gasendra menoleh ke arah kakaknya yang tampak terkejut. "Dalam rangka apa?"


Zinnia mencari tahu berita kerajaan dan jadwal mereka.


"Pembukaan kembali Royal Observatory of Belgium" sahut Zinnia.


"Oke. Kita tetap seperti rencana." Gasendra mematikan ponselnya. "Kata bang Luke, kita berangkat jam setengah enam. Mbak Bee juga tidak pulang karena mau menjalankan rencana psycho nya."


"Bee mau ngapain?" Zinnia menatap Gasendra dan Leia.


"Mau menjalankan rencana psychonya ke Stefanus karena pria bajigur itu hendak merayunya" seringai Leia.


Zinnia menggelengkan kepalanya. "Dokter psycho!" kekehnya.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote gift and comment

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2