The Prince and I

The Prince and I
Mati Lampu


__ADS_3

Indramayu Jawa Barat Indonesia


Sean menunggu sampai Zinnia selesai mandi karena dia ingin memakai kamar mandi milik istrinya. Tak lama wanita berambut hitam itu pun keluar dari kamar mandi dan aroma harum sabun menyeruak di kamar tidur Zinnia.


"Wanginya kamu Zee" bisik Sean parau yang berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Habis mandi, ya wangi lah!" balas Zinnia.


Sean langsung memeluk tubuh Zinnia dari belakang dan mencium tengkuknya yang terpampang bebas karena istrinya menggelung rambut lebatnya ke atas.


"Mood booster!" ucap Sean. "Aku pinjam kamar mandimu!" Pria itu melepaskan pelukannya dan langsung masuk kamar mandi Zinnia meninggalkan istrinya terbengong-bengong.


"Astagaaa! Dikasih kesempatan malah ngelunjak ih Daddynya Arsya!" gerutu Zinnia kesal yang melepaskan cepit rambutnya dan menyisir rambut tebalnya. Karena hujan seharian, Zinnia memilih memakai daster lengan panjang. Sejak hamil Arsya dulu, Zinnia sangat suka pakai daster. Bahkan tak jarang memesan ke toko langganan di pasar Klewer Solo.


Zinnia lalu keluar kamar dan tampak Arsyanendra ribut dengan Shinichi.


"Oom sudah makan sepuluh! Asya balu delapan!" jerit Arsya kesal.


"Emang Arsya sudah bisa menghitung?" ejek Shinichi.


"Sudah! Satu, dua, tiga..." Arsya menghitung dengan benar dan membuat Zinnia tersenyum bangga hasil didikannya membuat putranya menjadi anak pintar.


"Tuh Asya benal. Oom Shin sudah maem sepuluh!" eyel batita tampan itu.


"Ini apaan sih kok malah ribut berdua?" tanya Zinnia melihat putra dan adiknya macam kakak adik bukan Oom dan keponakan.


"Oom Shin culang mommy. Bilang maem delapan padahal sudah maem sepuluh!" adu Arsya dengan wajah judes yang mirip Zinnia kalau marah.


"Eh nggak mbak... Nggak salah" cengir Shinichi.


"Tuuuuhhh kaaaann!" Arsya langsung bersedekap kesal.


Zinnia tertawa terbahak-bahak melihat kehebohan dua pria imut dengan beda usia dan ukuran.


"Ya sudah, kalau begitu Oom Shin sudah cukup makan kleponnya ya" senyum Zinnia.


"Iya!"


Sean yang baru keluar dari kamar Zinnia dan membuat Shinichi menatap kakaknya bingung, tampak menghampiri kehebohan di meja makan.


"Arsya kenapa marah-marah?" tanya Sean sambil memeluk putranya yang mode ngambek.


"Biasa rebutan klepon" jawab Zinnia yang duduk di sebelah Shinichi. "Kamu sudah mandi Shin?"


"Sudah lah mbak. Kurang wangi ya?"


"Wangi kok. Cuma mbak kan tanya doang" kekeh Zinnia.


Suara adzan Maghrib berkumandang dan Zinnia mengajak para kaum pria untuk sholat berjamaah. Jangan ditanya bahagianya Sean bisa beribadah bersama dengan istri dan anaknya. Shinichi yang bertindak sebagai imam karena Sean masih belum sanggup saking gugupnya.


Jantung Sean berdebar kencang ketika Zinnia mencium punggung tangannya seperti dulu setiap selesai beribadah dan pria itu langsung mencium kening istrinya.

__ADS_1


***


"Mbak Zee, aku dapat kabar dari Arka. Katanya Valentino mau ambil master ke MIT."


"Lho? Jadi kesana?" tanya Zinnia sambil menikmati makan malam bersama.


"Tahu tuh! Tiba-tiba ingin ke MIT habis lulus ini di UI."


"Opa Levi dan Oom Hoshi kasih?"


Shinichi mengangguk. "Iya tuh!"


"Berdua itu memang deh! Harus ada yang masuk MIT" gumam Zinnia.


"Padahal kan mas Bayu di MIT juga kan?"


"Kayak kamu nggak tahu jiwa kompetitif keluarga Reeves macam apa" senyum Zinnia.


Tiba-tiba suara petir keras terdengar dan membuat listrik padam.


"Mommmyyy!" teriak Arsyanendra yang duduk di sebelah Zinnia.


"Sssshhhh mommy disini" bisik Zinnia yang sebenarnya juga takut listrik padam.


Tak lama emergency lamp yang dipasang menyala dan rumah tidak tampak gelap. Seorang penjaga rumah mengetuk pintu utama membuat Sean dan Shinichi menghampirinya. Shinichi meminta untuk menyalakan genset karena tahu kakaknya takut kegelapan.


Penjaga rumah itu pun langsung menuju ruang genset yang memang dibangun Ayrton demi kenyamanan dan ketenangan putri dan cucunya.


"Nanti yang nyala kamar tidur dan lampu luar saja Jaz. Arsya biar tidur sama mommy ya?" Zinnia menoleh ke arah putranya.


"Asya boleh bobok sama mommy?"


"Boleh."


Setelah genset menyala dan rumah mulai terang, mereka melanjutkan makan malam yang tertunda.


***


Zinnia sudah mengganti pakaian Arsya ke piyama nya yang bergambar buzz light-year. Apalagi cuaca sangat dingin, jadi Zinnia memakaikan Pampers meskipun biasanya tidak pernah dan Arsya sudah jarang mengompol tapi sang ibu berjaga - jaga.


"Mommy, Asya halus pakai pampels ya?"


"Kan cuacanya dingin, nanti takutnya Arsya ngompol meskipun sudah jarang. Arsya mau kan?"


"Iya mommy. Nanti kasul mommy basah, kan ga bisa bobok."


"Arsya pintar ih!" Zinnia menowel hidung mancung Arsyanendra. "Sudah cuci kaki, cuci tangan, sikat gigi. Ayo naik kasur, mommy dongengin Arsya. Mau cerita apa?"


"Thomas and Fliends!"


"Celadmu harus dibenerin deh Sya. Besok kita belajar ngomong Rrrrr ya?" kekeh Zinnia sambil mengambil buku cerita tentang Thomas the train.

__ADS_1


***


Sean masih memeriksa semua keamanan rumah Zinnia meskipun dia yakin terjamin apalagi banyak pengawal merangkap penjaga rumah.


"Yang Mulia belum tidur?" tanya Jasmine melihat Sean tampak khawatir dengan hujan yang tidak berhenti sembari melihat jendela dan pintu.


"Masih memeriksa semuanya Jasmine."


"Jangan khawatir yang mulia. Semua kemanan ini sudah disetting oleh Nyonya Geun-moon. Rumah nona Zinnia memang agak pinggir tapi semuanya terjamin keamanannya."


"Tante Moon yang mendesain keamanannya?"


"Iya yang mulia. Jika ada sesuatu yang mencurigakan sedikit, langsung terhubung ke semua device kemanan rumah."


Sean mengangguk. "Aku istirahat dulu Jasmine. Kamu juga."


"Baik yang mulia."


Sean berjalan menuju kamarnya namun entah kenapa dia ingin ke kamar Arsya. Pria itu ingin mencium kening putranya.


Betapa terkejutnya ketika melihat tempat tidur Arsya kosong. Sean lalu menuju ke pintu penghubung dan disana dia melihat Zinnia sudah tampak terlelap sambil memeluk Arsya yang tidur dengan bibir sedikit terbuka.



Sya, awas nyamuk masuk lho


Sean tersenyum melihat pemandangan didepannya lalu dengan pedenya, pria itu membuka kaosnya dan hanya meninggalkan celana training saja.


Tubuhnya yang liat dengan dada dan perutnya ditumbuhi bulu-bulu halus ditambah six packnya langsung naik ke atas kasur, mendekati Zinnia yang sudah nyenyak.


Perlahan pria itu membuka selimut dan memeluk tubuh Zinnia dari belakang dan menghirup aroma harum istrinya yang sangat dihapalnya.


"Aku tidak perduli besok bakalan bonyok dengan bogem mu tapi yang jelas, aku ingin menikmati saat ini" bisik Sean sambil mencium leher Zinnia dan memberikan tanda disana.


Zinnia sedikit terusik tapi tubuhnya malah semakin mendekati tubuh Sean yang membuat pria itu semakin erat memeluknya.


"I love you Zee..." bisik Sean di ceruk leher Zinnia.


"Love you too Sean..." gumam Zinnia tidak sadar yang membuat tubuh Sean membeku.


"Finally..." Sean menciumi pipi, leher dan tengkuk Zinnia membuat wanita itu terbangun.


"Sean?" ucap Zinnia serak yang membuat Sean tidak tahan dan langsung Melu*mat bibir Zinnia.


***


Yuhuuuu Up Sore Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2