
Paris Perancis
Sean dan Zinnia sangat menikmati acara bulan madu mereka. Keduanya dikawal oleh Greg dan Jasmine berjalan di menara Eiffel dan Sean mengambil foto istrinya. Zinnia meminta Sean untuk menumbuhkan kembali brewoknya karena seperti bukan Sean yang dia kenal membuat pria itu terbahak.
Zinnia in Eiffel
Selpih ya Sean?
"Biasanya wanita suka pria mulus wajahnya" goda Sean sambil merangkul pinggang Zinnia.
"Tidak kamu. Aku awalnya tidak suka pria brewokan tapi melihat kamu klimis saat kita menikah kemarin, sepertinya ada yang salah" ucap Zinnia apa adanya membuat Sean mencium kepala istrinya.
"Ya sudah aku tidak klimis lagi" kekeh Sean.
"Kemana kita?" tanya Zinnia sambil menoleh ke arah Jasmine dan Greg yang berjalan mengikuti mereka berdua.
"Louvre Museum mau?" tawar Sean.
"Mau lah!" Zinnia pun tampak bersemangat.
***
"Sudah berapa lama menjadi pengawal nona Zinnia?" Greg menoleh ke arah gadis berdarah Arab itu.
"Sejak nona SMA. Saya sebelumnya adalah tentara di angkatan bersenjata UAE yang direkrut oleh tuan Emir Schumacher." Jasmine menjawab pertanyaan Greg sambil mengawasi Zinnia.
"Apakah memang sengaja kamu dikirim oleh tuan Schumacher untuk nona Zinnia?"
Jasmine melirik tajam ke arah Greg. "Sebagai asisten tuan Léopold, kamu itu kepo dan cerewet sekali ya Greg. Memangnya kenapa jika saya dikirim tuan Emir Schumacher mengawal nona? Saya sudah mengenal nona lama dan dia juga lebih nyaman jika ada orang yang berasal dari keluarganya menemani dirinya di istana yang asing." Jasmine menatap Zinnia yang sedang berciuman dengan Sean. "Karena semua orang di istana mu Greg, tidak ada yang menyukai Zinnia. Hanya tuan Sean yang mencintai nonaku secara tulus."
Greg terdiam mendengarkan ucapan Jasmine.
***
"Jasmine, kamu mau sesuatu? Tas? Baju?" tanya Zinnia ke pengawalnya.
"Terimakasih nona tapi Rolex yang anda berikan saat saya berulang tahun sudah cukup" cengir Jasmine sambil menunjukkan pergelangan tangannya yang melingkar jam Rolex.
Sean dan Greg menatap bingung interaksi kedua wanita di hadapannya yang mengobrol dengan bahasa Arab karena tidak paham apa yang mereka bicarakan.
"Sayang, Jasmine kenapa?" tanya Sean.
"Oh, aku menawarkan untuk membelikan barang selama kita di Paris tapi dia menolaknya karena sudah senang mendapatkan Rolex dariku" senyum Zinnia.
"Apakah Zee selalu memberikan hadiah mahal kepada setiap orang?" tanya Sean ke Jasmine.
__ADS_1
"Tidak selalu tuanku. Nona Zinnia memberikan hadiah jam tangan ini karena saya berulang tahun yang ke 30. Tapi seringnya hadiah yang diberikan kepada kami-kami yang bekerja dengan keluarga Al Jordan - Schumacher itu adalah hadiah yang Priceless."
"Contohnya?" tanya Greg penasaran.
"Saat saya ulang tahun yang ke 28, nona Zinnia membuatkan makanan khas Indonesia berupa kakap woku belanga Manado. Eh benar ya nona namanya?" Jasmine menoleh ke arah Zinnia yang mengangguk. "Dan bagi saya itu adalah suatu kehormatan mendapatkan hadiah masakan dari putri seorang Emir."
Sean menatap wajah Zinnia yang tersenyum ke arah Jasmine. "Sepertinya kamu harus memasakkan itu untukku Zee."
"Kamu mau?" Zinnia menoleh ke arah Sean.
"Maulah! Dimana-mana namanya suami itu pasti senang jika istrinya mau memasakkan untuknya."
"Besok kita pulang ke Geneva, aku buatkan" senyum Zinnia.
***
Indramayu Present Day
"Kakap woku belanga..." gumam Sean.
Zinnia yang sedang mengusap bahu Arsyanendra yang terlelap menoleh ke arah Sean.
"Apa Sean?" bisik Zinnia takut membangunkan putranya.
"Kakap woku belanga. Aku rindu masakan itu Zee..."
Zinnia melongo. "Kamu teringat saat kita di Paris?"
Wajah Zinnia memerah. "Saat masih bahagia Sean. Setelah itu..."
"Sssttt ..." Sean beringsut mendekati Zinnia dan meletakkan telunjuknya di bibir seksih istrinya itu. "Please, jangan diingat-ingat lagi. Membuat aku sesak nafas."
"Ayo keluar" ajak Zinnia.
"Tapi ini sudah jam empat sore. Apa Arsya tidak apa-apa masih tidur?" Sean menatap putranya yang tampan tidur dengan lelapnya.
"Nanti jam lima aku bangunkan" jawab Zinnia sambil berdiri dan berjalan menuju pintu kamar namun Sean langsung memeluknya dari belakang.
"Maaf ... Maafkan aku, Zee" bisik Sean di ceruk leher Zinnia.
Zinnia tidak membalas pelukan Sean. "Kamu sudah aku maafkan dan tolong lepaskan aku."
"Tapi Zee..."
Zinnia melepaskan pelukan Sean dan menatap suaminya.
"Kita bicara di kamarku saja. Aku tidak mau Arsya terbangun mendengar suara kita dan aku tidak mau Gasendra mengetahui isi pembicaraan kita." Zinnia berbelok ke arah pintu penghubung kamarnya dan kamar Arsya. Sean mengikuti langkah istrinya.
***
__ADS_1
Sean menatap kamar Zinnia yang masih saja bernuansa hijau dan krem, warna favorit istrinya.
Diatas lemari terdapat foto Zinnia bersama dengan Arsyanendra tampak bahagia tertawa bersama. Sean juga melihat foto-foto dari Arsya bayi hingga sekarang tertata rapih disana.
Hati Sean tercekat melihat foto pernikahan dirinya dengan Zinnia yang ada disana tapi tertutup dengan foto-foto lainnya. Perlahan pria itu memindahkan foto pernikahan mereka menjadi di barisan depan.
"Kamar yang indah Zee... Sesuai dengan seleramu" ucap Sean. Zinnia sendiri sudah duduk di sofa yang berada dekat jendela besar. Pemandangan hujan tampak di luar.
"Kamu dan aku sudah waktunya berbicara panjang lebar Sean." Zinnia menatap wajah suaminya yang duduk berhadapan dengannya.
"Aku tidak akan berpisah dengan mu Zee..."
Zinnia hanya memasang wajah datar karena dia sudah tahu kalau Sean tidak akan melepaskan dirinya.
"Kenapa?"
"Karena aku mencintaimu."
"Kalau kamu benar mencintaiku, kenapa kamu tidak membelaku?"
Sean menunduk dan tampak wajahnya malu dan menyesal. "Aku yang salah Zee... Aku yang tidak bisa memenuhi janjiku atas permintaanmu."
"Aku tidak minta apapun darimu Sean, hanya kepercayaan dan kejujuran saja yang kupinta tapi itu pun tidak kamu berikan. Lalu, untuk apa rumah tangga kita ini dipertahankan?"
Sean menatap sendu ke wajah istrinya. "Karena aku sudah berubah Zee. Aku menyesal amat sangat menyesal. Apa kamu tidak tahu kalau aku mencarimu kemanapun. Aku sampai mendatangi istana mu dan apa yang aku dapat? Papamu menghajarku, habis-habisan. Papamu marah besar karena aku sudah menyakiti putrinya dan yang aku sesali adalah papamu tidak bilang pada saat itu kamu hamil Arsya!"
"Karena papa tahu aku pasti akan kamu seret kembali ke Belgia! Dan aku tidak mau anakku tumbuh kembang di lingkungan yang toxic macam itu Sean! Apa kalian tidak sadar, lingkungan mu membentuk karakter seseorang dan meskipun aku bersyukur kamu berbeda tapi orang-orang sekitarmu yang akan mempengaruhi tumbuh kembang anakku!"
"Anakmu itu anakku juga, Zee!"
"Ohya? Apa kamu percaya kalau aku saat itu bilang 'Sean aku hamil' bahwa itu anakmu?" Zinnia menatap tajam ke arah Sean. "No Sean, kamu lebih percaya omongan ibumu dan iparmu!"
Sean mengusap wajahnya kasar.
"Aku tidak masalah mereka tidak menyukai aku tapi jangan mereka menghina anakku, kedua orangtuaku dan keluarga ku! Kalian berurusan dengan keluarga yang salah jika berani menyenggol klan Pratomo!" Mata hitam Zinnia berkilat marah yang membuat Sean bergidik. "Dan jika Gasendra bilang iparmu dimakan piranha, karena memang dia sudah hilang di perut piranha hitam peliharaan Luke!"
Mulut Sean menganga lebar. "Astaghfirullah! Kalian..."
"Jangan pernah membuat anggota keluarga kami terluka Sean. Bahkan Papaku sendiri tidak perduli jika harus ada konflik Internasional karena kami sudah biasa menghadapi hal-hal semacam itu! Apakah kamu tahu, keluarga kami pernah mengobrak-abrik Dubai dan gegeran di Turin hingga tiga kedutaan besar harus turun tangan? Kalau hanya Belgia, tidak perlu pasukan tentara, cukup tangkap kepala ular nya. Selesai!"
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️