The Prince and I

The Prince and I
Aku Ingin Kau Menjadi Milikku


__ADS_3

Geneva Switzerland 5 tahun lalu...


Zinnia mematikan ponselnya karena dirinya sedang tidak mau diganggu namun dia lupa, iPad nya masih menyala dan Sean tahu nomor Zinnia semua terhubung di perangkat besutan apel kroak itu.


Gadis itu tampak kesal ketika Sean menghubungi dirinya melalui iPad. Wajah tampan Sean berbanding terbalik dengan wajah kusut Zinnia yang meletakkan benda pipih itu diatas alasnya sedangkan dirinya tiduran sembari memeluk bantal.



"Zee..." panggil Sean lembut.


"Bukankah aku sudah bilang kalau mau tidur..." gumam Zinnia sambil memejamkan matanya.


"Tidur saja, aku temani." Sean meletakkan ponselnya di tempat yang bisa menahan benda pipih itu.


Zinnia hanya mengacuhkan Sean dan tak lama dirinya terlelap di saat waktu menunjukkan pukul dua siang.


Sean menatap wajah cantik Zinnia yang sudah tidur dan tampak gurat-gurat lelah disana.


"Kamu capek ya karena kurang tidur atau karena aku ada di apartemen kamu?" Sean masih betah menatap wajah cantik yang sudah tidak meresponnya.



"Apa aku harus bilang kepada kedua orang tuaku tentang betapa seriusnya aku sama kamu? Kamu pernah bilang kalau aku adalah pria pembosan. Bisa jadi tapi aku akan buktikan padamu kalau kamu adalah pelabuhan terakhir aku. Kamu tahu Zee, aku sudah lelah bermain-main meskipun aku baru 23 tahun mau 24 tapi aku juga ingin hidup settle dan maunya aku bersamamu Zee. Aku tahu kamu belum mencintai aku tapi aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku." Sean mengusap wajah Zinnia di layar ponselnya. "Ich liebe Dich, Schatz ( aku cinta kamu, sayang )."


Sean pun tak lama ikut terlelap apalagi dia baru saja meminum obatnya dan membiarkan ponselnya masih menyala.


***


Dua jam kemudian Zee pun terbangun dan betapa terkejutnya ketika melihat wajah Sean yang berada di layar ipadnya.


Astaghfirullah... ternyata dari tadi masih nyala ponselnya? Apa nggak habis itu baterei nya? iPad Zinnia sendiri sedang di charge jadi batereinya penuh.


"Sean? Sean? Sean!" panggil Zinnia yang membuat mata Sean bergerak dan mulai terbuka.


"Hai Zee..." sapa Sean dengan suara serak.


"Bye Sean." Zinnia pun mematikan panggilan Sean karena dia hendak bebersih.

__ADS_1


***


Sean melongo melihat layar ponselnya gelap setelah Zinnia mematikan ipadnya.


"Astagaaa! Gadis itu!" senyum Sean yang tak lama terlelap lagi karena efek obatnya masih ada.


***


Sudah tiga hari Sean tidak menemui Zinnia membuat gadis itu nyaman dan kembali ke rutinitasny sebagai konselor dan psikolog anak. Ya, setelah libur tahun baru, tanggal 2 Januari, Zinnia sudah masuk kerja meskipun belum sesibuk seperti biasanya.


Dan hari ini Zinnia sedang berada di ruang kerjanya sembari mengulang kembali materi ujiannya besok. Zinnia harus menghadapi dua ujian lisan teori dan konsep psikologi pendidikan dan ujian tertulis teori dan praktek psikologi pendidikan. Karena Zinnia fokus di psikologi anak, remaja dan keluarga, dia harus menyelesaikan mata kuliah wajib ini.


Doktor Emma Baker sebenarnya ingin mahasiswi nya langsung fokus di bidang yang diinginkan namun prosedur pendidikan program magister psikologinya harus melewati tahapan wajib. Zinnia sendiri hanya tersenyum mendengar omelan doktornya yang menyatakan ujian lisan itu tidak perlu dilakukan.


"Tapi kan memang aturannya begitu, Doktor Baker" kekeh Zinnia saat dirinya menghadap Emma.


"Yang penting esok kamu jangan tegang meskipun yang menguji adalah Doktor Gustav yang terkenal killer" ucap Emma Baker.


Zinnia hanya mengangguk.


Dan kini gadis itu meregangkan tubuhnya yang kaku akibat banyak duduk untuk belajar. Zinnia mengakui dirinya tidak secerdas kedua adiknya atau sepupu-sepupu lainnya tapi dia tekun mau belajar. Apalagi setelah menjadi putri Ayrton Al Jordan Schumacher yang mau tidak mau mengikuti aturan keluarga besar klan Pratomo. Awalnya Zinnia merasa terbebani dengan segala aturan dan kewajiban sebagai cucu Al Jordan namun sepupunya yang sebaya seperti Luke, Leia, Blaze dan Nadira selalu mendukungnya membuat Zinnia tidak sendirian.


Jika tiga sepupunya yang berdarah Bianchi itu bar-bar nya sangat obvious, berbeda dengan Nadira yang meskipun halus tapi dia sangat savage dalam berbicara dan bertindak. Nadira sendiri setelah dewasa memilih menjadi dosen di New York University daripada menjadi chef seperti daddynya.


Zinnia memutuskan keluar ruangannya untuk jalan-jalan ke taman belakang. Dia membutuhkan refreshing dan taman belakang rumah sakit adalah tempat favoritnya.


Zinnia duduk di sebuah gazebo taman dan gadis itu menaikkan kerah jaketnya sambil menikmati pemandangan salju di taman. Cuaca Geneva hari ini meskipun dingin tapi matahari bersinar cerah dan beberapa salju diatas rerumputan mulai tampak mencair.


Tak terasa dirinya mulai sedikit mengantuk dan saat kepalanya mulai lemah, sebuah bahu kokoh menahannya. Zinnia menatap orang yang duduk di sebelahnya dengan tatapan sayu.


"Halo Zee..."


"Sean?" bisik Zinnia.


"Tidurlah. Kamu tampak lelah, nanti aku bangunkan" ucap Sean lembut sambil merangkul tubuh Zinnia.


"Bangunkan aku sepuluh menit lagi..." ucap Zinnia yang merasakan rasa nyaman dalam pelukan Sean dan tak berapa lama suara nafas teratur gadis itu terdengar. Sean memeluk gadis itu sambil mencium pucuk kepala Zinnia.

__ADS_1


Sean teringat kata-kata dari lagu Def Leppard.


Have you ever needed someone so bad, yeah


Have you ever wanted someone you just couldn't have


Did you ever try so hard that your world just fell apart


Have you ever needed someone so bad


And to the girl I gotta have


I gotta have you baby, yeah


Pria itu menatap wajah gadis yang sedang terlelap itu. Apapun rintangannya, aku hanya menginginkan dirimu, aku harus memiliki dirimu karena hanya kamu yang aku inginkan menjadi pendampingku.


Sean mencium rambut Zinnia yang harum. Belum pernah dia merasakan jatuh cinta seperti ini. Sean sudah bersama dengan banyak wanita namun Zinnia lah yang membuatnya seperti ini. Zinnia memiliki daya tarik tersendiri, seperti magnet, seperti inilah jodohku.


Pria itu tahu jika berhubungan dengan keluarga Al Jordan Schumacher, berarti harus mematuhi peraturan keluarga mereka meskipun dirinya adalah salah satu pewaris kerajaan Belgia. Ingin memiliki Zinnia, harus berhadapan dengan keluarga besarnya yang bukan dari kalangan kaleng-kaleng.


Walaupun seharusnya Zinnia lah yang harus mengikuti protokoler kerajaannya tapi jika dia memaksa Zinnia ikut dengannya berarti dia akan kehilangan gadis itu.


Sean sudah memutuskan, dia akan mengikuti semua aturan keluarga Al Jordan Schumacher... Semuanya!


Why save your kisses for a rainy day


Baby let the moment take your heart away.


"Kamu benar-benar memporak-porandakan aku, Zee. Mungkin sejak kita pertama kali bertemu di Singapura dulu... entahlah. Tapi aku tidak ingin kamu pergi dari sisiku." Sean mengetatkan pelukannya.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Maaf semalam bab ini kehapus jadi aku harus naikan mood untuk buat ulang.


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2