
Rue de Rhone Geneva Switzerland
Sean dan Zinnia menghabiskan weekend itu sambil berjalan - jalan usai makan malam yang lezat. Keduanya melihat pusat kota Geneva, tepatnya di Rue de Rhone. Sean menggandeng tangan Zinnia selama berjalan - jalan dan terkadang memeluk tubuh gadis itu.
Sean benar-benar menikmati acara jalan-jalan bersama gadis mungil yang membuatnya jungkir balik untuk mendapatkan cintanya.
"Zinnia!" panggil Greta.
"Hai! Kamu ngapain?" tanya Zinnia melihat Greta bersama dengan beberapa pengamen jalanan.
"Wah, sama your..." Greta menghentikan ucapannya melihat wajah Zinnia dan Sean yang tidak mau orang lain tahu. "Sama... Sean."
"Iya. Apa kabar Greta" sapa Sean ramah sambil mengulurkan tangannya.
"Sangat baik. Eh, kamu nyanyi dong! Sudah lama kamu nggak menyumbangkan suaramu!" pinta Greta.
Sean terkejut. "Zee? Nyanyi?"
"Kami jaman kuliah dulu sering ngamen lho. Seru juga!" Greta memanggil temannya yang sedang mengamen. "John, ada Zee nih! Pinjamkan gitarmu!"
John tersenyum. "Hai Zee. Ayo main!"
Zinnia pun berjalan menuju John dan meminjam gitarnya. Setelah mensetting, gadis itu menyapa para pejalan kaki dan mengatakan akan menyanyikan lagu lawas milik Céline Dion dengan judul If I Were You
Take a step back
Don't lose your ground
Remember how you felt before
And if you care about her
Show her that you're sure
If I were you
I'd hold affection
Higher than any star in sight
Take this to heart
And you'll never part
These are the things that I would do
If I were you
Take this to heart
And you'll never part
These are the things that I would do
If I were you...
Sean terpesona melihat gadis cantik itu menyanyikan lagu lawas milik Céline Dion dengan bagusnya. Dia tidak pernah tahu bahwa Zinnia bisa memegang alat musik dan bernyanyi.
Para penonton memberikan applaus setelah Zinnia selesai bernyanyi bahkan memberikan banyak tips yang membuat John dan beberapa temannya tersenyum.
"Kalau kamu datang, pasti banyak uang kita" goda John yang membuat Zinnia tertawa.
"Sudah ya, aku ditunggu" ucap Zinnia sambil menunjuk Sean yang berdiri menunggu dirinya.
"Aaahh Zee, kamu membuat aku patah hati" balas John dramatis.
__ADS_1
"Hei, ingat anak istri di rumah" cebik Zinnia sambil tertawa. "Bye semuanya!"
"Sering-sering kemari Zee!"
Zinnia melambaikan tangannya lalu berpamitan dengan Greta yang masih kongkow dengan teman-teman mereka saat masih kuliah strata satu.
Sean pun melambaikan tangannya ke teman-teman Zinnia sebelum mereka melanjutkan jalan-jalannya.
"Aku surprise Zee! Tidak menyangka kamu bisa bermain gitar dan suaramu bagus" puji Sean. "Dan lagu yang kamu pilih itu... sedikit menyindir aku ya?"
"Tidak menyindir hanya mengingatkan" senyum Zinnia dengan wajah polos.
Sean mengecup pelipis Zinnia. "I know, Zee. I know."
***
Apartment Zinnia
Usai acara jalan-jalan, keduanya pun kembali ke apartemen dan Zinnia langsung masuk ke dalam kamar untuk bersih-bersih sedangkan Sean mengambil MacBooknya dan mulai memeriksa email dari perusahaan penyewaan pesawat miliknya.
Selain itu dia juga memeriksa semua bisnisnya dan akan menengoknya besok mumpung hari Minggu.
"Zee..." panggil Sean.
"Ya Sean?" sahut Zinnia dari dalam kamar.
"Bagaimana kalau besok kita ke Lake Geneva sekalian memeriksa beberapa resort milikku disana?"
Zinnia keluar dengan kaos kebesaran dan celana pendeknya sedang bersiap untuk tidur.
"Kamu punya resort disana?" Gadis itu balik bertanya.
"Kan aku sudah bilang aku punya banyak resort di beberapa area di Swiss. Rata-rata dulunya resort terbengkalai karena pemiliknya meninggal atau bangkrut lalu aku beli murah dan membangunnya kembali."
Zinnia hanya mengangguk. "Tampaknya menarik. Kita tidak menginap kan?"
Sean menatap Zinnia. "Apakah kamu ingin menginap?"
Sean terbahak. "Ya sudah, kamu tidur saja dulu. Aku menyusul."
"Oke. Jam berapa kita pergi besok?" tanya Zinnia.
"Jam tujuh kita berangkat."
Zinnia mengangguk. "Goodnight, Sean."
"Goodnight, Zee. Love you."
Zinnia hanya melambaikan tangannya.
Sean kembali berselancar di dunia Maya dan tertegun melihat sebuah akun memposting saat Zinnia menyanyi. Diam-diam pria itu mendownload video gadis itu dan mengirimkan ke ponselnya. Tadi dia tidak sempat merekam gadis itu karena dia sudah terkesima.
Pria itu terkejut melihat caption di bawah akun itu.
Who's that girl?
"She's my girl, jerk!" umpat Sean kesal.
***
Sean mematikan MacBook dan lampu ruang tengah setelah sempat melakukan panggilan zoom dengan para pegawainya yang di Amerika Serikat. Matanya sudah mengantuk dan dirinya terkejut jam di dinding ruang tengah Zinnia sudah menunjukkan jam satu malam.
Dengan menguap, Sean pun masuk ke dalam kamar Zinnia. Dilihatnya gadis itu sudah terlelap dengan nyenyaknya. Sean tersenyum lalu masuk ke kamar mandi untuk gosok gigi dan bersih-bersih.
Setelahnya pria itu melepaskan kaosnya seperti biasa karena dia terbiasa tidur hanya mengenakan celana pendek. Sean naik ke atas tempat tidur langsung memeluk Zinnia dari belakang karena gadis itu tidur membelakangi dirinya.
Zinnia menggumam tidak jelas ketika merasakan sebuah tangan kekar dan tubuh hangat berotot itu menempel punggungnya. Sean tersenyum kecil.
"Love you Zee" bisik Sean sambil mencium tengkuk leher Zinnia.
__ADS_1
"Hu um" gumamnya.
Sean hanya menatap gadis yang masih terlelap itu. Susah ya mendengarkan pernyataan cinta dari kamu.
Tak lama Sean pun terlelap menyusul Zinnia.
***
Pukul lima pagi Zinna terbangun seperti biasa dan gadis itu memarahi dirinya sendiri karena ketiduran tidak melakukan shalat tahajud.
Zinnia sudah tidak heran Sean memeluk dirinya dengan posesif saat tidur karena sudah berapa malam ini mereka tidur bersama dalam arti sebenarnya.
Sean berjanji pada Zinnia kalau mereka hanya tidur tidak lebih dan gadis itu berusaha mempercayainya. Anggap saja ini salah satu test yang membuat Zinnia percaya bahwa Sean bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
Perlahan gadis itu melepaskan diri dari pelukan Sean dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri serta beribadah seperti setiap hari rutinitasnya.
Zinnia lalu menuju dapur untuk menyiapkan bekal makanan mereka di jalan. Gadis itu sedang menggoreng ayam yang sudah dibumbui ketika Sean terbangun.
"Jam berapa ini Zee?" tanya Sean sambil mengucek matanya. "Kamu ngapain?"
"Jam enam. Aku sedang membuat bekal untuk di jalan nanti. Tampaknya cuaca bagus untuk piknik."
Sean tersenyum lebar. "I love that idea."
***
Zinnia menikmati acara jalan-jalan bersama Sean menuju Lake Geneva bahkan sepanjang jalan gadis itu mengabadikan pemandangan di luar jendela mobilnya.
"Zee, pemandangan yang bagus itu ada di sebelah mu tahu!" kekeh Sean yang membuat Zinnia menoleh judes.
"Narsis!"
"Coba foto."
Zinnia mengambil gambar Sean.
"Bagus kan?" ucap pria itu pede.
"Bagus selfieku" balas Zinnia.
Sean melirik ke arah foto gadis itu. "Kirimkan padaku. Akan ku buat jadi wallpaper."
Zinnia pun mengirimkan foto selfienya ke ponsel Sean.
"Damn baby! Kamu cantik banget!" puji Sean.
Keduanya kini sedang berada di lampu merah.
"Thanks Sean." Pria itu hanya menepuk kepala Zinnia sayang lalu melanjutkan perjalanan.
Zinnia tampak berbinar - binar melihat pemandangan di hadapannya.
"Wow Sean! This is so beautiful!" serunya.
Lake Geneva Switzerland
"Told ya! Yuk kita lihat resort milikku."
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️