
Geneva Switzerland 5 tahun lalu
Sean mendekap tubuh Zinnia erat dan merasakan tubuh gadis itu gemetaran. Tangan pria itu mengelus pelan punggung Zinnia.
"Ada apa Zee? Kenapa kamu tiba-tiba menangis?" tanya Sean lembut sambil mengecup puncak kepala gadis itu.
Zinnia berusaha menahan isaknya untuk berbicara. "Aku ... "
"Kamu kenapa? Ujiannya sukses?" tanya Sean sabar.
Zinnia menggelengkan kepalanya.
"Kan nanti ada ujian ulang" bujuk Sean yang tahu bagaimana kerasnya Zinnia belajar.
"Bukan...itu" ucap Zinnia.
"Lalu?"
"Aku...menghajar dosen pengujinya..."
Mata biru Sean melotot. "Menghajar? Menghajar gimana?"
Zinnia membenarkan posisi duduknya lalu menatap Sean. "Apakah kamu melihat... baju aku terbuka?"
Sean menatap sweater bewarna ungu yang dipakai Zinnia yang tampak longgar tidak memperlihatkan lekuk tubuhnya dan celana jeans.
"Kamu terbuka kan kalau sama aku... Aduuuhh!" Sean mendelik ketika Zinnia mencubit perutnya. "Sekarang katakan padaku, kenapa kamu menghajar dosen penguji mu?" tanya Sean sambil mengusap pipinya Zinnia yang basah meskipun dalam hatinya menahan emosi.
"Aku tadi masuk ruangan dan kami melakukan sesi tanya jawab. Tapi setelah separuh jalan, tiba-tiba doktor Gustav berdiri dan berdiri di belakang aku... " Zinnia menghela nafas panjang. "Dia mulai meletakkan tangannya di bahuku... dan dia mulai mendekatkan wajahnya di wajahku. Dia ... berusaha mencium aku..."
Rahang Sean mengeras. "Apa yang kamu lakukan?"
"Aku menjotosnya hingga hidungnya patah" bisik Zinnia.
Sean tersenyum. "That's my girl."
"Tapi aku terancam dikeluarkan, Sean."
"Ayo kita ke kampusmu!" Sean berdiri dan mengambil kruknya.
"Ngapain? Aku sedang berusaha untuk menyelesaikan."
"Tidak Zee! Mereka tidak berhak mengeluarkan calon istri pangeran Belgia!" Sean berjalan masuk ke kamar Zinnia untuk mengambil jasnya.
***
University of Geneva
Dekan fakultas psikologi tampak terkejut mendengar pangeran Sean Léopold yang bersikeras minta ketemu dengannya. Sebelumnya doktor Gustav melaporkan bahwa Zinnia melakukan penyerangan kepadanya.
Zinnia memang menyanggah bahwa dia melakukan penyerangan tanpa alasan namun dekannya itu lebih mempercayai doktor Gustav. Bahkan rekaman CCTV di ruangan doktor Gustav tidak ditemukan sehingga tidak ada bukti. Dan Zinnia pun bersiap untuk dikeluarkan dari kampus.
__ADS_1
Dan siang ini jam tiga, pangeran Sean Léopold datang ke ruangannya bersama dengan Zinnia. Dekan yang bernama Robert Rarcher itu tampak terintimidasi dengan kehadiran Sean beserta Greg dan dua pengawalnya.
"So, Mr Rarcher, anda hendak mengeluarkan Miss Zinnia Hadiyanto karena dia membela dirinya yang hendak dilecehkan?" tanya Sean tajam.
"Tuanku... tapi tidak ada bukti" sanggah si dekan.
"Jadi anda lebih mempercayai doktor meshum itu? Oke, berarti anda akan saya tuntut karena membiarkan perilaku pelecehan dibenarkan. Dan saya berhak melakukan karena yang dilecehkan oleh anak buah anda adalah calon istri saya, prince of Belgium!" ultimatum Sean yang membuat Robert Rarcher melongo.
Babang Sean ngamuk
Zinnia pun tidak kalah terkejut mendengarnya. Kapan aku bersedia menjadi istrinya?
***
Sean menelpon Ayrton Al Jordan Schumacher di depan dekan Robert Rarcher dan menjelaskan kronologi kejadian hari ini sebelum ayah Zinnia itu mendengar berita yang berbeda.
Ayrton meradang mendengar cerita dari Sean dan akan berangkat malam ini ke Geneva.
"Zee, soal CCTV tidak ada datanya, don't worry. Papa akan hubungi Oom Benji" ucap Ayrton melalui loud speaker ponsel Sean.
"Thank you Papa."
"Dan kamu Racher. Shame on you!" maki Ayrton ke dekan itu.
***
Ayrton datang bersama Gasendra keesokan harinya bersama dengan dua orang pengawal ke apartemen Zinnia. Ayrton tidak heran jika Sean mengeyel tinggal bersama dengan putrinya di apartemen yang sama apalagi dia melihat sofa yang bekas dipakai tidur pangeran itu.
"Thanks Sean sudah menjaga Zinnia" ucap Ayrton tulus.
"Gasendra" sapa Sean.
"Bang Sean" angguk bocah dingin itu.
Zinnia yang baru saja mandi dan berpakaian rapi langsung menghambur ke Ayrton.
"Papa!" Ayrton langsung memeluk putrinya dan mencium keningnya.
"Kamu tidak apa-apa, sayang?" tanya Ayrton sambil menangkup wajah putrinya.
"Tidak apa-apa" senyum Zinnia yang bersyukur papa dan adiknya datang. "Sendra."
Gasendra langsung memeluk kakaknya. "Sudah kamu jotos kan?"
Zinnia mengangguk.
"Sampai gimana?" selidik Gasendra.
"Hidungnya patah dan darahnya ngocor."
Gasendra tersenyum smirk. "Bagus!" Ayrton menepuk kepala Zinnia.
__ADS_1
"Siapa yang berani mengganggu keponakan aku?" sebuah suara terdengar dari luar pintu apartemen yang terbuka.
Zinnia sumringah mendengar suara yang sangat dirindukan. "Oom Ben!"
"Halo, Zee!" Zinnia langsung memeluk Benjiro.
Sean melihat bagaimana kompaknya keluarga Zinnia, ikut bahagia bagaimana mereka tidak peduli latar belakang Zinnia sebenarnya dan tetap memberlakukan gadis itu menjadi bagian keluarga besar klan Pratomo.
"Sekarang, ceritakan kronologis kejadian bagaimana bisa kamu hampir dilecehkan?" Ayrton menatap Zinnia lembut.
***
Pagi ini University of Geneva kedatangan tamu istimewa dan semuanya berasal dari keluarga ningrat. Ayrton Al Jordan Schumacher, yang merupakan Emir Al Jordan dari Dubai dan pangeran Sean Léopold dari Belgia mendatangi dekan fakultas psikologi.
Tidak hanya itu saja, Ayrton membawa dua orang polisi Swiss karena dirinya dan Sean sudah melakukan tuntutan secara resmi ke Doktor Gustav. Benjiro berhasil mendapatkan rekaman CCTV yang dihapus oleh doktor Gustav tapi dia lupa bahwa universitas memiliki back up data di cloud.
Benji menghack rekaman CCTV itu dan membuat semua orang disana termasuk Sean dan Gasendra meradang.
"Kurang ajar!" umpat Gasendra yang meskipun baru berusia 14 tahun tapi tubuhnya bongsor.
"Jangan kamu hajar ya Sendra" cengir Benji. "Kamu tuh ketularan Yakuza Takara sih!"
"Bang Lukie itu panutan aku Oom" cengir Gasendra.
Dan kini Ayrton dan Zinnia sudah ada di dalam ruangan dekan. Robert Rarcher sudah ada bersama dengan doktor Gustav disana.
"So, ini yang namanya Doktor Gustav?" tanya Ayrton dingin.
"Anda ayah Zinnia? Mau anda apa?" tantang Doktor Gustav.
"Mau saya? Memenjarakan anda sebagai pelaku pelecehan s3ksu4l ke putri saya" jawab Ayrton.
Doktor Gustav tertawa. "Justru putri anda yang menggoda saya dan saya menuntut balik karena sudah menjotos saya."
"Karena anda pantas mendapatkannya!" bentak Zinnia.
"Sekarang gini saja, my word atau your word" ucap Doktor Gustav sinis. "Mana buktinya? Tidak ada!"
"Siapa yang bilang tidak ada?" kekeh Ayrton dingin membuat doktor Gustav melongo. "Apa yang disimpan secara digital sekarang tetap ada backupnya meski sudah dihapus sekalipun. Jaman sudah canggih bung!"
Ayrton lalu berjalan ke tv besar yang ada di ruang dekan itu dan memasang flashdisk disana. Tak lama rekaman CCTV kemarin muncul mulai dari beberapa teman Zinnia yang melakukan tes lisan hingga giliran putri Ayrton itu.
Wajah doktor Gustav memucat karena semua perilakunya terekam semua disana meskipun dia sudah menghapusnya hari itu. Wajah Ayrton tampak ingin membunuh Doktor Gustav saat pria paruh baya itu saat hampir mencium pipi Zinnia hingga dijotos oleh putrinya itu.
"Robert Rarcher, apa kamu masih membela anak buahmu yang b@jing@n ini?" Ayrton menatap Robert Rarcher yang tidak bisa berkata apa-apa. "Beruntung disini di Geneva. Jika di Dubai, habis kalian!"
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Sorry beberapa novel isinya gegeran semua soalnya lagi pengen bikin kerusuhan
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️