The Prince and I

The Prince and I
Fitnah Dimulai


__ADS_3

Bunker Museum Antwerp


Jasmine berusaha memakai peralatan yang ada disana tapi karena usia peralatan itu satu abad lebih, tentu saja sudah rapuh dan lapuk. Usaha gadis itu untuk mencoba naik mencapai atap bunker untuk mendapatkan sinyal, terhalang.


"Nona Zee..."


"Istirahat lah sebentar. Nanti kita cari jalan lagi. Dan harusnya impossible kalau Sean tidak mencari aku karena aku tidak pulang - pulang." Zinnia mengabadikan dirinya berada di bunker. "Biar Sean percaya kita terjebak di sini" ucapnya sambil berselfie dengan Jasmine da memotret semua kondisi bunker.


"Nona Zee. Apa anda membawa charger ponsel anda?" tanya Jasmine.


"Aku membawanya tapi apakah disini ada stop kontak?"


Jasmine pun mencari-cari dan menemukan stop kontak disana. "Alhamdulillah. Ada nona Zee."


"Jam lima sore. Ya ampun! Masa nggak ada yang sadar aku menghilang?" gumam Zinnia.


***


Pesawat pribadi kerajaan Belgia


"Aktingmu bagus sekali sayang" ucap Stefanus ke kekasih gelapnya yang memiliki tinggi sama dengan Zinnia.


"Aku sebal harus mempermak wajahku seperti wanita itu! Pokoknya aku tidak mau tahu Stefan, setelah selesai kamu berhasil mendapatkan istri adikmu, aku ingin kembali ke wajah ku semula. Dan jangan lupa bayarannya!" ucap Hilda, kekasihnya.


"Tentu saja. Dan aku yakin, Sean pasti akan menyusul kita ke Swiss begitu kita kirimkan foto mesra kita sayang."


"Kamu itu jahat sekali dengan adikmu..." kekeh Hilda.


"Aku hanya ingin memiliki istrinya Sean. Zinnia pasti akan diceraikan oleh Sean jika tahu 'kita' berselingkuh dan saat itu, aku akan mendekati wanita terpuruk itu. Aku akan menceraikan Natalia dan menikahi Zinnia."


"Apa kamu yakin wanita itu akan mau bersamamu?"


Stefanus menatap tidak suka ke Hilda. "Wanita itu bernama Zinnia. Dan aku yakin dia akan mau denganku... Wanita terpuruk akan mudah luluh."


Hilda hanya diam saja. Terserah kamu saja Stefan, yang penting jangan lupa bayarannya.


***


Apartemen Sean dan Zinnia


Pukul sepuluh malam Sean tiba di apartemen dan tidak menemukan istrinya disana.


"Zee? Zeeee? Sayang? Kamu dimana?" teriak Sean yang bingung kemana istrinya. Pria itu lalu menelpon Zinnia yang langsung masuk pesan suara. Begitu juga dengan Jasmine. Keduanya tidak dapat dihubungi.


Sean lalu menelpon sekertaris Zinnia dan memintanya datang malam ini juga. Setengah jam kemudian, sekretaris itu tiba di apartemen Sean dan Zinnia.


"Sekarang katakan, dimana istriku?" tanya Sean gusar.


Sekretaris itu hanya menunduk tidak berani menatap Sean.


"Sarah! Kamu kan sekretaris Zinnia. Jawab!"


"Maap yang mulia...tapi putri Zinnia pergi..."


"Pergi kemana?" tanya Sean bingung.

__ADS_1


Sekretaris itu menatap Sean dengan wajah sedih. "Saya tidak tahu yang mulia... tapi putri Zinnia tadi pergi bersama dengan tuanku pangeran Stefanus...masuk pesawat dan..."


"Dan apa?"


"Sepertinya mereka berselingkuh..."


Wajah Sean memucat. Tidak mungkin. Zee tidak suka kak Stefanus... Bagaimana mungkin?


"Greg..." Sean menatap asistennya.


"Ya tuanku..."


"Kita ke bandara. SEKARANG!" Sean langsung bergegas menuju mobilnya dan mencari tahu kemana istrinya pergi bersama dengan kakaknya.


***


Bunker Museum Antwerp


Listrik di bunker itu pun padam membuat kedua wanita di dalam terkejut.


"Nona Zinnia, aku tahu anda takut gelap tapi tenang ada saya..." Jasmine langsung memeluk Zinnia.


"Kenapa Sean tidak mencari ku Jaz... Aku takut Jaz..." ucap Zinnia berulang.


Jasmine tahu putri Ayrton itu memang takut gelap jadi langsung sigap menjaga nonanya.


"Sepertinya tuan Sean juga bingung mencari anda nona." Jasmien berharap listrik segera menyala.


Zinnia memeluk pengawalnya. "Untung aku tidak sendirian Jaz."


"Jangan tinggalkan aku Jaz..." rengek Zinnia memelas.


"Mari nona, pegang tangan saya." Jaz menggandeng tangan Zinnia dan berusaha mencari kertas-kertas. Jasmine menemukan satu rim kertas di dalam laci dan sedikit rapuh. Setidaknya masih banyak yang digunakan.


Jasmine memasukkan kertas - kertas itu ke dalam pemanas api kuno itu lalu mengambil korek api dan menyalakan hingga ruangan bunker itu menjadi sedikit terang membuat Zinnia merasa aman.


"Alhamdulillah agak terang nona" ucap Jasmine.


"Kamu masih merokok Jaz?"


"Sudah tidak tapi kebiasaan membawa korek api masih terbawa" kekeh Jasmine.


"Jaz... "


"Ya nona?"


"Ada paku dan palu dibalik pemanas ini."


Jasmine dan Zinnia saling berpandangan. "Besok bisa kita pasang paku ini seperti panjat tebing, nona."


"Iyes Jaz. Semoga besok bisa naik ke atap dan mendapatkan sinyal."


Jasmine dan Zinnia dulu suka acara panjat tebing sebagai olahraga favorit karena Zinnia suka adrenalin dan sebagai terapi takut ketinggiannya.


"Alamat kita semalam disini dulu nona."

__ADS_1


"Setidaknya sudah tidak gelap Jaz."


Keduanya pun mengambil selimut yang ada di ruang itu dan duduk bersandar di tembok sambil berdempetan. Tak lama keduanya pun terlelap setelah memakan dua batang coklat.


***


Bandara Brussels Belgia


Sean menatap tidak percaya saat dirinya diperlihatkan bagaimana istrinya berciuman mesra dengan kakaknya.


Awalnya Sean ingin menolak percaya tapi dilihatnya wanita itu benar-benar istrinya lengkap dengan sepatu favoritnya tanpa ada perbedaan, Sean pun merasa marah dan kecewa berat dengan Zinnia.


"Mereka pergi kemana?" tanya Sean dengan nada marah yang tidak ditutupi.


"Ke Swiss, yang mulia..." ucap pegawai bandara takut - takut karena mereka semua saksinya bagaimana Stefan dan Zinnia berhubungan mesra.


Astaghfirullah. Zee...


***


Bunker Museum Antwerp


Pagi-pagi Zinnia dan Jasmine sudah bersiap dengan paku dan palu. Jasmine juga mencari-cari alat yang masih kuat untuk menahan beban tubuhnya.


"Aku menemukan parasut dan ini talinya masih bagus Jaz." Zinnia tadi saat dari kamar mandi melihat ada tas tentara dan membukanya menemukan parasut yang masih bagus.


"Bagus nona!" Jasmine dengan cekatan memasang tali itu dan mulai memaku tembok tebal tersebut. Cukup susah payah Jasmine menaiki atap tembok itu hingga akhirnya dia mencapai atap bunker. Sinyal ponsel satelit pun didapat dan Jasmine langsung menelpon Sean tapi ponselnya tidak bisa, begitu juga dengan Greg.


Akhirnya Jasmine menelpon sekretaris Zinnia yang terkejut mereka masih berada di bunker. Jasmine meminta sekretaris itu menghubungi pihak kepala museum untuk membuka pintu.


Satu jam kemudian, kepala museum berhasil membebaskan Zinnia dan Jasmine. Mereka tidak perduli kondisi bunker yang berantakan akibat ulah keduanya mencoba untuk bebas.


Kini sambil menunggu jemputan, Zinnia dan Jasmine sarapan di ruang kepala museum. Dan keduanya terkejut melihat berita gosip dimana - mana yang menunjukkan bagaimana dirinya berciuman mesra dengan Stefanus.


Wajah Zinnia sangat shock melihat seseorang yang sangat mirip dengannya.


"Astaghfirullah! Jaz! Fitnahnya jahat banget!" Zinnia sudah berusaha menelpon Sean tapi tetap tidak bisa dari tadi.


"Nona Zinnia..." Jasmine menatap nonanya.


"Apa yang akan terjadi Jaz? Aku tidak terbayang wajah papa dan mama... Itu bukan akuuuu!" teriak Zinnia.


"Tuan putri, kami akan menjadi saksi bahwa anda semalaman disini" ucap kepala museum.


"Ya Allah..." Zinnia memegang pelipisnya.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift comment


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2