The Prince and I

The Prince and I
Come Back To Me


__ADS_3

Indramayu Jawa Barat Indonesia 4 tahun lalu...


Garvita tampak manyun karena harus dipapah oleh Gabriel karena kakinya masih terasa tidak nyaman. Pengawalnya sejak usia 13 tahun itu memang sangat perhatian padanya. Perbedaan usia 6 tahun membuat Gabriel harus ekstra sabar dengan nona ABG nya yang memang manja.


"Kamu tuh sudah tahu kalau main-main ke pematang sawah pasti ketemu lintah! Kok ya ga kapok sih!" omel Ayrton. "Tadi kesini gimana, Gab?"


"Saya gendong nona Garvita, Sir. Maaf jika saya lancang." Gabriel membantu Garvita duduk.


"Beneran deh, kamu tuh repotin Gabriel!" Mariana menatap tajam ke putri bungsunya.


"Lha kan memang tugasnya Gabriel!" cebik Garvita.


"Di klausal kontrak tidak termasuk cabut Lintah, dik!" timpal Gasendra yang gemas dengan adiknya yang manja.


"Tapi kan termasuk 'melindungi putri Emir Al Jordan Schumacher dalam situasi apapun'" balas Garvita.


"Wong kamu main sawah sendiri yang repot Gabriel!" Ayrton menegur putri bungsunya yang memang super ngeyel.


"Sudah ah, yuk makan. Mau bahas lintah sampai kapan?" gelak Zinnia yang tahu nggak bakalan selesai kalau sudah urusan dengan Garvita.


***


Usai makan siang, Ayrton mengajak Zinnia berbicara di halaman belakang. Ayrton membangun gazebo yang memang tampak hamparan sawah dari pagar belakang yang dibuat transparan. Meskipun begitu, keamanan putri dan calon cucunya sangat terjamin. Kamera CCTV canggih dan penjaga rumah yang memang berada disana.


"Zee, bisa kita bicara serius?" Ayrton menatap putrinya yang tampak semakin cantik dengan perut membuncit.


"Soal Sean, Pa?" Zinnia tersenyum tipis. "Aku tidak mau mendengarnya."


"Apa kamu mau berpisah dengan Sean?"


"Pa, aku itu sedang hamil dan tidak pantas aku meminta cerai dari Sean pada saat kondisi begini karena jika Sean tahu, pasti dia menolak keras untuk berpisah."


"Tapi ...?"


"Tapi aku tahu Sean, dia juga pasti ada rasa ragu soal ini anaknya atau bukan meskipun dia tahu ini pasti anaknya. Mengingat dia masih seperti itu, aku tidak yakin Sean percaya."


"Sean ke Dubai, mencarimu." Ayrton memperlihatkan foto Sean di ruang tengah istana Al Jordan yang sedang berbicara dengan Reyhan dan Enzo.


Wajah Zinnia tampak melembut melihat wajah suaminya yang hampir enam bulan ini tidak dilihatnya. "Aku masih belum mau bertemu Sean, Pa."


"Papa tidak akan memaksamu karena sejujurnya papa juga masih marah dengan Sean. Semua berpulang padamu Zee. Jika memang kamu ingin bertemu dengan Sean, papa beritahukan dimana kamu berada."


Zinnia menggelengkan kepalanya. "Tidak pa. Zee masih belum siap kembali ke Belgia."


Ayrton memeluk bahu putrinya. "Maafkan papa, Zee. Papa tidak memberikan suami yang baik padamu."

__ADS_1


Zinnia tertawa kecil. "Pa, yang memilih Sean juga aku, bukan papa. Jadi dari sisi mana papa memberikan suami yang baik?"


"Tapi papa memberikan restu pada kalian dan papa mengira bahwa Sean akan memenuhi janjinya pada papa dan kamu."


"Pa, kejadian kemarin itu diluar kemampuan kita. Setidaknya, kita semua mendapatkan hikmah nya."


Ayrton mencium pucuk kepala putrinya. "Apa cucu papa sudah menendang?"


"Papa mau pegang perut Zee?"


"Boleh?"


"Tentu saja boleh Opa" kekeh Zinnia.


Ayrton memegang perut Zinnia dan merasakan gerakan di dalamnya. "Ya ampun Zee, aktifnya seperti adikmu Gasendra dulu."


"Iya kah?"


"Asal judesnya nggak ikutan Gasendra saja, soalnya hampir tiap hari kan kalian bertemu."


Zinnia tertawa. "Gasendra memang judes!"


***


Garvita bangun setelah melaksanakan ibadah subuh dan kakinya merasa tidak nyaman. Ini memang bukan pertama kalinya kakinya terkena lintah tapi tidak sebanyak kemarin.



Senyumnya sumringah banget Gab


"Pagi nona Garvita. Sudah saya buatkan juice alpukat."


Garvita melongo. "Kamu pagi-pagi bangun cuma buatkan jus alpukat?"


"Sebenarnya tadi saya lihat ada alpukat di kulkas dan saya tahu anda sangat suka jus alpukat jadi kenapa tidak saya buatkan?" Gabriel lalu mengambil gelas dan menghiasnya dengan susu kental manis cokelat lalu mengisinya dengan jus alpukat. "Anda mau sarapan apa?"


"Kan ada bik Minah. Ngapain kamu repot-repot?" Garvita bersedekap dan tak lama bik Minah masuk.


"Aduh maaf mbak Garvita. Bibik kesiangan."


Gabriel memberikan gelas jus alpukatnya ke Garvita.


"Terimakasih Gabriel" ucap Garvita manis.


"Sama-sama, Princess."

__ADS_1


***


Brussels Belgia


Sean masuk ke dalam kamar apartemennya dan menatap bantal milik Zinnia yang hampir tidak diganti sarungnya selama enam bulan terakhir ini. Sean bersyukur parfum dan shampoo istrinya tertinggal jadi dia masih bisa mencium harumnya yang familiar.


Kamu dimana Zee? Sehat kan? Aku harap kita akan segera bertemu dan berkumpul kembali. Aku kangen, Zee.


Sean menuju meja rias milik Zinnia dan mulai membuka laci-laci disana yang sebelumnya dia tidak pernah lakukan. Mata birunya melihat sebuah buku mirip diary yang tersembunyi di bawah kotak tissue.


Diambilnya buku itu dan Sean mulai membacanya. Benar itu sebuah diary yang menceritakan bagaimana Zinnia mengatasi kasus - kasus kliennya saat masih kuliah di Swiss.


Sean terhanyut dengan cara Zinnia menulis bahkan hatinya ikut sedih ketika istrinya menuliskan kliennya sudah tahap suicidal. Pria itu baru tahu bahwa pekerjaan Zinnia sangatlah complicated. Tak heran jika Istrinya bisa membawa diri karena dirinya memang sudah terbiasa menghadapi berbagai macam kasus psikologi.


Sean menatap luar jendela kamar apartemennya lalu menyetel lagu lama milik Janet Jackson.


All my life I've waited


To see your smile again


In my mind I hated


Not able to let go


Come back to me


I'm beggin' you please


Come back to me


I want you to


Come back to me


I'm beggin' you please


Come back to me


Sean merasa matanya berembun dan mengusapnya. Come back to me Zee, please.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa gaeesss


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote gift and comment


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2