
Paris Perancis
Sean membawa Zinnia untuk langsung berbulan madu ke Paris keesokan harinya dengan menggunakan pesawat pribadi milik keluarga Al Jordan atas perintah Ayrton.
Keluarga kerajaan Belgia pun sudah kembali ke negaranya di hari yang sama dengan Sean dan Zinnia berangkat. Pasangan pengantin baru itu ditemani oleh dua Bodyguard masing - masing, Jasmine Al Buchory dan Greg Tucker.
Sean memang tidak mau membawa banyak orang saat bulan madu karena rencana keduanya setelah bulan madu, mereka akan tinggal di Geneva selama sebulan buat Zinnia menyelesaikan laporan tugas kuliahnya yang sedikit lagi selesai. Zinnia memperhitungkan pada bulan Februari sampai Maret, tesisnya selesai.
Mobil yang membawa mereka keluar dari bandara Paris-Charles de Gaulle langsung menuju Hotel San Régis Paris. Sean memang sengaja membawa Zinnia ke hotel yang bisa melihat menara Eiffel dengan jelas.
Keempatnya kini masuk ke dalam hotel dan Sean melakukan check-in untuk tiga kamar dan setelahnya mereka pun masuk kamar masing-masing apalagi mereka tiba di Paris menjelang sore karena perjalanan dari Dubai ke Paris membutuhkan waktu sekitar 7 jam lebih.
Zinnia yang tampak lelah karena acara yang tidak berhenti kemarin langsung sumringah melihat kamar hotelnya yang nyaman.
"Oh Sean... aku ingin langsung tidur!" Zinnia menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur empuk itu.
Sean hanya tersenyum melihat ulah istrinya yang tanpa melepas sepatu bootnya langsung naik ke tempat tidur meskipun kakinya masih tergantung di pinggir.
"Ganti baju dulu Baby, baru naik tempat tidur" senyum Sean sambil meletakkan koper-koper mereka.
Zinnia hanya menggumam tidak jelas karena matanya sudah terpejam. Sean menatap geli gadis sintal itu dan perlahan melepaskan sepatu boot Zinnia beserta kaus kakinya. Sean membenarkan posisi tidur istrinya dan dengan lembut melepaskan semua mantel dan sweater yang dikenakan hingga meninggalkan tank top hitam yang menutupi br@ serta underwear.
Jakun Sean naik turun tidak beraturan melihat tubuh seksih di hadapannya namun apa enaknya unboxing dengan kondisi Zee tidur? Kurang maksimal nanti rasanya.
Sean pun memilih untuk mengikuti jejak Zinnia untuk tidur. Seperti biasa, pria itu melepaskan semua baju yang melekat di tubuhnya dan hanya meninggalkan boxernya saja.
"Akhirnya aku menikahi mu, Zee. Je t'aime ma chère" bisik Sean sambil mencium pipi Zinnia sebelum memeluknya dari belakang dan ikut tidur.
***
Zinnia mengerjapkan matanya dan ada rasa disorientasi tempat karena dia tidak mengenali ruangannya.
Aku dimana? Zinnia menatap sekelilingnya dan melihat dirinya hanya mengenakan tank top dan underwear serta ada sebuah tangan kekar memeluknya dari belakang diatas perutnya yang rata, gadis itu bisa mengira bahwa suaminya lah yang melepaskan semua bajunya. Suami. Zinnia tersenyum sendiri karena dirinya tidak menyangka akan menikah muda.
__ADS_1
Dalam bayangannya, dia akan menikah di usia 25 atau 26 tahun bukan di usia 21 tahun ini. Zinnia tidak menyesal menikah muda karena dia membayangkan jika anak mereka nanti pertama perempuan, akan serunya bisa barengan nanti untuk shopping jika sudah remaja apalagi jarak tidak terlalu jauh, macam dulu dirinya dengan Mariana.
Meskipun pencahayaan kamar yang remang-remang tapi kamar Zinnia dan Sean tampak terang karena bantuan lampu dari jalanan kota Paris. Zinnia melirik jam tangan Patek Philippe nya yang merupakan hadiah kelulusannya dari sang papa dan melihat sudah jam tujuh malam waktu Paris. Pantas perutku lapar.
"Sean..." panggil Zinnia.
"Yes baby..."
"Aku lapar ..." Zinnia menoleh ke belakang menatap suaminya.
Sean tersenyum. "Aku juga lapar tapi laparnya berbeda."
Zinnia merengut. "Sepertinya persepsi antara laparku dan laparmu itu sangatlah berbeda."
Sean tertawa lalu tubuhnya langsung menindih tubuh Zinnia. "Makan dulu atau malam pertama?"
"Makan dulu! Aku lapar Sean!" rengek Zinnia.
Sean hanya tersenyum lalu mulai menciumi leher istrinya yang membuat Zinnia terkesiap dan perlahan bibir seksih suaminya mulai menuruni menuju belahan dadanya. Sean menurunkan tali tank topnya dan membuatnya turun sampai ke perut Zinnia. Mata Sean tampak berkabut melihat pemandangan indah disana. Meskipun masih tertutup dengan br@ hitam, tapi bentuk dada Zinnia sangat menggoda iman.
"Zee, ini asli?" tanya Sean polos.
Zinnia mengeplak bahu kekar suaminya. "Kamu kira ini silikon? Enak saja! Asli! Pemberian Tuhan! Aku anti pakai aneh-aneh Sean!"
Sean tertawa. "Justru yang asli dan alami itu lebih nikmat dan aku bersyukur Tuhan memberikan hasil yang bagus padamu."
Zinnia cemberut. Sean pun langsung Melu*mat bibir istrinya yang manyun sedangkan tangannya mulai bergerilya melepaskan penutup dada Zinnia dan mulai bermain disana membuat gadis itu menggelinjang.
Inilah kali pertama seseorang memegang dadanya begitu intens dan mesra serta menggoda libidonya. Zinnia dibuat berantakan dengan perlakuan Sean yang lembut seolah tahu istrinya masih orisinil belum ada yang menyentuhnya membuat pria itu seolah memegang kristal mahal.
Entah berapa lama Sean melakukan foreplay ke Zinnia membuat istrinya gelisah ingin mendapatkan pelepasan. Sean yang lebih berpengalaman, tahu ekspresi seorang wanita yang memuncak gairahnya tapi melihat wajah Zinnia yang memerah akibat gairah dan nafsu, adalah sesuatu yang Priceless yang belum pernah dia rasakan ke wanita lain.
Bagi Sean, melihat ekspresi Zinnia seperti itu membuat dirinya tidak mau berpaling ke siapapun. Suara desa*Han, lengu*Han dan jeritan tertahan Zinnia bagi Sean itu adalah sesuatu yang membuatnya hanya bisa turn on dengan istrinya.
"Sean... Oh my God... Apa yang kamu perbuat..." racau Zinnia yang sudah tampak berantakan di bawah Kungkungan suaminya.
"Membuat mu nikmat sayang..." Sean melepaskan boxernya dan melepaskan penutup terakhir milik Zinnia. "Kamu sudah siap baby..."
__ADS_1
Sean menciumi Zinnia sembari memasukkan miliknya ke dalam inti istrinya yang membuat wanita itu menjerit tertahan dan tanpa sadar menggigit pundak Sean.
"Oh Zee, kamu sangat...sangat nikmat" ucap Sean saat merasakan miliknya menembus pertahanan terakhir Zinnia.
"Oh God... sakit Sean..."
"Nanti kamu akan menikmatinya sayang. Apalagi kamu tadi sudah sangat siap." Sean kembali menyentuh seluruh titik tubuh Zinnia membuat gadis itu semakin tidak bisa mengontrol gairahnya.
Malam itu Sean membuat Zinnia mendapatkan kli*maksnya berulang kali dan entah berapa lama mereka melakukannya karena Sean tidak bisa menahan diri melihat tubuh seksih istrinya.
***
"Sean! Aku tuh lapaaaarrr!" teriak Zinnia kesal saat keduanya berendam di dalam bathtub. "Apa ya tadi tuh kurang? Ya ampun Sean, macam kamu buka puasa saja langsung brutal!"
Zinnia bersandar di tubuh kekar suaminya yang memeluknya dari belakang. Bubble bath sudah menutup tubuh telanjang mereka.
"Tapi nikmat kan Zee? Ya jelas aku buka puasa. Kan sudah lama tidak melakukan dan aku hanya mau melakukannya padamu saja Zee. Dan sudah tekadku sejak kita bertemu kembali di rumah sakit." Sean mencium pelipis Zinnia.
"Dan ini... Astaghfirullah! Kenapa banyak tattoo merah-merah? Seeeaaannnn!" rengek Zinnia kesal.
"Ini bukti kalau aku benar-benar mencintaimu" kekeh Sean.
"Ini tuh bukti meshum, tahu!" cebik Zinnia kesal.
"Satu kali lagi ya? Habis ini kita makan" cengir Sean.
"Astagaaa! Lama-lama aku kurus kalau kamu pompa terus!"
"Tenang, nanti kan mengembang perutnya karena akan ada anak di dalamnya" senyum Sean tanpa bersalah.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️