The Prince and I

The Prince and I
Jangan Cari Zee


__ADS_3

Istana Brussels Belgia


Sudah hampir seminggu ini sejak Blaze memberikan obat LSD ke Stefanus membuat pria itu mengalami efek sampingnya. Berbagai halusinasi dan euforia yang ingin dirasakan kembali membuat Stefanus berusaha mencari Blaze.


"Apakah kalian melihat Anna? Asistennya Sarah?" tanya Stefanus ke kantor sekretaris kerajaan.


"Anna sedang pergi bersama Sarah. Mereka mengurus sesuatu di Antwerp, yang mulia."


"Beritahu aku kalau dia sudah sampai." Stefanus pun meninggalkan kantor itu.


"Dasar pangeran ganjen! Sudah buat perkara masih saja nyari perkara!" umpat salah satu orang disana.


"Putri Zinnia sampai pergi meninggalkan kerajaan karena difitnah sedemikian rupa padahal keluarga kerajaan yang bajing@n!" balas yang lain.


"Ssshhhh... sudah. Kita berdoa saja semoga rakyat bisa menggulingkan mereka agar turun tahta dan pangeran Sean yang naik. Karena sebenarnya itu hak pangeran Sean, bukan pangeran abal-abal yang kebetulan lahir duluan apalagi tidak menikah secara resmi" ucap salah satu senior disana.


"Ohya?" seru para juniornya.


"Ohya."


***


Apartemen Hilda Stuart


Leia Bianchi mendatangi apartemen Hilda karena menurut Shinichi yang semalam berjaga di ruang monitor, impostor Zinnia itu hendak pergi dan menggunakan jasa Uber.


Putri Luca Bianchi itu pun menyamar menjadi driver Uber. Penjaga apartemen memberitahukan kepada Hilda dan wanita itu pun turun. Leia benar-benar terkejut melihat wanita yang sangat mirip dengan Zinnia.


"Kita kemana Nona?" tanya Leia sopan..


"Butik Louis Vuitton."


"Baik. Oh, disana ada minuman dan camilan jika nona haus atau kelaparan." Leia melirik dari spion.


Ya ampun! Dia benar-benar mirip Zee tapi suara memang sedikit berbeda.


Hilda mengambil sebotol air mineral disana dan membukanya. Leia tersenyum smirk tipis dan menjalankan mobilnya menuju suatu tempat yang sudah disiapkan Blaze dan Sarah.


***


New York


Sean mendatangi kantor AJ Corp untuk menemui Alea Hamilton Bradford. Dibandingkan dengan Oom dan Tante Zinnia yang lain, Alea paling kalem dan tidak panasan macam keluarga O'Grady, Bianchi atau pun McCloud.


Alea mempersilahkan Sean naik ke ruangannya dan ketika pria itu tiba di ruangan Alea, terdapat Chris Bradford, suami Alea yang sudah menjabat menjadi kapten NYPD precinct Manhattan bersama putra mungil mereka yang berusia tujuh tahun, Mamoru.


"Tante Alea, Oom Chris, Mamoru" sapa Sean sambil menyalami ketiga anggota keluarga Bradford.


"Apa kabar Sean?" sapa Alea sambil memeluk keponakannya. Begitu juga Chris.

__ADS_1


"Kalau kamu mencari Zee, dia tidak ada di New York" ucap Chris tanpa basa basi.


Bahu Sean langsung melorot. "Ya ampun kemana istriku?"


"Sean, kamu habis dihajar bang Ayrton?" Alea memperhatikan bekas-bekas pukulan kakak sepupunya itu.


"Sudah sepantasnya aku mendapatkan" jawab Sean pelan.


"Bang Sean kenapa Dad?" tanya Mamoru ke ayahnya.


"Oh, Bang Sean jatuh dari tangga" senyum Sean ke bocah tampan itu.


Mamoru menghampiri Sean. "Lain kali hati-hati Bang" ucap bocah tujuh tahun itu sambil memegang tangan Sean seolah berusaha mengobati pria itu.


"Mamoru ingin menjadi dokter seperti opa buyutnya bahkan namanya pun kami ambil dari opa Alea, Mamoru Al Jordan." Chris menatap sayang ke putra semata wayangnya.


"Dia akan menjadi dokter yang hebat, Oom."


"Sean, Tante rasa kamu percuma mencari Zee di New York sebab menilik bagaimana kerasnya Bang Ayrton, dia tidak akan menyembunyikan Zee di New York. Pasti Zee berada di suatu tempat yang mungkin kami sendiri tidak tahu karena banyaknya aset keluarga kami di seluruh dunia." Alea menatap lembut ke Sean. "Jangan kamu cari ke Tokyo atau Jakarta jika kamu tidak mau dihajar bang Luca dan bang Hideo atau Mas Hoshi dan mas Bima."


Sean mengusap wajahnya kasar. "Aku benar-benar menyesal Oom, Tante."


"Karena sudah terjadi, sesal pun tidak berguna. Oom sarankan, kamu kembali ke Belgia sambil menunggu kemarahan Ayrton mereda. Sebab, jika kamu semakin mencari Zee, bisa jadi Ayrton memindahkan ke tempat lain." Chris menepuk pundak keponakannya. "Bersabar lah, Sean."


***


Hilda membuka matanya dan melihat ada tiga orang memakai masker dan baju APD lengkap disana. Tampak disana peralatan operasi lengkap membuat Hilda panik.


"Siapa kalian? Mau apa kalian?" teriak Hilda.


"Mengembalikan wajahmu ke wajah aslimu. Cukup sudah kamu menjadi impostor putri Zinnia." Seorang dengan suara pria membuat punggung Hilda terasa dingin.


"Tapi, aku melakukan ini karena disuruh Stefan!" teriak Hilda.


"Justru karena itu, kami akan mengembalikan ke wajahmu semula. Pilih mana? Tetap wajah putri Zinnia tapi kami siksa kamu sampai mati atau kami kembalikan wajah mu dan membiarkan kamu hidup lalu pergi jauh dari Belgia ditambah kompensasi?" sebuah suara wanita membuat Hilda menoleh.


Tampak seorang wanita yang dia kenali sebagai sopir Uber yang menjemput dirinya tadi.


"Kamu..."


"Hello, b1tches yang menyamar menjadi sepupuku..." seringai Leia.


"Se... pupu?" bisik Hilda.


"Yes. Aku adalah sepupu Zinnia of Léopold. Perkenalkan, namaku Leia Bianchi putri Luca Bianchi mafia dari Italia dan Emi Takara Yakuza dari Tokyo Jepang. So, bisa kamu bayangkan apa yang aku dapat lakukan padamu." Leia menatap dingin ke Hilda sembari membuka tutup pisau lipatnya.


Wajah Hilda tampak panik. Siapa yang tidak mengenal keluarga Bianchi di Eropa. Dua nama terkenal, Bianchi dan Mancini adalah penguasa anggur terkenal.


"Ja...jangan."

__ADS_1


"Jangan? Jangan? Apa kamu bisa berpikir sedikit saja apa yang akan terjadi setelah kamu dan Stefanus membuat fitnah sekejam itu? Rupanya Stefan lupa jika sepupu Zinnia adalah orang-orang yang tidak suka melihat orang lain membuat ulah termasuk fitnah keji yang menjatuhkan nama Zinnia." Leia berjalan menuju Hilda yang berbaring dan terikat. "Sekarang kamu milih mana? Aku biarkan kamu memakai wajah sepupu ku tapi aku siksa pelan-pelan hingga kamu berharap mati saja atau... aku kembalikan wajahmu yang lama tapi kamu harus pergi dari Belgia selamanya dan jangan pernah muncul di Eropa, Amerika atau Asia. Aku sarankan kamu pergi ke New Zealand." Leia tertawa kecil. "Baik kan aku?"


Hilda merasa seram mendengar ucapan dingin Leia yang seperti malaikat maut.


"Bagaimana?" Leia mendekatkan pisau lipatnya. "Pilih yang mana?"


"Yang...kedua..." bisik Hilda.


"Bagus. Yang kedua, kamu mendapatkan kompensasi. Jadi hidup kamu terjamin selama kamu tidak boros karena kesempatan tidak datang dua kali." Leia menyeringai puas.


***


Istana Brussels Belgia


Stefanus menatap tidak percaya video yang dikirimkan ke emailnya yang menunjukkan wajah Hilda dipermak sedemikan rupa menjadi wajahnya yang asli.


Proses operasi itu membuatnya merasa mual dan sedih bukan kepalang.


"Zinnia... Jangan kau ganti wajahmu..."


Blaze datang menghampiri Stefanus.


"Yang mulia memanggil saya?"


"Anna... apakah kamu ada obat untuk membuat aku bahagia? Entah kenapa aku selalu bahagia jika bersamamu..."


"Yang mulia kenapa?"


Stefanus memberikan ponselnya dan Blaze berpura-pura terkejut.


"Aku sedih Anna. Akhirnya Zinnia pergi juga."


Itu cuma impostor bambaaannggg!


"Tenang yang mulia. Saya punya obatnya."


Kena kau!


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Maap telat busy Monday


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote gift and comment


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2