The Prince and I

The Prince and I
Misi Terselubung


__ADS_3

Istana Al Jordan Dubai UAE


Nura dan Mariana keluar dari kamar Garvita, membuat semua anggota keluarga kecuali Radhi dan Arsya yang asyik dengan rubik mereka, menoleh.


"Bagaimana Nura?" tanya Ayrton saat dua wanita cantik itu datang menghampiri.


"Garvita tidak apa-apa tapi alangkah baiknya jika dirontgen besok karena mengingat Mariana juga pernah mengalami cidera seperti Garvita yang membuatnya lama sembuh, bisa jadi gen nya menurun, Ay."


Mariana beberapa tahun lalu mengalami jatuh yang hampir mirip dengan putrinya. Dari hasil pemeriksaan, istri Ayrton itu memiliki kelemahan tulang pergelangan kaki yang merupakan keturunan. Dan menurut Nura ada kemungkinan gen itu menurun ke putrinya.


"Besok kita ke rumah sakit" putus Ayrton karena merasa hanya keseleo biasa yang bisa sembuh sendiri tapi hingga seminggu ini belum ada tanda-tanda menjadi lebih baik.


"Benar kan Pa.. Kaki mbak Gar retak" bisik Raine ke papanya, Alaric yang langsung melirik judes ke putri bungsunya.


"Nggak retak Raineee" desis Alaric gemas. Pasti yang bakal jadi pasangannya akan darting tiap hari melihat kelakuan putriku satu ini.


"Papa mau taruhan? Pasti kaki mbak Gar retak" eyel Raine mengacuhkan tatapan tajam Alaric.


"Kamu sama Raine kok tiap saat ribut saja tho Al" kekeh Paradina melihat keponakan dan cucunya ribut tidak jelas.


"Mas Al dan Raine kan sama-sama bontot jadi ya gitu deh, Tante" senyum Nura.


Menjelang jam sepuluh malam, keluarga Blair pun pulang dan Sean menggendong Arsyanendra yang sudah mengantuk menuju kamarnya.


***


Kamar Zinnia


Zinnia melihat suaminya sudah kembali dari kamar putranya yang berada di sebelah kamar mereka. Bedanya tidak ada pintu penghubung seperti rumah Zinnia di Indramayu.


"Arsya sudah tidur, Sean?" tanya Zinnia sambil melepaskan kimono batik nya, menunjukkan dirinya memakai daster batik panjang bewarna coklat dengan motif parang yang bertali spaghetti.


"Sudah. Tadi cerita kalau dia kalah dari Radhi adu rubik" senyum Sean sambil mengunci pintu kamarnya.


"Kok dikunci? Nanti kalau Arsya kebangun gimana?" Zinnia menatap suaminya.


"Aku sudah minta tolong Jasmine untuk tidur di kamar Arsya. Aku bilang, aku ada misi untuk membuat adiknya Arsya" seringai Sean yang menurut Zinnia tampak begitu meshum.


"Misimu memang modus!" cebik Zinnia sambil membuka selimutnya.


"Lho Zee, coba kamu pikir dong. Sekian lama aku menahan diri demi buat kamu. Masa nggak tersalurkan lagi?" Sean lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan gosok gigi.


Zinnia hanya menatap langit-langit kamarnya dan sejujurnya dirinya merasa gugup malam ini. Macam anak perawan hendak diperawani saja kamu Zee... Eh tapi iya juga kan? Kamu hampir empat tahun puasa juga. Mana kemarin di kantormu juga hampir kebablasan...


"Kamu kenapa melamun?" suara Sean membuat Zinnia kembali ke real life. Tampak suaminya hanya mengenakan celana pendek seperti biasanya dan tanpa baju. Zinnia menelan salivanya susah payah melihat tubuh suaminya yang terpahat sempurna di matanya.

__ADS_1


"Hanya berpikir... Tugas aku semakin berat Sean jika kamu resmi menjadi raja. Apalagi Arsya itu anaknya cerdas banget meskipun kelakuan ikutan kacau macam trio kampret..."


Sean memiringkan tubuhnya dan kepalanya disangga dengan tangannya. "Kamu tahu, tadi Arsya minta cereal pas kamu sedang bersama dengan sepupumu. Saat aku goda cereal hanya untuk breakfast, wajahnya dimelaskan membuat aku tidak tega kan. Dan Arsya bilang, itu ajaran trio kampret kalau mau mendapatkan maumu, melaskanlah wajahmu..."


Zinnia melongo lalu tertawa terbahak-bahak. "Astaghfirullah! Tiga anak itu minta dijewer semua!"


"Aku dan mama juga gemas Zee. Ingin rasanya aku terbang ke Jakarta dan Tokyo buat menjewer tiga bocah itu!"


"Aduuuhh Arsya..." gelak Zinnia.


Sean tersenyum melihat wajah istrinya yang tampak bahagia. "Zee... Ich liebe dich..."


Zinnia menatap suaminya. "Ana ahibuk, Sean..."


Sean lalu mencium bibir istrinya lembut tapi sedetik kemudian menjadi penuh nafsu. Entah siapa yang memulai keduanya pun saling membalas satu sama lain dan Zinnia dengan sukarela membuka dasternya membuat Sean semakin terbakar.


"Arsya sudah cicipin punya mu, gantian Daddy nya..." Sean pun langsung menikmati sumber makanan anaknya kelak. Zinnia tertawa mendengar ucapan kacau suaminya.


"Kamu tuh!"


"Mumpung kamu belum hamil lagi Zee, jadi masih punyaku..." Sean menatap mesra ke istrinya sedangkan tangannya melepaskan penutup bawah milik Zinnia.


"Kita lakukan pelan-pelan ya Zee.. Aku tahu kamu sudah lama tidak dijenguk aku..." bisik Sean di ceruk leher istrinya.


"I..iya..."


Sean sendiri merasa masih belum puas meskipun sudah tiga ronde tapi melihat Zinnia tampak lelah apalagi besok mereka harus bertemu dengan keluarga besar, dia harus meredam egonya. Masih ada hari esok. Yang penting sudah buka puasa dulu.


"Puas Zee...?" bisik Sean.


Zinnia hanya mengangguk sambil mengatur nafasnya. "Ya ampun... Kita berapa lama tadi?"


"Nggak tahu tapi aku senang bisa buka puasa akhirnya... Dan punyamu masih enak jepitannya... Aduuuhh!" Sean meringis saat Zinnia mencubit pinggangnya.


"Vulgar!"


"Tapi benar Zee... Punyamu itu bikin candu tahu nggak!"


"Mbuh!" Zinnia langsung menarik selimutnya yang sudah berantakan akibat ulah keduanya.


Sean pun berdiri menuju kamar mandi untuk bersih-bersih dan dirinya meringis melihat jam di dinding kamar Zinnia yang menunjukkan pukul dua pagi. Setelah bersih dan mengambil celana boxer bersih, pria itu menuju tempat tidur. Tampak istrinya sudah terlelap, yang meskipun tampak lelah, raut puas tampak disana.


Sean pun masuk ke dalam selimut lalu memeluk tubuh istrinya dari belakang. Perlahan dirinya mengusap perut rata Zinnia.


"Semoga adik sudah mulai bertransformasi disini ya. Aku berharap adiknya Arsya perempuan ... " ucapnya pelan.

__ADS_1


Tak berapa lama, Sean pun ikut terlelap bersama istrinya.


***


Acara sarapan pagi di istana Al Jordan kali ini minus pasangan pengantin baru tapi lama. Arsyanendra yang sudah bangun dan mandi dengan dibantu Jasmine, merasa bingung tidak melihat kedua orangtuanya.


"Opa, mommy dan Daddy kemana?" tanya Arsya ke Ayrton.


"Kayaknya masih pada tidur Sya. Semalam ngobrol sama Opa dan Oma terus nonton film sampai larut..." ucap Ayrton supaya Arsyanendra tidak heboh masuk ke dalam kamar putri dan menantunya.


"Sya, kita jalan-jalan yuk!" ajak Ken yang tahu kakak sepupunya pasti masih dalam mode bulan madu.


"Oom Ken nggak sekolah?" tanya Arsya polos.


"Oom Ken sudah selesai sekolahnya. Kita ke Burj Khalifa yuk. Ajak Oom Radhi dan Oom Damian gimana? Kita main tempat permainan disana."


"Ayoookk!" teriak Arsyanendra semangat.


***


Menjelang jam sebelas siang, Sean dan Zinnia baru keluar kamar dan tidak melihat anggota keluarganya disana.


"Lha pada kemana?" Zinnia celingukan.


"Pasti memberikan kesempatan buat kita proses bikin adiknya Arsya" seringai Sean.


"Iiissshhh!" Zinnia menemui pengawal yang berada disana. "Pada kemana Riyad? Kok sepi?"


"Tuan besar dan dua Emir ke perusahaan, pincess. Nyonya besar dan nyonya Mariana mengantarkan nona Garvita ke rumah sakit sedangkan Nyonya Georgina menemani tuan Ken, nona Kalila dan pangeran Arsyanendra ke Burj Khalifa."


"Oke, terimakasih Riyad." Pengawal muda itu membungkuk hormat dan mengundurkan diri.


"Kamu sih Sean! Pada pergi kan?" Zinnia menatap judes ke suaminya.


"Lho malah bagus kan? Yuk brunch, habis itu kita proyek bikin adiknya Arsya lagi" cengir pria tampan itu.


"Nggak ya Sean! Aku nggak mau bolak balik harus keramas lagi!"


Sean terbahak.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa gaeesss


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2