The Prince and I

The Prince and I
Negosiasi Dengan Arsyanendra


__ADS_3

Indramayu Jawa Barat Indonesia


Garvita dengan asyiknya memangku Arsyanendra sambil melihat Shinichi memainkan console PlayStation nya bermain game Resident Evil.


"Bang Shin! Mbok main yang nggak serem dong!" protes Garvita.


"Eh tunggu sampai kamu lihat ini..."


"Aaaaaahhhh!" Garvita dan Arsyanendra teriak kencang membuat Gabriel langsung berlari masuk ke dalam rumah. Dirinya memang sedang berada di teras sambil mengobrol dengan para penjaga.


"Ada apa nona Garvita?" Gabriel menatap panik tapi detik kemudian melongo melihat nonanya berpelukan dengan keponakannya.


"Mereka kaget lihat Zombie, Gab! Tuh lihat!" kekeh Shinichi sambil menujuk layar tv.



Resident Evil Remake


Gabriel menepuk jidatnya. "Astaghfirullah! Aku kira ada apa!"


"Zombienya selem Oom Gabliel!" adu Arsyanendra.


"Apa hal ini kalian teriak?" tanya Mariana yang datang dari ruang makan ke ruang tengah.


"Oom Shin main zombie" cerita Arsyanendra. "Aku sama Tante Galvita kaget" gelaknya.


"Shinchaaannn!" pendelik Zinnia.


"Mbak, Arsya ada baby sitter nya, ada pengawasnya jadi kan nggak masalah tho?" cengir Shinichi.


Mariana hanya menggelengkan kepalanya. "Kamu kenapa Gabriel?"


"Saya kira nona Garvita kenapa-kenapa..." Gabriel menatap nonanya yang mendelik ke arahnya. "Kalau begitu saya permisi dulu." Pria tampan itu keluar dari ruang tengah.


"Dik Garvita! Kamu jangan judes-judes dong sama Gabriel. Kan dia hanya melaksanakan tugasnya" tegur Zinnia.


"Aku di rumah saja kok dia panikan kayak gitu!" sungut Garvita manyun.


"Kamu tuh dah kuliah masih manja ih!" ledek Shinichi.


"Lha bang Shin apa kabar? Dikit-dikit mommmyyy!" balas Garvita judes.


"Ya elah, masih mending kan gue manggil emak gue!" sahut Shinichi santai.


"Eh sudah, sudah. Malah ribut sendiri. Garvita, benar kata mbakyumu. Jangan galak-galak sama Gabriel!" tegur Mariana.


Garvita hanya manyun. Garvita sendiri sudah kuliah di Imperial College of London Inggris mengambil jurusan bisnis dan selalu bersama Gabriel sebagai pengawalnya.


"Ada apa tadi pada teriak?" tanya Ayrton yang keluar dari ruang kerja bersama Sean.


"Ada zombie Opa. Asya sama Tante Galvita kaget" gelak Arsyanendra sambil berjalan menuju Ayrton dan meminta gendong opanya.


"Zombie?" Ayrton menoleh ke arah Shinichi yang mematung. "Jangan bilang kamu main Resident Evil, Shin!"


"Lha Oom Ayrton tahu juga" cengir Shinichi.


"Jaman kamu belum brojol, belum dibikin, masih dirancang blueprint nya, game itu sudah ada Shinchaaannn! Kamu main sampai mana?" Ayrton menghampiri keponakannya. "Hati-hati, nanti dari jendela masuk Doberman Zombie."


Garvita, Zinnia dan Mariana melongo. "Ya ampun Ton, masih ingat saja kamu!" gelak Mariana.


Entah sejak kapan akhirnya Ayrton, Arsya dan Shinichi malah asyik main game itu.


***


Kamar Tidur Arsyanendra

__ADS_1


Zinnia duduk sambil mengusap rambut pirang Arsyanendra yang mulai mengantuk.


"Mommy..."


"Yes Arsya."


"Mommy sama Daddy jadi ke Belgia?"


"Memangnya kenapa Sya?"


"Asya ikut kah?"


"Memangnya Arsya nggak mau ikut?" tanya Zinnia lembut.


"Kata Oom Shin tadi, kalau Daddy dan mommy ke Belgia, Asya halus ikut bial tahu lumah Daddy."


"Mommy juga mau bertanya sama Arsya. Gimana kalau Arsya ikut dengan Mommy dan Daddy, liburan kesana? Kalau Arsya suka, kita akan tinggal disana..."


"Kalau Asya ga suka?" Mata biru Arsyanendra menatap ibunya.


"Arsya bisa kembali ke Indramayu sama mommy."


"Tapi nanti mommy dan Daddy malahan lagi."


Zinnia memeluk putranya. "Sayang, mommy dan Daddy tidak malahan. Kami lebih memikirkan Arsya gimana."


"Asya tidak mau belajal bahasa jelman."


"Arsya pakai bahasa Inggris saja tidak apa-apa." Zinnia mencium kening Arsya lembut.


"Mommy..."


"Yes sayang."


"Ada Opa Andrew. Arsya belum lihat papanya Daddy kan?" senyum Zinnia.


"Sepelti Opa Ayton?"


"Yes baby."


"Telus ada siapa lagi?"


"Ada Oom Greg, seperti Oom Gabriel. Lalu ada Bibi Sarah seperti Tante Jasmine tapi lebih tua."


"Mommy..."


"Ya Arsya."


"Kata Daddy, Asya boleh piala anjing dan kucing. Kemungkinan Asya bisa senang di lumah Daddy."


Zinnia tertawa kecil mendengar gaya bicara putranya yang mirip dengan Gasendra. "Ya ampun Sya, beneran deh! Oom-oom kamu keterlaluan influence nya!"


***


Zinnia terkejut ketika melihat Sean berada di dalam kamarnya.


"Kamu ngapain Sean?" tanya Zinnia sambil menuju meja riasnya.


"Tidur sini lah! Kamu tahu, kamarku dipakai Garvita karena semua kamar penuh." Sean melepaskan kaosnya dan Zinnia melihat tas suaminya sudah ada di kamarnya.


"Papa nggak protes?" tanya Zinnia sambil melakukan ritual malamnya dalam perawatan wajahnya.


"Justru papamu yang menyuruh aku tidur sini."


Zinnia menatap Sean dari kaca riasnya ke arah Sean dengan tatapan tidak percaya. "Apa? Papa kasih ijin?"

__ADS_1


"Kalau kamu tidak percaya ya sudah." Sean pun naik ke atas tempat tidur istrinya.


"Kalau begitu, aku tidur dengan Arsya." Zinnia pun bangkit dari duduknya menuju kamar putranya namun Sean lebih gesit untuk menggendong istrinya dan membawanya ke tempat tidur.


"Sean!" Zinnia menatap judes ke arah suaminya.


"Tidurlah bersamaku, disini."


"Hanya tidur Sean. Aku tidak mau kamu macam-macam!" Zinnia menatap tajam ke arah suaminya.


"Tidur Zee. Just sleep."


Sean langsung mencium bibir Zinnia namun ciuman itu berubah menjadi lima*Tan yang membuat istrinya mulai terhanyut. Dan ketika Sean hendak meloloskan gaun tidur Zinnia, istrinya memegang tangan suaminya.


"No Sean... Stop. Kita belum..."


Sean mende*sah kesal. "Damn it!"


"I'm so sorry..." Zinnia memandang wajah kecewa suaminya. "Aku tidak mau membuat papa kecewa lagi..."


Sean menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Zinnia yang berbau harum mawar. "Selibat lagi deh..."


Zinnia terkejut. "Kamu bisa menahan diri selama ini?"


"Hello to sabun dan tangan" jawab Sean sarkasme. "Aku mau melakukannya hanya padamu, Zee. Tidak ada wanita lain selain kamu."


Zinnia mengusap wajah Sean dengan lembut. "Terimakasih."


"Aku sudah melakukan kesalahan dan sangatlah bodoh jika aku menambah kesalahan lagi. Sudah pasti papamu tidak akan pernah memaafkan aku!"


"Oleh karena itu, meski papa kasih ijin itu berarti papa mengetes dirimu! Bisa tahan iman nggak." Zinnia beringsut agak menjauh dari suaminya.


Sean meletakkan tubuhnya dan menoleh ke arah istrinya yang menatap langit-langit kamarnya.


"Kamu tahu Zee, Arsya tadi bertanya padaku apakah boleh memelihara anjing dan kucing kalau di rumahku, sebab disini dia tidak bisa memelihara kedua hewan itu karena bik Minah alergi bulu binatang."


"Lalu? Apa jawabanmu?" Zinnia menoleh ke arah Sean.


"Aku bilang, kalau Arsya mau tinggal bersama dengan mommy dan Daddy di rumah Daddy, dia mau pelihara kucing dan anjing sebanyak apapun, aku kasih ijin."


"Astagaaa Sean, jangan memanjakan seperti itu! Arsya masih dalam tahap belajar..."


"Aku hanya ingin Arsya mau ke Belgia, Sayang."


"Aku juga sudah mengobrol dengan Arsya. Harus pelan - pelan Sean, karena Arsya masih harus adaptasi setelah berpisah lama denganmu."


Sean memiringkan tubuhnya dan menyangga kepalanya dengan tangan kirinya. "Apakah kamu juga butuh adaptasi denganku Zee?"


"Untuk apa aku harus membutuhkan adaptasi denganmu?" tanya Zinnia bingung.


"Siapa tahu kamu lupa bagaimana rasanya" seringai Sean.


Zinnia langsung menarik selimut dan memunggungi Sean. "Selamat tidur!"


Sean tertawa tapi langsung memeluk erat tubuh Zinnia dari belakang.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2