
Ketika subuh menghampiri, sayup-sayup Alcenna mendengar suara azan. Dia membuka matanya, lalu bangkit melakukan rutinitas seperti biasa, mandi dan shalat. Kepalanya sedikit sakit, karena semalam terlalu banyak menangis.
Pagi ini dia berjanji, akan menata hati, menata hidup. Ia tidak ingin berlama-lama patah hati dan dirundung sedih yang berkepanjangan. Masih banyak yang bisa ia lakukan. Masih banyak yang ingin diraih. Masih ada adik-adik yang harus diperhatikan. Semua dimulai dengan tidak mengukur kasur lagi ketika selesai shalat subuh.
Jodoh, maut dan rezeki sudah ada yang mengatur. Ibarat panggung sandiwara kita adalah aktor dan aktris yang harus menjalani apa yang telah di rencanakan sutradara. Di sini sutradara itu adalah Tuhan Yang Esa. Kenapa harus ragu, jika dengan makhluknya saja kita bisa memberikan rasa percaya.
Pagi ini Alcenna ada kunjungan ke beberapa toko dan supermarket di beberapa mall. Dia berjalan bersama seorang teman akrab. Dia menjabat sebagai leader dari PT sebuah produk susu terkenal. Putri namanya.
Alcenna termasuk sosok yang ceria dan luwes dalam bergaul. Namun walau begitu teman baiknya paling hanya tiga orang. Setelah bekerja Alcenna hampir tidak pernah bertemu dengan Marya. Mereka hanya berkomunikasi lewat udara saja. Itupun sangat jarang. Sedangkan satu temannya semasa SMP sedang melanjutkan kuliah di negri Jiran, Malaysia.
Sekarang Alcenna lebih sering jalan dengan Putri. Mereka sengaja mengatur banyak waktu yang sama untuk kunjungan ke toko.
"Cen ... kamu semalam menangis ya"? Akhirnya Putri bertanya setelah melihat mata sahabatnya yang bengkak. Padahal Alcenna sudah mengompresnya pakai kapas yang diberi air es tadi pagi. Ditambah memberi sedikit eyeshadow untuk menyamarkannya.
"Dibuang kekasih"? katanya jujur.
"Kekasih yang mana satu Cen?" katanya mengedipkan mata tanda dia lagi menggoda Alcenna.
"Menurutmu ... kekasih yang mana satu??? Jangan buat gosip yang tidak-tidak kamu Put!!" Sengaja Alcenna memasang wajah galak.
Putri tahu siapa kekasih Alcenna dan siapa yang lagi dekat dengannya. Kedua sahabat itu selalu berbagi cerita. Putri Andinni anak direktur dari PT dia bekerja. Dia memilih kuliah sambil bekerja. Walau anak direktur, dia rendah hati dan mandiri.
"Cen ... serius diputusi?" Putri tetap melontarkan pertanyaan sambil melangkahkan kaki menuju supermarket di sebuah mall.
"Yups ... nantilah saat makan siang ceritanya, nanti nangis lagi aku sambil jalan." Alcenna menampilkan wajah memelas yang dibuat-buat, membuat Putri terkekeh.
Sesampai di dalam supermarket, mereka berpisah menuju produk masing-masing yang dipajang di beberapa gondola, disewa oleh perusahaan. Ada yang disewa ada yang free.
Selain mereka mengecek barang pajangan, memantau SPG juga menjadi bagian tugas mereka. Seharusnya Alcenna tidak, karena jabatan dia merchandiser. Hanya saja seperti kesepakatan awal dengan pak bos yang minta bantu. Tak ada salahnya dia bersikap loyal pada perusahaan di tempat bekerja.
__ADS_1
Setelah beres mereka mencari pegawai back office untuk meminta stempel di kertas kunjungan sebagai bukti telah berkunjung dan menyelesaikan tugas.
"Makan di mana kita Cen?" Putri bertanya setelah keluar dari supermarket. Ketika itu jam baru menunjukan pukul 11.00 WIB.
"Hmm ... tak kecepatan ini kita mengisi kampung tengah?" Alcenna malah balik bertanya.
"Aku lapar. Lagian orang patah hati pasti stres, bawaannya mau makan," ujar Putri kembali mengganggu sahabatnya.
"Siapa juga yang stres. Sedih ada sih ... tetapi tidak sampai stres yaa. Kumbang itu tidak seekor ... patah tumbuh hilang berganti ... hmm lagian jalanku masih panjang ... ombak badaikan kuarungi, di samudra segitiga bermuda aku pasti hilang." Alcenna berkata dengan nada setengah berpuisi, diapun terkekeh geli sendiri dengan kalimat-kalimat yang diucapkan.
"Tuuu ... tuuu ... ciri-ciri orang stres ya seperti begini. Ceria berlebihan, cerewet berkelewatan, tidak sepertimu yang agak irit bicara."
"Masa sih?"
"Masak nasi saja kali." Putri menarik Alcenna masuk ke kafe makanan ala-ala jepang, yang sempat diprotesnya.
"Tanggal tua niii Put ... kamu mau buat adikku tak makan gara-gara aku tak bisa pesan dan bayar catering," ucap Alcenna. Catering memang dia bayar per hari. Jika mereka mengambilnya, karena ada kadang masa adiknya meminta makan bakso atau nasi goreng.
Pesanan datang dan mereka telah menyelesaikan misi, yaitu menyelamatkan kampung tengah dari serangan rasa lapar.
Terlihat gadis-gadis ceria itu masih ingin duduk-duduk cantik. Putri sibuk dengan handphonenya. Sedangkan Alcenna memanfaatkan status jomblo untuk cuci mata. Dia mulai mengedarkan tatapan secara perlahan.
Saat ini matanya sedang bergerilya. Dia sembunyi-sembunyi mencuci matanya. Tidak mungkin terang-terangan dia mau jelalatan.
Duugh ... duugh ....
Duugh ... duugh ....
Suara jantung Alcenna berpacu dengan cepat.
__ADS_1
Dia melihat mantannya masuk ke kafe ini bersama seorang wanita yang lebih tinggi dari dirinya, rambutnya panjang dan hitam legam. Cantik sih ... dia cuma menang dari kulit yang jauh lebih putih dari si wanita yang bersama sang mantan.
Alcenna mengangkat kepala sehingga matanya terang-terangan bertatapan, karena dia duduk berhadapan ke pintu kafe, maka dia punya kesempatan menantang mata mantannya secara langsung. Alcenna tak mau terlihat menyedihkan di depan pria yang baru dia kubur dalam hidupnya. Alcenna tak ingin terlihat menyedihkan, dengan membuang muka, maka dia akan terlihat kalah.
"Aku bukan Alcenna seorang gadis lemah. Dulu ... kemarin ... aku diam bukan berarti tak berdaya, hanya saja aku tak mau membuang energi untuk hal yang orang sudah tak menginginkan lebih." Kalimat itu memantul didinding-dinding hatinya. Memberikan motivasi pada dirinya sendiri.
Ketika Ardhan memilih duduk di sebelah kursi yang Alcenna tempati dan masih tetap menatap ke arahnya, Alcenna menyunggingkan senyum sinis nan dingin ke arahnya. Seolah dia mengolok sikap pengecut pria itu dari pandangan mata. "Inikah alasannya yang katanya belum siap itu!"
Bertepatan dengan itu, Putri melihat ke arah Alcenna dan melihat ekspresi teraneh yang sahabatnya berikan, terbukti secara perlahan Putri ikut menoleh ke arah Alcenna memandang.
Baik Putri mau pun Ardhan terlihat terhenyak, akan tetapi penyebabnya jelas dua hal yang berbeda. Jika Ardhan karena melihat ekspresi yang tidak pernah Alcenna perlihatkan sepanjang dia mengenal Alcenna, maka Putri karena melihat Ardhan bersama dengan wanita lain.
Alcenna juga sempat melihat wanita dihadapannya melihat ke arah dirinya. Ketika tatapan Ardhan ditujukan ke Alcenna, maka dia memutar bola matanya ke arah Alcenna lalu kembali melihat Ardhan.
Satu-satunya pertunjukan yang menarik dirasakan Alcenna, Ardhan seolah tak terganggu dengan tatapan wanita yang memilih duduk di depannya. Lalu Alcenna kembali memandang Putri dan berkata "Go sekarang? Atau sebentar lagi?"
"Sekarang saja yuk," kata Putri langsung berdiri, maka otomatis Alcenna ikut berdiri, dan sekali lagi Alcenna menolehkan wajah sembari melemparkan senyum mengejek yang tidak dia tutup-tutupi. Alcenna melenggang acuh diikuti oleh Putri keluar dari kafe.
Di luar mall ....
"Kamu tidak apa-apa Cen?" Nada khawatir Putri masuk ke gendang telinganya.
"Tak apa Put. Setelah puas menangis tadi malam, saat bangun pagi, aku sudah berniat menata hati Put ... akan tetapi sedikit apes. Salah berarti kata orang ya Put, yang mengatakan dunia ini tak selebar daun kelor, nyatanya dunia ini sempit. Sebanyak ini mall kenapa bisa jumpa." Bibirnya membentuk senyum kecut.
"Ya sudahlah yuk kita lanjut kerja saja. Kita fokus untuk masa depan yang lebih cerah." Putri memberikan semangat.
"Aamiin."
__ADS_1
**//**