Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Memecat Alcenna


__ADS_3

Alcenna memilih diam saja. Biar mereka sesama pria dewasa menyelesaikan di kamar rumah sakit ini, walau tidak pantas tetapi ada manfaat bos tersebut membayar mahal ruang VIP ini.


Bukan hanya untuk merawat fisik Alcenna, namun bisa mengobati hatinya dan menyelesaikan dua masalahnya sekaligus jika berjalan mulus. Selagi mereka tidak adu jotos dan berteriak-teriak seperti di arena laga.


"Apa maksud anda?" sekali lagi Arzon menegaskan maksud lelaki di depannya.


"Anda sudah dewasa seperti saya, tapi pemikiran anda tak lebih seperti gadis kecil yang sama-sama kita sayangi ini." Dia menunjuk Alcenna dan sekali lagi menyiram bensin.


"Anda mencintai Alcen?"


"Baru sadar anda?"


"Sejak kapan!" tanya Arzon.


"Sejak lama, jauh sebelum dia mengenal anda!" Eddyson membeberkannya.


"Alcen ... jadi ini maksud perkataan kamu tadi? Pria ini yang mau kamu nikahi?" Arzon malah menyerang gadis itu. Namun Alcenna masih marah dengannya. Alcenna tak anggap Arzon ada bicara. Gadis itu diam saja sambil memandangnya.


"Jawab Alcen ...." Arzon meminta kepastian dengan sedikit keras. Gadis itu tetap diam seribu bahasa.


"Saya harap anda jangan terpancing emosi dengan sikapnya!" ucap Eddyson.


"Anda tidak usah ikut campur. Saya bertanya pada gadis manja ini!"


"Anda tidak ingin kehilangan diakan? Harusnya anda bisa sabar dengan kelakuannya. Dia sudah berpikir lebih dewasa dari gadis yang sebaya dengannya yang ketika ini masih asyik bermain-main saja. Sementara dia sudah mulai menata masa depannya sambil membantu ekonomi keluarganya." Eddyson membela Alcenna.


Melihat Arzon terdiam, Eddyson kembali menyerangnya dengan kata-kata yang pedas, nadanya memang terdengar santai. "Jika anda tak bisa membahagiakan dia, maka lepaskan saja dia. Biar saya yang akan membahagiakan dia dengan cara saya sendiri, atau anda harus mengalah dengannya."


"Saya yang akan membahagiakan dia. Saya minta anda tinggalkan tempat ini dan jangan temui Alcen lagi!" Arzon meminta hal yang tidak mungkin pada Eddyson untuk tidak bertemu Alcenna.


"Hahahaha ...." Nada tertawa Eddyson penuh ejekan.

__ADS_1


"Kenapa? Ada masalah?" tanya Arzon menahan geram mendengar tawa penuh olokan pria di depannya.


"Jadi anda ingin saya memecat Alcenna? Apa anda sudah sanggup menikahinya dan membiayai hidupnya? Jika memang sudah, besok pagi saya akan pecat Alcenna!" Alcenna tetap diam saja. Dia percaya pada bosnya. Pria itu tidak akan memecat tanpa kesalahan yang tidak dia lakukan.


Pria arogan tetaplah pria arogan, Eddyson sempat-sempatnya memperkenalkan diri secara tidak langsung siapa dirinya.


"Jadi anda bos Alcenna?" Pertanyaan Arzon tak memerlukan jawaban lagi sebenarnya. Siapa lagi yang bisa memecat gadis itu jika dia bukan bosnya. Terbukti bosnya hanya tersenyum sinis.


"Anda tidak takut saya permalukan ke kantor?" Ancam Arzon. Alcenna tahu Arzon tidak akan melakukan tindakan bodoh itu. Alcenna tahu sifat Arzon.


Namun Eddyson tidak banyak tahu sifat pria di depannya. Ia sedikit banyak mulai terpancing emosi. "Anda mengancam saya? Anda tidak tahu siapa saya? Saya bisa membuat anda diberhentikan tidak hormat dan pikirkan. Jika anda berhenti, Alcenna jelas akan menjadi milik saya seutuhnya. Juga anak-anak yang harus anda biayai akan terlantar hidupnya!!" Bos Alcenna balik mengancam dengan lebih sadis.


Jika Arzon tidak akan serius lain halnya dengan bos Alcenna. Alcenna tahu dia tidak akan main-main dengan ancamannya. Dia saja bisa membuat Alcenna diawasi ke mana saja, apalagi cuma memberhentikan karyawan seperti kekasih Alcenna.


"Jika Bapak lakukan, aku akan membenci Bapak seumur hidup. Bapak tidak hanya akan menganiaya hidupku, tapi juga telah menganiaya hidup anak-anak tidak berdosa. Jadi lakukan jika itu kemauan Bapak," kata Alcenna pelan. Namun cukup membuat bosnya terpana mendengar pembelaan Alcenna pada kekasihnya.


Alcenna melanjutkan," Dan kamu Bang, jika kamu membuat malu bosku sama dengan kamu melemparkan kotoran ke wajahku! Namaku akan rusak di kantor dan dari mulut ke mulut akan semakin luas, cukup mantan istrimu yang membuat aku malu! Apa tak puas-puasnya kau mau mempermalukan aku!" Alcenna marah seketika teringat bagaimana mantan istri Arzon mencemarkan nama baik dirinya.


"Jadi sekarang, aku minta pada anda berdua, tinggalkan aku sendiri. Aku ingin keluargaku yang menjaga malam ini. Untuk Bapak ... aku berterima kasih, Bapak sudah sangat membantuku, memanjakan, dan mencintaiku dengan tulus. Aku sangat bahagia bisa mengenal Bapak, Bapak tidak pernah membuat aku menangis sedih." Alcenna menyindir Arzon dan sengaja memanaskan hati Arzon karena masih sakit hati.


"Aku minta Abang pulang dan penuhi janji Abang ke ayahku. Jika tidak bisa dalam 3 bulan ini selesai aku mau kita tidak usah melanjutkan hubungan ini dan kembalilah pada mantan istri mu!" kata-kata Alcenna membuat merah mukanya. Alcenna tak perduli dia malu atau marah. Hatinya masih sakit dengan kata 'kau' yang diucapkannya tadi.


Bos Alcenna memang sangat pengertian. Dia pamit duluan dan seakan memberikan ruang pada pasangan tersebut.


"Saya pulang, kabari saya jika pria ini memutuskan kamu atau tak sanggup menikahi dirimu." Sempatnya Eddyson melontarkan kalimat memprovokasi Arzon sebelum melangkah menjauh.


"Kamu mengkhianati abang Alcen?" Nadanya penuh tuduhan. Alcenna merasa semakin membenci sikap Arzon.


"Aku bukan pengkhianat sepertimu!"


"Lalu apa namanya, dia yang selalu ada buatmu!"

__ADS_1


"Kamu bodoh atau apa! Dia yang ada buatku bukan aku yang ada buatnya! Apa itu yang kau bilang khianat! Pikir sedikit kalau mau bicara."


"Aku tak bisa melarang orang suka padaku, melarang orang cinta padaku tapi aku masih bisa menolak orang yang mau menikahiku, sama seperti kau yang menolak aku!" Alcenna kembali mengeluarkan kata-kata sindiran pedas.


Arzon meremas kasar rambutnya. Dia sangat frustasi dengan kata-kata kekasihnya yang tidak ada lembutnya.


"Abang tanya sekali lagi padamu, apa kamu mencintainya?" katanya.


"Mungkin." Alcenna tak berbohong, karena dia juga tidak tahu pasti, ini cinta atau nafsu sesaat untuk menikmati perhatiannya.


"Mungkin apa IYA!" Arzon masih saja tidak bisa mengalah dan membuat rasa muak Alcenna meningkat.


"IYA, aku mulai mencintainya! Puas! Dia yang menanggung biaya rumah sakit ini. Dia selalu ada dan bisa mengalah denganku!" Alcenna membumbui kepalang tanggung.


"Kamu mau hidup dengannya?"


"Kamu tidak mau hidup denganku?" Alcenna membalikan pertanyaan itu kepada Arzon.


"Apa-apaan kamu Alcen ... sikapmu semakin arrogant seperti bosmu, apa karena sekarang merasa besar kepala karena ada yang begitu cinta padamu!"


"Kamu yang apa-apaan! Tidak punya perasaan mengajak aku ribut ditengah baru siap sakit dan ini masih di rumah sakit. Aku sudah cukup mengerti ketika masuk rumah sakit kamu di luar kota dan tidak bisa menemaniku. Apa kamu mengerti apa yang aku rasakan? Apa kamu tahu haa ... apa perasaan aku ketika diberi perhatian lebih, dicintai lebih namun aku tak berhak memilikinya! Apa kamu mengerti ketika begitu tidak sabarnya aku menanti kau datang untuk mencari keluar atas masalahku yang juga jadi masalahmu! Ada tak ngerti! Tidakkan!! Sesibuk apa kau di luar kota ha! Atau kau sibuk dengan perempuan lain lagi!!"


Seperti dia tersadar sesuatu, dia memandang kekasihnya penuh permohonan maaf. Dia mendekati bermaksud hendak merengkuh tubuh kekasihnya ke dalam pelukannya, namun sayangnya kekasihnya terlanjur sakit hati. Alcenna menepis dengan kasar. "Jangan sentuh aku, aku masih marah padamu! Pulang sana!"


Alcenna mengambil posisi membelakangi Arzon, berbaring menghadap ke jendela. Alcenna merasa Arzon menyelimuti tubuhnya dengan selimut rumah sakit. Alcenna diam dan tak menggubrisnya. Mencoba memejamkan mata dan meredakan gejolak emosi di dadanya yang tiba-tiba membuncah.


Dia mulai lelah dengan semua ini. Memikirkan mungkin memang tidak seharusnya bersama. Alcenna memilih untuk tidur agar besok bisa keluar dari rumah sakit ini. Alcenna masih merasakan dia berdiri di belakangnya, merasakan mengusap lembut rambut gadis itu.


Alcenna tak bisa menahan rasa yang bercampur aduk di hatinya. Dia akhirnya menyalurkan emosinya dengan mengalirkan air mata secara diam-diam.


"Maafkan abang, abang sudah melukai kamu begitu banyak. Abang tadi terbakar cemburu." Alcenna masih mendengar dia berbisik pelan di dekat telinganya, dia tetap diam dan membawa bisikan itu ke dalam tidurnya.

__ADS_1


**//**


__ADS_2