
"Jadi kamu gak ada jumpa sama Ardhan, Cenn?"
"Buka luka lama saja kamu ini Mar," sungut Alcenna.
"Tapi aku pingin kau nostalgiLa dengan mantan semata wayangmu itu. Ada gak jumpa atau tahu kabarnya?" Tanpa merasa berdosa Marya mendesak Alcenna.
"Setelah putus, aku gak ada kabar ...." Alcenna sengaja menjedah kalimatnya melihat reaksi Marya.
"Kok kamu yang kecewa, harusnya aku, hahaha." tawa Alcenna melihat reaksi wajah Marya yang kecewa.
"Bukannya gitu, banyak novel kubaca ketemu lagi sama mantan, masamu gak?" katanya antusias karena baca novel.
"Ada aku ketemunya," ucap Alcenna.
"Haaa, adakan, apa ceritanya?" Marya jadi bersemangat.
"Kepohhh ihhh ...." ucap Alcenna lucu. "Aku ketemu dia pas pelatihan di Jakarta. Aku sungguh gak sangka satu pesawat bahkan satu hotel dengannya___"
"Wow satu hotel, ngapain aja kalian?" tuduh Marya bercanda.
"Satu hotel ya NONA, bukan satu kamar!" maki Alcenna.
"Ohhh iya ya," jawab Marya dengan garuk-garuk kepalanya.
"Terus tuh?" lanjut Marya bertanya.
"Ya aku menikmati waktu dengannya selama seminggu, kebetulan aku sudah kenal sama suamiku, dan lagi berantam juga. Jadi aku ngawur saja pada nganggur pada waktu itu, hehehe."
"Dasar gila," kata Marya.
"Tu apa perasaanmu? jujur!!"
"Kau mau dengar curhatan hatiku? Mana tahu setelah aku cerita hatiku plong," tawar Alcenna.
"Cerita, jujur!!"
"Aku sebenarnya sangat senang, bahagia Mar. Bertahun hubunganku dengannya, tidak pernah aku sesenang itu. Aku menikmati waktu bersamanya, rasa nya walau tidak banyak, terbayar sedikit luka hatiku yang ditorehnya. Terakhir memutuskanku dan saat aku melihat dia dengan wanita lain sehari setelah memutuskanku, Mar ...." Alcenna berhenti, mengembuskan kembali nafasnya dengan kasar. Dia meminum jusnya.
Marya masih diam dan menunggu curhatan hati Alcenna. Lalu terdengar Alcenna melanjutkan ceritanya.
"Namun aku harus cepat pandai menekan mimpiku, aku membuat mekanisme pertahanan diriku sendiri. Aku seperti biasa saja. Aku sengaja memberi batas padanya untuk tidak membahas masa lalu. Cukup aku menikmati seminggu ini dengannya."
"Takut terluka?" lagi-lagi Marya main door langsung.
"Iya, aku takut tersakiti. Saat aku menata hati setelah dua kali diputuskannya. Bagiku dia hanya masa lalu. Aku tak mau muluk-muluk lagi dengannya. Tak mau berharap Mar. Sakit rasanya dikhianati ketika kita mencintai seseorang. "
__ADS_1
"Lalu setelah itu tak ada kontak?"
"Ada, beberapa kali dia kontak aku, tapi aku sambut sebiasa mungkin. Aku tutup rapat hatiku, aku tak ingin dia tahu isi hatiku. Jujur andai dia mengucapkan kembali dan mengajak aku menikah saat itu, aku pasti melepaskan bang Arzon, Mar. Aku cinta padanya," ucap Alcenna sedih, akhirnya satu buliran bening meleleh di kedua pipi putihnya nan mulus.
Alcenna melanjutkan, "Namun aku tak ingin memperjuangkan kekasih yang ada wanita lain. Sama seperti sekarang. Aku sudah tak ingin memperjuangkan suamiku, Mar. Aku tak bisa jika sudah soal wanita lain. Aku bisa memaafkan apapun kesalahan orang yang aku cinta, tapi tidak soal ada wanita lain. Sekali dua aku bisa memaafkan Mar, namun kali ketiga, aku tetap memaafkan. Hanya saja cinta di hatiku sudah tak ada untuknya. Ini yang kurasa sekarang pada suamiku. Dia tidak sekali dua ada saja wanita lain, walau aku tak pernah serobok langsung seperti sama Ardhan." Alcenna diam.
Marya mengambil kesempatan ini untuk bertanya, "Lalu kenapa kamu masih bisa cinta sama Ardhan?"
"Dia dulunya tidak pernah aku tahu ada wanita lain, terlepas dari aku tidak tahu atau kedapatan. Wanita yang aku temui setelah dia memutuskanku, itu kali pertama aku tahu dan aku yang berspekulasi sendiri itu wanitanya. Aku tidak bisa membuktikan dan aku sudah tak ingin tahu saat itu. Yang jelas kamukan tahu dia tidak ramah pada banyak wanita."
"Iya, sama aku aja walau dia nyapa, namunkan dingin saja nadanya," kata Marya.
"Itulah dulu kenapa aku begitu percaya padanya, aku yakin dia tidak mata keranjang. Namun aku tidak sangka dia meninggalkan aku Mar."
"Kamu masih berharap padanya?" Marya kembali menanyai Alcenna.
"Kalau aku mau berharap Mar, dari dulu aku terima penjelasannya dan mau diajaknya menikah. Aku sudah tak berani berharap sejak malam itu Mar. Biarlah dia jadi masa laluku saja. Apalagi beberapa hari yang lalu aku ketemu dia di kota ini, di mall S," kata Alcenna, sukses membuat bola mata Marya membesar.
"Ya aku ketemu dia, yang membuat aku miris, dia bersama wanita yang terakhir aku lihat dulu___"
"Apaaa ...." teriak Marya.
"Yoi, dia bersama wanita itu, bisa membuktikan bahwa dia memang dengan wanita itu dulu dan mungkin kini sudah menikah sama itu wanita," ucap Alcenna dengan senyum masam.
"Bukan hanya disapa, tapi dia membayar makanan kami dan meninggalkan aku duit sekita setengah juta di kasir, hehehe."
"Wooow ... bisa jadi ATM berjalan donk," kata Marya.
"Kalau aku mau ada lagi seorang yang mencintai aku juga dan kalau aku mau sampai saat ini bisa jadi ATM berjalan. Namun aku tak mau manfaati orang takut sial hidup aku. Tak tahunya sial gini juga hidup aku, duit tak dapat cinta pun tidak," rutuk Alcenna.
"Siapa pula yang satu tu?"
"Bos aku dulu, banyak uangnya yang termakan olehku, bahkan perhatiannya."
"Lalu kenapa gak dengan dia saja kalau tak jadi sama Ardhan?" Marya penasaran.
"Suami orang ahahahaha," tawa Alcenna pecah. Rasa bahagia dan rasa miris berpadu dalam tawanya.
"Kalau sama Arzon toh awalnya suami orang jugakan?"
"Beda kasus, aku tahu bos aku suami orang, tapi aku tak tahu bang Arzon suami orang. Bosku pun mintanya aku jadi istri kedua. Aku tak sanggup karena aku masih gadis," ucap Alcenna seperti ambigu di telinga Marya.
"Maksudmu sekarang karena kamu sudah gak gadis kamu mau?"
"Pada pening kali kepala aku, jika dia tiba-tiba datang dan ngajak aku nikah, aku tinggalkan saja suamiku. Aku tak menemukan arti berumah tangga, selain tempat munculnya masalah dan masalah. Jadi kalaupun aku sama bos akukan masalah juga. Setidaknya plus dia, dia tak pernah menggoreskan luka di hatiku. Ahhhh cerita si bos aku jadi rindu perhatian dia." Alcenna tersenyum manis mengingat betapa perhatian bosnya.
__ADS_1
"Tu mana dia?"
"Tak tahu, ada di Jakarta kali. Sejak dia pindah dan aku mutusi menikah, tak ada kami saling komunikasi."
"Hmmm paling sudah lupa dia sama kamu Cenn, ibarat pungguk merindukan bulan kamu nanti!" tegas Marya.
"Ya bisa jadi, tapi pesan terakhir dia, kalau tak bahagia jadilah istri kedua dia hahahaha," tawa Alcenna terdengar lagi. Entah apa yang dia rasa dibalik tertawanya.
Marya hanya geleng-geleng kepala, itu tak lepas dari perhatian Alcenna. Diapun bertanya, "Napa geleng-geleng dari tadi lagi, angguk angguk sekali-sekali."
"Tragis juga kisah cintamu. Ada yang cinta, punya orang, tapi aku sangat yakin Ardhan cinta mati samamu," Marya masih ngotot dengan pemikirannya.
"Iya biar sajalah. Dia cinta aku mati karena cintanya. Hahahaha."
"Kamu ini, paling bisa cari alasan."
"Aku mau jadi air mengalir saja," senyum Alcenna.
"Dari dulu kamu memang seperti air mengalir, tenang ... tapi menghanyutkan apa saja yang jatuh ke dalamnya." Tawa Marya tersembur, membuat Alcenna cemberut.
"Jangan sediih. Ada masa kamu akan bahagia."
"Asal jangan bahagia di atas penderitaan orang terus," ungkap Alcenna.
"Cenn, yang ini aku minta maaf sebesar-besarnya, jika tak mau tak payah dijawab dan jangan marah ya?" Marya mewanti-wanti sebelum bertanya.
"Apa."
"Kamu menikah karena dendam?"
"Iya! Awalnya begitu lalu aku yakin tidak karena itu. Tapi sekarang setelah semuanya terjadi, sepertinya iya lagi," kata Alcenna seperti baling- baling bambunya dora emon.
"Gadis plin-plan!"
"Tak gadis lagipun," bantah Alcenna.
"Wanita plin-plan," Marya mentertawakan sahabatnya.
"Aku pulang ya, terima kasih sudah dengar curhatan hatiku bahkan menjamuku, tak bisa aku balas jasa-jasamu," lebay Alcenna.
"Lebay!"
Mereka pun tertawa, seakan masing-masing lupa akan masalah yang ada. Indahnya persahabatan mereka. Tak ada kisah-kasih yang lebih indah selain kisah-kasih di sekolah. Setelah berumah tangga semua jadi kisah sedih yang tak terkira.
**//**
__ADS_1