Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Akad Nikah Alcenna


__ADS_3

Jika kemarin jauh di seberang pulau seseorang yang pernah mengisi hati dan hari Alcenna melangsungkan akad nikahnya.


Hari ini di rumah mama Ningrum Alcenna akan melangsungkan akad nikahnya. Alcenna akan membangun hidup barunya dengan suami barunya. Semua sanak family sudah berkumpul. Kecuali keluarga Alcenna hanya, Sammy, Azarine dan Ibu. Alcenna bukan dari keluarga besar. Bahkan Robby juga telah duduk di belakang Sammy. Putri menemani Alcenna di kamar Alcenna.


Rumah mama Ningrum mulai terlihat ramai, Eddyson sudah duduk di depan penghulu. Alcenna masih di kamar. Setelah Eddyson selesai mengucapkan akad nikah baru Alcenna akan didudukan di sampingnya.


Eddyson menggunakan jas model double breasted. Kemeja putih sebagai dalaman dari jas hitamnya. Menambah kegagahan tubuh jangkungnya dan kulitnya yang termasuk putih untuk ukuran pria.


Eddyson yang biasa terlihat tenang sedikit gelisah. Papa Eddyson yang ada di sampingnya dan mamanya yang duduk dibelakangnya di temani besannya dan Azarine. Sammy duduk berseberangan dengan Eddyson. Dia duduk disamping penghulu. Sammy adalah wali nikah dari Alcenna. Disamping penghulu dan Sammy ada dua orang lelaki yang jadi saksi.


"Kamu grogi ya Son?" bisik halus papanya.


"Iya Pa," singkat saja jawabnya.


"Bisa juga anakku yang mukanya selalu datar tanpa ekspresi grogi segini besar." Eddyson justru terlihat grogi dipernikahan keduanya.


"Iya Pa, itu karena aku sudah tidak sabar ingin menjadi suaminya," ucap Eddyson beralasan. Papanya hanya tersenyum.


Lalu akad nikah mulai digelar, tibalah saatnya Eddyson menyambut tangan Sammy dan berjabat tangan mengucapkan akadnya.


"Saya terima nikah dan kawinnya, Alcenna binti Moswen dengan sebentuk cincin dibayar tunaiii," ucapnya lantang. Dan suara gemuruh menjawab SAH pun berkumandang.


Alcenna yang mengikuti prosesi dengan melalui video call dengan Azarine, tak tahan meneteskan air mata bahagianya. Alcenna tak putus mengucapkan syukur, atas semua nikmat yang diterimanya. Kini dia sah menjadi istri Eddyson. Belum lagi kebaya pengantin yang begitu dia impikan semasa gadisnya melekat indah di tubuhnya. Kebaya pengantin yang tidak berharga fantastis namun begitu fantastis ditubuh indahnya.


Alcenna menolak ketika mama Ningrum hendak memesan gaun yang mahal. Menurutnya itu hanya perbuatan mubazir karena terlalu berfoya-foya. Resepsi yang dilakukan niat awal mamanya hanya untuk memberi tahu bahwa mereka sudah menikah. Agar tidak timbul fitnah bagi warga sekitarnya. Berbekal itu Alcenna bisa menolak halus mamanya. Namun hal itu justru menjadi nilai plus dimata mama Ningrum.


Alcenna dibimbing turun untuk duduk di samping Eddyson guna melanjutkan prosesi lebih lanjut. Kini Alcenna dengan muka yang merona duduk di samping Eddyson yang telah resmi jadi suaminya. Make-up yang tidak begitu tebal mampu menutup wajah meronanya.

__ADS_1


Alcenna diminta salaman dengan Eddyson menjawab dia menerima pernikahan ini dengan ikhlas tanpa paksaan. Lalu setelah membaca sighat taklik. Sepasang suami istri yang bukan muda lagi namun jauh terlihat segar dari pasangan muda pada umumnya, mulai menyalami kedua keluarga terutama pada orang tua mereka. Peluk cium diterima Alcenna dengan haru, jauh merasa lebih haru dari pernikahan pertamanya.


Jika dulu di pernikahan pertama keluarganya yang paling banyak hadir, kini keluarga Eddyson yang banyak. Mereka tak ada yang menolak Alcenna. Mereka juga sangat senang Eddyson bisa membangun hidup baru.


Para tamu dan undangan yang hadir di akad nikah dipersilahkan menikmati hidangan yang ada. Sementara sepasang pengantin dibawa ke kamarnya untuk memperbaiki riasan dan mengganti baju gaun putih pengantin. Alcenna menolak memakai baju-baju adat. Alasan dia, lebih simple satu gaun saja. Acara resepsi hanya sampai jam 5 sore. Itu cukup hanya satu gaun saja.


Awalnya mama Ningrum berkeras ingin memakai baju adat melayu dan jawa. Di sini mamanya dapat melihat sikap keras hati yang dikatakan anaknya.


Alcenna sempat merajuk dan mengatakan, "Kalau banyak-banyak ganti baju, mending akad nikah sajalah Ma. Alcenna benar tak kuat kalau begitu." Walau dia berucap dengan nada perlahan. Namum tak ada bisa dibantah sedikitpun.


Manusia memang mahkluk yang unik, karena mama Ningrum sangat menyukai menantunya, tak ada kesal di hati mamanya. Malah mamanya tersenyum melihat sendiri sikap keras hati menantunya yang telah dianggapnya putri sendiri jauh saat Eddyson membawa berkenalan dengan mereka.


Mama Ningrum menyadari mengapa Eddyson bisa tunduk pada gadis itu. Selain karena rasa cintanya pada Alcenna. Sikap Alcenna yang tidak monoton dianggap sebagai pelengkap di hidup anak mereka yang kaku. Alcenna yang kadang manja kadang menyebalkan dengan sikap keras hatinya justru membuat hari Eddyson dan mama Ningrum sendiri berwarna.


Dulu Shinta mana mau membantah perkataan mamanya. Walau mama Ningrum tahu Shinta tidak menyukai pilihan mama Ningrum, Shinta tak pernah protes.


Alcenna telah siap berganti gaun putih pengantinnya. Eddyson tetap menggunakan baju yang dipakainya pas akad nikah.


"Cantik sekali kamu sayang?" ucap Eddyson tanpa ada niat jahil pada istrinya.


"Cantik donk. Secara istri bos gitu," gurau Alcenna. Walau dia tidak bisa menutupi debar dadanya.


"Mas gemas lihat muka seperti itu, tidak sabar rasanya bersama olahraga denganmu sekarang juga," ucap Eddyson dengan sensual.


Alcenna yang paham ke mana gurauan Eddyson hanya mengacungkan kepalan tangannya yang sudah terbungkus dengan sarung tangan cantiknya.


"Ayo kebawa, sudah makin ramai dan para tamu akad nikah sudah ingin bersalam dengan menantu cantikku ini," tiba-tiba mama Ningrum sudah menyusul dan memuji dengan menggebu-gebu. Eddyson hanya tersenyum tanpa ada rasa iri hati. Dia malah senang istrinya malah sangat disayang oleh mamanya.

__ADS_1


Eddyson dengan mesranya menggenggam tangan istrinya saat turun dari lantai atas kamar mereka. Rumah mama Ningrum memang bertingkat.


Tak bisa dipungkiri mata yang memandang mereka dengan berbagai ekspresi itu membuat Alcenna sedikit tak nyaman. Alcenna memang belum terbiasa di keramaian dalam sebuah acara.


Eddyson berbisik dengan menggoda gadisnya, "Ramai orang saja kamu merasa canggung sayang? Apalagi nanti kalau kita berdua saja?" ucapan Eddyson yang jelas penuh godaan membuat Alcenna malah gemas, dan tanpa sadar dia mencubit lengan Eddyson dengan kuat.


"Awww sakit loh sayang, kejamnya dirimu," ucapnya lagi. Interaksi mereka terlihat oleh orang tua masing-masing yang juga begitu merasa suprise melihat mereka di atas pelaminan. Jika ibu Alcenna berpikir anaknya akhirnya bisa menggapai kebahagiaannya. Mama Ningrum bahagia memikirkan rumahnya yang besar menjadi berarti dengan acara ini.


Rekan bisnis yang selama ini melihat wajah kaku Eddyson tak menyangka melihat interaksi Eddyson dengan istri barunya. Banyak mereka yang terkejut dengan acara resepsi ini. Mereka banyak yang tidak mendengar perceraian Eddyson. Eddyson tidak peduli dengan reaksi mereka. Dia hanya peduli pada reaksi gadisnya yang kini sudah jadi istrinya.


"Aku memang canggung Mas, tapi aku tahu aku harus terbiasa agar kamu gak malu membawa aku kejamuan acara kantor," ucapnya yakin. Eddyson tersenyum. Dia yakin Alcenna mampu berbekal dari pengalaman, usia dan basic pendidikannya.


"Mas yakin itu, dan Mas akan ada buatmu. Siapa yang berani sama kamu hadapi Mas dulu.


"Alcenna tertawa renyah. Tawa yang membuat bahagia, ibunya, papa Hans dan mama Ningrum-nya.


Ketika ada tamu yang salaman, wajah Eddyson kembali datar walau senyum terima kasihnya masih terus terlukis. Alcenna yang menyadari itu kumat juga sifat usilnya, "Wajah itu bisa tidak dikondisikan jangan sampai orang nyangka Bos Besar punya kepribadian ganda??" bisiknya penuh olokan.


Eddyson gemas dikatakan punya kepribadian ganda. Dia siap-siap melontarkan balasan namun mama Ningrum turun sebagai front pembela Alcenna.


"Coba ganggu menantu mama! kamu dilihat relasi kamu tuh!"


"Biari Ma, kalau di kantor cobalah mereka main-main. Walau dia melihatku seperti ini tidak akan soal kerja Ma!" tegas Eddyson.


"Nanti saja ganggu menantu mama di kamar saja, itu bisa membuahkan hasil," ucap mamanya sambil bergurau namun penuh harap. Begitu juga diam-diam dengan ibu Alcenna. Alcenna sendiri banyak-banyak mengucapkan doa. Semoga ada perubahan dari jalan hidupnya yang lalu.


**//**

__ADS_1


__ADS_2