Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Penuh Rahasia


__ADS_3

Setelah mengenalkan pada orang tua Alcenna, Mereka kembali ke kota. Hari-hari hampir selalu ditemani olehnya. Tanpa disadari, Alcenna yang biasa mandiri mulai bergantung dan manja pada Arzon.


Alcenna sangat bersyukur bisa mengenal sosoknya. Sosok yang penyayang dan penyabar.


Hanya saja semakin serius hubungan mereka, Alcenna baru merasa ada yang sedikit ganjil sama Arzon. Sejak semakin serius dalam menjalin hubungan, di kepala Alcenna baru terlintas sebuah pertanyaan kenapa dia belum menikah sampai seusia itu. Dulu Alcenna hanya menjalani harinya tanpa berpikiran terlalu banyak.


Sampai pada suatu hari Alcenna tak tahan dengan rasa penasaran. Saat itu mereka makan bakso di sore hari. Alcenna sudah tak bisa menahan rasa penasarannya. Dia akhirnya memutuskan bertanya, "Bang ... ada yang aku ingin tanyakan ...." dia langsung to the point.


"Mau tanya apa?" kata Arzon tenang.


"Aku sebenarnya penasaran terakhir-terakhir ini tentang status Abang. Apa benar Abang belum menikah?" Alcenna bertanya tanpa ragu.


"Kenapa tiba-tiba Alcen melontarkan pertanyaan demikian?" terdengar nada yang penuh selidik dari Arzon. Tetapi Alcenna memilih mengabaikan.


"Kenapa? Memangnya tidak boleh? Wajarkan jika aku penasaran, di usia matang Abang belum menikah?" Alcenna balik bertanya dengan memberikan alasan.


"Siapa yang bilang tak boleh sayang." Kembali nada suara Arzon terdengar lembut dan santai.


Alcenna semakin tidak sabaran karena tidak kunjung mendapat jawaban. "Abang kenapa seakan penuh rahasia? Apa yang Abang tutupi dariku?"


"Rahasia apa?" Alcenna tidak sadar, Arzon sengaja menggoda supaya gadis itu menjadi emosi. Sudah jadi kebiasaannya mencari cara supaya Alcenna marah. Aneh tapi nyata, itulah sifat Arzon terhadap Alcenna.


Alcenna yang tak tahu menahu dengan niat Arzon, tentu saja tersulut emosi. Apalagi dia sedang penasaran sekali. "Ya mana tahuuu ... namanya juga rahasia." Alcenna sudah pasang wajah yang tidak enak dipandang.


Bukannya menjawab atau marah melihat gadis itu mulai naik darah, yang ada dia malah menampilkan deretan giginya yang berderet rapi, putih dan senyum yang membuat Alcenna sangat senang didekatnya.



"Ada isu ya soal abang?" Masih dengan nada yang memancing emosi gadis itu.


"Sok jadi seleb deh! Jawab saja kenapa? Jadi benarkan sudah menikah? atau sekarang Abang duda??" Kembali gadis itu bertanya dan melontarkan tuduhan tak beralasan.


Sambil tertawa Arzon membuka dompet dan mengeluarkan KTP-nya. "Lihatlah apa yang sayang tuduhkan itu benar atau tidak?" katanya sambil menyodorkan KTP-nya.


Alcenna mengambil dan memperhatikan data pribadi. Di sana tertera tidak kawin dan alamat rumahnya. Sesuai dengan yang dia katakan ketika Alcenna menanyakan dia tinggal di mana.


Walau Alcenna sudah tahu rumahnya, tak ada keinginan untuk main ke rumah. Cukup bagi dia selalu ada di hari-hari dan mengunjungi dia. Sedikit terdengar egois tetapi begitulah adanya dengan sifat gadis itu.

__ADS_1


Alcenna masih memperhatikan identitas Arzon, sampai dia bersuara, "Bagaimana sayang? Apa ada yang masih tersangkut di hatimu?"


"Kenapa sudah kepala 3 Abang belum menikah?" Alcenna malah menukar pertanyaan.


"Ya belum dapat jodohnya. Makanya kakak abang juga bertanya sama seperti Alcenna tanya."


Gadis tersebut tak berkomentar apa pun. Dia sodorkan kembali KTP tersebut dan menyeruput minuman teh es yang dipesan tadi. Pembahasan selesai sampai di sini. Arzon mengantarkan pulang.


***


"Hallo Bang ...." kata Alcen menahan rasa sakit di pinggang kirinya."


"Ya, ada apa? Alcen kenapa?" Dia merasa nada Alcenna yang tak seperti biasa.


"Bang ... bisa ke rumah, pinggang kiri Alcen rasanya sakit sekali." Suara Alcenna terdengar semakin serak karena mulai terisak menahan rasa sakit.


"Iya, abang sekarang juga ke sana."


Alcenna menangis karena rasa sakit di seputar pinggang kiri menjadi. Alcenna sebenarnya sudah mulai merasa sakit selama seminggu ini. Akan tetapi dia coba tidak terlalu merasakan. "Kak, apa yang sakit?" Tiba-tiba kedua adiknya sudah di kamar.


Alcenna hanya meringkuk sambil menangis memegang perut sebelah kiri. Entah mana yang sakit, dia sudah tak dapat membedakan dititik mana yang sebenarnya sakit. Dia hanya merasa nyeri di sekitar pinggang dan perut kiri.


"Apa yang sakit?" Terdengar suara Arzon menanyakan dengan tidak terdengar panik. Azarine bergeser memberi ruang kepada Arzon untuk berada di dekat tepi tempat tidur. Alcenna hanya menangis memandangnya sambil tetap meringkuk memegang pinggang kiri.


"Dek kita bawa saja kakak ke rumah sakit. Cepat ganti baju kalian dan abang tunggu kalian di mobil ya." Sambil mengajak Sammy dan Azarine, dia meraih Alcenna ke dalam pelukannya dan mengangkat.


***


"Jadi Alcen sakit apa Dok?" Arzon bertanya kepada dokter setelah melalui beberapa pemeriksaan.


"Untuk sementara belum bisa kita pastikan sampai besok setelah kita lakukan cek labor oleh dokter ahlinya, namun dari analisa sementara kemungkinan Nona Alcen bermasalah di ginjal sebelah kirinya."


"Ginjalnya Dok?" Arzon memastikan pada dokter.


"Baru kemungkinan, bisa jadi batu empedu atau batu ginjal. "


"Memang beda Dok?" tanya Arzon kembali.

__ADS_1


"Beda Pak, batu empedu terjadi karena endapan mineral sedangkan batu ginjal terjadi karena endapan limbah darah."


"Ohhh begitu, okelah Dok kita tunggu sampai besok pagi." Santun dan tenang suara lelaki tampan itu.


"Baiklah sementara rawat inap dulu malam ini. Nona Alcen sudah diberi suntik pereda nyeri," dokter kembali menerangkan kepada Arzon.


"Iya Dok terima kasih," ucapnya.


"Alcen istirahat dulu ya, abang panggil Sammy dan Azarine dulu. Mereka sangat mencemaskan keadaan Azarine tadi," kata Arzon sambil mengusap lembut pipi Alcenna. Alcenna mengangguk dengan senyum dipaksakan.


Saat masuk ke ruangan, adiknya langsung melontarkan pertanyaan. "Gimana keadaan Kakak?" adik-adiknya bertanya secara serempak.


"Alcenna hanya senyum tipis saja. Walau rasa nyeri tidak seperti tadi tapi dia malas membuka suara.


"Kakak kalian tidak apa-apa, besok baru bisa tahu hasilnya setelah cek labor. Tapi malam ini harus rawat inap dulu." Arzon seolah paham gadis itu malas bicara dan menggantikan menerangkan pada adik-adiknya.


"Ohhhh syukurlah, jadi siapa yang jaga kakak di sini?" Azarine bertanya sementara Sammy hanya diam saja.


"Biar abang saja, besok pagi Azarine harus sekolah dan Sammy juga harus kuliah. Abang bisa minta izin libur besok karena kakak kalian harus cek labor juga."


"Ohhh ... baiklah Bang, begitu juga lebih bagus." Sammy yang menjawab.


"Ya sudah, mari abang antar kalian pulang dulu," katanya kemudian.


"Bagaimana kalau kami berdua naik taksi saja Bang, mana tahu nanti kakak ada yang dibutuhkannya." Azarine memberikan masukan.


"Tak apa-apa ni malam-malam naik taksi?" Terdengar nada khawatir Arzon. Sungguh hati Alcenna bahagia mendengarnya. Dia tidak hanya menyayangi gadis itu tetapi juga adik-adik yang sangat gadis itu sayangi.


"Tak apalah Bang, ada Bang Sammy. Kecuali Azarine sendiri iyalah mungkin takut Bang." Azarine menegaskan.


"Iya Bang," kata Sammy ikut mendukung Azarine.


"Baiklah kalau begitu hati-hati ya di jalan, nanti sudah di rumah kabari Abang," ucap Arzon sambil mengeluarkan dompetnya dan memberi mereka dua lembar uang lima puluh ribuan buat ongkos taksi.


"Iya Bang, makasih ya Bang," kata Azarine dengan santun.


"Kami pulang Kak, besok kami ke sini lagi," kata Azarine sambil melambaikan tangannya. Alcenna hanya memberi senyum kecil padanya.

__ADS_1


**//**


__ADS_2