
Eddyson dan Alcenna kini telah kembali ke Jakarta. Alcenna tidak boleh membuat kue. Dia harus banyak istirahat untuk sementara waktu.
Pagi ini di kantor Eddyson ....
"Pak, ada yang mau saya lihatkan sama Bapak. Saya takut jika saya beri tahu dari kemarin akan mengganggu pikiran Bapak," ucap Robby.
"Apa itu? Ohh ya apa kamu ada yang terlewat memberi tahu saya perihal Alcenna masuk rumah sakit?" selidik Eddyson.
Robby paham, "Ini menyangkut Alcenna yang mau saya lihatkan."
Robby mengambil flasdish dari saku celananya. Dia memberikan pada bosnya. Eddyson mulai mencolokkan ke laptop dan membukanya. Eddyson jadi tahu apa penyebabnya. Namun tak ada amarah lagi di hatinya. Arzon sudah meminta maaf dan melepaskan Alcenn.
"Saya sudah ketemu sama mantan suaminya," ucap Eddyson. Dia ceritakan dengan singkat. Robby jadi paham.
"Sidangnya saja dipercepat. Saya bisa mati menderita menahan diri setiap dekat Alcenna Rob," ucap Eddyson lagi. Eddyson tak tahu malu. Namun Robby sudah sangat paham soal perilakunya jika soal Alcenna.
" Iya Pak, di usahakan dua kali sidang sudah kelar."
"Wow fantastis. Semoga iya Rob."
***
Hari dijalani dengan kesibukan aktifitas masing-masing. Walau Alcenna seakan tak putus perhatian. Baik dari Robby, Putri apalagi dari Eddyson. Mereka seakan sukarela menemani perjalanan hidup Alcenna.
Kini tak terasa waktu telah dua bulan berlalu. Akta cerai Alcenna telah keluar. Eddyson mulai menagih janji pada Alcenna.
Malam ini Eddyson mengajak Alcenna dinner disebuah kafe ternama di kota ini.
"Sayang, Mas menagih janjimu. Kapan kita menikah?" katanya to the point tak ada romantis-romantisnya. Alcenn ada kesalnya juga tidak sesuai dengan ekspetasinya. Namun dia tidak mau egois dengan semua yang telah dilakukan Eddyson.
"Terserah Mas saja, Mas yang atur. Aku kira tadi lamarannya romantis," ucap Alcenna terbuka.
"Hahahah ... kamu terlalu banyak nonton drama korea itu sayang. Mas bisa romantis jika di kamar bersama kamu," ucap Eddyson menggoda gadisnya.
Alcenna langsung bersemu merah. Pikirannya memang langsung berpetualang. Eddyson semakin jadi menggoda Alcenna.
"Apa yang kamu hayalkan Cenn? Jangan bilang kamu berpikir mesum? Hahaha," tawa renyah Eddyson lagi-lagi terdengar.
"Ihhh siapa juga yang mesum, bukannya itu pikiran Mas?" tuding Alcenna kembali.
__ADS_1
"Kalau Mas tidak pernah memikirkan mesum sayang. Bagi Mas kamu sangat berharga. Mas tidak mau mengotori cinta kita dengan berpikir mesum kepadamu. Hanya saja jika didekatmu Mas memang kesulitan menahan diri. Maka Mas tidak bisa lama-lama lagi sayang. Ayolah kita menikah." ucapnya membuat Alcenna ingin tertawa dan ingin menangis bahagia.
"Uruslah sama Mas, tapi setidaknya pakai cincin melamarnya. Gak perlu intan berlian. Cincin emas putih pun jadilah."
Eddyson mengeluarkan cincin yang sudah di siapkannya. Dia menyematkan di jari kanan Alcenna. "Kamu senang sayang?"
"Senang banget Mas." Sebentuk cincin mas putih yang simpel telah melingkar indah di jari gadisnya. Eddyson tahu, Alcenna tidak penggemar intan berlian. Alasan dia yang simpel lebih menempel pas dijarinya tanpa menonjol.
"Mari kita menikah sayang, mari kita bangun keluarga kita dan mas akan memuja kamu sepanjang hari sepanjang sisa hidup mas."
Andai Shinta yang mendengar bisa jadi dia cemburu. Eddyson tidak pernah begitu romantis padanya.
"Iya Mas," ucapnya. Warna merah muda sudah menjalar dipipi putihnya. Ini yang membuat Eddyson ingin cepat hidup dengan Alcenna. Dia begitu ingin merengkuh gadisnya.
"Mari kita jumpai orang tua mas ya, kamu siap?" Alcenn mengangguk dengan yakin. Alcenna memang tak ingin dikenalkan dari awal. Namun Eddyson sudah cerita semua pada orang tuanya.
***
Malam besoknya Alcenna diajak berjumpa dengan orang tua Eddyson.
"Ayo sayang, apa kamu grogi?"
"Tapi wajah kamu sering memerah jika sama mas?" usil Eddyson.
"Itu karena Mas selalu mengantarkan hawa panas, sehingga Alcenn menahan emosi!" tangkis Alcenna dengan memutar balikkan fakta.
"Hahahaha ...." Eddyson tergelak. Tepat ketika ibunya membukakan pintu. Ibunya cukup mendengar tawa bahagia anaknya. Rasa sayangnya langsung menjalar ke Alcenna. Dia jadi sangat yakin jika wanita yang kini berdiri dengan santun adalah wanita yang tepat untuk anaknya.
"Ma, apa kabar?" kata Eddyson menyalami mamanya dan diikuti Alcenna.
"Masuk dulu, nanti tertawa kamu mengganggu tetangga," sindir ibunya. Eddyson kembali tertawa. Ibunya seperti ketularan sikap gadisnya. Suka menyindir.
"Hahaha, Mama jadi seperti Alcenna, suka nyindir," ucapnya. Alcenna hanya tersenyum malu.
Mereka menuju ruang tamu, papanya sudah menanti. Mereka bersalaman seperti menyalimi mamanya Eddyson tadi.
"Duduk Nak, ucap ayah Eddyson pada mereka berdua. Baru mau duduk, Eddyson ditarik oleh ibunya, "Kamu dekat papamu, mama yang dekat menantu mama!" tegasnya. Hati Alcenna begitu menghangat. Dia merasa seperti didekat ibunya yang lembut.
Eddyson tak urung pergi juga duduk didekat papanya. Keriput yang mulai terlihat di wajah ayah-ibunya membuat Eddyson sadar betapa orang tuanya sudah banyak terabaikan karena kesibukan keluarga dan pekerjaannya. Dia ingin bisa lebih banyak didekat orang tuanya bersama Alcenna nantinya. Dia berharap Alcenna tidak menolak.
__ADS_1
"Sayang, Eddyson sudah banyak cerita. Mama sebenarnya sudah lama ingin bertemu. Kata Eddyson kemaren tunggu kamu siap. Jika kamu siap maka akan ke sini. Berarti sekarang kamu sudah siapkan sayang?" ucap ibu Eddyson mengebu-gebu.
"Iya Ma, siap. Maaf membuat Mama dan Papa jadi menunggu Alcenn," ucap Alcenn santun. Tidak sia-sia ayah-ibunya mendidik dia dari kecil dengan sopan santun yang hakiki.
Hati ibu Eddyson sempat berdesir mendengar ucapan Alcenna yang begitu santun. Rasa sayangnya semakin menjadi. Apalagi beliau tidak mempunyai anak perempuan.
"Oww Nak, mama sangat mencintaimu. Bagaimana orang tuamu mendidik sehingga kamu begitu santun. Sungguh Mama bahagia mengenalmu sayang," ucap ibunya Eddyson terharu bahagia.
Alcenna juga menangis, perasaan sungguh mengharu biru. Alcenn berkata, "Terima kasih Mama sudah mau menyayangi Alcenn segini rupa. Alcenn bahagia Ma. Jika Alcenn salah tegurlah Alcenn sebagai putri mama sendiri bukan sebagai menantu ya Ma," ucap Alcenna lembut penuh pengharapan. Sepintas Alcenna terbayang masa lalunya. Sempat membuat jantungnya berdebar. Namun dekapan lembut dan sayang mama Ningrum malah membuat Alcenna rileks.
"Iya Nak, pasti mama lakukan." Ibunya Eddyson melepaskan pelukannya. Beliau menyangka Alcenna hanya tegang sesaat ketika merasakan Alcenna yang tegang dan akhirnya rileks di dalam pelukan mama Ningrum.
"Ayo kita makan Ma, aku tak ingin gadisku kelaparan setelah Mama buat menangis," canda Eddyson yang membuat kedua orang tuanya terperangah. Dia tidak pernah melihat anaknya bersikap begitu rileks dan tanpa malu menggoda wanitanya di depan mereka.
Ayah dan ibu Eddyson saling pandang. Rasa bahagia terpancar di raut wajah tua mereka. Alcenna dilihat telah tertunduk malu. Eddyson tak pernah bosan tanpa tahu malu menggodanya baik depan ibunya sendiri maupun depan ibunya Alcenna.
Ayah Eddyson telah berdiri, mereka mengikuti ke ruang makan. "Apa kamu sering digodanya sayang?" bisik Mama Ningrum. Jiwa ingin tahunya meronta.
"Iya Ma, anak mama dari dulu suka ngusili Alcenn," bisik Alcenn. Mama Ningrum dapat melihat wajah Alcenn yang kembali merona. Mereka telah duduk di kursi makan. Eddyson bisa melihat muka gadisnya yang merah jambu.
"Ma, sudah ya ingin tahunya. Mama jangan mengusili gadisku lagi Ma, cukup aku saja," sifat posesifnya mulai kumat. Hal itu lagi-lagi membuat takjub orang tuanya. Seakan Eddyson bukan anak mereka yang kaku dan datar.
Kini papanya yang penasaran. Dia yang duduk di samping Eddyson berbisik, "Apa kamu sudah begitu lama jatuh cinta pada gadis muda itu?"
"Dari dia gadis sampai menjanda Pa. Tapi aku juga masih muda Pa, jangan Papa bilang aku tua, selisi umur kami hanya 12 tahun." Eddyson protes.
"Kamu bilang 12 tahun itu sedikit?"
"Sedikit itu, yakan sayang? Mas gak terlihat tuakan kalau jalan sama kamu?" Eddyson cari pembelaan.
Alcenna hanya menggeleng. Membuat Eddyson tidak puas. "Jangan hanya menggeleng donk sayang. Katakan yang jelas sama Papa."
"Sudah, ayo makan. Mau punya anak kok malah kelakuan ikut jadi anak," ucap mama Ningrum yang hanya di aminkan oleh Alcenna dalam hati. Semoga dia bisa mendapatkan buah hatinya kali ini.
Eddyson langsung memandang cemas. Dia tahu soal anak masih masalah yang sensitif untuk dibahas. Namun dia lega melihat ekspresi Alcenna yang santai. Bahkan ada pengharapan di sana.
**//**
***Jika rasanya ada sebuah rasa yang hadir dihati para readers... bolehlah ya meninggalkan jejak π£π£π£komen, like and vote. Gift cantiknya asyik juga jika diriku terima πππππ
__ADS_1
NovelToon yang belum versi terbaru bolehlah upgrade ππ karena diriku baru upgrade juga ternyata banyak perubahan tampilannya ππ***.