Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Buah Hati Eddyson-Alcenna


__ADS_3

Suatu malam ....


"Maas, sakit." Alcenna menahan ringisannya. Dia kembali merasakan kontraksi. Sudah dua hari ini Alcenna sering terjerit menahan sakit. Eddyson dengan sigap bangun dan menelfon supirnya untuk menyiapkan mobil dan membawa ke rumah sakit. Eddyson sedikit lebih memahami dari Alcenna. Alcenna diperkirakan akan segera melahirkan. Alcenna sudah sering mulai mengatakan sakit sebelum tidur tadi. Hari sebelumnya Alcenna juga ada mengeluh. Jika prediksi Eddyson tidak meleset bayinya akan segera lahir.


Eddyson memang sudah stanbay berberapa hari ini. Alcenna sudah sering mengeluh perutnya kontraksi dan sakit. Namun Eddyson belum mau membawa Alcenna. Dari pada bolak-balik ke rumah sakit. Eddyson memilih stanbay dirumah dan memantau istrinya terus. Kini waktunya dianggap tepat oleh Eddyson.


Walau terasa sakit alang kepalang. Alcenna hanya banyak istighfar dan meminta sakitnya sedikit berkurang. Keringat mulai membanjiri dahinya. Eddyson menyeka dengan kasih.


"Sabar ya sayang, banyak istighfar dan tasbih," ucap Eddyson menutupi kegelisahannya dan ada sedikit ketakutan dihatinya.


Mereka telah sampai di rumah sakit,


Papa dan mama sudah disana. Begitu kakak ipar pertama Eddyson. Dia jauh lebih respek pada Alcenna. Dia tidak punya adik perempuan. Kemanjaan Alcenna padanya membuat dia merasa sebagai kakak.


Alcenna sudah ditangani dokter dan suaminya menantikannya. Suaminya menemani dengan tenang.


Jam menunjukkan 23.05 wib...


Alcenna merintih dalam hatinya menahan sakit yang hilang timbul, "Ya Allah rasa sakit ini yang ingin aku rasakan. Kini engkau sudah mengabulkannya. Aku tidak boleh banyak mengeluh. Kuat aku ya Allah melewati semua ini. Aku pasrah padamu," doa Alcenna dalam hati, air mata ikut mengiringi doanya.


"Sakit sayang? sabar ya ... semua bisa mas gantikan namun bagian ini tak bisa karena kodratmu. Hamil, melahirkan dan menyusui mas tidak bisa gantikan hanya bisa membantumu saja sayang. Kamu nikmati saja ya rasa sakitnya. Nanti jika mereka sudah keluar mas akan bantu kamu jaga anak-anak kita dan akan kasih tahu agar tak menyakiti mamanya lagi," ucap Eddyson penuh penghiburan. Alcenna merasa menjadi lebih kuat.


Jika dulu dia hanya mereka-reka saat menonton film, apa yang dirasakan aktris yang berperan hendak melahirkan. Kini dia tahu sakitnya melahirkan. Dia tersenyum pada suaminya dan berkata, "makasih Mas. Love U."


"Love u too kesayangan Mas," ucap Eddyson sambil mengecup punggung tangan istrinya. Perasaan bahagia yang membuncah dengan sifat dan kata-kata suaminya mengurangi sakitnya.

__ADS_1


Kini ketika pukul menunjukkan jam 2 dini hari, "Oeeeek ... oeeekk..." tangisan bayi terdengar lantang dan keras. Seakan menantang kerasnya dunia. Dunia yang semakin penuh dengan orang-orang kejam. Dunia yang penuh tipu daya. Dunia yang selalu dicari oleh penghuninya, melebihi mencari kehidupan akhiratnya.


Satu suara kemudian mengikuti tangisan sang bayi, "Oeekkkk ... oeeekkk," tangisannya lebih lantang dan keras dari tadi, seakan meminta dia tidak ditindas oleh dunia dan dengan kakak kembarnya sendiri.


Ya Alcenna mendapatkan dua titipan dalam satu rasa sakitnya. Alcenna melahirkan anak kembar. Hari-hari yang dia lalui dimasa kehamilannya yang terasa sama berat oleh wanita yang mengandung anak kembar, kini sirna mendengar dua tangis buah hatinya. Buah hati Eddyson-Alcenna.


Mama dan yang lain menunggu akhirnya mendapatkan kabar bahagia, kedua cucu dan mama cucunya dalam kondisi sehat walafiat. Hanya seperti ibu dan bayi lain, mereka dipisah untuk sementara. Ibunya di bawa keruang perawatan. Bayinya di letakan dikamar khusus bayi.


Mereka melihat dua bayi mungil yang tenang dibox bayinya masing-masing. Namun tadi sempat terjadi sedikit kehebohan. Dua bayi mungil itu seakan berlomba untuk unjuk suaranya. Mama dan menantu istri pertama anaknya yang menunggu Alcenna panik melihat dari balik kaca. Apalagi saat perawat tidak berhasil menenangkannya.


Kakak ipar Eddyson langsung menuju ruang rawat inap dan memberi tahu dengan berbisik. Eddyson yang takut Alcenna risau mengatakan terus terang, "Mas tinggal kamu sama mbak ya sayang. Anak kita sepertinya ingin mas yang menidurkannya," kata Eddyson tenang dan lembut. Memberikan Alcenna rasa nyaman.


"Ok Mas," jawabnya tenang. Dia percaya pada suaminya.


"Biarkan saya masuk dan menenangkan bayi-bayi saya!" tegasnya.


"Maaf Pak, bayinya belum boleh di bawa keluar dan bapak juga tidak bisa masuk dalam ruangan," ucapan dari perawat terdengar sopan dan lembut. Namun tangisan bayinya yang tak kunjung reda membuat Eddyson meradang.


"Kamu bisa tanggung jawab jika anak saya kenapa-kenapa, panggil pemilik rumah sakit ini sekalian jika kamu masih mau melarang saya! bentaknya dengan emosional.


Eddyson tidak peduli, dia menerobos masuk dan meminta perawat yang sedang memegang anaknya menaruh kedua anaknya dalam gendongannya. Perawat itu hanya melihat kawan shifnya yang tadi menemui Eddyson. Kawannya mengangguk.


Kini dua bayi itu sudah ditangan ayahnya, seolah itu yang diinginkannya. Tangisannya langsung hilang. Mama dan papa Hans yang melihat merasa tenang. Begitu juga abang Eddyson yang dipaksa istrinya untuk mengantar kerumah sakit, dia begitu takjub melihat keponakannya langsung adem ayem ditangan ayahnya.


Eddyson berbisik pada anaknya, "Sabar ya anak-anak papa. Besok ketika kalian dan mama sudah boleh pulang, papa akan gendong kalian setiap malam. Ok sayang. Sekarang tjdak boleh lagi ya buat keributan. Kasihan teman kalian yang lain sayang. Mereka mau bobok cantik, seperti kamu dan mama lakukan ketika papa kerja," ucap Eddyson merayu anaknya.

__ADS_1


Perawat yang tadi sempat kesal karena dibentak Eddyson kini justru merasa bahagia melihat interaksi bayi-bayi mungil itu dengan papanya.


Eddyson meminta perwatan mengambil satu anaknya dan meletakkan didalam box bayinya. Dia meletakkan satu anaknya dengan tangannya sendiri. Dia pamit dan mengecup putra-putri mungilnya.


"Maafkan saya!" katanya tegas dan datar. Tanpa menunggu jawaban dia keluar dan mengajak papa-mamanya dan abangnya kekamar vip Alcenna.


"Bagaimana Mas?" tanya Alcenna.


"Aman. Mas sudah bilang mas akan jaga anak kita. Dia mau menunggu ayahnya menggendongnya baru mau tidur," ucapnya bangga.


"Yeelaah tu," kata Alcenna.


"Enak Mbak punya anak kecil ini, minta donk sama Mas lagi Mbak," ucap Eddyson memanasi abangnya. Masih ada kekesalan hatinya saat masnya meragui hubungannya dengan Alcenna.


"Aku mau Ed, tuh ponakanmu pada tak mau."


"Sudahlah biar sikembar saja yang jadi fokus mereka, nanti perhatian untuk sikembar tersita kalau ada yang kecil lagi," ucap mama bercanda.


"Kejam Mama ya sejak punya menantu cantik ini," ucap menantu tuanya.


Mereka hanya tertawa. Papa dan abang dan kakak ipar Eddyson pamit pulang. Mama meminta izin menunggui Alcenna. Papa Hans mengizinkannya pada melihat muka cemberut istrinya yang lagi berbunga-bunga.


Itulah contoh yang diambil anak-anak papa Hans. Walau bagaimanapun berusaha untuk mengalah pada istrinya. Begitu juga Eddyson dulu. Walau tak mungkin dia berusaha mengalah dan sabar.


**//**

__ADS_1


__ADS_2