Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Di Balik Sakit.


__ADS_3

"Iya, siapa suruh Bapak menghilangkan wibawa bos jutek."


"Biar saja. Biar kamu tahu, sifat asli calon suamimu ini bagaimana." Tanpa beban lidahnya mengatakan.


Alcenna hanya menggeleng kecil. Dia merasa semakin sakit jiwa jika meladeni ucapan bosnya.


"Aku mau ke pajangan produk kita Pak. Bapak silahkan ke ruangan pimpinan supermarket." Nada Alcenna setengah memerintah. Dia menangkap gelagat, bosnya akan mengikuti ke rak pajangan produk. Biasanya dia hanya mempercayakan pada Alcenna.


"Ada yang kamu sembunyikan di supermarket ini, sampai saya tidak boleh ikut kamu ke rak pajangan." Nadanya serius, membuat Alcenna mau tertawa lepas.


"Apaan sih Pak. Malulah sama karyawan di sini kalau mereka dengar. Bisa-bisa aku dibilang main gila sama bos sendiri." Alcenna berkata pelan. Bosnya memang mengikuti sampai ke rak pajangan produk-produk mereka.


"Bilang saja, bukan main gila, bosnya yang sudah gila."


Alcenna tak meladeni dan menuju rak pajangan. Menyapa beberapa orang yang dia kenal. Alcenna tak menggubris bosnya.


"Pak ...." sapa SPG mereka yang sedang bertugas. Bos mereka hanya mengangguk kecil dan dingin. Dia tegak dengan melipat memperhatikan interaksi Alcenna dan SPG yang kebetulan sedang bertugas shift pagi.


"Rin, apa rak dan produk-produk ini tidak jadi kamu bersihkan, seperti permintaan kakak minggu lalu?" tanya Alcenna hampir berbisik. Alcenna tak ingin bosnya mendengar.


"Maaf Kak, Ririn lupa." Ririn memang agak pembangkang jika diberi perintah. Alcenna memang lagi menimbang-nimbang untuk melaporkan dan memecatnya.


Alcenna sudah cukup banyak mendapat pengaduan dari pihak supermarket. Jika tidak bersama bos yang memang orang pabrik langsung, ingin Alcenna mendamprat gadis manis itu.


"Sekarang cepat kamu ambil troli, kain lap dan bongkar barang ini. Siapa yang mau membeli, jika produk kotor dan berdebu begini!" Alcenna memerintah dengan tegas namun suaranya masih terdengar pelan.


Ririn bergerak cepat berlalu dari sana. Walau tidak ada bos, jika Alcenna sudah bersuara dingin, Ririn cukup takut dengan Alcenna. Dia tahu Alcenna orang kepercayaan bos.


"Urus SPG kamu, saya ke ruangan manajer dulu. Jangan kamu telan hidup-hidup SPG-mu. Saya baru tahu, kamu lebih ganas dari saya di lapangan." Bosnya berlalu sambil tersenyum puas. Ada nada bangga ada nada bercanda ditangkap Alcenna.


Alcenna mempunyai kesempatan untuk menegaskan Ririn. Ketika Ririn kembali, dengan cepat Alcenna membantu Ririn membongkar barang.


Selesai membantu, Alcenna berkata," Kamu jika mau masih kerja, tolong serius Rin. Alasan apa yang kamu bilang lupa tadi. Mana di depan bos lagi. Semoga dia tidak mendengar alasan tak masuk akalmu!"


"Iya Kak, maaf."


"Kakak tak mau tahu ya Rin, sekali lagi kakak melihat seperti ini. Kakak akan cari SPG lain, dan kamu terlalu sering tidak masuk! Jangan kamu kira, kakak tak dapat laporan dari pihak sini. Kakak diam karena kakak masih menimbang kamu!"


"Iya Kak." Ririn sadar salahnya. Alcenna hampir tak pernah marah pada para SPG, jika dia marah, berarti mereka telah banyak melakukan beberapa kesalahan.


Lalu ....


"Ayo Cen, dan kamu, jika masih ingin di sini, tolong serius, manajer telah melaporkan pada saya. Saya menganggap tidak pernah menerima laporannya, karena Leader kamu belum melaporkan. Saya lebih percaya pada Leadermu!" Ririn mengangguk kecil dan Alcenna menyesali ketidaktegasan pada Ririn dari jauh hari.


Di Mobil ....


"Mau makan di mana?"


"Saya tak mau makan Pak." Alcenna menolak hati-hati. Tiba-tiba dia tidak berselera dan merasa sakit di pinggangnya.


"Kenapa? Kamu sakit?" Alcenna menggeleng mencoba menutupi.


"Ya Allah sakit sekali. Kenapa kumat dalam keadaan begini ya Allah," Alcenna membatin.


Tanpa banyak bertanya, bos Alcenna memasangkan sabuk pengaman dan melarikan mobilnya. Alcenna memejamkan mata menahan sakit di pinggangnya. Dia tak bisa berpikir banyak dan menyerahkan pada tindakan bosnya.


***


Alcenna terbangun dan mencium bau antiseptik yang kuat. Dia melihat sekeliling dan hanya ada bosnya.


"Pak, jam berapa?" Dia bertanya dan menahan sedikit rasa sakit.

__ADS_1


"Jam 2 siang," jawab bosnya di samping ranjang rumah sakit.


"Saya kenapa Pak? " Alcenna ragu, apa benar sakit lamanya kambuh.


"Kamu benar tidak tahu ... apa menyembunyikan sakitmu dibalik wajah ceriamu?" katanya setengah mengintimidasi Alcenna. Alcenna balas hanya dengan menggeleng.


"Ginjal sebelah kirimu bermasalah."


"Jadi benar kambuh lagi."


"Keluargamu tahu?" Sekali lagi Alcenna menggeleng. Dia tak ingin banyak cerita soal sakit yang pernah ada. Merasa sudah sembuh total dulunya.


"Istirahatlah dulu. Saya ingin kamu rawat inap di sini sampai cek lanjutan dilakukan."


Alcenna tahu ini rumah sakit mahal. "Saya tak sanggup bayar Pak, juga tak ingin menyusahkan ibu. Kalau Bapak bersedia dicicil tak apa rawat di sini Pak." Alcenna merasa bersedih. Dia tak ingin ibunya sedih mendengar semua ini dan memikirkan biaya lebih.


Bosnya duduk di samping ranjang. "Kamu tidak pernah percaya sama saya." Wajahnya begitu serius menatap Alcenna.


"Saya tak ingin hutang budi dengan Bapak. Saya takut tak bisa membalas perasaan dan kebaikan Bapak," gadis itu tertekan.


"Sudah tak usah berpikir terlalu jauh. Fokus saja dengan kesehatanmu. Adik kamu sudah saya kasih tahu dan sebentar lagi ke sini."


"Iya Pak ...." Tak banyak bantahan.


"Saya tinggal balik ke kantor dulu, nanti malam saya ke sini dan besok kita lakukan cek lengkap." Kata-kata yang tak bisa dibantah.


"Ya Pak."


"Satu lagi, cari alasan dengan calonmu. Saya tak ingin dia menunggu kamu atau bertemu dengannya dan saya sudah katakan kepada adikmu jangan memberi tahu calonmu dan orang tuamu," ujar bos Alcenna sebelum dia melangkah keluar ruangan.


"Kenapa kamu semakin posesif Pak. Apa alasan yang harus aku katakan."


"Kak ... kenapa?" Azarine baru sampai dan menangis melihat kakaknya menggunakan selang infus dan terlihat menahan sakit.


"Kakak jangan bohong lagi. Bos kakak sudah cerita sakit kakak, tapi katanya jangan bilang ayah-ibu dan juga bang Arzon. Bos kakak yang akan mengurus semuanya. Azarine diminta menjaga kakak." Azarine memegang tangan kakaknya yang tidak diinfus. Alcenna hanya diam.


"Kenapa abang gak boleh tahu Kak? Apa bos kakak cemburu?" Azarine memang tahu ceritanya.


"Mungkin bukan itu Dek ... tapi gak ngerti kakak." Alcenna memaksakan sebuah senyum untuk menenangkan hati Azarine.


"Tuh aman Kak?"


"Aman, tenang saja Dek. Cuma apa alasan sama abang ya dek?" Alcenna bingung dan meminta pendapat Azarine.


"Nasib kakak baik, dibalik rasa sakit kakak."


"Maksudnya Dek?"


"Abang tadi nelfon kakak, tapi gak diangkat, mungkin pas kakak dibawa bos kakak ke rumah sakit. Abang pesan dia tiga hari ini ada tugas luar kota jadi gak bisa datang ke rumah. Nanti malam abang janji telfon lagi."


"Cek saja telfon kakak, kata abang dia juga sudah kirim sms buat kakak. Abang mengira, kakak lagi dijalan bawa motor. Maka gak angkat telfon." Azarine menambahkan.


"Nanti sajalah Dek."


"Kak ...." Azarine terlihat ragu hendak meneruskan.


"Ada apa Dek? Bilang saja, jangan ragu."


"Rumah sakit ini kan mahal," kata Azarine pelan, takut melukai hati kakaknya.


"Iya Dek, kakak tahu. Tadi sudah bilang juga, hanya saja, bos kakak janji bayari. Kakak mau minta pulang rencananya."

__ADS_1


"Cinta kali sama kakak ...."


"Cinta yang tidak boleh dimiliki."


"Iya ya kak."


"Bang Sammy tahu?"


"Tahu Kak, nanti malam ke sini."


"Tuh, Arin dah makan?"


"Belum sih kak, tadi cuma makan mie saja. Kakak gak nelpon orang kateringnya, jadi mana di antar," kata Azarine pelan.


"Lapar?"


"Lumayan sih Kak, tapi gak apalah Kak. Nanti saja."


"Ambilah uang di dompet kakak, beli nasi."


Baru Azarine mau berdiri, bosnya datang dengan dua tentengan di tangannya. "Saya belikan pizza dan nasi padang. Saya tidak tahu selera kamu," katanya datar saja pada Azarine.


"Makasih Pak," kata Azarine dengan senang hati. Alcenna hanya memperhatikan dalam diamnya.


"Bapak katanya mau balik kantor?"


"Ini saya langsung balik, tadi takutnya adikmu belum makan."


"Jaga kakakmu ya, jangan biarkan calonnya yang kekanakan itu tahu. Nanti kakakmu diajaknya balik." Lagi-lagi dia menghujat Arzon.


Azarine hanya terlihat senyum simpul dan setelah bosnya benar berlalu. "Ngapain kamu tersenyum Dek, calon abang iparmu dihina gitu?"


"Bos Kakak lucu, jutek tapi baik hati. Sebenarnya betul Kak." Alcenna mencium hawa-hawa pembelot dari Azarine.


"Jangan bilang kamu mau membelot ya!"


"Gak Kak, benar yang bos kakak bilang. Kalau tahu, pasti diajak pindah rumah sakit hahahhaa." Dia tertawa renyah tanpa beban lupa pada derita kakaknya yang terpasang selang infus.


"Bagus kamu makan lagi Dek, pada ikut-ikutan membela."


"Kakak mau apa?"


"Pizza tu saja. Sedikit saja."


Azarine menaikan sedikit bagian kepala ranjang. Agar lebih mudah untuk disuapi. "Biar kakak pegang sendiri potongan pizza-nya."


" Makanlah Kakak dulu, nanti beserak pula." Azarine mulai menyuapkan potongan pizza, lalu dia memberikan segelas air putih.


"Makasih Dek." Dia balas dengan mencium pipi kakaknya.


"Mau Azarine rendahkan lagi kak di bagian kepala ranjangnya? "


"Nanti sajalah Dek, capek kakak berbaring. Kakak ingin bersandar. Makanlah lagi, tinggalkan abang mu pizza-nya ya."


***


Malam hari ....


**//**


Malam harinya saya bobok cantik dulu ya readers terkasih. Saya mau halu dulu sama bos cakep saya. 😀😘😍

__ADS_1


**Bacanya tak pakai baper ya say, ini cuma fiktif. Tetapi kalau baper, bintang satu mohon tak diberi ya say. 😢


Terima Kasih 🙏🙏**


__ADS_2