
Siap mandi Alcenna baring-baring di sofa menggantikan Putri yang sedang mandi. Alcenna mendengar ponselnya berbunyi, dan si bos yang memanggil.
"Halloo ...." Alcenna menjawab dengan pura- pura malas.
"Bisa gak nadanya jangan pura-pura malas gitu," ujar bosnya paham saja kelakuan Alcenna.
"Tahu saja dia, dasar pria berpengalaman," umpat batin Alcenna.
"Kamu sudah siap mandi Cenn?" tanya Eddyson.
"Sudah donk Pak, sudah bisa jalan-jalan kita," kata Alcenna dengan bersemangat.
"Jalan saja ingatanmu, ke sini sebentar ke kamar saya."
"Isss ... iisss ... mau ngapain Bapak?" tanya Alcenna dengan curiga.
"Pikiranmu itu yang ke mana-mana, kalau saya mau aneh-aneh ngapain saya izinkan kamu pergi sama Putri."
"Ya itu Bapak mau apa?"
"Kamu pandai sekarang membantah ya, cepat sini," ucapnya penuh perintah. Lalu mematikan teleponnya.
Alcenna bersungut-sungut saat telfon diputus sepihak, bertepatan dengan Putri keluar dari kamar mandi. Lalu kata Putri, "Ngapain kamu cemberut Cen?"
"Aku disuruh ke kamar si bos bentar."
"Ciee ... cie ...."
"Jangan mikir aneh-aneh kamu ya. Kata bos kalau dia mau macam-macam ngapain diizinkan ajak kamu," ucap Alcenna dengan cepat menerangkan keadaan.
"Kamu tu yang aneh. Jelas aku cuma bilang ciee, weks," ucap Putri sambil menjulurkan lidah pada Alcenna.
"Sebentar ya."
"Ya kalau lama, bisa mati jenuh aku di kamar hotel," ujar Putri.
"Telfon sana mas Robby, dia boleh juga tuh. Tampan plus lembut." Alcenna menyarankan ide gila pada temannya.
"Malas."
"Ya sudah tunggu saja sebentar, lagian kenapa pula aku harus lama."
***
Tok ... tok ... tok ....
"Ngapa Pak?" kata Alcenna tanpa basa-basi dan ikut masuk. Alcenna memilih duduk di sofa. Bosnya memilih duduk di tepi ranjang.
"Kamu gak rindu pada saya?" jelas sekali nadanya mau mempermainkan Alcenna.
"Gak ...."
"Kamu gadis yang gak berperasaan." nadanya hanya pura-pura marah.
"Isss apalah Bapak ni. Bapak ngapa manggil saya?" ucap Alcenna serius.
"Kamu benar sudah gak ada yang terasa sakit?" ucapnya juga ikut serius.
"Gak ada Pak, makasih ya Pak."
"Ingat juga kamu bilang makasih sama saya."
"Hmmm, perasaan kemaren ada deh ngucapin juga."
"Bukannya perasaan kamu gak ada kalau untuk saya."
"Ngajak ribut Bapak ni?" tanya Alcenna bercanda
"Hahaha ... emang kamu gak stres kalau dua pria yang kamu idolakan perang dingin denganmu," Eddyson menyindir Alcenna sama Arzon yang lagi perang dingin.
"Bukan pria yang aku idolakan Pak, tepatnya pria yang mengidolakan gadis muda nan cantik ini," Alcenna dengan percaya diri memuji dirinya sendiri.
"Hahaha ... percaya diri sekali kamu."
"Ya harus lah Pak, tanpa itu mana bisa kita maju dalam hidup."
__ADS_1
"Kalau soal itu saya akui kamu cerdas, tapi soal cinta kok gak ada cerdas-cerdasnya kamu ya."
"Berisik ahh Pak."
Sepersekian detik Eddyson hanya diam. Dia memandang Alcenna, namun Alcenna tak mengerti arti pandangan Eddyson. Alcenna hanya bisa diam menunggu apa yang ingin dikatakan.
"Cen ... saya ingin tanya untuk terakhir kalinya. Tak perlu kamu jawab sekarang, namun pikir dulu dengan logika dan perasaanmu."
"Perihal menikah dengan Bapak?" kata Alcenna duluan menyambar pertanyaan bosnya.
"Iya."
"Pak ___" ucapan Alcenna terpotong.
"Tak usah jawab sekarang. Kamu nikmati saja dua hari di Jakarta ini. Besok saja kalau kita sudah pulang kamu kasih jawaban."
"Apa beda sekarang dan besok Pak?"
"Mungkin memang tak ada bagimu. Bagi saya ada. Saya ingin menikmati kebersamaan bersamamu untuk terakhir kalinya."
"Maksud Bapak?"
"Tiga bulan lagi kamu akan menikah dengannya bukan?"
"Bisa jadi Pak," ucapan Alcenna tiba-tiba tidak pasti. Bukan karena dia ragu pada dirinya sendiri, justru dia ragu pada Arzon.
"Jawabanmu kentara sekali kamu ragu dengan keputusanmu. Apa tidak kamu pertimbangkan lagi perasaan saya?"
"Bukan pada diriku Pak, namun pada dirinya."
"Jika kamu hendak menikah secepatnya dengan dia, hanya karena ingin menghindari saya, jangan lakukan lagi. Saya tak akan membuatmu bingung dan dalam masalah lagi."
"Maksud Bapak, Bapak tak akan mencintai saya lagi?" Ada sedikit rasa sakit, sesak di hati Alcenna. Hati manusia memang serakah.
Alcenna hanya mendengar bosnya tertawa, lalu dia beranjak dari tepi ranjang dan berjalan ke arah gadis itu. Bos gadis itu ikut duduk di samping Alcenna.
Lalu ucapnya, "Kamu kira cinta bisa hilang begitu saja. Kamu ini memang masih bau kencur." Eddyson mengacak gemas rambut gadis itu.
"Maksud Bapak apa? Hilangkan deh kebiasaan bilang bau kencur, kalau saya di desa usia segini sudah tiga anak Pak."
"Pindah?"
"Iya, jika kamu tiga bulan lagi akan menikah, maka saya sebulan lagi akan pindah ke sini. Saya berhenti dari kerja sa___,"
Alcenna memotong ucapan Eddyson. "Kenapa berhenti Pak? Apa karena saya?" Alcenna tiba-tiba sangat merasa bersalah. Namun rasa bersalah itu tidak lama dan berubah menjadi kesal karena ucapan lelaki itu.
"Kamu pikir saya cinta buta ke kamu, gara-gara kamu tolak lalu saya berhenti."
"Ohhh bukan karena aku," katanya polos dan merasa lega.
"Saya sudah mau membuka perusahaan saya sendiri di sini. Izinnya sebentar lagi keluar."
"Wiihh ... tambah kaya donk Bapak?" Alcenna bertambah ceria.
"Mudahan doamu dikabulkan. Apa kamu yakin menolak saya?" Eddyson kembali menggoda.
"Yakin donk," ucap Alcenna tanpa ragu.
"Apa sih lebihnya dia dari saya?" terdapat unsur kekesalan dalam pengucapannya.
"Tak tahu juga Pak."
"Tambah yakin saya kamu tu cinta buta."
"Ihhh biar sajalah Pak. Daripada Bapak tambah sewot, jalan yuk Pak." Eddyson menangkap sedikit nada manja Alcenna. Dadanya berdebar. Perasaan ini tidak pernah dia rasakan pada istrinya ataupun wanita mana saja.
"Hmmm Alcenna. Kenapa kamu bisa membuat hidupku berbeda."
"Pak ...." panggil Alcenna sambil melambaikan jari lentiknya di depan wajah Eddyson yang sempat terdiam.
"Kamu mau ke mana sekarang? Kalau mau ke DUFAN mana sempat lagi."
"Kami cuma mau nonton Pak. Nonton kita ya Pak."
"Ya sudah, gantilah baju sana."
__ADS_1
"Thanks ya Pak." Alcenna berlalu dengan melempar senyum manjanya. Eddyson menggeleng sambil menyunggingkan senyum tipis.
***
"Lama sekali, membahas apa saja," kata Putri.
"Kepo ah. Bahas anak," lalu sebuah cubitan mendarat di lengan Alcenna.
"Sembarangan kalau ngomong."
"Malam cerita, jadi mau nonton?"
"Jadilah. Mau manusia kaku itu?"
"Apa yang tidak untuk Alcenna," kata Alcenna dengan lucu.
"Di atas angin lo!"
"Iri ahh," lalu gadis-gadis itu tertawa senang dan bersiap diri.
***
Di mobil ....
"Robby, kamu ikut ya bawa bocah-bocah nakal ini nonton!" perkataan Eddyson sudah tidak bisa dibantah Robby.
"Oke Pak," ucap Robby pasrah yang mengundang tawa cekikikan kedua gadis tersebut.
"Kamu lihat, kalau kamu gak ikut, saya bisa gila seperti bapak yang bawa dua anak pergi main," ucap Eddyson setengah frustasi melihat kelakuan gadis-gadis itu.
"Kami bukan anak-anak lagi ya Pak. Kami ini sudah gadis dewasa," Alcenna setengah protes.
"Dewasa dari mananya kalian berdua, coba katakan?" Eddyson membantah Alcenna.
"Gak bisa jawabkan," ucapnya lebih lanjut karena Alcenna bingung mau jawab apa.
"Bukan tak bisa jawab Pak, cuma masih dipikir jawaban terbaik," ucap Alcenna beralasan.
"Pandai beralasan. Kamu itu masih gadis bau kencur, kalau gadis dewasa sudah saya ajak tidur," bisik bosnya.
Alcenna diam, tidak ingin memancing situasi jadi di luar kendali. Bisa-bisa benaran pulang bawa jabang bayi nanti.
Namun diamnya Alcenna, tidak membuat bosnya berhenti mengganggunya. Seakan mengganggu gadis itu obat pelepas rindu di hatinya. "Ngapa kamu diam? Kamu mengkhayalkan tidur sama saya?" masih dengan berbisik.
"Apaan sih!" ucap Alcenna kesal. Dia berani menyikut bosnya.
"Hahahaa ... dasar gadis pemarah," ucap bosnya di tengah tawa. Kontan membuat Putri dan Robby saling lirik, dan itu tak luput dari pandangan Eddyson.
"Kenapa Rob? Heran kamu lihat saya tertawa tanpa beban?" ucap Eddyson yang hanya dibalas anggukan jujur sama Robby.
"Jadi kamu tahukan alasan saya kenapa jatuh cinta sama kencur pemarah ini, saya bisa tertawa lepas seakan tak ada beban, dengan segala kelakuannya terutama sifat pemarahnya. Padahal mencintai dia beban terberat dalam hidup saya."
"Beban-beban. Kalau Bapak tidak sibuk goda saya, saya tak ada marah sama Bapak," ucap Alcenna tak terima dibilang gadis pemarah.
"Kamu lupa atau pura-pura lupa. Kamu pernah marahi saya waktu saya bertanya soal pekerjaan."
"Kapan Pak?" kata Alcenna, karena memang tidak mengingatnya.
"Saya pernah tanya begini, 'Ada yang bilang kamu jarang ke lapangan? Apa benar?' Waktu itu kamu menjawab, 'Kalau Bapak tidak percaya sama saya lebih baik berhentikan saya saja. Saya tidak suka bekerja dengan orang yang tidak bisa mempercayai bawahannya! Apalagi menuduh tanpa bukti."
Alcenna jadi ingat waktu itu, memang emosi dicurigai tanpa sebab oleh bosnya. Alcenna jadi tersenyum teringat setelah dia menjawab dengan menantang si bos, Eddyson terlihat tersenyum dan berkata dengan lembut bahwa hanya bertanya saja.
"Ingat kamu? Lagian saya cuma bertanya, kamu bilang menuduh," ucap Eddyson yang Alcenna balas dengan cengiran saja.
"Kamu satu-satunya bawahan yang berani kepada saya," ucapnya kemudian.
"Jadi karena itu Bapak jadi cinta?" Alcenna bertanya penasaran.
"Bukan ... saya jadi ketularan gak cerdas kamu soal cinta." Eddyson mengejek.
"Dasaaar ... ehh ngomong-ngomong Putri sama Mas Robby tak jadi obat nyamuk? Kenapa diam saja?" ucap Alcenna tanpa merasa bersalah.
"Uhuuk ... uhhuuk ...., hanya terbatuk yang bisa mereka lakukan. Alcenna mendapat cubitan pelan di pipinya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan bos tersayangnya
**//**
__ADS_1