Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Bahtera di Laut Lepas


__ADS_3

Kini sudah lebih tiga bulan Alcenna mengarungi bahtera rumah tangganya. Ibarat kata bahtera, bukan hanya sebuah pajangan. Namun dipersiapkan untuk berlayar dilautan. Mulai dari pinggiran lalu akan tiba dilaut lepas dan akan kembali berlabuh kepinggir daratan untuk mencari tujuan atau mencapai impiannya.


Bahtera di laut lepas tak akan bisa berlayar tanpa nakhoda dan sang juru mudi. Semua punya kapasitasnya masing-masing.


Begitu juga dengan rumah tangga mereka, ibarat kapal yang sedang diterpa angin kencang memaksa nakhoda turun tangan. Perusahaan Eddyson tiba-tiba goyang di usia tiga bulan pernikahannya. Eddyson mulai sering turun tangan dan Alcenna mulai sedikit terabaikan.


Eddyson bukan tidak menyadarinya. Dia hanya kesulitan membagi waktunya. Walau dia sedikit bisa merasa tenang melihat Alcenna tidak pernah memaksakan keinginannya.


Alcenna juga selalu bersikap baik jika dia pulang larut malam. Hanya saja kelelahan fikiran dan fisik Eddyson membuat dia kurang memperhatikan Alcenna.


Tanpa Eddyson tahu Alcenna sering merasa kecewa dan menangis diam-diam. Sekuat apapun dia berpikir positif dan berusaha untuk mengerti kesibukan suaminya. Alcenna hanya seorang wanita dan seorang istri yang mengutamakan perasaan dari pada logikanya.


Dalam waktu tiga bulan dia merasa seakan semua berputar begitu cepat. Alcenna ingin menanyakan kenapa Eddyson berubah. Namun dia tak ingin menyakiti hati orang yang telah dia cintai sepenuh hati. Diam adalah cara terbaik menurut Alcenna. Namun tanpa dia tahu itu bisa berujung petaka.


Eddyson yang merasakan begitu mencintai istrinya tidak mau mengabari bahwa dia sibuk karena perusahaan yang sedang bermasalah. Dia juga mewanti-wanti pada Robby dan Putri tidak untuk cerita.


Eddyson hanya tak ingin Alcenna bersusah hati, justru disini letak kesalahan terbesar Eddyson. Eddyson membiarkan Alcenna dalam berpikir tentangnya.


Anak yang tak kunjung di dapat Alcenna menambah kekecewaan Alcenna. Sementara Alcenna dulu dan sekarang tak banyak berubah sifat dalam berumah tangga. Dia lebih suka memendam tanpa ada yang tahu isi hatinya.


Jikapun dia tidak berkata kasar pada Eddyson, itu karena suaminya tidak pernah berkata kasar padanya. Hanya sikap Eddyson yang dia kecewakan.

__ADS_1


*****


Seperti malam ini.... jam sudah menunjukkan 11 malam.


"Kenapa lama Mas?" tanya Alcenn lembut.


"Maaf sayang, Mas ada rapat dengan investor," ucap Eddyson jujur.


"Ohhh, ya sudah mandilah pakai air yang hangat ya."


"Iya, tunggu Mas dalam selimut ya," Eddyson masih sempat menggoda Alcenna. Alcenna hanya tersenyum kecil. Eddyson tak sempat memperhatikan raut wajah menyelidik Alcenna.


Alcenna menangis dalam hatinya. Dia merasa Eddyson berubah. Walau dia tidak pernah menolak Eddyson dan Eddyson juga tak mengurangi frekuensinya untuk memadu cintanya demi seorang keturunan. Alcenna hanya tahu Eddyson mesra dan perhatian hanya tiga bulan pertama. Namun dua bulan ini Eddyson jadi egois dimata Alcenna. Kini bulan kelima sudah usia rumah tangganya.


Alcenna duduk dibawa guyuran air dingin showernya. Alcenna menangis, hatinya terasa diiris sembilu. Pedih. Dia merasa hanya obat lelah suaminya.


"Apa lagi hikmah dari semua ini ya Tuhan. Apa aku harus kembali menderita batin seperti dulu. Dari segi finansial aku tak kekurangan namun hatiku terasa sakit diperlakukan begini," gumamnya pilu, dia telah salah sangka dengan suaminya.


Seakan dia melampiaskan kekecewanya pada air yang membasahi tubuhnya. Dia membiarkan setengah jam sudah didalam kamar mandi. Dia hanya menekuri bathub sambil memeluk lututnya. Dia diam sambil memejamkan matanya, masih dengan air mata berlinang bercampur dengan guyuran air showernya.


Jika dia juga tidak segera keluar dia akan pingsan menahan dinginnya air ditengah malam. Belum lagi kondisi fisik dan hatinya yang tak kalah lelah dengan Eddyson. Eddyson tiba-tiba tersentak dan bangun. Dia melihat Alcenna tidak ada ditempat tidur.

__ADS_1


Perasaannya tiba-tiba tidak enak. Eddyson melihat kekamar mandi karena mendengar gemericik bunyi air. Eddyson terpana melihat Alcenna tertunduk memeluk lututnya. Dengan langkah sigap dia menghampiri istrinya,mematikan shower dan mengambil handuk lalu meraih istrinya dalam dekapannya.


Eddyson membawa kekamar dan masih dengan memangku Alcenna, duduk di tepi ranjang. Eddyson berkata dengan panik, hilang sudah sikap tenangnya.


"Ada apa sayang? kenapa jadi begini?" peluk dia sambil menghapus air mata Alcenna. Alcenna sudah mulai kedinginan. Eddyson telah mematikan AC kamar.


Alcenna tak menjawab. Dia hanya melepaskan sesak hatinya dengan tangisannya.


"Mas mohon, buka matamu sayang. Katakan ada apa? apa yang terlewat sama mas hmmm? tanya Eddyson masih belum menyadari kesalahannya. Walau itu bukanlah kesalahan dia sepenuhnya.


Alcenna membuka matanya dia hanya menatap dalam suaminya masih dengan berurai air mata. "Mas tak salah, aku yang salah," ucap Alcenna.


Eddyson tambah merasa ada yang salah, Alcenna sejak Eddyson mengungkapkan hati dan menerimanya tidak pernah ber-aku lagi kebadannya. Kini kata itu muncul.


Eddyson kembali memeluk Alcenna erat. "Maafi mas, jika kamu merasa terabaikan." Eddyson menduga mungkin istrinya marah karena dia pulang larut malam sudah hampir dua bulan ini. Namun dia tidak yakin itu saja penyebabnya. Istrinya terlihat begitu terluka.


"Aku sudah berusaha Mas. Aku berusaha untuk mengerti posisimu dan kesibukanmu. Aku mencoba memahami semua yang kau lakukan demi aku. Demi keluarga kecil kita nantinya. Namun dua bulan ini aku mencoba. Aku gagal Mas. Aku tak paham jalan pikiranmu. Kau bukan lagi suami yang aku kenal Mas. Aku mungkin tak pantas untukmu. Pola pikir kita berbeda. Aku berusaha untuk kuat Mas. Aku juga gagal...."ucap tangis Alcenna. Eddyson mulai memahaminya.


"Aku ikhlas Mas, jika harus berpisah sekali lagi. Aku tak mau sampai akhirnya nanti aku membencimu karena kecewaku yang mendalam. Aku tak tahu apa-apa tentang kesibukanmu, urusanmu. Aku hanya tahu kau tak ada lagi dalam hari-hariku. Aku takut jika membayangkan kau juga nanti tak ada dalam hatiku," ucap Alcenna semakin pelan dan lemah. Alcenna akhirnya pingsan didalam dekapan Eddyson.


Eddyson yang mendengar semua perkataan Alcenna merasa seperti ribuan jarum ditusuk kedalam hatinya. Eddyson tak bisa menahan air matanya. Dia akhirnya sadar sikapnya yang tak terbuka malah menyakitkan hati istri yang dicintainya dan menuai salah paham. Eddyson shock mendengar kata terluka dari istrinya. Satu-satu yang membuat dia sadar istrinya pingsan dan dengan badan yang mendingin.

__ADS_1


Eddyson membuka handuk yang melilit ditubuh istrinya, dan menghantar panas tubuhnya. Dia meraih telfon dan meminta dokter keluarganya untuk datang. Robby terpaksa ikut imbasnya. Eddyson meminta bantuan Robby ditengah malam buta ini.


Eddyson merasa suhu tubuh istrinya mulai meningkat. Dia membaringkan dan menutupi dengan selimut. Eddyson mengambil baju ganti istrinya dan mengenakannya. Eddyson juga mengambil sebuah celana pendek dan baju kaos menutupi tubuhnya yang polos.


__ADS_2