Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Cinta Tanpa Syarat.


__ADS_3

Ketika sore menjelang senja, Alcenna ditemani oleh Azarine. Sammy menunggu kedatangan ayah dan ibu di rumah. Sementara Putri baru pulang dari menjenguk sahabat karibnya.


"Dek ... ada bang Arzon nelpon kamu?" Alcenna bertanya. Alcenna sengaja tidak menelepon, dia tidak tahu harus memberikan alasan apa.


"Gak ada Kak. Mau dikabari abang Kak?"


"Tak usah dulu Dek, nanti saja ketika sudah semua berkumpul. Ada yang pengen kakak bahas.


"Kakak dilema?" tanya Azarine singkat.


"Kamu tahu apa Dek."


"Azarine memang masih sekolah Kak, tapi Azarine gak buta, gak bodoh juga kali Kak."


"Maksudmu Dek?"


"Hati Kakak bercabang sekarang?" Tembaknya langsung. Pintar juga dia sekarang berbicara tentang hati.


"Kamu pikir lidah ular pakai bercabang." Alcenna malas menjawab dengan pasti.


"Pohon juga bercabang Kak."


"Cabang pohon bisa banyak Dek."


"Hahahaha Kakak ngakuin juga hati Kakak bercabang dua?"


"Cabang tiga sama Popeye."


"Ahhh gak masuk hitungan itu." Kumat sewotnya kalau sudah nyebut pelaut.


"Ngapa sih Dek, sama yang lain kamu baik, tetapi sama dia gitu amat."


"Kakak gak nyadar ya? Lihat itu abang sama bos Kakak, gak sama Kakak saja baik. Mereka baik sama kami juga perhatian. Gitu kalau cinta, jangan sama Kakaknya saja yang mau, sama keluarga Kakak juga harus diterima." Ini baru dia protes karena Alcenna pertanyakan juga awalnya.


"Kan dari Jakarta kemaren dibelikannya baju sebagai hadiah. Itu juga bentuk dari perhatiannya."


"Alaaa telat ngasihnya, ngasih untuk pengampunan dosa tu." Sadisnya dia mengatai orang yang pernah hadir dalam hidup kakaknya.


"Iya ... jangan sewot ah, tambah sakit kakak tar," kata Alcenna menengahi dari pada jadi panjang ceritanya.


"Kakak belum bilang ya sama abang soal bos Kakak yang cinta mati tu."

__ADS_1


"Sok tahu kamu Dek."


"Tahulaaa ...."


"Tahu apa Azarine?" Kedua kakak beradik itu terkejut, tiba-tiba bosnya masuk dan bertanya. Saking asyik berdebat, pintu di buka, mereka tak sadar.


"Tahu tuuu Kakak, Pak."


"Kenapa kakakmu?" Dia tak sabaran melihat Azarine menggantung ucapannya.


"Dilema dia Pak ___"


"Bapak tak pakai pulang dulu?" Alcenna memotong ucapan Azarine.


"Gak pulang pun saya wangi, nanti kamu rindu kalau saya lama-lama datangnya." Betapa tidak tahu malunya kini di depan Azarine. Azarine hanya tertawa tanpa beban.


"Azarine, itu saya bawakan roti sama milo dingin," katanya dengan ramah. Jauh beda dengan pas awal jumpa di kantor.


"Asyiiik ... makasih Pak," katanya dengan senang.


"Mau saja di suap!" sindir Alcenna. Bosnya hanya tersenyum manis.


"Jam berapa ibu sampai kabarnya?" tanya bosnya.


"Gak, semua keperluan sudah saya cukupi."


"Bisa pula begitu."


"Bisalah, istri kedua saya yang belum saya urus." Alcenna mencibir.


Lalu mereka diam dengan pikiran masing- masing. Azarine sibuk makan cemilannya dan nonton televisi. Alcenna memikirkan apa yang harus dia katakan sama Arzon dan sama ibu nanti. Ayah dan ibu, juga pasti akan bertanya lagi apa hubungannya dia dengan bosnya. Alcenna takut sekali ini ibunya akan menyalakan dirinya.


Dalam hidup Alcenna tak pernah menyangka jika dia akan berada dalam posisi ini. Dicintai oleh orang yang seharusnya tidak boleh dicintai. Namun siapa dapat menyangkal kebaikan dari orang yang begitu mencintainya. Gadis itu jadi terkatung-katung oleh cinta.


***


Malam ini semua sudah berkumpul di kamar VIP ruang rawat Alcenna. Sudah mirip ruang keluarga saja jika dokter dan suster melihatnya. Semua ada, kecuali Arzon.


Namun akhirnya Alcenna memutuskan untuk mengabari dan mengatakan kalau dia di rumah sakit dan besok akan dilakukan tindakan medis ESWL. Arzon mengatakan dia tidak bisa pulang karena dia kerja hanya sebagai anak buah. Alcenna kecewa tetapi dia berusaha memahaminya.


"Ayah ... Ibu, kenalkan ini bos Alcen, dan Pak ... kenalkan ini ayah dan ibu." Alcenna membuka percakapan. Dalam sakit pun dia harus cepat menyelesaikan masalah yang sepintas terlihat seperti tidak bermasalah.

__ADS_1


"Bapak ... Ibu... sebelum banyak pertanyaan yang hendak Bapak dan Ibu katakan, saya ingin mengatakan terus terang kenapa saya di sini." Bosnya memandang Alcenna yang dibalas anggukan kepala, lebih baik begitu. Alcenna berpikir, lebih baik dia yang menjelaskan. Alcenna sulit untuk menjelaskan dari mana akan ia mulai.


"Dengan tidak mengurangi hormat saya pada Bapak dan Ibu, saya minta Bapak dan Ibu tidak menyela dulu ketika saya jelaskan. Saya hanya ingin menjelaskan saja."


Alcenna melihat ayah dan ibunya juga mengangguk. Sammy dan Azarine hanya bertukar pandang yang duduknya tak jauh dari samping bos kakaknya.


"Saya Eddyson dan saya bosnya Alcenna. Saya sebenarnya sangat mencintai Alcenna, namun saya tak boleh egois. Saya pria beristri ...." Tidak terlihat keterkejutan di wajah orang tua Alcenna, Azarine dan Sammy yang ternganga tak menyangka bos kakaknya akan sejujur itu di depan orang tua mereka.


Dilihat tak ada komentar dari orang tua gadis itu, Eddyson melanjutkan. "Jadi Bapak dan Ibu jangan banyak pikiran, saya tidak akan menikah dengan Alcenna karena Alcenna sudah menolak saya secara tidak langsung. Namun biarkan saya lakukan apa yang terbaik untuk Alcenna sampai dia menikah dengan pilihannya. Saya hanya ingin membahagiakan dia tanpa meminta imbalan apapun. Saya sangat mencintai dia dan tak ingin melihat dia menderita Bu ...." Dia terdiam sampai di situ. penjelasan terakhirnya seolah dia mencurahkan isi hatinya pada ibu gadis tersebut.


"Seperti yang saya katakan di telfon sebelum Ibu berangkat tadi, Alcenna mengidap batu ginjal, dan sudah harus melalui penanganan medis. Dokter menyarankan operasi Pak ... Bu... namun Alcenna sudah histeris duluan tadi." Dia terus mengalirkan kalimatnya dengan tenang.


"Jadi dokter memberi alternatif kedua. Asal Bapak dan Ibu serta Alcenna tahu sendiri, dokter tadi memanggil saya dan mengatakan mungkin cara ESWL tidak terlalu berfungsi untuk kasus sakit Alcenna dikarena ukurannya memang sudah lumayan besar. Namun karena Alcenna tidak mau jalan operasi saya dan dokter memutuskan untuk mencoba ESWL. Karena jika hanya menggunakan obat penahan nyeri dan Herbal, dikhawatir Alcenna akan sering sakit dan bisa pingsan sewaktu-waktu."


Alcenna melihat mata ibu dan ayahnya berkaca-kaca menahan haru. Mereka tidak menyangka jika orang yang berbeda level dengan putrinya, bisa begitu mencintai anaknya dengan tulus. Mereka juga tak menyangka, nasib cinta anaknya seperti sekarang.


Lama semua saling terdiam sampai akhirnya ibu Alcenna berkata. "Terima kasih Nak Eddyson. Ibu paham perasaanmu Nak, ibu juga berterima kasih atas semua yang kau lakukan dan atas cintamu yang tidak memaksa Alcenna. Ibu serahkan sama yang Di Atas, jika jodoh kalian akan bersatu kelak entah bagaimana jalannya kita tidak tahu. Tetapi untuk saat ini ibu memang tak akan pernah menyetujui jika kalian ada hubungan lebih."


"Iya Bu, jadi jangan pikir yang tidak-tidak atas apa yang saya lakukan. Cukup Alcenna yang selalu berburuk sangka pada saya Bu ... saya ikhlas demi Alcenna." Dia mengadu kembali pada ibu sang gadis yang Alcenna hadiahkan wajah masamnya.


"Kita berdoa saja semoga cara ini berhasil, karena Alcenna memang down kali Bu, mendengar kata operasi." Kembali Eddyson menjelaskan.


"Iya Nak. Entah apa penyebabnya ... asal dia mendengar kata operasi, dia selalu menjawab, "lebih baik aku mati dari pada mati di meja operasi bu."


"Jadi, Bapak dan Ibu tidak saya izinkan menolak semua yang saya berikan untuk Alcenna. Biar saya lakukan untuk membahagiakan diri saya sendiri. Jika melihat Alcenna sehat dan bahagia." Keluar juga nada ngboss di depan orang tua gadis itu.


Ayah dan ibu Alcenna mengangguk, dikaji ulang apa yang mau di protes lagi dengan semua penjelasan yang dia berikan. "Baik Nak, ibu dan bapak akan mencicil biaya rumah sakit ini padamu."


"Saya menolak Bu. Jika harus mencicil, biar gadis keras kepala ini yang melakukannya. Saya akan memotong gajinya tiap bulan, setelah saya beri naik gaji. Tetapi saya tidak akan memotong gajinya. Jadi gajinya tidak perlu saya naikkan." Eddyson berkelakar membuat Alcenna melotot kesal.


"Kalau begitu, tak perlu juga Bapak katakan naik gaji." Alcenna cemberut. Eddyson memberikan senyum manis.


"Jadi saya pulang dulu ya Bu ... Pak ... besok saya ke sini sudah sore saja, karena sudah ada Bapak dan Ibu di sini yang menjaga Alcenna. Saya merasa tenang." Begitu sungguh-sungguh kekhawatirannya. Mampu menembus relung hati orang tua gadis itu.


"Iya, tapi tak apa jika Nak Eddyson tidak sibuk dan mau menunggui saat Alcenna sedang dilakukan tindakan medis. Ibu mengizinkan kamu ke sini." Ibu memberi tawaran pada Eddyson. Pasti ibu tak sampai hati setelah tahu semuanya.


"Boleh Bu?" katanya dengan wajah berseri-seri tanpa ditutupi. Hilang sudah sikap wibawa sebagai bos. Hanya ada pria biasa.


"Akhhhh apakah pria dewasa sekalipun jika sedang mabuk cinta apa harus seperti anak kecil yang senang diberi mainan," keluh batin Alcenna.


"Boleh, jika itu juga bisa membuatmu bahagia Nak. Namun jangan lupa janjimu, jangan sampai cintamu membuat Alcenna merasa bersalah." Lembut namun penuh peringatan ibu kepada Eddyson.

__ADS_1


"Tidak akan Bu, saya mencintai Alcenna tanpa syarat." Yakinnya.


**//**


__ADS_2