Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Ibarat Embun


__ADS_3

Suatu hari ibu Alcenna datang ke kota, dan ibu dijemput oleh sebuah mobil travel kenalan mendiang ayah Alcenna. Ibunya memang tak pernah berani naik mobil lain jika pergi sendiri.


"Ibuuuu ...." Alcenna memeluk dan menangis, meluapkan rasa rindu dan rasa bersalah dalam satu waktu. Ibunya hanya sendiri di desa, Alcenna paham perasaan sepi ibunya.


"Apa kabar sayang," kata ibunya sambil mencium kedua pipi putri sulungnya.


"Jadi cuma kakak saja ni yang Ibu peluk? Azarine gak ni?" ucap Azarine pura-pura cemburu.


"Kamu ini Nak, baru juga keluar gimana Ibu mau peluk."


"Maaf Ibu, tadi Azarine baru siap mandi. Wangi kaaan Bu." Dia berkata sambil memeluk erat ibu.


"Nak Arzon mana sayang?"


"Belum pulang Bu," ucap Alcenna senang. Dia paling senang jika ada ibu didekatnya. Setiap ada ibu hampir jarang Alcenna marah dan bertengkar dengan suaminya. Kehadiran ibunya ibarat embun di pagi hari.


"Ibu sudah makan? Alcenn sudah masakkan kesukaan Ibu."


"Belum, ibu tidak suka makan sendiri di rumah makan. Ada diajak sama Pak wo makan, tapi ibukan segan Nak, masa iya ibu makan sama suami orang nanti dilihat orang jadi tidak baik. Apalagi ibu janda."


"Kalau begitu, ibu cuci muka dulu terus Alcenn siapi makan ya," Alcenna mengecup ke dua pipi ibu tercintanya.


***


Malam hari ....


"Nak ini ada uang 50 juta," ucap ibu pada suami Alcenna. Alcenna dan Azarine hanya melongo. Ibunya memberikan uang begitu banyak, untuk apa pikir mereka.


"Untuk apa Bu?" tanya Arzon menyampaikan apa yang ingin kakak beradik itu ketahui.


"Jadikan modal usaha atau apa yang kamu inginkan, Ibu rasa tidak mungkin kalian akan begini terus. Maaf bukan ibu mau ikut campur urusan kalian," ucap ibu Alcenna hati-hati.


Alcenna melihat suaminya termenung dan tak tahu apa yang sedang dia pikirkan. Lalu terdengar dia berkata, "Bagaimana kalau Arzon jadikan buat DP mobil Bu?"


"Lalu bagaimana bayar perbulannya? Ibu tidak sanggup kalau untuk perbulannya."


"Mobilnya untuk usaha Bu, biar Arzon jadikan untuk usaha," ucapnya.

__ADS_1


"Ohhh begitu. Mana yang baik menurutmu Nak, ibu ngikut saja. Semoga bisa jadi modal untuk kalian ke depannya."


"Terima kasih ya Bu," ucap suaminya.


"Iya, ibu hanya berharap kamu bisa jadi tempat berteduh anak-anak ibu dan anak-anakmu sendiri. Anak ibu tidak mempunyai ayah lagi. Biasanya mereka selalu mengadu pada ayahnya. Mereka jarang mengadu pada ibu jika ada masalah. Kini, mereka tidak punya tempat betenggang selain padamu yang lebih dewasa dari mereka," ada kepiluan di nada suara ibu Alcenna.


"Iya Bu, Ibu jangan sedih," ucap Arzon sambil merengkuh ibu mertuanya. Terlihat air mata mengalir ke pipi ibu Alcenna.


"Bagaimana ibu tidak sedih Nak, biasa ada ayah tempat ibu dan anak-anak ibu mengadu. Kini Sammy pun jauh, hanya kamu yang bisa ibu harap."


"Iya Bu."


***


Paginya Arzon pergi mencari mobil yang cocok untuk usahanya. Dia memilih sebuah mobil box roda empat untuk armadanya. Dia sudah cerita kepada Alcenna rencananya. Malam setelah masuk ke kamar, Arzon mengajak istrinya berunding untuk menjual barang-barang harian dan kelontongan ke luar kota.


Singkat kata, urusan mobilpun kelar dalam dua minggu. Kini mereka sedikit pusing kekurangan dananya untuk mengisi barang yang akan dijual.


Suami Alcenna akhirnya berinisiatif meminta tolong pada ibunya. Alhamdulillah, ibu mertua Alcenna juga mencarikan dana sekitar 30 juta.


Sebulan lebih sedikit semua selesai, mulai dari armada sampai barang yang akan diperjual-belikan. Arzon sendiri yang langsung terjun lapangan. Setelah tiga bulan berlalu, akhirnya dia bisa menggaji seorang supir, dan dia tetap terjun.


Hari-hari Alcenna merasa semakin kesepian. Suaminya pulang sekali 5 hari dan itupun jika pulang dia juga sibuk untuk mengorder barang-barang yang habis dan yang akan dibawanya kembali pada hari seninnya.


Alcenna yang waktu gadis tidak begitu tahu apa arti cemburu, sejak suamnya keluar kota mulai suka cemburu buta. Ada saja yang dia ributkan, mulai dari suaminya tidak bisa mengangkat telfon sampai jika dia bersuara malas. Alcenna menjadi pencemburu sejak menikah sebenarnya, pikirannya selalu curiga menjadi pemicunya.


"Abang jujur saja, ada wanita lainkan di luar sana!" tuduhnya. Pasalnya hanya karena Arzon yang mematikan sambungan telfonnya secara sepihak malam itu. Pagi hari sampai siang tak ada diangkatnya.


"Alcenna ... dia pasti punya wanita lain, dia pasti menduakanmu, makanya dia bersikap dingin dan tidak bisa mengangkat telfonmu." Suara-suara itu selalu menggaung di kepalanya.


"Iyakan Bang, jawab aku!"


"Apa mau kamu sebenarnya ha Alcenn!" Lelah menyebabkan emosi Arzon tak terkendali, dia pun jadi naik darah.


"Aku mau kita cerai, aku sudah tak sanggup hidup sama Abang!" Walaupun berteriak, namun dia menangis.


Itulah Alcenna yang selalu meminta cerai jika berkelahi dengan suaminya. Namun dia tak pernah menjawab, dia hanya menarik istrinya ke dalam pelukannya dan berkata, "Maafkan abang, tak ada perempuan lain. Abang tidak angkat panggilan Alcenn, abang lagi sibuk mengorder dan abang juga malas ribut terus di telfon."

__ADS_1


Namun hati Alcenna masih saja tak percaya, seolah iblis berbisik di telingaku, "Dia berbohong padamu Alcenn, dia ada yang disembunyikannya, makanya dia lembut padamu setelah dia membentakmu barusan."


"Abang berdusta padaku! Aku benci sama Abang!"


"Harus bagaimana abang katakan lagi sama Alcenn, abang mulai gak paham dengan jalan pikiranmu, kamu kenapa sebenarnya?" suara suaminya melembut.


"Abang yang kenapa? Abang tak ada waktu lagi untuk Alcenn."


"Dari mana abang gak ada waktu kata Alcenn, kalau siang, coba Alcenn pahami. Abang sibuk kadang sedang melobi langganan baru, kadang abang membantu supir menurunkan barang yang sudah di order langganan. Abang tak sempat angkat telfon bukan karena apa yang Alcenn tuduhkan."


"Alcenn maunya abang tetap angkat telfon," ucapnya tetap pada keinginannya.


"Iya besok abang angkat, sudah jangan nangis lagi, Alcenn mau abang temani pergi jalan?" rayunya. Alcenna langsung luluh dan mengangguk. Lupa pada amarah yang barusan begitu menggebu. (Penulis yakin iblis yang tadi berbisik ria meracuni otak Alcenna, pasti lagi gantian bersedih. Belum tahu itu si iblis, Alcenna mudah disogok.)


"Ya sudah ayo ganti bajunya, ini sudah mau jam 9, kita cari makan ke luar saja ya."


"Iya," ucapnya dengan semangat.


"Sayang mau makan apa hmm?" katanya sambil membawa istrinya balik kepelukannya dan mencium mesra.


"Mau sate, mau siomay juga," katanya bingung, yang mana mau dia pilih. Dia ingin makan ke duanya.


"Kalau habis ya sudah beli keduanya saja, tapi mau disimpan di mana dengan badan langsing mu ini?"


"Kalau tak habis Abang saja yang habiskan ya?"


"Ya deh, cepat ganti baju dan tanya Azarine mau dibelikan apa."


Alcenna dengan sukacita mengganti pakaian dan mengenakan jaket serta tak lupa memakai bedak tabur bayi ke wajah.


Go ....


**//**


Tak sulitkan meluluhkan wanita, jika lelakinya mau sabar.


__ADS_1


__ADS_2