Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Kuliah


__ADS_3

"Boleh Alcenn ikut Sofi ke Malaysia, Bang?" tanya Alcenna suatu hari di tahun ke empat pernikahannya.


"Berapa lama?"


"Paling cuma seminggu. Sofi ada ngurus administrasi sedikit ke kampus, dan anaknya gak ada yang jaga. Suaminya lagi tidak bisa ikut," kata Alcenna.


Ternyata benar cerita mereka dua tahun lalu, kalau anak itu hak Allah. Sofi yang memakai pil kontrasepsi pun, tidak bisa menghalangi hadirnya sebuah janin dalam perutnya. Kini usia bayinya sudah 9 bulan.


"Alcenn ingin pergi?"


"Iya kalau di izinkan. Alcenn ingin lihat negara luar, walau cuma negara seberang yang tak jauh. Boleh?"


"Boleh, kapan Alcenn berangkat?" tanya suaminya.


"Kata dia, kalau Alcenn mau ikut, dia nunggu sampai paspor Alcenn siap. Mengurus paspor gak butuh waktu lama dia bilang.


"Ya sudah, uruslah besok, tapi Abang gak bisa nemani ya. Abang harus berangkat hari senin besok ni."


"Ya, Alcenn ditemani Safa."


Paspor pun siap dalam 3 hari. Lalu Alcenna berangkat menggunakan kapal laut. Seminggu di Malaysia Alcenna hanya sempat sekali ke Kuala Lumpur, menara kembar bersama teman Sofi yang satu flat , dia masih S1.


Alcenna bosan dan merindukan suaminya. "Bang, Alcenn pulang sendiri ya dari sini, telfon Alcenna pada suatu pagi.


"Kenapa?"


"Sofi visa pelajarnya habis limit dan harus di urus. Alcenn sudah tak nyaman Bang, Alcenn rindu sekali ingin dekat Abang," katanya.


"Ya pulanglah, kapan mau pulang?" tanya suaminya.


"Besok pagi jam 4 subuh turun dari flat Sofi. Bis-nya jam segitu berangkat ke Central Malaka dulu. Baru siap itu naik taksi ke pelabuhannya Bang," terang Alcenna pada suaminya.


"Amankan kata Sofi?" tanya suaminya.


"Aman, Bang. Insya Allah tak apa."


"Ya hati-hati, besok sudah di pelabuhan kabari Abang ya."


"Oke Bang."


Alcenna memang sudah merasa gelisah dan ingin pulang. Empat tahun pernikahannya, ini yang dia pergi tanpa suaminya. Sekali pergi pun tak tanggung jauh. Biasa pulang ke rumah ibunya di kampung saja, tunggu suaminya ada waktu. Walau anak-anak bersama ibunya Alcenna, dia tak mau pulang tanpa suaminya.

__ADS_1


Kini di negeri seberang ini dia mulai gelisah. Dia tak sanggup menunggu, jangankan dua minggu, dua hari lagi Alcenna tak sanggup rasanya.


***


Subuh hari ... Sofi sudah berkutat dengan tesisnya. Buah hatinya tidur tenang dalam ayunan. "Aku berangkat duluan ya Fi, tak apakan?" Alcenna pamit dan sekaligus bertanya memastikan.


"Tak apa, aku paham perasaanmu. Aku juga rindu sama suamiku. Hanya saja tesis dan buah hatiku bisa jadi pelengah rasa rinduku," ucap Sofi.


Alcenna dengan membaca Bismilah di dalam hati melangkah turun dari flat Sofi. Awalnya dia sedikit merasa was-was.Di subuh buta berada dijalanan. Mana tidak mengenal daerah bahkan negara itu.


Namun rasa was-wasnya seketika hilang. Ketika dia lihat sekelompok anak muda yang berkumpul namun tidak ada usil sedikitpun. Mereka hanya menyapa dengan santun dan Alcenna jawab juga dengan santun.


Kini dia sudah di kapal, "Alcenn sudah di kapal Bang," tulisnya dari pesan teks ponsel.


"Hallo Bang, iya sudah dikapal," jawabnya ketika suaminya langsung menelfon.


"Jangan lupa ganti kartu jika sudah lewat perbatasan negara ya sayang, biar abang bisa pantau Alcenn," ucap suaminya mesra.


"Iya, nanti sudah sampai perbatasan Alcenn ganti kartu dengan kartu ponsel negara kita. Alcenn mau telfon ibu sebentar ya," ucapnya dan memutuskan sambungan telfon.


"Hallo ibu, Alcenn sudah dikapal ya, nanti sampai Alcenn kabari."


"Ya Allah Nak, jadi juga pulang sendiri. Dasar suka nekat kamu ya, ibu jadi risau," omel ibunya.


"Iya, hati-hati," kata ibu Alcenna lembut.


"Oke, doanya ya Ibuku sayang," pintanya manja.


***


Alcenna pun sampai di indonesia dan memesan taksi. Perjalanannya terus berlanjut, dia memutuskan kuliah setelah pulang dari Malaysia. Alcenna melihat betapa asyiknya teman-teman di flat Sofi dalam menuntut ilmu. Ada yang bahkan S3.


"Bang, sampai saat ini, nampaknya tidak ada tanda-tanda hamil juga. Alcenn mulai bosan di dalam rumah. Anak juga tidak ada yang diurus. Boleh Alcenn kuliah?" tanyanya pada suaminya suatu malam.


"Alcenn yakin gak akan main-main dan sampai tamat?"


"Yakin Bang!" katanya tegas.


"Mau ambil jurusan apa?" tanya suaminya.


"Psikologi saja Bang, Setidaknya tidak pun untuk kerja, ilmunya bisa buat mendidik anak- anak nantinya dengan pola pikir dan perilaku mereka yang berbeda di usia mereka yang berbeda-beda," katanya.

__ADS_1


"Kuliahlah, besok Abang carikan uang masuknya kalau Alcenn lulus tes. Daftarlah minggu depan."


Allah yang kasih jalan, Allah juga yang atur. Waktu Alcenna mendaftar hanya tinggal tiga hari batas penutupan. Saat dia mendaftar di salah satu Universitas swasta yang cukup terkenal ini. Singkat cerita Dia ikuti semua prosedur masuk jadi mahasiswi baru dan dia lulus.


***


Ini hari pertama dia mulai kuliah. Alcenna berbaur dengan anak-anak yang selisih umur rata-rata hampir 10 tahun di bawahnya. Dia memang tidak mau mengambil kelas malam. Dia butuh ilmunya bukan hanya nilai prestasinya.


Siapa sangka Alcenna yang niatnya hanya mau menuntut ilmu tanpa peduli ada yang mau berteman atau tidak dengan mama muda itu. Justru ternyata bisa berbaur dengan anak-anak yang awalnya memanggil ibuk jadi memanggilnya, kakak.


Dia juga aktif mengikuti kegiatan kampus. Alcenna juga cukup dikenal dengan dosen-dosen. Suaminya selalu mendukung dan mengizinkan mengikuti kegiatan kampus bersama adik-adik kampusnya.


Alcenna lupa masa derita batinnya hanya ada bahagia. Tak ada kata cerai lagi yang terucap dari mulutnya. Nilainya juga tak kalah bagus seperti adik-adik kampus yang rata-rata baru tamat SMA, walau ada beberapa yang usianya tak jauh di bawah usia Alcenna.


Alcenna hampir tak pernah ribut lagi dengan suaminya. Suaminya fokus dengan kerjanya, Alcenna fokus dengan kuliah. Adiknya Azarine fokus dengan skripsi-nya yang lumayan terlambat karena kesulitan mencari data. Anak- anak seutuhnya ibu Alcenna yang mendidik. Mereka sudah punya kegiatan masing-masing. Damai, seakan tak ada kendala apapun.


Waktu tak berasa dan terasa cepat berlalu. Kini Azarine telah lulus dan bertukar posisi dengan Allya. Azarine kembali ke tempat ibunya dan honor di salah satu sekolah di kampung mereka sebagai tata usaha.


Allya sudah menginjak remaja awal dan duduk di bangku SMA, namun Allya lebih memilih sekolah kejuruan. Dia mengambil farmasi. Kini sambil kuliah yang baru tingkat dua, Alcenna juga harus memperhatikan Allya. Namun tidak sesulit saat kecil. Alcenna cukup mengarahkan saja.


Setiap Anak punya cita-cita dan impiannya sendiri. Dia sebagai ibu, tidak boleh memaksakan keinginan. Biarlah anak-anak mengembangkan sayapnya. Ibarat busur dan anak panah. Busur hanya bisa mengarahkan anak panahnya, namun angin yang menentukan ke mana dia menancap.


Alcenna hanya bisa berdoa anak panahnya menancap di tempat yang baik. Itu salah satu ilmu dari hasil dia kuliah. Alcenna jadi paham, tak boleh memaksakan kehendak pada anak.


Alcenna dan Allya hanya tinggal berdua. Kegiatan yang biasa dia lakukan bersama Azarine, kini posisi itu Allya yang menggantikan.


Alcenna masih ingat percakapannya dengan Azarine, sebelum Azarine memutuskan pulang kampung. "Dek, kamu yakin mengawankan ibu? Bukannya apa-apa Dek, di sana paling bisa honor, perusahaan belum banyak di sana."


"Yakin kak, biarlah Arin menemankan ibu dulu, sampai menemukan jodoh. Tidak mungkin rasanya ibu hanya bersama Rhania. Kecuali emang seperti Arin masih kuliah Kak, tak ada pilihan lain.


"Okelah kalau gitu Dek, tenang pula rasa hati Kakak. Kakak pun ada Allya di sini."


Namun ternyata, Alcenna seolah tak lepas dari masalah anak ... suatu pagi dia mendapat telfon dari Ayu.


" Hallo Bun, maafkan Ayu.... "


**//**


👀 😁😂


Salam LiVoRa ( yang bingung artinya, intip cerita ( " UPIK ABU JADI CEO" )

__ADS_1


Terimakasih kawan-kawan semua, semoga Kita semua di limpahkan kesehatan dan rezeki yang baik. 😇😇


__ADS_2