
Semua persiapan pernikahan, mama Ningrum dan rekan-rekan serta para artnya yang mempersiapkan. Alcenna hanya dilibatkan jika yang menyangkut pribadinya saja, seperti pemilihan gaun pengantin dan make up. Alcenna merasa seperti seorang putri dalam dongeng kecilnya.
Semua dokumen dan surat yang penting juga telah selesai termasuk akta cerai yang sudah ditangan.
"Mas, Alcenn saja yang pulang ya sambil jemput ibu. Alcenna ingin ziarah, rindu ayah."
"Apa kamu yakin akan pergi sendiri?"
"Yakin, lagian Mas juga pasti tak ada waktu." Jauh di dalam lubuk hati Alcenna dia ingin ditemani pulang ke kampungnya. Selain dia sudah tak nyaman berpergian sendiri, Alcenna juga ingin mengenalkan Eddyson pada beberapa warga kampung yang hobinya bergibah. Alcenna juga ingin menjumpakan Eddyson dengan ayahnya. Walau hanya dengan makam ayahnya.
Hanya saja Alcenna tidak mau tamak dan egois. Walau Eddyson sangat-sangat memanjainya.
"Iya Mas banyak urusan yang tidak bisa di tinggal sayang," ucap Eddyson menjelaskan. Dia menangkup pipi Alcenna dengan dua tangannya.
"Oke Mas, Alcenn paham."
"Diundur minggu depan bisa tidak?" tanya Eddyson. Eddyson ingin tahu bagaimana tanggapan Alcenna.
"Kalau minggu depan memangnya Mas bisa?" Bola matanya berbinar senang. Eddyson mengangguk.
"Kalau gitu minggu depan saja," ucap Alcenna dengan riang.
"Hmmm inilah bedanya gadis manja dengan mandiri. Walau sedikit merepotkan namun ada suasana lain yang tercipta," batin Eddyson.
"Iya Mas?" tanya Alcenna yang pipinya masih dalam tangkupan tangan Eddyson yang hangat.
"Iya, tapi katanya tadi yakin pergi sendiri?" Eddyson mulai kembali menggoda gadisnya.
"Yakin, kalau Mas memang gak bisa. Dulu juga kemana-mana sendiri," Alcenna kumat juga egonya.
"Kamu kesal ya?"
"Ndak!"
"Trus kenapa Mas mencium aroma mangga mengkal?" lanjutnya masih menggoda Alcenna.
"Apaan-lah, lepas ... muka Alcenn kebas Mas pegangi," sindir Alcenn. Eddyson malah merengkuh Alcenna dalam dekapannya.
__ADS_1
"Mas mencintaimu gadis kencur, gadis pemarah kesayangan hati mas," bisik Eddyson sepenuh hati di telinga Alcenna. Memenuhi relung hatinya dengan rasa syukur dan Alcenna sangat gembira.
Alcenna pun akhirnya memeluk Eddyson. Dengan menengadahkan kepalanya, Alcenna berucap, "Terima kasih Mas, untuk dulu, sekarang juga besok, lusa dan selamanya. Alcenn juga sangat mencintaimu Mas."
***
Hari ini hari yang bahagia bagi Alcenna. Mereka sudah ditravel menuju kampung Alcenn. Ibu dan Azarine sudah memasuki libur semester. Mereka tidak menginap di kampung. Mereka hanya menjemput ibu dan Azarine lalu ziarah dan langsung ke kota P.
"Assalaamu'alaikum ya ahli kubur ....
Di kubur ayah Alcenna ....
Kami berempat berada disisi-sisi makam ayah."Assalaamu'alaikum ya Ayah ... Ayah maafi Alcenn baru sempat melihat Ayah. Bukan berarti Alcenn tak rindu pada Ayah. Alcenn rindu Ayah, bahkan teramat rinduuu. Kita kini jauh Ayah. Alcenn tidak lagi di kota biasanya. Perjalanan yang panjang dan berliku membuat Alcenn jauh melangkah. Namun Ayah, Ayah tak usah lagi bersedih hati, kini anak kesayangan Ayah sudah menemukan kebahagiaan. Lihat lah Ayah, siapa yang Alcenn bawa. Dia orang yang Ayah kenal bertahun lalu. Siapa yang sangka ya Ayah, cintanya tidak berubah untuk anak Ayah ini. Selamat tidur panjang Ayah. Semoga kelak di kemudian hari kita bisa bertemu dan berkumpul kembali. Alcenn sayang Ayah."
Alcenna menjelaskan pada ayahnya kemana dan apa yang terjadi padanya. Alcenna merasa sedih mengingat kini dia bisa bahagia tanpa ayahnya di sampingnya. Eddyson memimpin doa. Lalu sekali lagi Alcenna pamit pada ayahnya.
Masih duduk di sisi kepala ayahnya, Alcenna memegang batu nisan bertuliskan nama ayahnya, "Ayah... Alcenna mohon doa restu, Alcenna akan membangun hidup baru. Ayah, Alcenna juga minta maaf... dulu Alcenna keras hati dan memaksakan kehendak sendiri tanpa mau mendengar kata Ayah. Walau mungkin dimulut terucap kata setuju namun hati Ayah tergores oleh Alcenna. Maafi Alcenna Ayah...maaf. Alcenna akhirnya tidak bisa menahan kesedihannya. Air matanya mulai mengalir dari pelupuk matanya. Ibu dan Azarine juga ikut menangis mendengar permohonan maaf dan permintaan restu Alcenna.
Eddyson sendiri terlihat sedih melihat begitu besar kesedihan yang dirasa gadisnya. Eddyson semakin berniat tidak akan membuat gadisnya bersedih atau hanya bersusah hati. Akan dia tebus rasa sedih yang dirasa gadis kesayangannya.
Azarine akhirnya ikut berkata, "Ayah ... Arin dan ibu sementara ikut kakak ya Ayah. Ayah baik-baik di sini. Assalaamu'alaikum Ayah. Kami berangkat.
Mereka sampai di kota P sore dan langsung ke bandara. Mereka telah memesan tiket malam karena sewaktu ditelfon ibu kuat untuk langsung terbang ke Jakarta tanpa menginap semalam di kota P.
Kini mereka sudah sampai di bandara Soekarno-Hatta. Mereka langsung ke rumah Eddyson yang telah di siapkan untuk Alcenna. Waktu Alcenna dibawa ke sana, Alcenna sungguh bersyukur dia bisa memiliki rumah impiannya.
"Masuk Bu, Arin," kata Eddyson.
"Ibu mau istirahat dulu ya," Alcenna langsung membawa ibu dan Azarine ke kamar yang sudah di siapkan Eddyson untuk Ibu. Alcenna memang berniat dia yang akan menjaga ibunya ketika ibu sudah pensiun atau ketika Azarine menikah dan tidak tinggal bersama ibu. Jika itu terjadi mau tidak mau ibu harus pensiun muda. Alcenna akan membawa ibunya.
***
Pagi Hari ....
Alcenna sudah membuatkan sarapan, empat gelas susu hangat dan Roti bakar berlapis selai nenas.
"Ibu, saya ke kantor dulu ya. Ibu sama Azarine istirahat saja dulu. Nanti malam kalau lelah Ibu sudah hilang, saya akan mengenalkan Ibu sama mama saya."
__ADS_1
"Iya Nak."
"Sayang, Mas berangkat ya," pamit Eddyson Alcenna menahan malu di depan ibu karena kata sayang yang diucapkan Eddyson.
"Ibu, Arin, saya berangkat ya." Eddyson juga pamit pada ibu dan Azarine.
***
Ting nong ... bell pintu berbunyi. Alcenna bergerak ke pintu depan. Dia membuka dan ... "Mamaaa ...." kata Alcenna dengan suprise. Dia memeluk calon mama mertuanya.
"Mama kenapa tidak mengabari dulu?"
"Mama penasaran dengan ibumu. Eddyson mengatakan malam kalian akan ke rumah. Kebetulan mama di daerah sini, sekalian saja mama mampir," ucap mama Ningrum. Mereka menuju ruang keluarga.
"Ma, duduk dulu ya. Alcenn panggilkan ibu dan Azarine.
Tak lama ... "Ma, ini ibu Alcenna ... Bu, ini Mama mas Eddyson."
"Ohhh ini ibunya Alcenn," Mereka bersalaman. Lalu saling memeluk. Mama Ningrum kembali berkata, "Makasih ya Dek sudah melahirkan anak seperti Alcenna," ucapnya tulus dan langsung memanggil dek pada ibu Alcenna.
"Sama-sama Mbak, saya juga terima kasih mbak sudah punya putra yang begitu luar biasa." Mereka melepaskan pelukan haru mereka.
"Ma, ini Azarine, Arin panggilannya Ma. Adek bungsu Alcenn." Alcenna memperkenalkan adiknya.
"Arin Ma, senang jumpa Mama," ucap Azarine lembut. Dia mengikuti panggilan kakaknya. Mama Ningrum menerima salim dari Azarine, beliau juga memeluk Azarine.
"Anak-anak yang luar biasa ya Dek. Tidak sia-sia kamu mendidiknya Dek, semua sangat santun," ucap mama Ningrum begitu senang.
Mereka lalu duduk dan mengobrol ringan seputar persiapan nikah putra-putrinya. Mama Ningrum juga bercerita betapa dia bahagia akad nikah ini dan resepsinya bisa diadakan di rumahnya.
"Mama makan siang sini saja ya," ajak Alcenna.
"Besok ya sayang, malam nanti kita makan di rumah mama dulu Papakan belum kenalan. Besok mama ke sini makan siang sama-sama."
"Ohh, oke deh Ma," ucap Alcenna pengertian.
"Mama pulang dulu ya, nanti malam kita ketemu."
__ADS_1
**//**