Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Ingin Bertemu Langsung


__ADS_3

"Kawanmu memang keras hati, padahal saya sudah pernah katakan untuk datang pada saya jika tidak bahagia," ucap bos Putri di ruangannya. Putri menceritakan ke mana dan apa yang terjadi dengan Alcenna tujuh bulan ini.


"Bapakkan tahu apa alasannya," kata Putri tanpa nada memojokkan ataupun menggurui.


"Jadi dia bekerja di pabrik sebagai staff admin?" tanya bos Putri lagi.


"Iya Pak."


"Sudah cerai dia sama pria kekanakan itu, dari dulu saya katakan dia itu cinta buta." Eddyson mengusap kasar mukanya. Dia baru menyadari betapa keras hati gadis kesayangannya.


"Belum Pak, kata keluarganya Alcenna tidak mau mengungkit apapun soal suaminya. Seolah dia tak pernah mengenal suaminya," ucap Putri.


"Trauma?"


"Bisa jadi Pak. Azarine bilang kejadiannya saat pulang dari kampung suaminya saat ayah mertuanya meninggal, Alcenna tiba-tiba langsung memutuskan bercerai dan berangkat ke Bekasi. Tak ada yang tahu pasti apa yang terjadi Pak."


"Suaminya tidak pernah nelfon keluarganya?"


"Ibunya Alcenna yang nelfon saat sudah tahu kalau Alcenna sudah menjual semua isi rumahnya dan pergi ke Bekasi, namun jawaban suaminya, '*Anak ibu tidak bisa dibentuk, dia tidak pernah mau peduli soal harga diri aku sebagai suaminya. Aku malu di kampungku gara-gara kelakuan dia. Aku tak bisa hidup dengannya lag*i', itu kata Azarine Pak."


"Memang brengsek suaminya!!" Nada bos Putri terdengar begitu marah.


"Sekarang Alcenna sendiri Pak, apa Bapak juga masih ingin dibalik layar? Maaf kalau Putri tanya begini kepada Bapak."


"Saya tidak tahu bagaimana sikapnya nanti Put. Saya tidak ingin dia jadi terbeban. Cukup bagi saya dia bahagia. Jika dia memang memerlukan saya, dia pasti datang jauh hari."


"Iya sich Pak. Alcenna sekarang menyedihkan Pak," putus Putri untuk cerita semua yang dia lihat di Bekasi.


"Menyedihkan bagaimana?"


"Alcenna tidak sehangat dulu Pak. Putri mencari info saat dia bekerja. Alcenna jadi omongan banyak karyawan pabrik. Dia membangun tembok tinggi dan tidak mau berteman dengan siapapun."


"Bukannya dia memang tidak suka berteman? Temannya saja cuma dua orang."


"Alcenna dulu suka berteman Pak, cuma yang bisa dia percaya cuma saya dan Marya. Kini Alcenna tidak seperti itu Pak, dia berbicara hanya urusan kerja. Jika ada urusan di luar kerja tatapan sama omongan jadi dingin Pak. Dia dikatai dingin, mayat hidup, sombong dan banyak lagi Pak."


"Dari mana kamu tahu?"


"Putri memanfaatkan koneksi papi Pak," cengir Putri.


"Kamu tidak libatkan saya kan? Kamu tahu papi kamu mengenal saya dengan baik," tegas bos Putri.


"Demi Alcenna, saya tidak membuat dia tambah susah dengan kebodohan saya," ucap Putri serius.


"Saya meminta satu staff yang satu ruangan dengannya untuk mengajaknya makan siang dan jika dia menolak saya minta menanyakan apa ada masalah pribadi hingga tak mau bergabung. Bapak mau tahu apa jawabannya?"


"Apa?"

__ADS_1


"Masalah pribadiku bukan masalahmu, jangan terlalu ikut campur!" itu jawabnya Pak, nada dan tatapannya dingin Pak, saya tidak pernah tahu itu di sepanjang masa saya mengenalnya. Saya rasa tak percaya staff yang saya minta tolong berkata Alcenna gadis dingin."


"Oke, coba saya suruh Robby gali lagi."


"Saya permisi ya Pak."


"Ok."


***


"Ada apa Pak?" tanya Robby.


"Coba kamu cari tahu Bi, Putri dia tidak pengalaman banyak untuk cari info," Eddyson menerangkan dengan singkat keadaan Alcenna dan di mana dia.


"Oke Pak."


Hari ini Robby langsung berangkat dan hanya butuh satu hari, Robby sudah mendapatkan bagaimana kehidupan Alcenna sekarang.


Robby merasa sangat miris. Alcenna yang dia kenal dulu sudah tidak ada. Alcenna yang hangat dan ceria penuh kelakuan yang urakan.


Robby cukup terpaku ketika mendapatkan interaksi dingin Alcenna dan teman satu pabriknya. Robby sudah mengumpulkan banyak info. Robby merasa prihatin pada gadis kesayangan bosnya.


Di kantor ....


"ini semua info dan ada dua video hasil interaksi Alcenna dengan kawan pabriknya Pak." Robby menyerahkan.


"Terima kasih."


Eddyson tiba-tiba merasakan penyesalan yang dalam. Andai dia tak tutup mata bertahun setelah Alcenna menikah. Andai dia lebih tulus.


Namun Eddyson juga hanya manusia biasa. Tak bisa dia pungkiri hatinya merasa sakit dengan keputusan Alcenna untuk menikah dengan pria lain yang dia tahu tidak lebih baik darinya. Dia memutuskan mengabaikan perasaannya dan menenggelamkan dirinya dengan kesibukan perusahaan dan keluarganya.


Kini melihat wanita yang mempunyai arti lebih di hatinya seperti patung es tak bernyawa, membuat luka besar di hatinya. Pedih, nyeri dan sesak. Itu yang dirasakan hatinya.


"Maafkan saya Alcenna, saya merasa saya yang paling pantas menyayangimu, saya yang paling ikhlas dalam mencintaimu. Nyatanya saya tak bisa mengesampingkan ego saya sendiri dan memilih mengabaikanmu, ketika secara tidak langsung kau menolakku," Eddyson menyugar rambutnya dan mengusap kasar mukanya. Air mata penyesalan meleleh di pipinya.


Eddyson yang tidak pernah dilema dalam membuat keputusan atau memutuskan sesuatu, kini dia dilema hanya untuk memutuskan ingin bertemu langsung atau tetap di balik layar bagi Alceena.


"Put, kesini," panggilnya singkat.


Tok ... tok ... tok ....


"Masuk!"


Putri tidak bisa untuk tidak terkejut melihat keadaan bos besarnya yang begitu kusut dan kacau, dia reflek membekap mulutnya sendiri. "Ada apa Pak?"


"Sini lihat, apa kamu tahu ekspresi apa yang ditampilkan Alcenna?" Putri hanya menggeleng dan berjalan mendekati meja Bosnya.

__ADS_1


Putri duduk tanpa dipersilahkan, terlihat bosnya memutar laptop menghadapkan ke Putri. Putri memutar video yang tersedia. Putri membekap mulutnya sekali lagi. Air matanya mengalir, dia terenyuh melihat perubahan Alcenna. Dia tidak tahu apa yang terjadi dibalik perginya Alcenna berbulan lalu.


"Kamu lihat, saya menyesal mengabaikannya," ucap bosnya penuh kesedihan.


Putri juga merasakan kesedihan. Rasa sedih dan rasa tidak berdaya membuat Putri marah, "Suami macam apa kau berengsek!!" makinya tidak ingat masih di depan bosnya.


"Saya ingin membunuh pria itu!!"


Putri terkejut dengan omongan bosnya dan tersadar dia masih di ruangan bosnya.


"Jangan lihatkan ini pada keluarganya, ini akan sangat melukai ibunya."


Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing.


"Apa menurutmu saya harus menemuinya?"


"Coba saya tanya dia dulu ya Pak, saya takutnya malah menambah beban hatinya Pak. Saya juga takut reaksinya pada Bapak akan buat Bapak sakit hati," aku Putri dengan jujur.


"Saya masih bisa menerima apapun sikap dan kata dia, selagi itu tidak menambah beban hatinya."


"Iya Pak, coba nanti saya cari tahu apa tanggapan Alcenna kini tentang Bapak."


"Makasi. Saya hanya ingin menolongnya keluar dari kesulitannya saya tidak ingin lagi mendesak dia dengan cinta saya."


"Materi bisa lebih mudah Bapak tolong tapi hati yang terluka kita tak bisa menolong menyembuhkannya Pak. Apalagi Alcenna tidak semudah yang kita kira Pak."


"Coba tawarkan dia kerja di Jakarta, saya akan carikan dia kerja sesuai basic kuliahnya. Sebagai staff HRD."


"Awalnya saya ingin menawarkan di kantor kita Pak, kantor kita juga lagi buka lowongan untuk staff HRD. Saya takut Alcenna tidak terima. Saya saja tidak berani bilang kerja di sini, untungnya lagi dia tidak pernah tanya Pak."


"Sekarang kita cari cara untuk membuat dia bisa kembali seperti dulu."


"Iya Pak, terimakasih begitu pada sahabatku satu-satunya."


"Kamu lebih parah dari Alcenna."


"Maksudnya Bapak?"


"Alcenna punya dua sahabat juga punya tiga pria, setahu saya yang mengisi hidupnya, kamu?" ucap bos Putri mencairkan suasana.


"Saya belum kepikiran untuk mengisi hidup saya dengan pria Pak. Apalagi melihat Alcenna jadi begini," ucap Putri misterius.


"Kerjalah kamu lagi, Ohh ya apa tidak ada yang bertanya atau berbisik kamu sering keluar masuk kantor saya?"


"Adalah Pak, tapi mereka menyangkutkan karena saya anak Papi. Kekuasaan itu memang perlu untuk membungkam mulut tak berguna!" Sinis Putri bukan ditujukan ke bosnya.


"Biar saja. Kalau kamu gak bisa ngatasi katakan saya, kita tinggal pecat ulat bulu di perusahaan saya!"

__ADS_1


"Ok Pak, saya permisi."


**//**


__ADS_2