Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Gadis Seperti Apa Kamu, Alcenna.


__ADS_3

Sore menjelang maghrib ....


"Putri ... ini Marya, Marya ... ini Putri. Kalian berdua teman terbaik aku di dunia ini," kata Alcenna mengenalkan ke dua sahabatnya.


Putri yang pada dasarnya mudah berteman dan sebaliknya Marya, dalam waktu singkat mereka sudah menyatu seperti telah lama saling mengenal.


"Tak pakai pulang mandi dulu kamu Put," protes Alcenna.


"Gak mandi aku juga wangi," sahut Putri cuek.


"Dasar, kirai Jakarta merubah malas mandimu!" Alcenna masih protes.


"Mandi itu gampang, buka pakaian, ambil handuk, gosok gigi, basuh muka, basuh ketiak, basuh area **** *, ganti pakaian, hahahaha dah wangilah tu. Semprot parfum," ucap Putri yang mendapatkan timpukan bantal dari Alcenna.


"Mau ke mana malam? mau aku ajak lihat dunia malam Jakarta?" tawar Putri.


"Hmmm boleh juga," Marya yang menjawab.


"Tanya Putri Tidur yang ketinggalan zaman ini?" ucap Putri bercanda.


"Boleh. Aku juga ingin tahu, dunia yang bagaimana di balik dunia yang aku jalani selama ini, dengan satu syarat tidak dekati narkoba yaaa. Aku takut berurusan dengan polisi. Kena tilang saja mau hilang darahku seliter," ucap Alcenna serius.


"Aman, stay away from drugs," yakin Putri.


***


Dentuman musik hingar-bingar yang memekakkan telinga. Manusia yang berlainan jenis bergoyang. Bermacam tingkah laku manusia, hanya menjadikan perhatian lebih dari Alcenna. Mereka hanya duduk di sebuah sudut dengan minum alkohol ringan, Marya minum Long island blue , Putri minum baileys dan Alcenna lagi-lagi hanya diberi jus.


Begitu tulus sayang mereka pada Alcenna, mereka tidak ingin Alcenna mabuk. Alcenna tidak pernah menyentuh minuman alkohol. Kedua sahabat dekatnya tidak mengizinkan. Alcenna juga tidak memaksa, karena dia hanya ingin tahu, apa yang dijanjikan oleh kesenangan dunia hiburan malam.


Bola mata Alcenna terus bergerak ke kanan-ke kiri, memperhatikan sekelilingnya. Alcenna ternyata tetaplah seorang Alcenna si gadis desa. Tak ada kepuasan yang dia dapat di tempat hingar bingar ini.


Alcenna tidak menikmati tempat ini. Pikiran justru teringat ke hal lain. Dia membayangkan kehidupan lain di balik dunia yang masih misteri. Alcenna bergidik ngeri, jika tiba-tiba dia terkubur di dalam bangunan discotik ini dan nyawanya melayang.


"Kenapa Cenn?" tanya Putri.


"Tak ada," elaknya. Dia tidak mau menjadi teman yang tidak tahu diri. Putri sudah cukup banyak menghabiskan uang untuknya. Hanya untuk memuaskan rasa ingin tahunya dibalik kisah dunia malam.


"Yakin?" Putri mencurigai Alcenna melihat raut muka temannya yang hanya banyak diam.


"Yakin gak ada masalah?" sambung Marya pula.


"Iya, aku cuma ingin memperhatikan lebih saja, maka banyak diam," lanjut Alcenna membuat alasan yang masuk akal.

__ADS_1


Alcenna berjanji dalam hati, cukup sekali ini dia berada dalam ruangan ini. Baginya ini hanya surga dunia dan neraka untuk hidupnya.


"Ambil ruangan kita? karaoke?" Putri kembali menawarkan. Alcenna langsung menggeleng.


Mereka hanya sejam duduk manis di sana.


"Kita duduk manis di pinggir jalan saja ya?" kata Alcenna.


"Mau ngapain, minta sedekah." Alcenna mencubit kuat pinggang Marya.


Mereka tertawa, melupakan sejenak masalah yang mereka hadapi. Siapa di dalam hidup yang tidak punya masalah, baik itu Alcenna, Marya mau pun Putri. Mereka tidak lepas dari sebuah masalah. Kini yang harus mereka pahami bagaimana mereka ingin menyikapi, apakah ingin makin terpuruk atau bangkit.


Marya adalah orang memilih untuk bangkit, namun Alcenna memilih untuk menjalani sampai akhir. Akhir yang bagaimana akan menjadi pilihannya. Bahagia atau sedih.


***


Jika Alcenna di suatu tempat melupakan hari-hari pahitnya bersama teman-teman yang begitu tulus padanya. Seseorang sedang terpuruk tak berdaya di sebuah rumah yang cukup besar.


"Apa yang Kakak lakukan beberapa minggu belakangan ini, aku lihat Kakak hanya banyak menghabiskan waktu di rumah. Kakak ingin usaha Kakak jatuh bangkrut! Kakak ingin mencoba hidup susah seperti dulu lagi?" Maki seorang gadis yang tak lain adalah Tiara, adik dari Ardhan Barra.


"Bukan urusanmu Dek!" Suara kakaknya terdengar dingin.


"Kenapa Kakak hmm? menyesal karena sudah resmi bercerai?" tantang Tiara dengan berani.


"Lalu sikap apa ini, yang Kakak tunjukan pada kami! Kami bisa menerima kak Lili dalam keluarga kita tapi kenapa Kakak tidak! Apa salah kak Lili pada Kakak, apa karena dia mendapatkan Kakak dengan cara licik? Ingat Kak, Kakak melakukan dengan sadar tanpa pengaruh obat atau minuman yang memabukkan. Walau dia salah tapi dia menunjukkan cintanya pada Kakak. Walau ayahnya menekan Kakak dan ibu pada saat itu." Tiara berani mengatai kakaknya.


"Sudah ngomongnya," kata Ardhan dengan kesal.


"BELUM! "


"Ngomonglah, apa lagi! " ucapnya memenuhi kemauan adik semata wayangnya.


"Aku tidak mau Kakak jatuh miskin. Apa Kakak mau ditekan seperti dulu, hanya karena Kakak anak buah orang, tidak mempunyai banyak uang. Mau Kak? Bukankah karena itu Kakak kehilangan gadis yang Kakak puja sampai saat ini? Alcenna, bukankah itu namanya?" tanya Tiara.


"Ya."


"Apa Kakak ingin kehilangan Alcenna sekali lagi?" pancingan Tiara bersambut.


"Maksudmu?"


"Bukankah apa yang Kakak dapat sekarang harga dari kesalahan Kakak yang akhirnya kehilangan Alcenna?"


"Ya. Lalu apa hubungannya?" Ardhan bangkit mengambil posisi yang lebih serius. Dia belum sepenuhnya paham maksud adiknya.

__ADS_1


"Jelas berhubungan, harta dan kedudukan yang Kakak punya milik Alcenna. Walau Kakak yang mendapatkannya namun dari air matanya, dari buah penantiannya, dari waktunya yang sia-sia menunggu Kakak, dari kerelaan hatinya ketika Kakak lepaskan. Coba jika dia tidak mau melepasnya malam yang Kakak ceritakan, apakah papinya kak Lili juga akan melepas Kakak? Kakak pasti sudah masuk bui, hidup kakak berantakan. Apa Kakak masih tidak berpikir semua ini Alcenna yang berikan. Walau secara tidak langsung."


Ardhan termenung mendengar kata-kata adikknya. Tiara seakan memberikan waktu untuk kakaknya mencerna semua katanya. Sampai terdengar kakaknya berkata, "Kamu benar Dek, tapi sampai sekarang Kakak mencintainya. Kakak bukan menyesali perpisahan dengan Lili."


"Lalu kenapa tiba-tiba Kakak jadi hilang semangat?" Tiara jadi keheranan. Dia awalnya menyangka Lili jadi penyebabnya, ternyata bukan


"Kakak bertemu Alcenna, waktu hendak membuka cabang di kotanya. Dia sudah menikah. Kakak terlalu percaya diri dengan tidak mau tahu tentangnya, akan bisa melupakan dan menghapus bayangannya. Namun kakak salah besar. Kakak menyesal tidak memperjuangkannya. Kakak sangat menyesal," ucap Ardhan.


Tiara terkejut. Begitu besar pengaruh Alcenna dalam hidup Kakaknya. Alcenna bisa membuat Kakaknya yang terkesan dingin, bangkit namun bisa runtuh seketika. "Gadis seperti apa kamu, Alcenna. Sanggup membuat kakakku berjaya dan runtuh dalam satu waktu," batin Tiara.


Tiara sejenak seakan kehabisan kata. Namun Tiara bukan gadis yang berpikiran sempit bahkan termasuk berpikiran bebas, dan terbuka.


"Kakak yakin dari mana dia sudah menikah?" tanya hati-hati Tiara.


"Dia yang berkata waktu kami tak sengaja bertemu dia juga mengenalkan anaknya ...."


"Kenapa Kakak tidak meneruskan omongan Kakak?" tanya Tiara, ketika melihat Ardhan seperti memikirkan sesuatu.


"Anaknya lebih besar dari seharusnya jika dia punya anak dan menikahpun tidak mungkin sudah sebesar itu," ucap Ardhan menyampaikan kejanggalan pada adiknya.


"Aku rasa dia sudah menikah, mungkin itu anak suaminya. Bisa saja dia dapat duda, dan jika benar Kakak masih punya kesempatan mendapatkannya. Hati yang terluka lebih mudah dirasuki oleh perhatian lain," ucapan Tiara membuat Ardhan bingung.


"Apalagi maksudmu Dek, bingung kakak dengar bicaramu yang seperti pelajaran sastra. Langsung saja bicaranya bisa tidak!"


"BISA! TAPI KAKAK HARUS BERJANJI KERJA DAN KERJA SIAP INI, OKEY!!" tekan Tiara.


"OKE!"


"Alcenna mungkin dapat duda ada anak. Banyak istri yang menderita menikah dengan lelaki ada anak. Bisa jadi Alcenna juga salah satu yang begitu. Kakak cukup cari tahu dulu langkah pertama, sejauh apa kisah hidup Alcenna. jiwka iya menikah dengan lelaki ada anak. Jika dia tidak bahagia, kakak cukup buat dia bahagia dan memperhatikannya. Dia akan butuh sosok untuk mengadu. Hasilnya lihat besoklah, cerita panjang lebarpun belum tentu benar Alcenna sudah nikah apa belum."


"Kamu gak mengenal dia Dek, jikapun iya prediksimu, dia tak akan menerima perhatian dari kakak." Ardhan pesimis.


Coba aja cari info. Ya tidak bisa langsung setidaknya kakak membantu dia diam-diam. Mengurangi kesedihan hatinya apa kira-kira tidak bisa buat Kakak bahagia dan punya tujuan. Cintakan tidak harus memiliki, cukup buat dia bahagia." Tiara menyemangati kakaknya. Setidaknya kakaknya punya motivasi untuk maju.


"Kalau dia bahagia?" tanya Ardhan dengan Bodohnya.


"Ya kakak harus bersyukurlah, walau tidak dengan Kakak, gadis Kakak bahagia!" Tiara berkata dengan kesal.


Ardhan hanya tersenyum simpul. Tiara bersyukur cuap-cuapnya yang mengeringkan bibir dan tenggorokannya tidak sia-sia.


"Oke, Kakak akan cari info terlebih dahulu," ucapnya penuh semangat.


Tiara tak kalah merasa semangat melihat kakaknya sudah tidak lagi patah arang. Cinta ... cinta, kamu begitu unik hadir di tengah hati anak manusia.

__ADS_1


**//**


__ADS_2